HomeBelajar PolitikPilih Bersama Rakyat Daripada Debat di TV, Agus Yudhoyono Tunjukkan Sikap Pemimpin...

Pilih Bersama Rakyat Daripada Debat di TV, Agus Yudhoyono Tunjukkan Sikap Pemimpin Sejati

Kecil Besar

pinterpolitik.comJum’at, 16 Desember 2016.

Tiap Calon Gubernur DKI Jakarta mempunyai strateginya masing-masing dalam berkampanye mengumpulkan suara dan aspirasi rakyat.

Ahok-Djarot, Anies-Sandi tampil di layar kaca, acara debat Cagub Cawagub.

Bisa kita lihat sendiri yang sudah berlangsung saat ini, seperti Ahok yang berkampanye di Rumah Lembang, Bandung, mencari perhatian publik melalui media massa dan juga media digital secara masif. Banyak kalangan menilai kasusnya terkait penistaan agama yang sangat viral sambil dibumbui cucuran air mata itu adalah strateginya dalam membangun drama Pilkada 2017 kali ini, supaya dirinya sukses menumbuhkan eksistensi dan jadi sorotan nomor satu, mungkin. Lalu Anies Baswedan yang melancarkan kegiatan blusukan, menebar visi misi untuk menurunkan harga sembako serta menstabilkan ekonomi Indonesia, dan kemudian disusul Sandiaga Uno untuk latihan debat bersama untuk tampil di layar kaca. Anies-Sandi juga didukung oleh tokoh politik yang sebelumnya pernah tersangkut kasus Saksi Palsu.


Siapa sangka jika ternyata sosok Agus Harimurti Yudhoyono memiliki popularitas tertinggi kedua setelah Ahok. Dijuluki The Rising Star, Agus menanggapi isu tentang dirinya yang beberapa kali absen saat ada debat Cagub di stasiun-stasiun televisi swasta. Dirinya memilih untuk tidak tampil di acara debat tak resmi itu karena ingin berkonsentrasi bersama rakyat secara langsung. Bukan merupakan suatu pelanggaran, karena jadwal debat resmi dari KPUD DKI sendiri adalah pada tanggal 13 dan 27 Januari 2017, serta 10 Februari 2017.

Dalam wawancaranya oleh wartawan Kamis kemarin, usai menghadiri undangan kampanye tatap muka dengan Komunitas Pengemudi Bajaj di Cipete Utara, Jakarta Selatan, Agus berkata,

Saya tidak hadir. Saya memilih menyibukkan diri bersama rakyat, mendengarkan langsung aspirasi masyarakat dan itu yang terbaik bagi saya. Saya merasa sangat nyaman di situ,” ungkap Agus.

Terkait  kehadiran kedua pasangan calon lainnya, Agus mengatakan,

Oh silakan itu pilihan mereka, saya punya pilihan. Saya (memilih) bersama rakyat.

Disamping itu, Agus juga mengemukakan visi misinya untuk membangun Jakarta menjadi lebih baik lagi dari yang sekarang. Dirinya ingin mewujudkan banyak hal positif jika kelak ia terpilih menjadi seorang Gubernur DKI Jakarta.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?

Agus ingin melestarikan karya Tenun dan Songket khas Indonesia.

Agus akan konsentrasi mengangkat karya anak bangsa, yaitu karya Tenun dan Songket ke kancah internasional agar karya bangsa semakin mencuat di galeri dunia. Dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut, Agus telah memasang target sendiri. Namun target tersebut bergantung dengan seberapa besar keinginan pemerintah mewujudkannya. Agus mengatakan, dirinya akan komit dalam hal ini.

Kedepannya Jakarta harus mampu menjadi etalase Indonesia, salah satunya dalam hal fashion. Kita jangan sampai kalah dengan New York, Paris, Milan. Songket dan Tenun harus semakin dilestarikan.

Dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut, Agus telah memasang target sendiri. Namun target tersebut bergantung dengan seberapa besar keinginan pemerintah mewujudkannya. Agus mengatakan, dirinya akan komit dalam hal ini.

