HomeCelotehBerkat Anies, Golkar Jadi Start-Up?

Berkat Anies, Golkar Jadi Start-Up?

Menjelang kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, makin banyak bakal calon presiden (capres) mendeklarasikan diri – seperti Anies Baswedan melalui Partai NasDem. Menanggapi fenomena-fenomena ini, apa yang perlu dilakukan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar yang juga ingin menjadi capres pada tahun 2024?


PinterPolitik.com

“You switched up, huh, like how you not feelin’ me?” – Fivio Foreign, “Off The Grid” (2021)

Masih ingat nggak dengan salah satu drama Korea (drakor) yang sempat nge-tren tahun 2020 kemarin? Ya, drakor yang berjudul Start-Up (2020) bahkan sempat menyebabkan polarisasi – bukan antara pendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto seperti pada tahun 2019 silam, melainkan karena dua oppa yang dekat dengan Seo Dal-mi, yakni Nam Do-san dan Han Ji-pyeong.

Ya, terlepas dari polarisasi yang terjadi akibat drakor itu, ada satu hal yang kita pelajari juga, yakni bagaimana kompleksnya upaya yang dibutuhkan untuk membangun sebuah start-up. Mungkin, inilah yang sempat dirasakan oleh para pendiri start-up besar di Indonesia – misal Nadiem Makarim dengan Gojek-nya.

Gojek sendiri hingga kini masih menghadapi banyak persoalan meski sudah menjadi perusahaan besar. Persoalan dengan para mitra driver, misalnya, sempat menjadi isu beberapa waktu lalu – seperti isu potongan aplikasi serta hak dan kewajiban para mitra.

Bukan hanya persoalan dengan para mitra driver, perusahaan-perusahaan start-up ojek online (ojol) juga harus menampung kepentingan para investor. Gimana pun, para investor inilah yang menyuntik dana kepada perusahaan-perusahaan tersebut agar bisa hidup hingga saat ini.

Belum lagi, sejumlah perusahaan teknologi juga mulai mengalami bubble burst. Ini mulai terlihat dari bagaimana sejumlah perusahaan mulai melakukan layoff atau pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawainya – seperti Shopee.

Baca juga :  Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

Nah, rumit dan pelik banget nggak tuh masalah-masalah yang dihadapi oleh para perusahaan startup? Terdapat banyak kepentingan yang harus didengarkan dan diakomodir dalam satu tempat.

- Advertisement -

Boleh jadi, persoalan banyaknya kepentingan seperti ini juga terjadi di sebuah partai politik (parpol). Mungkin, yang paling terlihat adalah Partai Golkar.

Fix Ridwan Kamil RK ke Golkar

Lha, gimana ya? Meski parpol satu ini udah menyebut bahwa diri mereka satu suara untuk mengusung Ketua Umum (Ketum) Golkar Airlangga Hartarto sebagai calon presiden (capres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, muncul aja tuh kader-kader yang mendeklarasikan dukungan untuk bakal capres lainnya.

Siapa lagi kalau bukan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan? Sejumlah kader Golkar yang mendukung Anies ini menamai diri mereka sebagai Go-Anies.

Wah, kayaknya konsepnya emang mirip-mirip Gojek yang punya berbagai produk dengan nama Go-, seperti Go-Food, Go-Car, Go-Ride, dan masih banyak lagi. Nah, Golkar sepertinya sekarang ada Go-Anies. 

Hmm, tinggal nunggu Go-go lainnya nih, misal Go-Airlangga atau, mungkin, Go-Ganjar. Makin banyak produk, makin banyak juga yang dijual tuh. Ya, asalkan jangan sampai ada Go-Block ya – maksudnya block as in blocked (tertutup) jalannya menuju tahun 2024. Hehe.

Istilah Go-Go-an ini juga bukan hal yang baru kok buat Golkar. Pada Pilpres 2019, misalnya, muncul juga tuh kelompok-kelompok pendukung, seperti Go-Prabu yang merupakan pendukung Prabowo, meski pimpinan Golkar menyatakan dukungan untuk Jokowi.

Wajar sih kalau Golkar akhirnya muncul banyak Go-go-an semacam ini. Mengacu pada penjelasan Dirk Tomsa dalam tulisannya The Defeat of Centralized Paternalism: Factionalism, Assertive Regional Cadres, and the Long Fall of Golkar Chairman Akbar Tandjung, Golkar memang memiliki kecenderungan untuk melahirkan faksi-faksi internal sejak jatuhnya Orde Baru.

Baca juga :  Bintang Tito-Idham Belum Redup?

Ya, mirip-mirip dengan perusahaan ojol ya, Golkar punya banyak kepentingan yang berbeda dalam satu wadah. Belum lagi, kutub-kutub kekuatan juga hadir dalam satu wadah parpol berlambang pohon beringin itu. Mungkin, sudah waktunya Golkar belajar dari model bisnis para perusahaan startup dan ojol kali ya? Hehe. (A43)


spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...

Tito Sewakan Pulau, Cari Investasi?

“Pada intinya, akan mengembangkan kawasan sebagai eco-tourism. Sebetulnya, bagus, menurut saya, daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja” –   Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri PinterPolitik.com Sebagian besar masyarakat Indonesia...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

Mengintip “Spotify Wrapped” Jokowi

Sekarang sudah waktunya untuk "Spotify Wrapped 2022". Musik dan politik pun saling berkaitan. Apakah Jokowi punya "Wrapped" sendiri?

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

More Stories

Mengintip “Spotify Wrapped” Jokowi

Sekarang sudah waktunya untuk "Spotify Wrapped 2022". Musik dan politik pun saling berkaitan. Apakah Jokowi punya "Wrapped" sendiri?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?