Dengarkan artikel ini:
Setelah empat tahun diam, Tulus rilis “Teh Hijau” tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti?
โMungkin ini siklusnya. Sudah garis jalannyaโ โ Tulus, โTeh Hijauโ (2026)
Cupin membuka ponselnya pada suatu pagi akhir Juni dan mendapati lini masanya riuh oleh satu nama. Tulus, musisi yang empat tahun tidak merilis karya baru, tiba-tiba mengumumkan lagu berjudul “Teh Hijau”.
Yang membuat Cupin terpaku bukan lagunya, melainkan caranya hadir. Pengumuman itu datang hanya sehari sebelum rilis, tanpa gempuran promosi yang biasanya mengiringi peluncuran seorang bintang.
Satu potong sampul berwarna hijau dan sebaris kalimat teaser sudah cukup menggerakkan publik. Cupin melihat warganet berbondong menyambut, sebagian bahkan menuliskan istilah yang menggelitik, yaitu “sungkem suhu”.
Cupin merenung sejenak tentang paradoks yang ada di hadapannya. Di era ketika algoritma menghukum keheningan dan menuntut kehadiran tanpa henti, Tulus justru melakukan kebalikannya dan tetap menang.
Empat tahun absen ternyata bukan kelemahan bagi sang musisi. Bagi Cupin, keheningan panjang itu tampak seperti kelangkaan yang justru menaikkan nilai sebuah karya.
Ia teringat bahwa fenomena serupa tidak hanya milik dunia musik. Sosok publik mana pun yang bersandar pada persepsi orang banyak menghadapi persoalan yang sama, yakni bagaimana menjaga daya tarik agar tidak lekas pudar.
Cupin membayangkan betapa sulitnya menahan godaan untuk selalu terlihat di era serba cepat ini. Menghilang terlalu lama berisiko dilupakan, sedangkan tampil terus-menerus berisiko kehilangan bobot.
Cupin lalu berpikir bahwa persoalan ini sesungguhnya adalah persoalan klasik tentang kekuasaan dan kharisma. Ia menduga bahwa apa yang dilakukan Tulus punya cerminannya di panggung politik Indonesia.
Ia membayangkan bahwa jalan menjaga pamor ternyata tidak tunggal. Ada figur yang bertahan dengan cara menghilang, dan ada pula yang bertahan justru dengan cara selalu hadir.
Dua pertanyaan menggantung di benak Cupin sebelum ia melangkah lebih jauh. Mengapa keheningan justru bisa menjadi sumber kekuatan bagi sebagian figur? Lalu, apakah cara Tulus merawat pamornya punya padanan di sosok publik lain yang sehari-hari terlihat berlawanan dengannya?
Rutinisasi Kharisma dan Dua Wajah Ketenaran
Cupin menelusuri gagasan sosiolog Jerman, Max Weber, yang jauh hari sudah membedah watak kharisma. Dalam pemikiran Weber, kharisma adalah otoritas yang lahir dari kepercayaan orang banyak pada kualitas luar biasa seorang figur.
Weber mengingatkan bahwa kharisma adalah kekuasaan yang paling memikat sekaligus paling rapuh. Ia menyebut proses pemudaran itu sebagai rutinisasi kharisma, yaitu ketika pesona yang istimewa perlahan luruh menjadi hal yang biasa dan hambar.
Bagi Cupin, di sinilah letak kecerdikan Tulus dalam menahan diri. Sang musisi seolah paham bahwa kharisma harus dirawat dengan disiplin, bukan diumbar sampai kehilangan aura.
Cupin menemukan penjelasan tambahan dari filsuf Georg Simmel dalam bukunya, The Philosophy of Money. Simmel berargumen bahwa nilai tidak lahir dari benda itu sendiri, melainkan dari jarak yang harus ditempuh untuk memperolehnya.
Empat tahun keheningan Tulus, dalam kacamata Cupin, adalah jarak yang membuat satu lagu terasa bagai peristiwa besar. Sesuatu yang selalu tersedia kehilangan pesonanya, sedangkan sesuatu yang langka justru terasa berharga.
Cupin juga teringat gagasan filsuf Prancis, Guy Debord, dalam karyanya, The Society of the Spectacle. Debord menggambarkan masyarakat modern sebagai banjir tontonan yang tidak pernah berhenti mengalir.
Dalam lautan konten yang tak henti itu, justru keheningan yang paling mencolok mata. Cupin menyimpulkan bahwa ketika semua orang berteriak, figur yang memilih diam berubah menjadi tontonan yang paling kuat.
Untuk menguji gagasannya, Cupin mencari sosok yang berdiri di kutub berlawanan dari Tulus. Ia menemukannya pada figur Raffi Ahmad, seorang bintang yang kharismanya justru dibangun dari kehadiran maksimal.
