HomeNalar PolitikGiliran Islam dari Demokrat

Giliran Islam dari Demokrat

Kecil Besar

Pengamat yang satu mengatakan, calon dari kalangan Islam paling baik untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pengamat yang lain mengatakan, Partai Demokrat lebih baik berkoalisi dengan Jokowi.


PinterPolitik.com

Siapa saja pengamat-pengamat yang dimaksud? Pertama adalah Taufik Febri dari Lingkar Survei Indonesia (LSI), yang mengatakan adalah baik kalau calon wakil presiden (cawapres) Jokowi berasal dari kalangan Islam yang masih muda. Sementara yang kedua adalah Hanta Yuda dari Poltracking, yang menyebut baiknya Partai Demokrat tidak membentuk poros ketiga, tapi bergabung dengan poros Jokowi.

Beberapa hari terakhir, sejumlah partai Islam memang sudah berbondong-bondong mengajukan cawapres kepada Jokowi. Partai-partai ini punya kelebihan dan kedekatan yang berbeda-beda dengan Jokowi, dan bermanfaat bagi sang presiden untuk mengisi kelemahan politik Islamnya.

Ada PKB yang sudah cukup lama mengajukan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Kedekatan Jokowi dengan Cak Imin pun sudah terlihat beberapa kali, khususnya saat Jokowi meresmikan kereta Bandara Soekarno-Hatta.

Lalu, ada pula PPP yang mengajukan nama ketua umumnya Romahurmuziy (Romi). Jokowi dan Romi terlihat bersama saat peresmian beberapa venue Asian Games di Senayan, awal bulan ini.

Yang tak diduga, dua partai yang cenderung berseberangan dengan Jokowi, yakni PAN dan PKS pun disebut-sebut sudah mengajukan nama cawapres kepada sang presiden. PAN mengajukan nama ketum Zulkifli Hasan, sementara Ketum PKS Sohibul Iman menyebut tengah menyeleksi tokoh di internal partai.

Sejauh mata memandang, hanya empat partai di atas yang menjadi partai Islam aktif saat ini, dan keempatnya sudah berusaha mendekatkan diri ke Jokowi. Lalu, adakah “partai Islam” lainnya?

Beberapa pihak menyebut partai poros tengah, yakni Demokrat pun sebenarnya punya kapasitas untuk menawarkan nuansa Islam-nya untuk Jokowi.

Lebih dari itu, nuansa Islam-militer yang kuat selama sepuluh tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun disebut-sebut dapat jadi tawaran menarik untuk Jokowi.

Suksesnya Demokrat “Berfusi” dengan Islam

“Kita harus memberi contoh bagaimana Islam yang benar sesuai dengan firman Allah. Kalau dijalankan, gelombang islamophobia bisa diredam.”

-Susilo Bambang Yudhoyono-

Sejak 9 September 2001, Demokrat didirikan sama sekali bukan oleh orang-orang dengan latar belakang Islam yang kuat. Vence Rumangkang (pebisnis), alm. Achmad Yani Wachid (sosiolog), Subur Budhisantoso (antropolog), Irzan Tanjung (ekonom), sampai alm. Heroe Syswanto Ns (seniman) bukanlah bagian dari para pemuka Islam atau tokoh yang penuh dengan pemikiran Islam.

Namun, SBY sendiri yang diusung sebagai calon presiden, disebut-sebut merupakan sosok yang lebih Islami daripada yang nampak di luar. Dino Patti Djalal dalam bukunya Harus Bisa: Seni Memimpin ala SBY, mengatakan bahwa SBY sebenarnya dilahirkan dekat dengan budaya santri, di Pacitan, Jawa Timur. Kedekatan dengan budaya santri ini, tegas Dino, menjadikan Sang Jenderal Pemikir ini pun memiliki legitimasi politik di kalangan santri.

Dengan modal tersebut, nyatanya Demokrat sukses merebut kesetiaan partai-partai Islam pasca menang Pemilu 2004.  Di putaran pertama Pemilu 2004 Demokrat hanya didampingi oleh satu partai Islam yakni PBB. Kemudian, di putaran kedua Demokrat didampingi oleh PKS, sementara PKB, PPP, dan PAN memilih menjadi partai netral. SBY menang, salah satunya karena peran 7,34 persen suara milik PKS yang cukup signifikan.

