HomeBelajar PolitikPrabowo Kembali, Prabowo Berjoget

Prabowo Kembali, Prabowo Berjoget

Kecil Besar

Setelah mengalami kekalahan di Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu, nyatanya tak membuat Prabowo Subianto lenyap dalam medan pemberitaan media mainstream.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]ada Sabtu (1/04), Ketua Umum Partai Gerindra ini menghadiri dekalarasi dukungan dari 13 organisasi buruh di Jakarta kepada pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno di DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, selain menjanjikan menambah 500.000 suara dari buruh untuk pasangan calon Anies Baswedan – Sandiaga Uno, Prabowo juga meluncurkan buku berjudul “Paradoks Indonesia”.

“Saya baru saja menyelesaikan buku Paradoks Indonesia,” Katanya, “Saya launching buku ini di hadapan buruh, saudara semua. Semua akan mendapatkan masing-masing satu.” Buku ini, merupakan kritik Prabowo mengenai kebijakan pembangunan pemerintah Indonesia yang belum bisa melenyapkan kesenjangan ekonomi, termasuk di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Ia juga mengeluarkan pandangannya tentang ironisme bangsa Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah bangsa yang kaya namun tetap dilanda kemiskinan. Seharusnya paradoks tersebut tidak terjadi jika kesempatan hidup dan terhormat, serta terpenuhi kebutuhannya akan keadilan. “Hanya itu yang diinginkan oleh rakyat Indonesia, termasuk kaum buruh”, lanjutnya kemudian.

Sebagai penutup, Prabowo menjanjikan para buruh untuk ikut dangdutan dan berjoget bersama jika Anies – Sandi menang di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. “Nanti insya Allah berhasil 19 April. Kita akan ada hajatan. Kita nanti dangdutan khusus buruh. Nanti saya pimpin joget. Prabowo tidak akan mimpin makar, Prabowo akan pimpin joget, setuju?” Begitu janjinya.

Bukan Sekunder RI

Prabowo Subianto atau yang memiliki identitas lengkap H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo, lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Memasuki usia 65 tahun, ia sudah menjejakan karir di bidang militer, politik, dan wirausaha.

Orangtuanya merupakan begawan ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo dan ibunya bernama Dora Marie Sigar atau lebih dikenal dengan nama Dora Soemitro. Kakeknya, Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo merupakan pendiri Bank Negara Indonesia, anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia),  dan ketua pertama DPA RI (Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Prabowo juga memiliki dua kakak perempuan bernama Bantiningsih Miderawati dan Maryani Ekowati, serta satu adik laki-laki bernama Hashim Djojohadikoesoemo, seorang pengusaha sukses yang pada tahun 2016 mencetak namanya dalam jajaran konglomerat penting di majalah Forbes.

Prabowo juga terkenal karena pernikahannya dengan anak keempat mantan Presiden Soeharto, Titiek Soeharto. Dari sana, ia mereguk karir yang cemerlang di Angkatan Darat berkat patronase dengan sang mertua. Ketika kekuatan Orde Baru melemah di tahun 1990-an, Prabowo menjadi penjaga istana negara yang utama dan memiliki rumor bertanggung jawab atas penculikan aktivis reformasi yang beberapa diantaranya masih hilang hingga saat ini. Edward Aspinall, seorang dosen dari Australian National University menambahkan, karena hal tersebut Presiden selanjutnya,B.J Habibie memberhentikan dirinya sebagai Komandan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrat), sehari setelah pengunduran diri presiden Soeharto pada 22 Mei 1998. Saat ini, beberapa aktivis yang saat itu diculik berhasil kembali. Mereka adalah Desmond J Mahesa dan Pius Lutrilanang. Saat ini keduanya masuk dalam jajaran pengurus DPP Partai Gerindra.

Setelah jatuhnya Order Baru, di awal tahun 2000-an, ia berusaha keras membangun karir politik. Salah satunya dengan membidik kursi Presiden tahun 2004. Hal itu dilakukannya dengan menunggangi partai Golkar (Golongan Karya), namun gagal.

Pilpres 2009 Ki-Ka: Megawati – Prabowo

Akibat kegagalan tersebut, ia membuat kendaraan politiknya sendiri dengan mendirikan partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya). Usaha ini berhasil membawanya pada ajang pemilihan presiden tahun 2009. Ia bersanding dengan Megawati Soekarno Putri dari PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), sebagai calon wakil presiden. Walaupun mengalami kekalahan terhadap Susilo Bambang Yudhoyono, dalam kontestasi tersebut Gerindra mampu membawa lima partai berkoalisi untuk mengusungnya dalam Pilpres 2014. Partai tersebut adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PAN (Partai Amanat Nasional), PPP (Partai Persatuan Pembangunan), PBB (Partai Bulan Bintang), dan Partai Golkar.

