HomeNalar PolitikMisteri Foto G20 Jokowi

Misteri Foto G20 Jokowi

Kecil Besar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) banyak terlihat di berbagai foto kegiatan KTT G20 di Osaka, Jepang. Foto-foto tersebut bisa jadi berkaitan dengan kepentingan negara-negara lain, seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS).


PinterPolitik.com

“After all that I’ve done, figured you’d have some gratitude” – Joe Budden, penyanyi rap asal AS

Jokowi selalu tampil menarik bila sedang menghadiri kegiatan-kegiatan internasional. Kegiatan-kegiatan tersebut sering kali digunakan oleh sang presiden sebagai ajang unjuk diri di kancah internasional.

Kali ini, Jokowi tampak sumringah dalam berbagai foto KTT G20. Kedekatannya dengan Presiden AS Donald Trump misalnya, selalu menjadi kebanggaan dan bahan menarik bagi akun-akun media sosial sang presiden, seperti pada tahun 2017.

Kali ini, sang presiden tampak senang ketika mendapatkan permen dari Trump. Percakapan antara keduanya di sela-sela kegiatan KTT G20 2019 tersebut pun berakhir dengan pose foto jempol Trump bersama Jokowi.

Selain Presiden Trump, Jokowi turut memamerkan foto-foto kedekatannya dengan pemimpin dan tokoh lainnya. Beberapa di antaranya adalah Ivanka Trump (putri presiden AS) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Di luar keakraban tersebut, sang presiden mungkin merupakan sosok yang fotogenik. Pasalnya, dalam sesi-sesi foto KTT tersebut, Jokowi kerap tampil di baris depan bersama pemimpin-pemimpin negara yang bisa dibilang penting dalam politik dunia – seperti AS, Jepang, dan Prancis.

Dari foto-foto tersebut, beberapa pertanyaan pun kemudian timbul. Apa makna sebenarnya di balik foto-foto Jokowi di rangkaian KTT G20 2019 tersebut? Apakah mungkin terdapat kepentingan tertentu?

Makin Penting?

Foto-foto yang menampilkan Jokowi di samping pemimpin-pemimpin negara besar di KTT G20 bisa jadi berkaitan dengan posisi Indonesia yang dianggap semakin penting. Biasanya, terdapat pengaturan protokoler di balik foto-foto pertemuan antar-negara.

Seorang jurnalis South China Morning Post yang biasa menulis mengenai kebijakan pertahanan dan luar negeri, Catherine Wong, pernah menuangkan pembahasan mengenai makna di balik foto-foto pertemuan tingkat tinggi seperti KTT G20.

Dalam artikelnya di media tersebut, Wong menjelaskan bahwa foto-foto tersebut biasanya menggambarkan situasi dan dinamika politik kekuasaan terkini. Posisi-posisi duduk dan berdiri pemimpin-pemimpin negara turut mencerminkan kekuatan dan penting tidaknya negara tersebut.

Beberapa pemimpin bisa jadi dianggap penting bila berdiri di baris depan ketika tengah berfoto bersama. Biasanya, posisi berfoto para pemimpin ini turut ditentukan oleh tuan rumah sebagai penyelenggara kegiatan tersebut.

Dalam KTT G20 2016 yang dilaksanakan di Hangzhou, Tiongkok, misalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin bisa jadi dianggap penting oleh pemerintah Tiongkok karena menempati posisi berfoto di baris depan. Padahal, dalam sesi foto KTT G20 2014 di Australia, Putin ditempatkan di ujung luar ketika berfoto.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek
Pemimpin negara bisa jadi dianggap penting bila berdiri di baris depan ketika tengah berfoto bersama. Share on X

Wong menjelaskan bahwa posisi Putin pada tahun 2014 tersebut bisa jadi berkaitan dengan hubungan politik Rusia dengan negara-negara Barat yang memanas akibat beberapa isu, seperti aneksasi Krimea dan Suriah.

Selain Putin, India bisa jadi turut dianggap penting oleh pemerintahan Xi Jinping bila berkaca pada sesi foto bersama KTT G20 2016. Pasalnya, Perdana Menteri Narendra Modi terlihat berdiri di barisan depan juga.

Seorang peneliti dari Renmin University, Wang Yizhi, menjelaskan bahwa posisi berfoto Modi yang berada di baris depan tersebut berkaitan dengan cara pandang Tiongkok terhadap India. Negara yang terkenal dengan industri film Bollywood tersebut bisa jadi semakin dilihat Tiongkok sebagai negara yang penting.

Pada tahun yang sama, bila kita tilik kembali, Presiden Jokowi juga berdiri di baris depan. Boleh jadi, Indonesia kala itu semakin diperhitungkan oleh Xi, mengingat posisi Indonesia dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI atau OBOR) milik negara panda tersebut.

Uniknya, pada tahun 2018, KTT G20 di Argentina yang tidak dihadiri oleh Jokowi menempatkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di baris kedua. Mungkin, penempatan Indonesia di belakang tersebut berkaitan dengan aturan protokol yang turut memperhitungkan tingkat senioritas di antara pemimpin-pemimpin tersebut.

