HomeTerkiniTrump ‘Pegawai’ Kremlin?

Trump ‘Pegawai’ Kremlin?

Kecil Besar

Pemberitaan media-media Amerika Serikat sebelumnya menyebutkan bahwa Trump pernah terlihat melompat-lompat (menari) dengan seorang PSK di salah satu hotel di kota Moskow.


pinterpolitik.comSenin, 16 Januari 2017.

WASHINGTON – Pada tanggal 30 Desember 2016, Andy Borowitz, seorang penulis, comedian, satiris (penulis satire), dan aktor, menulis pada laman The New Yorker tentang Donald Trump. Borowitz menulis sebuah humor satire tentang Donald Trump yang diberi pengharagaan ‘employee of the month’ atau ‘pegawai (terbaik) bulan ini’ oleh istana Kremlin. Borowitz bahkan menulis bahwa penghargaan itu langsung diumumkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Tidak ada satu pun yang bekerja keras tanpa lelah untuk kejayaan tanah air kita seperti Donald Trump, oleh karena itu kita harus memberinya penghargaan”, demikian parodi pernyataan Putin yang ditulis Borowitz. Dalam tulisan tersebut, nama Trump juga rencananya akan ditulis dalam sebuah plakat dan dipajang di salah satu sudut kota Moskow.Trump juga dianggap ‘hebat’ karena mampu mengalahkan dua kandidat terbaik lain, Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan CEO Exxon Mobil, Rex Tillerson. Sungguh lelucon yang cukup menggelitik.

Trump sendiri ditulis Borowitz menyebut penghargaan tersebut sebagai ‘penghargaan yang dahsyat’. Trump bahkan menyebut Obama sebagai pecundang karena selama 8 tahun berkuasa, tidak satu bulan pun Obama memenangkan penghargaan tersebut.

Tulisan Borowitz ini seolah menjadi prediksi satire mengenai apa yang saat ini sedang dituduhkan kepada Trump. Trump dituduh ‘membagi’ segala informasi dengan Rusia dan bahkan dituduh punya hubungan yang sangat dekat dengan Kremlin. Sebuah tulisan dimuat oleh koran harian di Israel yang menyebutkan bahwa pihak intelijen Israel diminta oleh intelijen Amerika Serikat untuk hati-hati berbagi infomasi dengan Trump saat ia menjabat di Gedung Putih nanti.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Pemberitaan media-media Amerika Serikat sebelumnya menyebutkan bahwa Trump pernah terlihat melompat-lompat (menari) dengan seorang PSK di salah satu hotel di kota Moskow. Bahkan Kremlin disebut memiliki sebuah berkas dan rekaman mengenai hal tersebut dan Putin dianggap ‘menggunakan’ hal itu untuk memberikan tekanan dan ‘memeras’ Trump, demikian Nicholas Kristof menulis untuk The New York Times. Pemberitaan-pemberitaan tersebut yang membuat Trump marah dan tidak mau menjawab pertanyaan wartawan CNN dan menyebut BuzzFeed sebagai ‘sampah’

Trump memang mengatakan bahwa semua pemberitaan tersebut adalah kebohongan dan menyebut media yang mempublikasikan pemberitaan tersebut sebagai pihak yang ‘tidak bertanggung jawab’. Namun demikian, semua pemberitaan dan tulisan tersebut membuat sebagian besar orang bertanya-tanya: apakah orang yang memenangkan konstetasi pemilu Amerika Serikat ini adalah orang yang bisa dipercayai untuk menduduki Gedung Putih oleh masyarakat Amerika Serikat? Bahkan lebih buruk lagi, orang bisa bertanya: apakah Presiden terpilih Amerika Serikat adalah ‘pudel’-nya Rusia?

Berkas dan rekaman tentang Trump di Rusia itu sebelumnya diungkapkan oleh Christopher Steele, seorang mantan mata-mata MI6 Inggris yang pernah bekerja di Rusia. Berkas tentang Trump itu bahkan dianggap sangat kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan jika melihat track record Steele sebagai mata-mata yang sangat kompeten dan tidak mungkin secara sembarangan mengungkapkan informasi. Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh pihak-pihak yang pernah bekerja dengan Steele. Selama beberapa hari rekaman tersebut diinvestigasi oleh baik pihak FBI, CIA, maupun juga para jurnalis dan bahkan politisi. Namun, tak satupun yang secara gamblang bisa memberikan tuduhan langsung terhadap tekanan yang diberikan Moskow terhadap Trump.

Komite Intelijen Senat Amerika Serikat saat ini sedang melakukan investigasi terkait kasus peretasan yang terjadi di seputar pemilihan presiden serta juga akan melakukan investigasi terhadap kasus rekaman Trump di Moskow ini. Hubungan Trump dan Moskow ini sudah sejak lama diinvestigasi oleh FBI.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Pertanyaan-pertanyaan kemudian bermunculan: mengapa Trump begitu ngotot untuk berada di pihak yang sama dengan Rusia? Mengapa Trump begitu ingin memperbaiki hubungan dengan Rusia? Semua presiden baru Amerika Serikat pernah mengupayakan hal yang sama, namun tak satupun yang berhasil.

Banyak hipotesis yang kemudianbermunculan mengenai keterkaitan Trump dan Moskow berhubungan dengan masalah pajak dan kekayaan karena Trump sendiri tidak pernah secara gamblang mengungkapkan besaran kekayaan dan pajak yang ia bayarkan.

Semua teori itu begitu meresahkan komunitas intelijen Amerika Serikat, politisi dan anggota kongres Amerika Serikat. Bagaimana tidak meresahkan, tak satupun warga Amerika Serikat yang mau presidennya menjadi ‘pegawai’ Rusia. Amerika Serikat dan Rusia adalah dua kekuatan yang bersaing secara global. Ada sejarah panjang di balik hubungan keduanya yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mengikuti berbagai pemberitaan tentang Trump ini benar-benar membuat kita yang berada di luar Amerika Serikat cukup tertarik. Bagaimana jadinya kalau Trump benar-benar punya hubungan yang dekat dengan Putin? Bagaiman jika semua pemberitaan tersebut benar? Wow, akan ada banyak pergeseran yang terjadi di dunia. Balance of power atau keseimbangan kekuatan akan bergeser, dan dunia akan memasuki tahap baru. Dampaknya juga akan ikut dirasakan oleh kita di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menarik untuk menanti kelanjutannya bukan? (NYT/S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.