HomeBelajar PolitikWarga Tak Kenal Sandiaga Uno

Warga Tak Kenal Sandiaga Uno

Kecil Besar

“Kalau masih ada yang tidak tahu dengan tokoh politik yang lagi ramai diberitakan hari ini, siapa yang wajib merasa bersalah? Politisinya atau rakyatnya?”


PinterPolitik.com

[dropcap]C[/dropcap]awapres nomor urut 02, Sandiaga salahuddin Uno mengakui dirinya tidak populer di masyarakat dibanding pasangannya, Prabowo Subianto. Sandi bercerita bahwa masih ada warga yang tak mengenal dirinya saat blusukan di Brebes, Jawa Tengah.

Kata Sandi, saat dirinya bertemu dengan warga yang bernama Ani, dirinya langsung dengan sepontan menyodorkan tangan bertujuan untuk menyapa dan berjabatan tangan dengan wanita itu. Namun, alangkah terkejutnya Sandi saat mendapatkan ekspresi binggung dari raut Ibu Ani.

Waktu itu Sandi pun sontak mengatakan seperti ini: “Ibu saya ini cawapresnya Pak Prabowo loh. Waduh!”

Dan ibu itu langsung jawab seperti ini: “Oh iya, iya, Pak Sandi”.

Lantas hal ini pun langsung dibalas begini sama Sandi: “Oh iya, Pak Sandi!” Sambil kesel merasa dongkol. Wkwkwk. Share on X

Eh gengs dongkolnya bercanda ya! Awas loh dibilangin ke Bang Sandi. Nanti orangnya baper lagi! Bahaya, bisa-bisa kantor eyke digusur lagi kalau doi kepilih jadi presiden di Pilpres 2019.

Nah, bagi Sandi kasus seperti ini bisa menjadi pelajaran untuk dirinya. Sebab, popularitasnya di daerah masih jauh tertinggal. Menurut survei internal koalisi Prabowo-Sandi, Prabowo meraup suara 98 persen untuk tingkat pengenalannya di seluruh Indonesia.

Sementara Sandi sampai hari ini mungkin masih sedikit dikenal terkhususnya di daerah yang belum pernah dikunjunginya. Makanya, Sandi akan terus melakukan blusukan “6 dan 1” alias enam hari di daerah dan satu hari di Jakarta. Wkwkwk.

Pantesan ya Prabowo belakangan ini jarang dan hampir tidak pernah melakukan blusukan. Wong, hampir seluruh masyarakat Indonesia kenal sama doi. Jadi wajar aja kalau Sandi harus bekerja keras lebih, beda sama Prabowo, Jokowi, dan Ma’ruf Amin yang namanya sudah melanglang buana cetar membahana, bagaikan bulu matanya Syahrini! Betul apa betul nih gengs?  Ahahay.

Btw, di luar itu semua gengs, untungnya Sandi itu penyabar ya orangnya. Coba deh bayangin kalau hal itu terjadi sama kalian, apalagi eyke. Kalau enggak kita kepret pake duit segepok tuh emak-emak. Wkwkwk, maklum gengs, orkay! Bebas. Ahahay. (G35)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...