HomeCelotehBerani Jokowi Copot Menteri PDIP?

Berani Jokowi Copot Menteri PDIP?

Kecil Besar

“Ada menteri yang tidak dapat bekerja di saat bencana, atau hanya didesain pada saat normal saja, sedangkan pada saat bencana ia tidak bisa bekerja, bahkan hanya banyak bicara tanpa disertai dengan kerja nyata”. – Saiful Anam, pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta


PinterPolitik.com

Entah angin apa yang sedang berkecamuk, wacana reshuffle kabinet Presiden Jokowi berhembus kuat di tengah wabah Covid-19. Wacana-wacana kayak gini emang selalu ada yang ngompor-ngomporin sih biasanya.

Apalagi, reshuffle kabinet itu cukup identik dengan guncangan situasi politik nasional. Soalnya, presiden pasti harus mengatur ulang susunan kekuatan dan menyusun strategi untuk melobi semua partai politik yang menjadi bagian dari koalisi.

Jika ada partai yang nggak suka menterinya dicopot, pasti akan ada gejolak. Begitupun dengan partai-partai yang merasa layak untuk mendapatkan posisi spesifik tertentu.

Nah, setelah kuat berhembus, beberapa partai pun memberikan tanggapan. Salah satunya adalah partai utama pemerintah, PDIP. Partai banteng itu secara tegas tak setuju dengan usulan soal reshuffle – yang awalnya salah satunya memang dihembuskan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) – karena dianggap bukan momen yang tepat di saat pandemi seperti ini.

Hmm, kalau kata PSI sih menteri-menteri yang kayak “siput” alias kerjanya lambat yang harus segera diganti dari kabinet. Tapi sebetulnya banyak juga sih menteri yang kontroversial di pemerintahan Pak Jokowi.

Yang suka melucu tapi leluconnya malah jadi bumerang karena dituduh seksis kayak Pak Mahfud MD, atau Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang dari awal kayak nganggap remeh Covid-19.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Dari PDIP sendiri, sebetulnya ada 2 menteri yang cukup disorot belakangan ini. Yang pertama adalah Menteri Sosial Juliari P. Batubara dan yang kedua adalah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Mensos misalnya, dinilai tak begitu paham sama krisis yang sedang dihadapi saat ini. Kebijakan-kebijakannya juga jadi serba tanggung dan tumpang tindih. Contohnya itu yang diprotes sama Bupati Boltim, Sehan Salim Landjar terkait pemberian bantuan sosial yang melibatkan dana desa, dana pemerintah pusat dan dana pemerintah daerah yang terkesan nggak saling klop perencanaannya.

Doi sampai bilang “banyak yang jadi menteri cuma aji mumpung”. Duh, ngeri kali kata-katanya pak.

Sementara Menkumham Yasonna nggak usah diragukan lagi lah kiprah kontroversialnya ya. Uppps. Mulai dari kebijakan pembebasan tahanan dengan alasan mencegah penyebaran Covid-19 di penjara, hingga yang terbaru soal pembahasan RUU Cipta Lapangan Kerja alias Omnibus Law dan RKUHP yang kembali dilakukan oleh pemerintah dan DPR.

Nah, masalahnya, Pak Jokowi berani nggak nih copot-copotin menteri dari PDIP? Bukannya gimana-gimana ya, hubungan Jokowi dan PDIP beberapa waktu terakhir kan cukup “meninggi” tuh, terutama terkait kritik yang disampaikan terhadap keputusan pemerintah kembali menaikkan iuran BPJS. PDIP kan cukup vokal ngritik kebijakan itu.

Jawabannya sih sebenarnya udah pasti. Nggak berani. Uppps. Hehehe. Soalnya selain situasi sekarang nggak memungkinkan untuk adanya guncangan politik, risikonya terlalu besar buat berantem sama PDIP.

Asalkan nih pak, yang penting kalau menterinya salah tetap harus ditegur loh ya. Jangan takut. Apalagi takut sama yang di belakangnya. Uppps. Bapak kan di belakangnya rakyat. Jadi harusnya lebih berani, iya nggak? Hehehe. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.