HomeBelajar PolitikSandi, Raja Pendengar Curhat

Sandi, Raja Pendengar Curhat

Kecil Besar

“Elizabeth, kau adalah seekor binatang liar. Bayangan gelap akan selalu menyelimutimu dan kau akan mempunyai waktu untuk menyesali kehidupan kejammu.” ~ Count Thurzo


PinterPolitik.com

[dropcap]C[/dropcap]uy, lama-lama Sandiaga Uno kok semakin mirip sama Mama Dedeh ya? Kok bisa? Yoi gengs, coba lihat tuh kelakuannya saat doi ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Putih Cilamaya, Karawang. Bukannya beli ikan, eh doi malah nanggepin curhatan para nelayan dan masyarakat. Wkwkwk.

Bisa jadi nih gengs, seandainya saja Sandi gagal jadi wakil presiden di Pilpres 2019, doi punya acara sendiri di salah satu televisi swasta yang berjudul: “Sandi, Curhat Yuks!” Share on X Wkwkwk, bercanda ya bang, awas loh baper.

Oh iya gengs, pada kesempatan kali itu, Sandi dicurhati oleh masyarakat dan nelayan terkait keluhan mereka tiga tahun terakhir. Masyarakat dan nelayan mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan, baik alat menangkap ikan maupun permodalan. Weleh-weleh, padahal TPI-nya itu ada di daerah Jawa ya. Gimana dengan TPI yang ada di luar Pulau Jawa coba. Ckckck, parah juga ya Jokowi.

Bisa jadi nih gengs, kejadian yang seperti ini disebabkan Jokowi terlalu manja sama Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Kok bisa? Lah iya lah, kan kalau ada masalah seperti ini yang harus disalahin itu menterinya, bukan hanya Jokowi saja. Terus juga kan kalian tahu sendiri ibu menteri kita seperti apa. Bisa jadi kan Jokowi terlalu manja karena doi jiper duluan kalau mau negur Ibu Susi. Kalian paham lah kenapa, namanya juga emak-emak. Ehehehe.

Nah, tapi nih gengs, di luar itu semua, kayaknya Sandi enggak kapok-kapok nih cari masalah sama Susi. Kenapa? Iya, kalau Sandi berani ngulik nelayan kan sama saja doi lagi ngulik Susi. Jadi kalian tahu kan kesimpulannya? Yoi, tepat banget gengs. Kesimpulannya siap-siap deh kita lihat rudal nyasar ke rumahnya Bang Sandi! Uppss, guyon loh gengs, awas loh sampai kalian aduin ke Bang Sandi atau Bu Susi. Bisa-bisa itu rudal ikutan nyasar juga ke kantor eyke gengs.

Jadi, kesimpulannya curhatan dari masyarakat dan nelayan itu meminta perlu adanya pemberdayaan bagi nelayan yang penghasilannya tidak menentu dan bergantung pada musim. Dan yang terpenting juga untuk kita ingat gengs, semoga saja ya jika nanti Sandi terpilih jadi wakil presiden, doi tidak hanya ngomong doang, tapi benar-benar bekerja. Betul apa betul? Ehehehe. (G35)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...