HomeBelajar PolitikGiring 'Nidji' dan Politik Milenial

Giring ‘Nidji’ dan Politik Milenial

Kecil Besar

Giring Ganesha, seperti sebagian milenial lainnya, turut jenuh dan ingin melakukan perubahan politik yang lebih baik bagi generasi mendatang.


PinterPolitik.com 

 

[dropcap size=big]T[/dropcap]ak terlalu mengejutkan, Giring Ganesha atau yang populer dikenal Giring ‘Nidji’, memutuskan terjun ke dunia politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Musisi dan public figure itu bahkan bersedia meninggalkan panggung hiburan yang sudah membesarkan namanya untuk fokus di kancah politik nasional. “Kalau misalnya jadwalnya bentrok, saya harus fokus, saya kan punya tanggung jawab dan amanah dari pemilih saya. Jadi itu semua adalah keputusan pribadi masing-masing. Sekarang sih rejezi sudah cukup. Saya sudah siap ninggalin semua,” ujarnya pria berusia 34 tahun tersebut.

Milenial ini menambahkan, keputusannya untuk berpolitik juga dipengaruhi oleh Presiden Jokowi. Ia menilai sosok Jokowi mampu memberi teladan seorang pemimpin jujur, bersih, bekerja keras, tanpa latar belakang politik yang panjang, namun bisa membawa perubahan berarti bagi kesejahteraan masyarakat luas. Dengan demikian, ia lantas berpikir, dirinya juga bisa membawa harapan baru bagi Indonesia, seperti apa yang dilakukan Jokowi.

(Foto: istimewa)

Sosok Jokowi bagi sebagian orang, memang mampu mengubah keputusan dan persepsi masyarakat ‘awam’ mengenai figur politik, yang kerap lekat dengan ketidakjujuran dan manipulatif. Menurut pengalaman pribadi penulis, beberapa kelompok orang yang selalu berada di posisi golput, bahkan rela keluar ‘sarang’, demi memilih Jokowi dalam gelaran Pilpres 2014 lalu. Tetapi, di sisi lain survei dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), malah menunjukan jika angka golput ternyata tak menurun sama sekali karena kehadiran Jokowi. Sebaliknya, angka itu semakin besar.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir menyatakan angka golput dalam gelaran Pilpres 2014 mencapai 40 persen. “Saat ini kondisi Indonesia hampir karam dan membuat frustasi,” begitu komentar pendeknya.

Namun, angka tinggi golput tak selalu berkorelasi dengan sikap apatis politik masyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama, aktif dalam politik tak selalu ditunjukan dengan ikut Pemilu saja, bergabung dengan partai dan komunitas politik, bahkan ‘turun’ ke jalan juga bentuk aktivitas politik. Beberapa komunitas sosial – politik yang diinisiasi milenial bahkan tumbuh subur di Indonesia sejak 2014 lalu.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Lantas, bagaimana Milenial Indonesia mengekspresikan sikap politiknya?

Milenial, yang Muda yang Bersuara

Menurut PEW Research Center, generasi milenial adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 1981 sampai 1996. Generasi ini pernah dicap Joel Stein, kontributor Time, sebagai generasi narsis, pemalas, terlalu bergantung pada teknologi, dan enggan bekerja keras. Tak berhenti di sana, ia juga menyebut milenial dianggap lebih suka sesuatu yang instan, tidak repot, dan dikerjakan tanpa keringat. Kelompok ini ingin mandiri dan dihargai, tetapi masih tinggal serumah dengan orang tuanya, ingin terdidik tetapi tidak kunjung lulus kuliah.

Tentu saja penilaian Stein mendapat pertentangan berbagai pihak, baik dari sesama jurnalis maupun aktor komedi Amerika terkenal Stephen Colbert, pembawa acara The Late Night Show. Presiden Jokowi sendiri bahkan pernah berkata, generasi Y (sebutan lain generasi milenial), adalah agen pembawa perubahan yang mempengaruhi pasar, baik politik maupun ekonomi Indonesia dalam kurun 5 – 10 tahun ke depan. Hal tersebut diucapkannya saat menghadiri Rapimnas I Partai Hanura Tahun 2017. Dengan demikian, penilaian Stein tentu tak sepenuhnya benar.

