HomeFokus BUMNCitilink Raih Net Profit Margin 5,3 Persen

Citilink Raih Net Profit Margin 5,3 Persen

Kecil Besar

Maskapai Citilink Indonesia mencatat kinerja positif sepanjang tahun 2019. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia ini meraih net profit margin yang diperkirakan mencapai sekitar 5,3 persen.


PinterPolitik.com

Direktur Utama Citilink, Juliandra menjelaskan pada 2019, perusahaan bisa membukukan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah Citilink. Sayangnya, Juliandra enggan menjabarkan berapa angka perolehan laba tersebut.

“Pencapaian positif ini diraih merupakan kontribusi dari pendapatan penumpang, pendapatan kargo, dan pendapatan lain-lain (ancillary). Selain itu, ini juga merupakan hasil upaya Citilink yang terus melakukan berbagai inovasi dan memberikan berbagai layanan terbaik yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang,” ujar Juliandra, akhir pekan ini

Pada tahun 2019, Citilink Indonesia berhasil meraih tingkat ketepatan waktu penerbangan (On Time Performance/ OTP) sebesar 92,5 persen atau meningkat 9,8 persen dari tahun 2018 sebesar 82,7 persen.

Sepanjang 2019, Citilink Indonesia juga tercatat telah menerbangkan 12,2 juta penumpang. Selain itu mereka juga membuka 21 rute penerbangan domestik baru dan 6 rute internasional baru menuju ke Malaysia, Tiongkok, Kamboja dan Australia pada tahun 2019.

Juliandra menegaskan bukan hal mudah bagi Citilink untuk dapat memperoleh hasil yang baik ini. Berbagai strategi dilakukan oleh Citilink Indonesia, mulai dari penambahan pesawat baru, ekspansi rute penerbangan, pengembangan SDM serta inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan kenyamanan penumpang seperti new boarding pass dan dining experience.

Sejauh ini, Citilink Indonesia memiliki armada yang terdiri dari 51 unit Airbus A320, 7 unit ATR 72-600 dan 2 unit Airbus A330-900 NEO. Direncanakan pada tahun 2020 ini,  Citilink akan mendatangkan 5 unit ATR 72-600 serta melakukan ekspansi di rute-rute domestik dan internasional ke Australia, Timur Tengah dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. (R58)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...