HomeNalar PolitikAndika, Kunci Jokowi Tetap Perkasa?

Andika, Kunci Jokowi Tetap Perkasa?

Kecil Besar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Kepala Staf TNI AD Jenderal Andika Perkasa sebagai Wakil Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi – mendampingi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Apa alasan Jokowi dalam keputusan itu?


PinterPolitik.com

“I got this sh*t mapped out strong” – Drake, penyanyi rap asal Kanadas

Kesatuan dan kerja sama memang lebih memberikan dampak daripada bekerja sendiri-sendiri. Hal ini mungkin merupakan salah satu pesan yang paling terlihat dalam film Avengers: Endgame (2019).

Dalam film tersebut, para pahlawan super memutuskan untuk bersatu kembali untuk menyelamatkan orang-orang yang disayanginya setelah Thanos berhasil melenyapkan separuh populasi semesta hanya dengan sekali jentikan jari. Meski telah berlalu selama lima tahun, para pahlawan ini memutuskan untuk tidak menyerah.

Harapan ini muncul setelah Ant-Man ternyata berhasil kembali dari dimensi lain. Kembalinya satu pahlawan super ini menginspirasi beberapa pahlawan lain untuk berusaha mencari kunci dan jawaban atas rahasia perjalanan waktu.

Guna mewujudkannya, Ant-Man dan Captain America harus mengumpulkan rekan-rekannya yang ahli dalam Ilmu Fisika. Beberapa di antaranya adalah Hulk dan Iron Man.

Pengetahuan yang dimiliki oleh Iron Man akhirnya berhasil membawa para pahlawan super itu untuk kembali ke masa lalu guna mengambil batu-batu sakti yang menyebabkan lenyapnya separuh populasi semesta.

Mungkin, penggalan kisah dari film tersebut turut tergambarkan dalam alasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menyusun Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi. Tampaknya, selain Erick Thohir sebagai ketua pelaksana, sang presiden membutuhkan elemen kekuatan lain yang dianggap krusial, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kali ini, Jokowi menunjuk Kepala Staf TNI Angatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa sebagai Wakil Ketua Pelaksana Komite. Bila mengacu pada sejumlah pejabat di pemerintahan, pemilihan Andika sebagai wakil ketua ini bertujuan untuk melibatkan TNI sebagai elemen yang dapat mendisiplinkan penerapan protokol kesehatan.

Alasan ini bisa saja benar. Pasalnya, Jokowi sendiri telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2020 yang turut menginstruksikan TNI untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan sekaligus melakukan pembinaan kepada masyarakat terkait pandemi Covid-19.

Meski begitu, instruksi itu tidak hanya ditujukan pada TNI, melainkan juga pada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Namun, Jokowi tampaknya lebih memilih seseorang dari TNI untuk mengisi posisi wakil ketua tersebut.

Bila para Avengers mengajak Iron Man karena keahliannya dibutuhkan, kira-kira mengapa Jokowi memilih Andika sebagai Wakil Ketua Pelaksana? Lantas, apakah ada keuntungan politik tertentu?

Pilihan Jokowi yang jatuh pada Andika bisa jadi bukan tanpa alasan. Pasalnya, Andika disebut-sebut memiliki dukungan politik yang bisa saja dibutuhkan oleh mantan Wali Kota Solo tersebut.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Kimberly L. Casey dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital menjelaskan – dengan menggunakan pendekatan ala Pierre Bourdieu – bahwa seseorang dapat memiliki sejumlah modal yang bisa saja ditransformasikan menjadi modal politik. Sumber-sumbernya bisa beragam, seperti modal ekonomi, modal sosial, modal institusional, modal sumber daya manusia, dan sebagainya.

Modal-modal yang ditransformasikan menjadi modal politik ini dapat menjadi determinan bagi karier politik pemilik modal. Bahkan, mengacu pada tulisan Casey, modal ini kerap diasosiasikan dengan kekuatan (power).

Modal ekonomi yang bersumber dari kekayaan finansial, misalnya, dapat bertransformasi menjadi modal politik. Selain itu, kapabilitas seperti kualifikasi juga dapat mendukung karier politikus atau pejabat tersebut sebagai modal sumber daya alam.

Bukan tidak mungkin, sumber-sumber modal seperti ini juga dimiliki oleh Andika. Alhasil, dengan modal yang dimiliki, Jokowi pun turut mempertimbangkan posisi sang KSAD.

Modal pertama yang paling tampak adalah modal institusional. Menurut Casey, modal ini bersumber dari institusi pemerintahan yang terkait dengan individu pemilik modal. Dalam hal ini, Andika sebagai KSAD memiliki modal institusional tersebut dari TNI AD yang dipimpinnya.