Milenial adalah generasi yang terpapar dengan teknologi, dan ponsel pintar merupakan penanda uniknya. Kehadiran ponsel pintar ini ibarat buah simalakama, ia bisa menghilangkan batas geografis dan memudahkan orang untuk terhubung, sementara di sisi lain, dituding sebagai penyebab keterasingan di dunia yang makin ramai. Mereka dianggap lebih suka menatap layar ponsel pintar dan mengabaikan orang di sekitar.

Namun begitu, beberapa gerakan politik di Indonesia yang diinisiasi milenial berawal dari gawai pintar dan, tentunya, media sosial. Teman Ahok adalah satu contohnya. Gerakan ini bermula dari kampanye Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) yang viral di media sosial. Selanjutnya, para inisiator yang terdiri dari lima orang anak muda tersebut, bekerjasama menghimpun 1 juta KTP penduduk Jakarta demi mengantarkan Basuki Tjahaja Poernama (Ahok) sebagai calon independen pada Pilgub DKI 2017.

Walaupun Ahok memilih jalur parpol, nyatanya gerakan Teman Ahok, sedikit banyak, merepresentasikan bagaimana kaum milenial bersuara, bersikap, dan berjuang. Dari Teman Ahok, selanjutnya komunitas atau gerakan sosial – politik lahir seperti Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG), Change.or, Kitabisa.com, hingga Tsamara Amany yang dijadikan simbol anak muda ‘melek’ politik. Soal hasil, kelompok milenial memang masih harus belajar banyak dari para pendahulunya.

Baca juga :  IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Terjun ke Politik, Bentuk Kejenuhan?

Kans atau kesempatan berpolitik milenial, memang harus berhadapan generasi X (generasi yang lahir antara tahun 1965 – 1980-an) dan baby boomer (generasi yang lahir di tahun 1946 – 1964). Kedua generasi ini, dianggap sangat bertolak belakang dengan generasi milenial. Baby boomer dan generasi X, dicitrakan sebagai pemilik sifat sopan, pekerja keras, berpendidikan tinggi, dan peduli pada masyarakat sekitarnya.

Namun begitu, Bobby Duffy, Managing Director Ipsos MORI Social Research berseloroh jika persepsi kontras antara baby boomer – generasi X dengan milenial, hanya persoalan usia saja. “Generasi muda selalu menjadi target ejekan dari generasi yang lebih tua,” ujar Duffy.

Sementara itu, persepsi positif yang melekat pada generasi sebelum milenial, terutama baby boomer,tak semuanya benar. Di Indonesia, generasi itu adalah generasi paling korup. Mereka adalah generasi yang mengeksploitasi dan menghabiskan minyak dan gas bumi, mewariskan pemanasan global, dan perubahan iklim bagi generasi selanjutnya.

foto: istimewa

Akibat lahir dari kondisi yang diciptakan generasi sebelumnya, yakni baby boomer, generasi milenial harus menanggung akibatnya. Mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, kerusakan alam, ketimpangan ekonomi, sempitnya lapangan pekerjaan dan usaha, serta tingginya pajak adalah beberapa contohnya.

Tudingan malas yang dicitrakan pada milenial, bahkan dipatahkan pula oleh Bobby Carusso, jurnalis Huffington, sebagai generasi yang mampu menggerakan puluhan ribu orang dari media sosial untuk melawan ketidakadilan melalui demonstrasi. Masih menurut Carusso, mereka pula yang memperkirakan akan bekerja sampai mati sesuai dengan pendapat milenial di Jepang dan Tiongkok.

Maka tak heran jika beberapa kelompok milenial kini terjun ke dunia aktivisme politik dengan cara yang beragam. Seperti perkataan Giring sebelumnya, ia ingin menciptakan  iklim sosial – politik  lebih positif di masa depan. Itu pula yang menjadi landasan para milenial pendiri TemanAhok, Kitabisa.com, dan komunitas lainnya. Lantas jika demikian, generasi milenial tidak dapat lagi disebut sebagai generasi pemalas, bukan? (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....