HomeCelotehBerguru Luhut Pada Jusuf Kalla

Berguru Luhut Pada Jusuf Kalla

Kecil Besar

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih pada PMI yang sigap, cepat, dan bergerak masif untuk menangani penyebaran Covid-19 sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia”. – Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman dan Investasi 


PinterPolitik.com

Sosok Jusuf Kalla alias Pak JK memang masih menjadi salah satu sentral perpolitikan nasional Indonesia. Politisi senior itu dikenal sebagai pengusaha handal dengan penyelesaian masalah yang cepat – demikian slogan “lebih cepat lebih baik” yang sempat menjadi tagline personalnya.

Mungkin karena slogan itu, saat ini Pak JK dicari-cari oleh para pemangku kebijakan untuk setidaknya bisa memberikan masukan terkait kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Doi memang sudah tidak menjabat sebagai Wakil Presiden lagi, tapi sepertinya banyak pihak yang menilai sosoknya masih ada bau-bau Wapresnya. Uppps.

Hal inilah yang membuat Menko Kemaritiman dan Investasi alias Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menemui Pak JK beberapa hari lalu. Yang ditangkap oleh media adalah sebuah seremoni kunjungan seorang menteri kepada Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) – jabatan yang kini diemban oleh JK.

Namun, there has to be something more than that – demikian spekulasi yang dibuat oleh banyak pengamat politik.

Well, bisa dibilang, setelah tenggat waktu 2 minggu yang diberikan oleh Presiden Jokowi kepada Pak Luhut untuk menangani Covid-19 di 9 provinsi, sang menteri itu tampaknya masih menemui jalan buntu. Pasalnya, angka peningkatan pasien positif masih tinggi, demikianpun dengan jumlah yang meninggal dunia.

Artinya, Pak Luhut memang butuh resep dan bantuan dari Pak JK untuk mengatasi krisis yang tengah ia hadapi. Apalagi, PMI sendiri punya fasilitas untuk membantu penyemprotan disinfektan di hampir seluruh Indonesia.

Dalam pernyataannya Pak JK menyebutkan bahwa PMI telah melakukan penyemprotan disinfektan di fasilitas publik di 34 provinsi dan 382 kabupaten/kota. Penerima manfaat kegiatan ini angkanya telah lebih dari 51 juta jiwa, dengan 20.474.913 jiwa untuk tangki gunner dan 31.005.056 jiwa untuk penyemprotan di fasilitas publik.

Baca juga :  Waspada 3 "Kingdoms" of Jokowi?

Hmm, jadi masuk akal sih Pak Luhut berharap penyemprotan disinfektan bisa menjadi jalan pengurangan angka penularan Covid-19.

Tapi, yakin nih hanya itu aja yang dibicarakan kedua politisi senior Partai Golkar ini?

Ini ibaratnya pertemuan dua jenderal loh dalam panggung politik. Dua-duanya pernah ada dalam kabinet yang sama di periode pertama kekuasaan Pak Jokowi, tapi sangat mungkin keduanya berada di kubu atau kutub politik yang berbeda.

Pasalnya, di internal kabinet Pak Jokowi sendiri ada banyak patron dan elite yang saling tarik menarik kepentingan. Dan hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Apalagi, bicara tentang Pak JK saat ini membuat publik mulai memilah-milah warisan yang ditinggalkannya di periode pertama kekuasaan Pak Jokowi. Well, proyek 35 ribu MW listrik yang disebut-sebut jadi penyumbang terbesar utang PLN misalnya, adalah salah satu contohnya. Uppps.

Proyek ini sempat bikin Rizal Ramli yang kala itu menjabat sebagai Menko Kemaritiman menantang Pak JK untuk berdebat.

Beh, ngeri-ngeri sedap ini mah. Yang jelas, tak ada yang tahu pasti hal lain apa lagi yang dibicarakan oleh Pak JK dan Pak Luhut. Yang jelas, publik menanti strategi apa lagi yang akan dipakai Pak Luhut untuk menangani Covid-19 di hari-hari yang akan datang. Sejauh ini strateginya masih jalan di tempat loh, Pak. Uppps. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.