HomeData PolitikJokowi Lempar Hadiah

Jokowi Lempar Hadiah

Kecil Besar

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat.


PinterPolitik.com

“If you have something to give, give it now.”

[dropcap size=big]J[/dropcap]ika punya sesuatu untuk diberikan pada orang lain, berikan sekarang juga’. Kata-kata tersebut diucapkan oleh Mark Bezos – seorang aktivis dan relawan pemadam kebakaran dari New York City, Amerika Serikat – untuk mengajak orang agar saling berbagi satu sama lain, ketika memberikan ceramah di TED Talk pada Maret 2011 lalu. Apa yang dikatakan oleh Mark Bezos ini sepertinya benar-benar dijalankan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Indonesia: jika punya sesuatu untuk diberikan pada orang lain, berikan saat itu juga – walaupun yang dijalankan oleh Presiden Jokowi adalah versi yang berbeda.

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa hari yang lalu publik dihebohkan oleh aksi bagi-bagi bingkisan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi di Sumatera Utara. Video aktivitas Presiden Jokowi tersebut menjadi viral di media sosial. Hanya saja, aksi kali ini mendatangkan kecaman dari banyak orang. Bingkisan-bingkisan yang diberikan oleh Jokowi tidak dibagi-bagikan secara teratur, tetapi dilempar-lemparkan dari dalam mobil. Berikut isi video tersebut selengkapnya.

Maksud Jokowi untuk memberikan hadiah – kalau meminjam istilahnya Mark Bezos, ‘berikan saat ini juga’ – memang baik. Namun, caranya yang melempar-lemparkan bingkisan tersebut dari dalam mobil mendatangkan reaksi dari banyak orang. Tidak sedikit yang mengecam aksi Jokowi tersebut.

Ada yang bahkan membandingkan aksi Jokowi tersebut dengan aktivitasnya memberi makan kodok-kodok di istana.

Bahkan, kritikan juga datang dari beberapa politisi. Politisi Partai Gerindra, Permadi, bahkan mengatakan bahwa dalam adat Jawa, melemparkan sesuatu adalah bentuk penghinaan. Apakah itu berarti Jokowi melakukan penghinaan?

Sebetulnya, apa yang dilakukan oleh Jokowi ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada Januari lalu misalnya, saat mengunjungi kota Pekalongan, Jokowi juga sempat melempar-lemparkan hadiah payung dari dalam mobil ke arah kerumunan siswa-siswi SD yang menantinya di pinggir jalan.

Hal yang sama juga terjadi ketika Jokowi berkunjung ke Maluku beberapa waktu lalu. Di Maluku City Mall, pada 8 Februari 2017, Jokowi juga melakukan aksi serupa dengan melempar-lemparkan bingkisan dari dalam mobil. Hadiah yang dilempar-lemparkan oleh Jokowi biasanya berupa kaos, buku, ataupun payung.

Bagi-bagi Hadiah ala Jokowi

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. Namun, bisa jadi juga saat itu Jokowi dan rombongan sedang buru-buru dan tidak sempat untuk berhenti di jalan. Hanya Jokowi dan rombongan yang tahu. Yang jelas, dari sisi cara pemberian hadiah Jokowi mungkin tidak sopan, walaupun bagi masyarakat yang menerimanya tetap merasa senang mendapatkan bingkisan dari orang nomor satu di republik ini.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Aksi Jokowi ini merupakan salah satu bagian dari kebiasaannya yang suka memberikan kuis berhadiah sepeda, dan bingkisan-bingkisan lainnya setiap kali berkunjung ke daerah. Tentu masyarakat banyak merasa senang dengan hal-hal semacam ini. Aksi-aksi kuisnya juga seringkali menjadi hiburan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, apalagi Jokowi adalah salah satu presiden yang melek media sosial dan masyarakat Indonesia saat ini adalah generasi yang juga melek media sosial.

Tidak heran, dokumentasi setiap aksi-aksi kunjungannya selalu tersebar di media sosial. Maka, aksi-aksinya tersebut selalu sukses menyedot perhatian masyarakat dan membuat politik ‘dekat rakyat’ yang dijalankan oleh Jokowi dapat berhasil dengan baik. (Baca: Jokowi-isme: Politik-isme Presiden Part 1)

Terkait kuis-kuis berhadiah sepeda – termasuk juga bingkisan-bingkisan yang sering dibagi-bagikan Jokowi – tentu banyak yang bertanya-tanya: dari mana dana untuk hadiah kuis-kuis tersebut berasal?

Beberapa waktu lalu, Kepala Sekretariat Presiden, Darmansyah Djumala pernah mengatakan bahwa sepeda yang dibagikan Jokowi berasal dari anggaran bantuan sosial untuk Presiden. Dana tersebut ada di dalam APBN.

Terkait pemberian sepeda, biasanya pihak Istana menyiapkan 5-7 sepeda setiap kali Jokowi akan menghadiri acara yang diikuti masyarakat. Namun, jumlahnya bisa bertambah tergantung berapa banyak masyarakat yang hadir. Kalau jumlah masyarakat yang hadir sampai 3.000 orang, maka pihak Istana akan menyiapkan 10-12 sepeda.