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Dalam pemilihan presiden tahun 2014, Prabowo mulai bangkit. Banyak yang mengekspos dirinya dan mendukungnya. Marcus Mietzner, dosen dari Australian National University, menyatakan selain dukungan 6 partai politik, ia mendapat suntikan dana tak terbatas dari adik laki-lakinya, Hashim. Ditambah, dua konglomerat media berpengaruh Indonesia, Hary Tanoe dan Abu Rizal Bakrie, mendukungnya penuh. Media besutan dua raja media tersebut, tiap harinya membangun citra-citra positif Prabowo. Bahkan, dalam babak final Indonesian Idol, Prabowo muncul menyerahkan hadiah utamanya.

Prabowo menyerahkan hadiah utama kepada pemenang Indonesian Idol 2014 (sumber: okezone)

Joget Ala Prabowo

Perbedaan identitas calon presiden yang kontras dalam Pilpres 2014 lalu, membuat Prabowo memiliki ciri khas khusus dibandingkan dengan calon presiden saingannya kala itu, Joko Widodo. Gaya kampanye Prabowo sarat dengan seremonial, lengkap dengan kemeriahan marching band dan berparade ala militer.

Bahkan, ia juga meniru gaya berbusana Soekarno, lengkap dengan peci, keris, dan sarung tangan ala pejuang kemerdekaan Indonesia tahun 1940-1950-an. Penampilan ini, membuatnya berbeda dari elit politik Indonesia lain.

Prabowo dalam Pilpres 2014 (sumber: Kompas)

Dalam berkampanye, Prabowo hampir selalu memasukan unsur dan pembicaraan mengenai nasionalisme. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang dieksploitasi sekian lama oleh bangsa lain, sehingga rakyat menjadi ‘kacung’ di negeri sendiri. Kekayaan Indonesia selalu diisap, untuk kepentingan bangsa asing dan Indonesia harus berdiri di atas kakinya sendiri. Pidato yang sangat dramatis, bukan militan tersebut, juga kerap menyampaikan hujatannya terhadap korupsi dan kelakuan para elit politik yang hanya melayani dirinya sendiri.

Kekuatannya ketika berbicara di depan khalayak yang cenderung berapi-api, ternyata menyibakkan pula kelemahannya. Prabowo sangat mudah terpancing emosinya. Bahkan, A. M Hendropriyono, yang juga memiliki catatan kelam kejahatan HAM, menyebut Prabowo sebagai psikopat. Ia gampang mengamuk dan memperlihatkan kekerasan fisik, cerita yang berasal dari lingkaran dalam Prabowo, menurut Edward Aspinall menyebutkan, Prabowo tak jarang merusak telepon genggam dan merusak asbak ketika dikecewakan kawan atau bawahannya. Ia bahkan tak ragu menunjuk kesalahan dan menyatakan ketidaksukaannya pada suatu pihak ‘terang-terangan’. Contohnya dalam video di menit 02:50, ia menyebut Jakarta Post adalah media yang anti terhadapnya dan menolak menerima pertanyaan si wartawati.

Berbagai bentuk gelontoran dana, kekhasan sikapnya serta dukungan yang dimilikinya, ternyata belum mampu membawa Prabowo ke atas tampuk pemerintahan sebagai Presiden Indonesia. Ia harus menerima pil pahit, bahkan sempat menyatakan kekecewaan, kekalahannya terhadap Presiden Joko Widodo. Sejak saat itu, media mainstream baik cetak maupun elektronik, tidak terlalu sering membahas dirinya lagi.

Prabowo dan ‘Wong Cilik’

Kedekatan Prabowo dengan kaum buruh tidak hanya diperlihatkan dalam Deklarasi Dukungan terhadap Anies – Sandi pada Sabtu (1/04) lalu. Pada masa kampanye pemilihan presiden 2014, ia datang ke acara May Day (1/05/2014) untuk memperingati hari Buruh Nasional.

Pada kesempatan tersebut, para buruh KSPI (Konfederansi Serikat Pekerja Indonesia), menawarkan kontrak politik kepada Prabowo dimana di antaranya berisi penghapusan outsourcing dan kenaikan upah minimum 2015 sebesar 30 persen. Kepala KSPI, Said Iqbal menyatakan, hanya Prabowo yang tegas memihak buruh dan mendengarkan 10 kontrak politik buruh.