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Setelah SBY menjabat presiden, akhirnya semua partai Islam yang disebut di atas berlabuh ke sisi Demokrat. SBY dan Demokrat pun punya legitimasi penuh memerintah dengan label “Islami”, karena semua partai Islam berada di sisinya. Hal ini terlepas, tentu saja, dari permainan tokoh Islam sekaligus Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang terus bermanuver di parlemen, dan disebut-sebut menjadi the real president” di periode pertama SBY, kata Buya Syafi Ma’rif.

Dari sudut pandang kekuatan politik, koalisi Islam ini bertahan sampai periode kedua SBY berkuasa dan menghasilkan citra pemerintahan kuat Islam-militer milik SBY.

SBY punya kedekatan dengan berbagai kalangan Islam

Lalu, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang kebijakan publik? Apakah SBY memiliki keberanian, katakanlah untuk mengambil sikap politik maupun keputusan yang tidak populer di mata umat Islam?

Sepertinya, SBY memang berani mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak populer di sebagian kalangan Islam. Kesuksesan tersebut sepertinya merupakan buah dari keberhasilannya membangun koalisi dengan seluruh partai Islam.

Hal ini terlihat dari keberanian SBY menumpas banyaknya teroris dan menyelesaikan kasus terorisme sampai akarnya di dua periode kepemimpinannya. Pada periode pertama, SBY menangkap Abu Bakar Ba’syir dan sejumlah teroris kawakan lainnya yang menjadi dalang Bom Bali I dan II.

Pada periode kedua, SBY bahkan sukses merumuskan program deradikalisasi Islam yang ampuh mengurangi secara signifikan jumlah aksi terorisme. Program ini dicontoh oleh banyak negara ASEAN, dan menjadikan politik Islam sebagai senjata utama SBY di luar negeri, tak hanya di dalam negeri saja.

Bagaimana dengan kiprah ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI)? Sang pimpinan Rizieq Shihab bahkan mampu ditangkap dan dijebloskan ke penjara akibat aksi anarkis ormasnya di acara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada tahun 2008. Sementara, bisa dibayangkan betapa sulitnya menangkap Rizieq di era Jokowi sekarang ini.

Tak hanya Rizieq, FPI pun cenderung minim aksi dan dapat dikontrol di era SBY. Beberapa sumber bahkan mengatakan SBY melalui Jenderal Polisi Sutanto yang menjabat Kapolri sampai 2008, benar-benar mengontrol FPI dengan “menernaki” mereka, menurut sebuah laporan Wikileaks.

Walaupun telah dibantah oleh pihak Polri, namun fakta bahwa FPI tidak banyak bertindak anarkis apalagi sampai membawa ratusan ribu massa di pusat Kota Jakarta, menandakan kelompok Islam oposisi tidak memiliki momentumnya di rezim SBY.

Maka, taring-taring SBY dan Demokrat sebenarnya menancap dengan kuat di kalangan Islam. Hanya saja, di akhir kuasanya, SBY kehilangan kemampuan mengontrol PKS—termasuk FPI, ormas yang bersekutu dengan PKS—dan akhirnya pisah jalan pada Pemilu 2014.

Apa Tawaran AHY?

“Janganlah kita membentur-benturkan Islam dan Pancasila. Karena Islam dan agama manapun yang diakui di Indonesia ini kompatibel dengan nilai-nilai luhur pancasila.”

-Agus Harimurti Yudhoyono-

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon terdepan Demokrat saat ini punya modal yang begitu baik. Tak hanya muda, visioner, dan kerap menyasar para pemilih pemula, AHY pun punya citra yang baik di kalangan umat Islam. Ini yang menjadikan AHY punya elektabilitas tertinggi sebagai cawapres pada Januari 2018, mencapai 15,85 persen.

Baca juga :  Verrell, Esetetika Kuasa dan Fatamorgana?

Apakah modal kedekatan ayahnya dengan kalangan santri, berdampak positif bagi AHY? Sepertinya demikian. Tapi tak hanya di kalangan santri NU, AHY disebut-sebut juga sudah punya modal baik di kalangan warga Muhammadiyah. Safari AHY di berbagai daerah “milik” NU dan Muhammadiyah menghasilkan popularitas yang tinggi di kalangan dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Setidaknya itu pendapat Rais Naam NU sekaligus Ketua MUI Ma’ruf Amin.