Targetnya tergantung seberapa besar keinginan pemerintah. Tentu saya punya komitmen tinggi. Tentu kita ingin rangkul seluruh elemen masyarakat yang peduli dengan budaya untuk bersama-sama mewujudkannya.


Agus ingin mensejahterakan kembali pengemudi Bajaj di Jakarta.

Bajaj yang saat ini menurutnya sedikit tersisihkan keberadaannya karena bermacam model transportasi yang hadir di Ibu Kota. Dirinya akan berupaya meyakinkan kembali regulasi transportasi di Jakarta agar semuanya merasa diuntungkan.

Kita yakinkan lagi regulasi di Jakarta supaya adil. Semua harus mendapat tempat yang baik dan peluang yang baik. Tentu sekarang makin tumbuh moda transportasi lain tapi pengemudi bajaj ini dapat diperhatikan kesejahteraannya melalui koperasi, juga termasuk fasilitas yang baik pula.

Agus tidak ingin menghilangkan keberadaan bajaj di Jakarta. Justru sebaliknya, ia ingin menjadikan kendaraan roda tiga ini sebagai ikon Ibukota Jakarta, sama seperti di negara-negara lainnya

Kita justru bisa jadikan bajaj sebagai ikon Jakarta, peninggalan tradisi ini dibuat menarik. Kota di dunia tak meninggalkan transportasi tradisionalnya ya, ada tuk-tuk di Thailand, even di UK juga ada sendiri.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Menurut Agus, transportasi bajaj masih dibutuhkan namun dalam lingkup yang terbatas, lingkup yang terbatas ini bisa dijadikan sebagai gimmick transportasi yang khas tersendiri ala Indonesia. Oleh karenanya, Agus akan memberikan ruang kepada para pengemudi bajaj untuk tetap mencari nafkah di Jakarta.

Yang penting bagi saya berkeadilan, walaupun ada kemajuan jaman tapi kita harus perhatikan mereka yang sudah lama mencari penghasilan dengan mengemudikan bajaj ini. Dicari keunikannya. Melalui support dari pemerintah dan komunitas lainnya, ini bisa terjadi.


Agus akan membangun dan siapkan fasilitas yang layak untuk olahraga khususnya sepakbola.

Gerakan kampanye jitu Agus-Sylvi salah satunya juga mendengarkan aspirasi komunitas olahraga khususnya sepakbola. Agus berjanji, jika kelak terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia akan menyiapkan dan membangun fasilitas yang layak untuk olahraga khususnya sepakbola. Menurutnya, dengan berolahraga maka masyarakat akan senang jiwa dan raganya.

Saya memiliki prioritas meningkatkan prestasi sepakbola DKI, menyiapkan stadion. Saya tingkatkan kualitas dan prestasi sepakbola klub Persija serta meningkatkan kualitas untuk latihan.”

Dia pun mengaku sedih jika Jakarta tidak mempunyai basis sepakbola. Walapun belum punya stadion, dia meminta masyarakat agar tetap semangat dalam berolahraga juga mendukung Persija untuk bisa memberikan prestasi yang terbaik.

“Kita sedih karena tidak punya basis. Yang mempersatukan kita olahraga dan sepakbola. Walaupun belum punya stadion tetap semangat dan kita perjuangkan bersama.”

Dalam hal ini, Agus meresmikan turnamen mini soccer untuk perebutan piala AHY. Ia ingin terus menarik semangat para pemuda khususnya pencinta olahraga dan sepakbola.

“Para pendukung, bahagia dan bangga jika bisa teriakkan dan berikan support pada tim yang mereka dukung. Itulah impian kita semua,” tutup Agus.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

UMKM Motor Ekonomi Dunia

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia...

Jembatan Udara Untuk Papua

PinterPolitik.com JAKARTA - Pemerintah akan memanfaatkan program jembatan udara untuk menjalankan rencana semen satu harga yang dikehendaki Presiden Joko Widodo. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan...

Kekerasan Hantui Dunia Pendidikan

PinterPolitik.com Diklat, pada umumnya dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian serta etika kepada anggota baru. Namun kali ini, lagi-lagi Diklat disalahgunakan, disalahfungsikan, hingga...