HomeBelajar PolitikIroni Jokowi Semakin Kronis

Ironi Jokowi Semakin Kronis

Kecil Besar

“Kepuasan kepada Jokowi cukup tinggi, tapi kok rakyat enggan pilih doi ya?”


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]emakin hari, Indonesia semakin mendekati pesta demokrasi. Namun, masyarakat terlihat tidak merasa riang menghadapi hari pesta itu, melainkan semakin bingung harus bersikap seperti apa dan harus memilih siapa.

Mungkin kisah Zidni alias Cacing di bawah ini bisa menjawab mengapa semakin hari semakin banyak jumlah orang-orang yang nggak yakin buat milih:

Pagi hari yang cukup cerah, Cacing merasa sangat bersemangat. Seperti hari-hari biasa, sebelum Cacing mengangkat badannya yang menempel di kasur, ia selalu melakukan ritual menggeliatkan tubuhnya demi peregangan sambil membaca berita politik melalui gadget-nya.

Saat Cacing membaca berita dari salah satu media nasional, ia merasa terheran-heran dengan berita politik Jokowi yang semakin hari semakin mengalami penurunan elektabilitas.

Cacing: “Wanjay! Jokowi semakin hari semakin terpuruk nih!”

Tanpa disengaja, pembicaraan Cacing barusan terdengar oleh ibunya yang ternyata berada di belakangnya sambil membawa setumpuk pakaian yang baru disetrika.

Emak: “Anjay anjay, siapa sih yang ngajarin ngemeng begitu? Mandi sono, udah siang keburu terlambat!”

Cacing: “Lah ada emak! Maaf mak, Cacing replek baca berita Jokowi. Mandinya entar aja deh mak, emang mau kemana sih terlambat? Pan Cacing pengangguran mak”.

Emak: “Oh iya, emak lupa, pan elu pengangguran ya. Eh Cing itu Jokowi kenapa beritanya, kepo nih emak?”

Cacing: “Yailah mak, ini mak. Jokowi kata pengamat politik dari UIN Jakarta, Adi Prayitno, disebut jadi kuat karena kesuksesan program pemerintah saat ini bisa menjadi modal kuat buat Pilpres”.

Emak: “Terus terus Cing, Jokowi menang lagi ya?”

Cacing: “Bentar dulu mak. Meskipun begitu, Adi bilang Jokowi tetap harus waspada karena kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah tak berbanding lurus dengan elektabilitasnya.”

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

Emak: “Wah Cing, kalau begini mah enggak usah pengamat deh yang prediksi kenapa bisa gitu. Emak juga bisa nih kasih prediksi buat Jokowi.”

Cacing: “Sok tahu nih emak, berasa jadi Ki Joko Bodo aja mak!”

Emak: “Yeh kualat lu, sama emak Cing! Nih kalau menurut emak, kenapa rakyat banyak yang puas sama Jokowi, tapi banyak rakyat yang ragu pilih Jokowi itu karena…”

Cacing: “Karena, Jokowi bukan Prabowo?”

Emak: “Bodo amat Cing, emak lagi ngomong dipotong-potong, berasa lagi di ILC aja Cing. Jadi menurut emak alasannya karena banyak dari masyarakat termasuk emak pusing kalau milih Jokowi, nanti malah dipanggil kecebong. Terus kalau milih Prabowo dipanggil kamvret.  Nah, kalau seandainya pada golput, malah dipanggil kecempret. Jadi daripada dipanggil yang aneh-aneh, mending enggak usah jadi apa-apa.”

Cacing: “Yaelah mak, receh amat. Kirain pada enggak mau pilih Jokowi gara-gara doi omdo alias omong doang. Eh tahunya kayak gitu. Ckckck, nih mak kalau menurut Cacing, emak banyakin deh baca bukunya Michel Eyquem de Montaigne, biar enggak kayak bocah banget gitu mak.”

Emak: “Emang siapa dah tuh Cing? Terus Eyquem ngomong apaan lagi?”

Cacing: “Iya dia orang mak. Cacing juga enggak kenal siapa, pokoknya setahu Cacing dia seorang filsuf. Begini nih kutipannya mak: Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain.”

Emak: “Wah, tjakep tuh Cing! Emak taro di status Bogo Live ah”.

Cacing: “Wanjay, emak gua main Bogo Live.” Share on X (G35)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...