HomeBelajar PolitikSandiaga Ingin Tiru Orde Baru

Sandiaga Ingin Tiru Orde Baru

Kecil Besar

“Sekalipun di bawah pengawasan polisi rahasia dengan senjata di tangannya, aku tahu apa yang harus aku lakukan.”


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]andiaga Uno mengatakan narasi Orde Baru atau Orba yang belakangan digaungkan Titiek Soeharto dan Keluarga Cendana adalah bagian dari rasa kerinduan akan swasembada pangan. Mantap! Yang gini-gini nih pemimpin yang layak menjadi panutan kita semua.

Coba deh gengs, bayangin saat Prabowo-Sandiaga memimpin bangsa ini, terus berhasil menjadi seperti sosok Soeharto di era Orba. Kebayang nggak? Apaan? Enggak? Sama dong. Eyke juga enggak bisa bayangin. Berarti kali ini kita gagal lagi ya punya pemimpin kayak Soeharto? Wkwkwk.

Oh iya, sebelum masuk lebih dalam, apa kalian sepakat kalau Indonesia balik lagi seperti era Orde Baru?

Kalau eyke sih setuju banget gengs, soalnya kapan lagi kan bisa jadi elite politik gratis. Kok bisa? Iya bisa lah, kalau Prabowo-Sandi jadi kayak Soeharto, media-media kayak eyke gini mah habis dibredel sama rezim. Jadi kalau sudah dibredel, kan eyke ditangkap tuh, terus jadi tahanan politik. Setelah bebas dari tahanan, eyke bikin deh reformasi jilid II lagi, kali aja kan kalau berhasil bisa menjadi seperti Amien Rais, Fadli Zon, Budiman Sudjatmiko dan lain sebagainya. Wkwkwk.

Tapi tenang gengs, Prabowo-Sandi enggak akan seperti yang kita bayangkan kok. Soalnya kata Sandi, jika terpilih nanti, dirinya akan meniru sistem ekonomi di masa Orba saja,  secara spesifik pada swasembada pangan dan energi saja.

Gimana nih gengs, apa kalian sudah cukup yakin dengan ungkapannya Sandi? Share on X

Menurut Sandi salah satu fokus program kerja mereka adalah swasembada pangan ala Orde Baru dengan cara menggenjot sumber produksi dari sektor pertanian. Dan untuk energi, bisa dikembangkan dengan energi baru dan terbarukan. Jika ini terjadi, bukan hanya ada energi terjangkau, tapi kita bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Wedeh, mantap bang! Gimana nih gengs, masih belum yakin juga sama Prabowo-Sandi? Harusnya kalian yakin dong. Lagian gapapa kok kalau ternyata nantinya Prabowo-Sandi ngikutin sedikit-sedikit caranya Soeharto memimpin negeri. Ya paling satu dua orang aja yang pulang tinggal nama! Uppss, bercanda ya! Wkwkwk. (G35)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...