HomeNalar PolitikDi Balik Serangan Sembahyang Luhut

Di Balik Serangan Sembahyang Luhut

Kecil Besar

Kritik Luhut Pandjaitan yang membandingkan sikap religius Jokowi dengan Prabowo, menjadi penanda aksi turun gunung sang jenderal memenangkan kembali petahana di Pilpres tahun ini. Faktanya, Luhut masih akan menjadi sosok kunci, berbekal kapasitas politik yang dimilikinya, termasuk dalam hal strategi pemenangan. Layaknya Subutai – komandan perang Genghis Khan – akankah Luhut mampu membantu kembali Jokowi merengkuh kursi kekuasaan untuk periode kedua?


PinterPolitik.com

“Big politics is just a common sense applied to a big business”.

:: Napoleon Bonaparte ::

[dropcap]L[/dropcap]uhut Binsar Pandjaitan mungkin bukan Ross Perot atau Mitt Romney atau bahkan Donald Trump. Tiga nama terakhir adalah pengusaha sukses yang mencoba peruntungan dengan maju menjadi calon presiden Amerika Serikat (AS) di masing-masing periode kejayaan bisnisnya. Bahkan Trump adalah presiden yang kini memimpin negara tersebut.

Namun, sekalipun hanya ada di balik layar, Luhut adalah sosok dengan kekuatan politik yang sangat besar. Layaknya jenderal pretorian – pemimpin pasukan pengaman kaisar di era Romawi – pria yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman tersebut adalah jaminan kekuatan politik Joko Widodo (Jokowi) yang kini akan maju lagi untuk merebut periode kedua kekuasaannya pada Pilpres 2019.

Luhut adalah seorang pelobi atau the lobbyist bagi Jokowi. Ia adalah orang yang berjasa mempertemukan Jokowi dan Prabowo di seputaran Aksi 212 pada 2016 lalu. Share on X

Bahkan, strategi pemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin disebut-sebut sangat bergantung pada sang jenderal. Hal itulah yang mungkin membuat beberapa waktu terakhir, Luhut tampil frontal dan mulai mengkritik Prabowo Subianto – yang jadi lawan Jokowi – secara terbuka.

Terbaru, dalam beberapa kesempatan, pria kelahiran Simargala, Sumatera Utara itu menyinggung persoalan agama. Ia menyebut Jokowi sebagai pribadi yang rajin sholat atau sembahyang, sementara yang di kubu sebelah – Prabowo – “belum jelas”.

Pernyataan itu ia sampaikan untuk menjawabi tuduhan-tuduhan kriminalisasi terhadap tokoh-tokoh agama yang kerap ditujukan kepada Jokowi. Kritik dan sindiran-sindiran ini menjadi bagian lanjutan dari pernyataan serupa yang dikeluarkan oleh mantan Duta Besar untuk Singapura itu.

Beberapa waktu lalu, Luhut juga sempat menyinggung Prabowo yang sedang sakit dengan menyebutkan bahwa masyarakat harusnya tak memilih pemimpin yang gampang sakit.

Ia juga mengkritik balik pernyataan kandidat nomor urut 02 itu yang menyebut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sebagai menteri pencetak utang dengan menyebutnya sebagai “kata-kata yang tidak etis”. Luhut bahkan menambahkan bahwa nenek Prabowo-lah sang pencetak utang itu. Kritikan-kritikan Luhut dengan bahasa yang demikian tentu saja menjadi fenomena menarik.

Terkait pernyataannya tentang sembahyang, kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno melalui juru bicaranya, Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku heran. Menurutnya, Luhut justru menyerang Prabowo dengan isu-isu agama dan mengurusi wilayah ibadat yang bukan bagiannya.

Pernyataan Dahnil ini – yang sampai menyinggung latar belakang Luhut yang non-muslim – jelas menunjukkan ada kegerahan yang ditimbulkan oleh sang menteri.

Dengan kembali makin seringnya Luhut menyerang Prabowo, jelas menunjukkan bahwa mantan atasan Ketua Umum Partai Gerindra itu saat masih aktif di militer, mulai mengambil peran sentral dalam pemenangan kembali Jokowi.