Dengan asumsi rata-rata harga sepeda tersebut 4 juta rupiah per sepeda, maka ada sekitar 20 sampai 48 juta rupiah yang harus dikeluarkan setiap kali ada kuis sepeda. Jika minimal dalam satu minggu Presiden Jokowi melakukan 1 kali kunjungan, maka dalam satu tahun ada 52 kali kunjungan dengan total pengeluaran untuk kuis sepeda antara 1,04 sampai 2,4 miliar. Wow, jumlah yang cukup besar tentunya. Tetapi, apakah itu sepadan dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh masyarakat? The Beatles mungkin akan bilang: “Money can’t buy me love”, tetapi semua orang punya penilaian yang berbeda-beda.

Yang jelas, kuis dan bingkisan yang diberikan oleh Jokowi membuatnya dekat dengan masyarakat. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang rela menunggu berjam-jam hanya untuk menyaksikan orang nomor satu di Indonesia ini lewat dengan mobil di jalan, mungkin sekedar mendapatkan lambaian tangan atau lemparan bingkisan payung cantik?

Jokowi mungkin memberikan hadiah sepeda atau bingkisan kaos dan payung secara gratis, tetapi apa mungkin tidak ada maksud di balik semua itu?

Gift Economy Theory

Ada sebuah teori tentang resiprositas atau hukum timbal balik dalam sebuah pemberian. Teori ini – kalau mau – bisa disebut gift economy theory. Gift economy secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah keadaan ketika seseorang memberikan sesuatu (barang atau hadiah) kepada orang lain tanpa meminta imbalan ekonomi (uang atau barter) atasnya secara langsung. Namun, gift economy memiliki makna resiprositas. Artinya, walaupun saat ini tidak ada pertukaran ekonomi yang terjadi, namun di masa depan – berdasarkan  kesepakatan yang implisit – ada sesuatu yang harus dibalaskan pada orang yang memberi tersebut. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ada ungkapan bahasa Latin: quid pro quo, yang secara sederhana bisa diartikan sebagai ‘ini untuk itu’.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Contoh paling sederhana teori ini adalah ketika kita memberikan hadiah ulang tahun pada seseorang. Saat itu tidak ada transaksi ekonomi yang terjadi, namun di masa depan kita tentu berharap orang tersebut akan memberikan kita hadiah saat kita merayakan ulang tahun. Artinya ada harapan akan sebuah hubungan timbal balik. Saat ini kita berbaik hati pada orang, harapannya suatu saat di masa depan orang tersebut juga akan berbaik hati pada kita. Budaya resiprositas atau gift economy theory ini merupakan sesuatu yang melekat dalam pribadi dan bahkan budaya masyarakat secara keseluruhan.

Tampaknya, gift economy theory ini sangat dipahami oleh Jokowi, tetapi apakah hal itu juga dilakukan olehnya? Saat ini mungkin masih terlalu dini untuk menilainya. Namun, argumentasi ini sangat rasional, apalagi jika dikalkulasikan secara politik. Bisa jadi kuis-kuis dan bingkisan yang sering diadakan oleh Jokowi ini merupakan bagian dari investasi politik Jokowi untuk proses politik di tahun 2019 nanti. Ada resiprositas yang diharapkan dalam aktivitas-aktivitas Jokowi – bukan mengharapkan untuk kembali diberi sepeda atau bingkisan, tetapi tentu saja ‘suara’ di bilik-bilik suara.

Terkait gift economy ini, Niccolo Machiavelli pernah menuliskannya dalam kisah tentang Spurius Melius (meninggal 439 SM) seorang plebeian – istilah untuk warga biasa di Romawi yang sering digunakan untuk membedakannya dengan patrician atau bangsawan yang memiliki hak istimewa – yang kaya raya. Saat krisis terjadi dan harga pangan menjadi mahal, Spurius Melius membagi-bagikan gandum secara murah dan cuma-cuma kepada masyarakat. Apa yang dilakukannya ini dianggap sebagai gift economy oleh penguasa saat itu. Spurius Melius dituduh sedang menggalang dukungan untuk menjadi penguasa. Ia pun dibunuh di rumahnya.

Mungkin terlalu sarkastis membandingkan kisah Spurius Melius dengan Jokowi. Apalagi pertanyaan ‘apakah Jokowi menerapkan gift economy atau tidak’ tentu menjadi pertanyaan yang masih harus ditunggu pembuktian kebenarannya. Mungkin terlalu naif menilai gift economy dalam aksi-aksi kuis Jokowi. Tetapi, satu hal yang perlu dicatat: bagi politisi tidak ada hal yang mustahil.

Politik Bingkisan Presiden

Aksi-aksi Jokowi memang selalu menarik perhatian. Selalu ada pro kontra di balik semua yang dilakukan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia ini. Sebagai media darling, Jokowi tentu akan menjadi sorot utama kamera ke mana pun ia pergi. Jokowi dan ‘politik bingkisan’ – entah untuk tujuan apa pun itu – akan selalu mendatangkan pujian dari yang menyanjungnya, namun juga akan mendatangkan kritik dari pihak-pihak yang tidak menyukainya. Yang jelas, untuk tujuan apa pun itu, Jokowi tetap akan menjadi Jokowi – presiden yang dekat dengan rakyat.

Winston Churchill (1874-1965) – mantan Perdana Menteri Inggris saat Perang Dunia II – pernah berkata: “We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” Memberikan sesuatu pada orang lain adalah sebuah keindahan. Pertanyaannya adalah sampai kapan Presiden Jokowi akan setia dengan politik bingkisannya ini? (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.