HomeBelajar PolitikEmak-emak Jadi Suplemen Prabowo!

Emak-emak Jadi Suplemen Prabowo!

Kecil Besar

“Aku sangat cinta pada kebenaran, tapi mengapa kebenaran selalu menghindar dariku?”


PinterPolitik.com

[dropcap]G[/dropcap]engs, sudah tahu kalau Prabowo Subianto kemarin bilang bahwa sekarang ini saatnya seluruh elemen bangsa, khususnya perempuan atau emak-emak, untuk bergerak merebut kedaulatan rakyat pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019? Ia mengatakan emak-emak memiliki pengaruh yang kuat bagi lingkungannya.

Hmm, katro, katanya anak politik. Katanya peduli NKRI. Masa gini aja enggak tahu sih? Share on X Eh, sebenarnya eyke juga baru tahu sih. Ehehehe. Tapi gengs, intinya ya kemarin itu Prabowo bilang gini:

“Ayo semua, bantu saya yakinkan keluarga dan lingkungan terdekat kalian untuk berjuang menciptakan perubahan. Keselamatan Republik ini dipundak emak-emak, nasib bangsa ini ada dipundak emak-emak”.

Wkwkwk, jangan ketawa cuy, biasa aja kali kalau Prabowo ngomong gini. Emang kenapa? Namanya juga kan doi lagi usaha mau jadi presiden, jadi enggak ada masalah dong.

Kalau masalah “emak-emak adalah pundak keselamatan Republik Indonesia” juga enggak salah kok gengs. Kenapa? Ya jelas kalau enggak ada emak-emak, yang meregenerasi manusia di negara ini siapa? Pokoknya mah kalau bahas isu emak-emak, semuanya mah lewat gengs. Hayo coba mau bantah atau mau marah sama omongan saya ini? Jangan deh, jangan dibantah kalau soal emak-emak.

Buktinya nih, sampai di agama Islam saja menyebut surga ada di bawah telapak kaki emak dan kita wajib menghormati. Jadi, ayo mau coba-coba melawan? Wkwkwk.Oh iya gengs, kata Prabowo juga, saat ini kesadaran rakyat Indonesia sudah bangkit dalam melihat situasi keadaan bangsa dan negara saat ini. Karena itu, Prabowo mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih kepada perempuan yang secara sukarela mendukung perjuangannya bersama Sandiaga Salahuddin Uno.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Prabowo pun sampai berjanji akan menciptakan rasa keadilan dan mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, Prabowo berharap bisa bersama menyongsong kemenangan dan perubahan. Dengan dukungan emak-emak dirinya merasa sangat kuat. Wkwkwk, yakin nih? Tapi kalau sudah dapat dukungan dari emak-emak, emak-emaknya jangan diceraiberaikan ya pak! Uppss, ehehehe. (G35) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...