Lalu, bagaimana dengan penempatan posisi berfoto Jokowi pada KTT G20 2019? Apa yang dilihat dari Jokowi oleh sang tuan rumah Jepang?

Sokongan Jepang-AS?

Seperti yang telah dijelaskan, penempatan posisi berfoto pemimpin negara turut menggambarkan penting tidaknya suatu negara. Setidaknya, begitulah Indonesia dalam pandangan AS dan Jepang sebagai tuan rumah.

Dalam beberapa foto yang tersebar, Jokowi tampak duduk di samping Presiden Trump dan putrinya. Mantan Wali Kota Solo tersebut juga terlihat bersenda-gurau dengan Ivanka Trump.

Penempatan posisi duduk tersebut bisa jadi berkaitan dengan kepentingan Trump di Indonesia. Presiden negara Paman Sam yang juga sekutu dari Jepang tersebut disebut-sebut tengah memiliki kepentingan bisnis di Indonesia, terutama bisnis proyek yang berada di Jawa Barat.

Proyek Lido City milik MNC Land dikabarkan akan membangun sebuah hotel mewah di bawah merek Trump. Pemilik MNC Group sekaligus politisi Hary Tanoesoedibjo sendiri sering kali dikaitkan dengan Presiden AS tersebut.

Kunjungan Trump ke Korea Selatan usai rangkaian kegiatan KTT G20 juga disebut-sebut berkaitan dengan kepentingan bisnisnya di MNC Lido City tersebut. Pasalnya, proyek tersebut turut melibatkan perusahaan konstruksi asal Korsel yang sebagian kepemilikannya berada di tangan pemerintahan Moon Jae-in.

Selain adanya kemungkinan kepentingan Trump-Jokowi, Jepang sendiri bisa jadi memiliki kepentingan dengan Indonesia. Perdana Menteri Shinzo Abe juga terlihat tidak jauh dengan posisi duduk Jokowi yang hanya selang dua orang, yaitu Trump dan putrinya.

Penempatan posisi-posisi berfoto Jokowi dalam KTT G20 2019 di Osaka tersebut mungkin merupakan bentuk apresiasi Abe terhadap Jokowi. Jepang sendiri tampaknya telah berhasil meneken perjanjian-perjanjian kerja sama infrastruktur dengan pemerintah Indonesia, seperti proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya yang melibatkan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Di sisi lain, pemerintahan Abe yang sempat merasa terkhianati oleh keputusan Indonesia untuk menggandeng Tiongkok dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bisa jadi tengah menyasar proyek-proyek infrastruktur Jokowi lainnya. Pasalnya, Mantan Wali Kota Solo dikabarkan akan melanjutkan kebijakan-kebijakan infrastrukturnya dalam periode keduanya dan Jepang sebagai “raja infrastruktur” di Asia pun menjadi opsi yang memungkinkan.

Kesuksesan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta bisa saja menjadi pertimbangan Jokowi untuk memberikan kesempatan pada Jepang. Mungkin, adanya kemelut yang menyertai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang melibatkan Tiongkok mendorong Jokowi untuk mengalihkan pandangannya ke Jepang.

Selain infrastruktur, penempatan posisi Jokowi bisa juga berkaitan dengan kepentingan Jepang dalam industri otomotif. Kementerian Perindustrian sendiri pada Mei lalu memutuskan untuk mempersiapkan regulasi guna mewadahi produksi kendaraan bertenaga listrik dari Jepang.

Bahkan, sebelum KTT G20 beberapa waktu lalu, Menko Kemaritiman bersama Menperin Airlangga Hartarto, Menkeu Sri Mulyani, dan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong sempat bertemu dengan Presiden Toyota Akio Toyoda terkait pengembangan industri otomotif di Indonesia.

Pada tahun 2018, sang presiden pun pernah menunjuk Rachmat Gobel untuk menjadi Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Jepang guna menarik para investor dari negara tersebut. Peran dan taktik Rachmat yang sempat melobi Partai Liberal Demokrat (LDP) – partai Abe – di Jepang bisa jadi turut memberikan sumbangsih bagi peningkatan status Indonesia di mata negara tersebut.

Peran Rachmat pun turut terlihat dalam pengakomodasian kepentingan Indonesia-Jepang. Pada bulan lalu, pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Rachmat menandatangani perjanjian kerja sama di sektor manufaktur, termasuk peningkatan kapasitas di bidang otomotif.

Dengan berbagai upaya pengakomodasian kepentingan-kepentingan tersebut, tidak mengherankan apabila Jokowi terlihat dekat dengan pemimpin-pemimpin penting dalam berbagai sesi foto KTT G20 2019 di Osaka, Jepang. Mungkin, dengan pengakomodasian tersebut, Presiden Jokowi semakin dianggap penting posisinya dalam politik kekuasaan antar-negara.

Pada akhirnya, lirik rapper Joe Budden di awal tulisan pun menjadi relevan. Tidak mengherankan apabila pihak-pihak tersebut memberikan apresiasinya dengan berbagai hal yang bisa didapatkannya. (A43)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?