HomeCelotehAnies-Seniman Siapa Lebih Estetik?

Anies-Seniman Siapa Lebih Estetik?

“I am a very aesthetic person.” – Alaine de Botton


 PinterPolitik.com

Tentu masih segar dalam ingatan masyarakat Jakarta soal permasalahan JPO Sudirman yang atapnya dicopot oleh Anies Baswedan. Alesannya sih atap JPO Sudirman ngalangin pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang estetik, ganggu pemotretan Instagram pejalan kaki.

Sepintas alesannya oke oke aja. Cuman pelepasan atap JPO Sudirman mendegradasi fungsi jembatan tersebut. Kalo ujan keujanan, panas kepanasan. Tentunya ini diprotes warga yang lewat situ. Estetik sih estetik tapi ya fungsi harus diutamakan.

Nah masih ngomongin estetika, baru-baru ini Anies kena kritik lagi. Kali ini dari kalangan yang beneran ngerti soal estetika, para seniman. Rupa-rupanya Anies ini pengen merevitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) dan mendirikan hotel disana.

Anies merasa kasian kepada seniman mancanegara yang datang ke Indonesia dan pentas di TIM tapi pusing nyari penginapan. Jadi menurut Anies dijadiin satu kawasan aja biar ringkes.

Sontak ini pun mendapat protes dari para seniman se-Jakarta. Mereka berpendapat pembangunan hotel akan merusak estetika dari TIM. Menurut mereka juga, adanya hotel di kawasan itu gak ada hubungan sama kebudayaan dan seni, itu semua dalih komersil aja.

Seniman se-Jakarta ini pun selain keberatan masalah estetika, mereka juga marah karena tidak dilibatkan dalam pemutusan pembangunan hotel. Itu kan ranah mereka dan untuk rekan sejawat mereka juga, masa tiba-tiba ada hotel gak bilang-bilang dulu.

Kebijakan Anies ini tuh gak inklusif karena sasaran kebijakan sebagai sumber utama aspirasi tidak dilibatkan secara langsung. Tak heran pemutusan sepihak ini akhirnya mendatangkan protes keras.

Anies sih membandingkan Hotel Seniman dengan Wisma Atlet Senayan. Meski demikian, selepas Asian Games kan wisma tersebut dialihfungsikan. Memang keputusan tersebut tidak salah tapi jika membangun sesuatu yang permanen dengan anggaran besar namun tujuan tidak terlaksana kan rugi.

Anies mungkin aja merasa memiliki nilai estetika, namun di saat krisis perekonomian seperti ini pembangunan hotel seniman mungkin aja tidak jadi prioritas. Kebijakan Anies akan jauh lebih baik jika disesuaikan dengan kemampuan anggaran Pemprov DKI Jakarta. Mungkin selera Anies tinggi, tapi harus liat kantong juga sih. (M52)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Rekonsiliasi Terjadi Hanya Bila Megawati Diganti? 
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Gerindra-PKS Tega Anies Sendiri?

“Being alone is very difficult.” – Yoko Ono PinterPolitik.com Menjelang pergantian tahun biasanya orang-orang akan punya resolusi baru. Malah sering kali resolusi tahun-tahun sebelumnya yang belum...

Ada Luhut, Langkah Bamsoet Surut?

“Empires won by conquest have always fallen either by revolt within or by defeat by a rival.” – John Boyd Orr, Scottish Physician and...

Balasan Jokowi pada Uni Eropa

“Negotiations are a euphemism for capitulation if the shadow of power is not cast across the bargaining table.” – George P. Shultz PinterPolitik.com Sekali-kali mari kita...