Raffi tampil di banyak layar, banyak acara, dan banyak peran sekaligus. Bagi Cupin, nilai Raffi bukan terletak pada kelangkaan, melainkan pada kehadiran yang nyaris tanpa jeda dan persona yang mudah ditebak.
Cupin menyadari bahwa model Raffi sama sahnya dengan model Tulus, hanya saja bekerja lewat logika yang bertolak belakang. Publik menyukai Raffi justru karena tahu persis sosok yang akan mereka temui setiap kali ia muncul.
Pola semacam ini, dalam pengamatan Cupin, juga hidup di panggung dunia. Aktor Dwayne Johnson yang dijuluki The Rock merawat pamornya lewat rangkaian film beruntun dan kehadiran harian di media sosial dengan persona yang selalu konsisten.
Cupin lalu menimbang bahwa dua kutub ini ibarat dua jenis merek yang berbeda. Kelangkaan barang mewah yang sesekali hadir berhadapan dengan keandalan barang harian yang selalu tersedia dan tepercaya.
Ia merasa kerangka ini terlalu berharga untuk berhenti di dunia hiburan saja. Cupin curiga bahwa pasangan kutub yang serupa bisa ditemukan pada dua sosok besar dalam politik Indonesia.
Dua pertanyaan kembali menggantung sebelum Cupin melanjutkan penelusurannya. Apakah kelangkaan dan ketersediaan itu juga menjelaskan cara para pemimpin politik bertahan? Lalu, siapakah dua sosok yang paling jernih mewakili masing-masing kutub itu di ranah kekuasaan?

Dua Presiden dan Seni Bertahan yang Berbeda
Cupin mengarahkan perhatiannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono sebagai wakil dari kutub kelangkaan. Setelah tidak lagi memegang jabatan eksekutif, SBY jarang membanjiri ruang publik dengan pernyataan.
Ketika SBY memilih bersuara, bobotnya terasa besar justru karena kelangkaannya. Cupin melihat bahwa sang figur merawat citra sebagai negarawan yang berada di atas hiruk-pikuk, dengan memilih momen alih-alih memenuhi setiap ruang.
Dalam pandangan Cupin, cara SBY sangat menyerupai cara Tulus menahan diri. Keduanya menjadikan keheningan sebagai semacam tabungan yang bunganya adalah perhatian publik saat mereka akhirnya berbicara.
Cupin teringat pula pada ekonom Sherwin Rosen lewat tulisannya yang termuat dalam jurnal “The American Economic Review” dengan judul “The Economics of Superstars”. Rosen menjelaskan bahwa segelintir bintang mampu menyerap sebagian besar perhatian pasar ketika reputasi mereka telah mapan, sehingga keheningan sekalipun tidak menggeser posisi mereka di puncak.
Di kutub yang berlawanan, Cupin menempatkan Joko Widodo sebagai wakil dari ketersediaan. Kharisma Jokowi sejak awal dibangun di atas kedekatan, dengan citra merakyat dan gaya blusukan yang menuntut kehadiran terus-menerus.
Cupin memahami bahwa model Jokowi tidak bersandar pada jarak, melainkan pada konsistensi persona yang stabil dari waktu ke waktu. Kekuatannya terletak pada keterdugaan, sebab publik tahu persis sosok yang akan mereka temui.
Bagi Cupin, simetri ini terasa rapi dan memikat. Tulus berbanding Raffi, seperti SBY berbanding Jokowi, yaitu dua pasang yang mewakili kutub yang sama di ranah yang berbeda.
Cupin pun menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa ini bukan soal kutub mana yang lebih unggul. Kelangkaan cocok bagi figur yang otoritasnya bersandar pada keahlian dan bobot, sedangkan ketersediaan cocok bagi figur yang otoritasnya bersandar pada kedekatan sehari-hari.
Ia mencatat bahwa memaksakan strategi yang keliru justru bisa merusak fondasi seorang figur. Menghilang lama akan menggerus sosok yang mengandalkan kedekatan, sedangkan tampil terlalu sering dapat memicu apa yang Cupin sebut sebagai inflasi kharisma.
Cupin menutup renungannya dengan sebuah kesimpulan yang tenang dan tidak berpihak. Ia menyadari bahwa yang membedakan figur yang bertahan lama dari yang lekas meredup bukanlah besarnya kharisma yang mereka miliki di awal, melainkan kejernihan mereka dalam memilih cara merawatnya.
Empat tahun Tulus memilih diam, SBY memilih momen dengan cermat, dan Jokowi memilih menjaga personanya tetap konsisten, dan ketiganya menempuh jalan berbeda menuju tujuan yang sama, yaitu membuat kehadiran mereka tetap terasa berharga di mata orang banyak. (A43)