Tentu pertanyaannya adalah akankah pria yang dijuluki sebagai “menteri super” karena posisi vitalnya dalam kabinet serta peran besarnya dalam pemenangan Jokowi di 2014, akan kembali menunjukkan taringnya, layaknya Jenderal Subutai yang membantu Genghis Khan di era kejayaan Mongolia yang menguasai 16 persen wilayah bumi?

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Luhut, Subutai Jokowi?

Kisah Luhut mungkin akan mirip dengan pencapaian Subutai, andaikan mampu membawa Jokowi menang lagi di Pilpres 2019. Tangan kanan Genghis Khan sekaligus komandan militer paling sukses sepanjang sejarah peradaban itu memang akan dikenang atas kontribusinya dalam kejayaan Mongolia.

Subutai adalah salah satu sosok paling penting dalam invasi kekuasaan Mongolia di bawah Genghis Khan. Ia menjadi kunci sekitar 20 kampanye perluasan wilayah kekaisaran, menaklukan sekitar 32 negara dan memenangkan 65 pitched battles – pertempuran seperti dalam film-film kolosal yang ditentukan waktu dan tempatnya antara 2 belah pihak yang bertikai.

Atas jasanya, Mongolia menjadi kekaisaran terluas kedua setelah Kerajaan Inggris (British Empire). Ia dikenal sebagai jenderal dengan strategi pertempuran yang rumit dan penuh imajinasi. Beberapa sumber pun menyebutkan Subutai tak pernah kalah dalam satu pertempuran pun.

Loyalitas dan kejeniusan strateginya membuat Stephen R. Turnbull dalam bukunya The Mongols menyebut Subutai sebagai komandan militer paling sukses sepanjang sejarah. Aksinya menginvasi Hungaria dan Polandia dalam kurun waktu hanya dua hari akan dikenang sebagai cerita penaklukan paling hebat.

Konteks posisi Subutai sebagai tangan kanan kekuasaan yang loyal dan handal dalam strategi pertempuran itu mungkin bisa dimiripkan dengan yang dilakukan oleh Luhut Pandjaitan.

Ia mungkin tidak sedang berada dalam konteks penaklukan 16 persen wilayah dunia, namun setidaknya jika kontestasi elektoral diidentikkan dengan perang, maka kampanye politik untuk kembali memenangkan Jokowi belakangan ini, membuat Luhut bisa disebut sebagai sosok yang juga loyal.

Pertanyaannya, selain loyal, apakah juga handal dalam strategi?

Jika melihat manuver politiknya lewat Tim Cakra 19 dan Bravo 5 bersama purnawirawan-purnawirawan jenderal pendukung Jokowi, jelas sosok ini tidak bisa dianggap remeh. Dua tim tersebut bahkan dianggap jauh lebih menentukan perannya dibandingkan partai-partai yang ada dalam koalisi Jokowi-Ma’ruf. Luhut adalah sosok sentral di dua tim tersebut.

Jika ditarik ke belakang, keputusan Jokowi menarik Luhut ke kubunya saat bertarung melawan Prabowo di Pilpres 2014 adalah langkah yang sangat jenius – entah inisiatif itu datang dari Jokowi, tokoh politik lain, atau dari Luhut sendiri. Pasalnya Luhut membawa semua potensi dukungan ekonomi-politik yang menentukan kemenangan Jokowi kala itu.

Keberadaan Luhut membawa gerbong cukup besar dari Partai Golkar yang pada 2014 mendukung Prabowo saat masih dipimpin Aburizal Bakrie. Tak luput pula ada gerbong dukungan dari para purnawirawan TNI yang mengekor Luhut. Bahkan, nama seperti Jenderal (Purn) Try Sutrisno disebut-sebut sebagai salah satu sesepuh TNI yang ikut mendukung keputusan Luhut mendukung Jokowi.