Belum lagi, bila menilik dari idealisme AHY sebagai calon yang muda dan Islami, seperti pendapat Taufik Febri di awal tulisan. Maka, sebenarnya tokoh seperti AHY dapat menjadi pilihan yang menarik.

Karena muda dan sering menjadi pembicara di kampus-kampus, AHY populer di kalangan muda. Dan karena AHY adalah orangnya partai tengah, maka ia juga dapat menengahi polarisasi politik Pancasilais vs Islam yang sedang panas-panasnya belakangan ini.

AHY sudah mengumpulkan modal menjadi cawapres muda, intelek, dan berlatar belakang militer sekaligus Islam

AHY jelas menjadi pilihan yang menarik untuk menjadi cawapres Jokowi. Apalagi, kekuasaan Jokowi atas parpol Islam pun sebenarnya tak sekuat SBY dulu, karena hanya ada dua partai yang setia (PKB dan PPP), sementara satu partai lain cenderung mbalelo (PAN) dan satu partai oposisi (PKS).

Sementara dulu, SBY punya tiga partai setia (PKB, PPP, PAN) dan satu partai mbalelo (PKS), selama kurang lebih sepuluh tahun. Demokrat sangat punya keuntungan dan dapat menawarkan kelebihan ini kepada Jokowi.

Bila Jokowi resah dengan hitung-hitungan kursi parlemen milik Demokrat, sepertinya Jokowi perlu mempertimbangkan teori koalisi dari William H. Riker. Dalam positive political theory, khususnya game theory, dijelaskan bahwa koalisi yang baik tidak perlu dijalankan dengan partai pemilik kursi terbanyak.

Menurut Riker, dua partai medioker saja cukup untuk membangun koalisi, bila keduanya ingin melawan partai terbesar itu. Alasannya, bila partai-partai medioker sampai kecil mampu berkoalisi, maka jumlah total kursi mereka akan mengalahkan jumlah kursi milik partai terbesar.

Tak hanya membentuk koalisi yang ramping, Riker juga menyarankan agar seorang aktor politik mempertimbangkan sosok dan ketokohan daripada mempertimbangkan partai dengan suara terbesar. Karena dalam beberapa kasus, sosok akan dapat mengangkat elektabilitas partai, dan mampu mengalahkan partai dengan mesin politik yang baik di akar rumput.

Apakah dengan demikian ini menjadi modal Demokrat, partai tengah dengan kekuatan citra politik? Apakah citra SBY dan AHY cukup baik untuk membantu Demokrat di 2019?

Setidaknya, bila melihat partai terbesar pendukung Jokowi, yakni PDIP yang belum mewacanakan untuk kembali mengusung sang presiden, maka kondisinya masih abu-abu bagi Jokowi. Ia dapat ditinggalkan oleh PDIP di tengah jalan. Sementara, PDIP sebagai partai terbesar dapat dikeroyok oleh partai-partai yang lebih kecil bila begini terus.

Dengan kondisi seperti itu, Jokowi harus mengamankan partai-partai lebih kecil lainnya dalam rangkulannya. Golkar, Nasdem, Hanura, PSI sudah. Apakah sekarang giliran Demokrat?

Jokowi sepertinya benar-benar harus mempertimbangkan AHY dan “Islam-nya Demokrat” untuk ikut di dalam koalisinya untuk 2019. (R17)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Mengejar Industri 4.0

Revolusi industri keempat sudah ada di depan mata. Seberapa siapkah Indonesia? PinterPolitik.com “Perubahan terjadi dengan sangat mendasar dalam sejarah manusia. Tidak pernah ada masa penuh dengan...

Jokowi dan Nestapa Orangutan

Praktik semena-mena kepada orangutan mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), praktik-praktik itu terus...

Indonesia, Jembatan Dua Korea

Korea Utara dikabarkan telah berkomitmen melakukan denuklirisasi untuk meredam ketegangan di Semenanjung Korea. Melihat sejarah kedekatan, apakah ada peran Indonesia? PinterPolitik.com Konflik di Semenanjung Korea antara...