TNI AD sendiri disebut memiliki jumlah personel yang cukup besar, yakni sekitar 200 ribu personel (2015). Bisa jadi, kekuatan besar ini diperlukan Jokowi untuk menerapkan protokol kesehatan di masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Selain sumber institusional, posisi Andika sebagai KSAD dapat menjadi modal politik berupa modal sosial melalui ikatan kelompok kolektif TNI. Jaringan sosial di TNI ini bisa menjadi modal yang menjanjikan bagi Andika.

Belum lagi, Andika merupakan menantu dari mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono yang disebut-sebut memiliki jaringan relasi yang kuat di kalangan militer. Kehadiran Hendropriyono di belakang sang KSAD ini juga memberikan dukungan politik dari relasi PDIP.

Pasalnya, Hendropriyono sendiri disebut-sebut dahulu pada era Orde Baru (Orba) menjadi petinggi ABRI yang membiarkan Megawati Soekarnoputri memimpin PDI. Dukungan PDIP pada sang KSAD juga terlihat dari bagaimana sejumlah kader PDIP menyambut keputusan Jokowi ketika Andika diangkat menjadi KSAD.

Bahkan, beberapa kader PDIP juga tampak mendukung Andika untuk menjadi penerus Hadi Tjahjanto yang kini menjadi Panglima TNI. Bukan tidak mungkin juga sosok yang kini menjabat sebagai KSAD ini menduduki kursi tertinggi di TNI di masa mendatang.

Bila memang Andika memiliki modal-modal politik ini, lantas, apakah ada pertimbangan politik lain yang dipikirkan oleh Jokowi dari kehadiran Andika? Apa mungkin keputusan ini berkaitan dengan situasi politik terkini?

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?

Untuk Stabilitas?

Boleh jadi, modal-modal politik yang dimiliki oleh Andika juga perlu dipertimbangkan oleh Jokowi. Pasalnya, di tengah situasi pandemi dan ancaman resesi ekonomi, kepercayaan publik terhadap pemerintah juga terus menurun.

Belum lagi, beberapa pembahasan dan diskusi mengenai pengunduran diri presiden juga mulai mencuat. Jokowi sendiri kini juga semakin kehilangan kontrol atas para menteri di kabinetnya. Ini ditandai dengan kemarahan dan kekesalan dari mantan Wali Kota Solo tersebut yang terus berulang.

Dari ancaman stabilitas dan kontrol yang dihadapi Jokowi ini, Andika bisa saja dibutuhkan untuk tetap menjaga posisi politik presiden. Pasalnya, TNI AD sendiri merupakan salah satu matra TNI dengan pengaruh politik yang cukup besar.

Selain itu, modal sosial Andika berupa jaringan relasi bisa saja juga dibutuhkan oleh Jokowi. Pasalnya, mengacu pada pendapat analis militer Aris Santoso, Hendropriyono masih memiliki pengaruh yang besar di kalangan jenderal-jenderal TNI.

Bukan tidak mungkin, Jokowi membutuhkan pengaruh TNI AD dan para jenderal ini untuk menjaga stabilitas kekuasaannya. Bila mengacu pada filosofi yang diajarkan oleh filsuf Konfusius, tentara (army) juga menjadi salah satu dari tiga komponen kekuatan utama yang perlu dijaga – di luar pangan (food) dan kepercayaan publik (trust).

Boleh jadi, bila Andika benar merupakan kunci agar Jokowi dapat mengamankan posisinya, dipilihnya Andika sebagai Wakil Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi bisa saja menjadi langkah untuk mempersiapkan sang KSAD untuk menempati posisi Panglima TNI di masa mendatang. Bisa jadi, keputusan ini menjadi ujian bagi Andika dari Jokowi.

Pasalnya, bila Andika berhasil mengerjakan tugas barunya dengan baik, bukan tidak mungkin kariernya menjadi semakin cemerlang. Alexander J. Oliver dan Andrew Reeves dalam tulisannya yang berjudul The Politics of Disaster Relief menjelaskan bahwa – dengan merujuk pada Niccolo Machiavelli – keberhasilan dalam menangangi situasi yang tak terduga dapat membuat pejabat tersebut tetap dalam kekuasaan.

Asumsi ini juga sejalan dengan penjelasan Casey mengenai modal politik. Keberhasilan tersebut dapat menjadi pengakuan (name recognition) sebagai salah satu tolok ukur modal sosial.

Meski begitu, asumsi dan gambaran kemungkinan mengenai alasan Jokowi dalam memilih Andika ini belum tentu benar adanya. Yang jelas, pemerintah kini melihat TNI sebagai salah satu elemen penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Kita amati saja bagaimana kelanjutannya nanti. (A43)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?