Selain itu, “faktor Luhut” menjadi sangat penting untuk Jokowi saat itu karena ia adalah “abang” atau senior Prabowo di Kopassus. Luhut pernah menjabat sebagai Komandan Detasemen 81/Anti Teror, dan pada saat itu Prabowo adalah wakilnya.

Hubungan senior-junior ini membuat Luhut hampir pasti mengetahui semua seluk beluk tentang Prabowo – hal yang bisa dibaca dalam biografi Sintong Panjaitan.

Luhut juga sangat ahli dalam lobi politik dan disebut-sebut berperan penting dalam hubungan Jokowi dengan oposisi di DPR di awal-awal kekuasaannya. Jika bukan karena Luhut, sulit membayangkan program-program pemerintahan Jokowi bisa dimuluskan di parlemen.

Ia juga dianggap sebagai salah satu tokoh utama “pembalik” posisi Golkar, dari yang semula mendukung Prabowo, kemudian berbalik mendukung pemerintahan Jokowi di parlemen.

Emirza Adi Syailendra dari Rajaratnam School of Internastional Studies (RSIS) menyebut Luhut juga punya hubungan yang cukup baik dengan Setya Novanto – hal yang kemudian berdampak pada perubahan arah Golkar hingga 180 derajat pasca pria yang dikenal dengan sebutan “Papa” itu mengambil alih kekuasaan partai beringin.

Konteks kekuatan politik Luhut juga terlihat dari kemampuan dirinya melakukan perimbangan kekuasaan di kabinet Jokowi. Ia mampu membuat Jokowi kuat secara politik di hadapan PDIP dan Megawati Soekarnoputri – yang kerap memandang sang presiden sebagai “petugas partai” – atau dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang punya banyak pertalian kepentingan ekonomi-politik di pemerintahan.

Bahkan Luhut disebut-sebut sebagai orang yang menyarankan Jokowi memasukkan nama Rizal Ramli ke dalam kabinet kerjanya, dan menjadi alasan PDIP mendorong nama Wiranto untuk masuk ke dalam kabinet. Atas kemampuan lobi-lobi politik dan ekonominya, tak heran jika Reuters menyebut Luhut sebagai one of the country’s powerful man.

Benturan Kepentingan?

Luhut adalah seorang pelobi atau the lobbyist bagi Jokowi. Ia adalah orang yang berjasa mempertemukan Jokowi dan Prabowo di seputaran Aksi 212 pada 2016 lalu. Konteks tersebut membuat posisi Luhut menjadi sangat penting.

Robert E. Lane dari Yale University menyebutkan bahwa lobi dan partai politik adalah sister agent atau agen “bersaudara” yang seringkali menentukan hasil akhir pemilihan, juga menentukan siapa yang akan menang. Keduanya menjadi jaminan menang atau tidaknya kontestan dalam pertarungan politik.

Sebagai sister agent, peran lobbyist tentu saja setara partai politik. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa setengah gerak kemenangan Jokowi juga akan sangat ditentukan oleh Luhut, sang lobbyist sekaligus komandan perang layaknya Subutai.

Persoalannya tentu kembali pada kepentingan apa yang diperjuangkan oleh pria dengan kumis khas itu. Pasalnya, jika mengutip kata-kata mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, politik bukanlah permainan, melainkan bisnis. “Politics is not a game, it is an earnest business”.

Artinya, sangat mungkin ada kepentingan-kepentingan lain yang ingin diraih oleh Luhut. Ia tercatat memiliki sekitar 16 perusahaan yang bergerak di bidang energi, minyak, tambang, dan lain sebagainya. Apakah ada kepentingan bisnis yang diperjuangkan juga? Tidak ada yang tahu pasti.

Yang jelas, seperti kata Napoleon Bonaparte di awal tulisan, langkah-langkah politik besar akan selalu masuk akal jika punya kaitan dengan bisnis besar tertentu.

Apa pun itu, kiprah Luhut masih akan menjadi kunci kemenangan Jokowi. Ia mungkin tak akan pernah menjadi penguasa – layaknya Trump – namun kiprahnya sudah lebih dari cukup setidaknya menjadi Subutai, orang yang loyal pada Jokowi. Benarkah demikian? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.