Prabowo Berjoget
Prabowo dalam peringatan May Day 2014 (sumber: Dhimas Kahar)

Selain itu, Prabowo turut mendirikan berbagai organisasi non-pemerintah, diantaranya adalah HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), dan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), sebagai bentuk dukungannya pada rakyat kecil. Ketika ia dipilih sebagai ketua APPSI periode 2008-2013, ia kerap menyuarakan agar pemerintah membatasi hipermarket dengan mengatur jaraknya agar tidak merugikan pedagang kecil. “Selama ini, pedagang pasar tradisional selalu menjadi anak tiri, sehingga, ketika pasar modern didirikan para pemodal, pasar tradisional harus rela disingkirkan karena ada pembongkaran.” Ucapnya saat itu.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Prabowo yang diimajikan kerap intim dengan organisasi buruh. Seakan kontras dengan kasus yang menimpanya. Yakni buruh-buruh dari salah satu perusahaannya, PT. Kertas Nusantara di Kabupaten Berau, Kalimantan Tmur, berseru bahwa mereka sejak November 2013 sampai Maret 2014, belum melakukan pembayaran gaji. Jamsostek mereka sejak tahun 2012 juga belum dilakukan oleh perusahaan.

Perusahaan Prabowo yang lain, yakni PT Gardatama Nusantara, bergerak dalam bidang outsourcing. Perusahaan tersebut menyalurkan pekerja keamanan outsorcing ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan kemanan. Jika demikian, bagaimana ia sendiri akan menghapuskan sistem outsourcing jika dirinya berbisnis outsourcing?

 Dalam wawancara bersama Ben Bland, seorang jurnalis dari Financial Times, Prabowo mengaku kagum oleh figur politik Jawaharlal Nehru dari India. Menurutnya, Nehru berasal dari keluarga yang kaya raya namun selalu berpihak pada rakyat kecil. Nama lain yang disebutnya antara lain, Lee Kuan Yew, pemimpin asal Singapura, Mahathir Mohammad dari Malaysia, dan Thaksin Shinawatra dari Thailand. Sama seperti dirinya, Thaksin belakangan tersangkut tuduhan atas pelanggaran HAM. “He got things done and the poor love him.” Ujarnya kemudian. Pernyataan tersebut bisa jadi menyiratkan kecondongan arah berpolitiknya dan juga stategi kampanyenya saat itu, yakni menyelesaikan semua urusan, sekaligus dicintai rakyat kecil.

 Prabowo dan Pilkada DKI Jakarta

 “Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable” – George Orwell

Aksi deklarasi dukungan terhadap Pasangan Anies – Sandi dari para buruh, memang tak lepas dari sosok Prabowo Subianto. Selain Partai Gerinda yang sejak awal sudah mantap mendukung kedua pasangan calon ini, kedekatan Prabowo dalam tingkatan elit dengan pemimpin organisasi buruh, membuat ia hadir sebagai tokoh politik non-elit yang membela rakyat kecil. Belum lagi retorika anti asing dan nasionalisme yang selalu digadang-gadangkannya, mampu membuat rakyat kecil merasa dibela oleh wacana tersebut.

Namun, Prabowo tetaplah Prabowo. Ia mantap bersuara anti Barat, sedangkan dirinya adalah bentukan pendidikan Barat. Datang ke pembukaan kampanye dengan helikopter, lalu menaiki kuda yang seekornya seharga 3 miliar rupiah, setara upah minimum seorang buruh Jakarta selama 400 ratus tahun, dan lantang berseru untuk mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri dan kuat di atas kakinya sendiri.

Kampanye Pilpres 2014 (sumber: partaigerindra.or)

Dalam Pilkada DKI Jakarta, pernyataan yang sudah dikeluarkannya untuk mendukung pasangan calon Anies – Sandi berkisar antara yang ingin memperjuangkan keadilan, kebenaran, kejujuran, dan yang ingin membuktikan bahwa uang bisa menjajah seluruh rakyat Indonesia.

“Kalau tidak ada permainan tertentu, insya Allah Anies dan Sandi akan menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI.” Ujar Prabowo dalam pidatonya pada kesempatan Deklarasi Dukungan tersebut.

Ki-Ka: Anies Basewdan, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno (sumber: Kompas)

Mengingat Pilkada DKI Jakarta yang akan berlangung beberapa minggu lagi, mampukah pesona Prabowo membawa suara tambahan sebesar 500.000 kepada pasangan calon nomor 3? Akankah Prabowo dan para buruh benar-benar dapat ‘berjoget’ bersama? atau apakah Prabowo akan kembali kecewa dan merasa dipecundangi oleh pihak yang menang di putaran kedua nanti?

Kita nantikan dan lihat bersama-sama. (Berbagai Sumber/A27)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....