HomeHeadlineGibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan: Wapres Gibran Rakabuming Reka. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?


PinterPolitik.com

Ada pemandangan yang berulang sepanjang paruh pertama 2026. Ketika tiga menteri digeruduk mahasiswa di Yogyakarta dan beberapa pimpinan negeri ini memilih diam, seorang wakil presiden justru membuka pintu Istana, menerima para pendemo, dan mencatat tuntutan mereka di buku kecil. Tiga hari kemudian, lima mahasiswa dari berbagai kampus sudah duduk di pesawat bersamanya, terbang meninjau program ke Ende, Gorontalo, dan Papua. Di lain waktu ia muncul di pos ronda Jakarta pukul sepuluh malam, membagikan senter dan kopi sachet, lalu berkeliling sebelas provinsi dengan dominasi Indonesia Timur.

Secara permukaan, semua ini kerja wakil presiden yang rajin. Namun kerajinan yang terlalu konsisten menuju satu arah biasanya menyimpan kalkulasi. Tulisan ini menguji satu dugaan: rangkaian tindakan Gibran bukan sekadar tugas, melainkan upaya sistematis mengumpulkan keuntungan politik. Kita tidak akan menebak isi kepalanya, melainkan memakai indikator yang lama dipakai ilmuwan politik untuk menilai perilaku pejabat.

Taktik Politik Gibran?

David Mayhew, dalam studi klasiknya tentang petahana, menyebut tiga indikator pejabat sedang memanen keuntungan politik: memperkenalkan diri, mengklaim jasa, dan mengambil posisi yang disukai publik. Mari kita uji.

Mengambil posisi yang disukai terlihat saat ia menerima demonstran. Di hari pejabat lain ditolak mahasiswa, ia memilih jadi sosok yang mendengar. Mengklaim jasa terbaca pada “Lapor Mas Wapres”, kanal aduan dengan namanya melekat, yang menampung lebih dari enam belas ribu laporan dan rutin mengumumkan kisah ijazah tertebus atau sengketa tanah yang selesai. Memperkenalkan diri terpenuhi oleh sebelas provinsi yang ia kelilingi, dengan setiap kunjungan menghasilkan liputan tanpa perlu membawa isu kebijakan. Ketiga indikator terpenuhi sekaligus terbentuk seperti pola.

Ketajaman Mayhew ada di kalimat berikutnya: aktivitas semacam itu membuat pejabat tetap populer secara personal bahkan ketika institusinya tidak populer. Survei Indopol Juni 2026 mencatat kepuasan terhadap pucuk pemerintahan turun ke 59,75 persen, anjlok lebih dari dua puluh poin dalam tujuh belas bulan, yang disebut lembaga itu fase kerentanan politik. Pemerintahan kehilangan cahaya. Di langit yang meredup itu, satu figur justru mencoba bersinar lebih terang.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Mahasiswa yang Dipinjam Suaranya

Pola dengan mahasiswa paling halus. Mereka membawa sesuatu yang tak bisa dibeli anggaran negara, yaitu legitimasi moral. Ketika Gibran menerima mereka lalu mengajak lima meninjau Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, terjadi apa yang Pierre Bourdieu sebut konversi modal. Kredibilitas moral mahasiswa berpindah, menempel pada citra wakil presiden sebagai sosok terbuka.

Ada efek kedua yang lebih dalam. Dalam pemikiran Antonio Gramsci, kekuasaan paling awet bukan yang menindas perlawanan, melainkan yang merangkulnya hingga perlawanan berhenti merasa sebagai perlawanan. Mahasiswa yang semula di luar pagar, dalam tiga hari sudah ikut rombongan kerja, “mengawasi” program yang sebelumnya mereka kritik. Pengawasan dari luar diundang masuk, lalu kehilangan taringnya. Inilah kooptasi dalam bentuk paling sopan, dibungkus sebagai pelibatan. Ibaratkan ban serep, mungkin ban serep ini memilih untuk tidak diam di kap mesin.

Papan Catur Gibran Telah Disiapkan

Di sini analisis naik ke level filosofis. Bourdieu mengajarkan modal politik tidak jatuh dari langit, melainkan diakumulasi lewat kerja lalu dikonversi. Kehadiran fisik adalah modal simbolik, kepercayaan warga adalah modal sosial, dan keduanya bisa ditukar menjadi modal politik saat kontestasi tiba. Setiap kunjungan adalah setoran. “Lapor Mas Wapres” adalah mesin yang Morris Fiorina sebut casework, layanan konkret yang melahirkan loyalitas di luar garis partai. Kunjungan berulang adalah apa yang Richard Fenno namai home style, cara pejabat menampilkan diri sehingga warga percaya ia salah satu dari mereka.

Hal yang buat strategi ini sulit dilawan justru legalitasnya. Tak ada pasal dilanggar. Konstitusi menempatkan wakil presiden sekadar pembantu presiden, dengan kewenangan minim dan pasif, tanpa mandat membangun saluran langsung ke rakyat. Namun di sanalah ekspansinya. Lima wakil presiden sebelumnya, dari Try Sutrisno hingga Ma’ruf Amin, memilih peran rendah hati atau bermain di ranah kebijakan. Tak satupun menjadikan kehadiran lapangan dan rangkulan mahasiswa sebagai mode utama. Gibran anomali, dan anomali punya sebab.

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Sosok yang kini sibuk di panggung global, yang meninggalkan ruang kehadiran domestik kosong, adalah figur yang sama yang dahulu mengangkatnya. Gibran tak pernah menyebut nama, tak pernah menantang. Ia hanya, perlahan, mengambil alih atribut yang dulu jadi monopoli orang itu: predikat pemimpin paling merakyat. Persaingan paling berbahaya memang yang berlangsung tanpa deklarasi, di dalam rumah yang sama, dengan senjata kehadiran, bukan kritik.

Maka, apa kesimpulannya? Berdasarkan indikator Mayhew yang terpenuhi tiga-tiganya, konversi modal Bourdieu pada kasus mahasiswa, casework Fiorina, dan home style Fenno, jawabannya tegas. Gibran sedang mengumpulkan keuntungan politik, dengan mengubah tugas negara menjadi pabrik legitimasi pribadi. 

Inilah paradoks ban serep. Ban cadangan diciptakan untuk diam di bagasi, menunggu dipasang bila yang utama bocor. Tetapi ban serep ini menyetir sendiri, mengisi bensinnya dengan modal dari setiap pasar, pos ronda, dan ruang kelas yang ia singgahi, menyiapkan diri untuk kemungkinan melaju sendirian.

Namun penilaian yang jujur harus mengakui batasnya. Modal yang tidak diakui publik bukanlah modal. Sebagian orang membaca blusukan malam itu sebagai kerja sekelas ketua rukun tetangga, bukan negarawan. Penyambung lidah rakyat sejati dari Soekarno lahir karena ada lawan yang dihadapi. Gibran menyambung aspirasi tentang program pemerintahnya sendiri, tanpa visi struktural, tanpa pertaruhan. Tanpa lawan yang jelas, ia berisiko hanya menjadi petugas layanan pelanggan yang sangat ramah.

Matahari itu sedang dirakit, konsisten, dengan tempo melampaui wakil presiden mana pun. Pertanyaannya bukan apakah ia sedang membangunnya, melainkan apakah cahayanya cukup untuk terbit sendiri, atau hanya akan tetap jadi pantulan dari matahari yang sedang meredup. Jawabannya bukan di tangan Gibran. Ia ada di mata publik yang menonton, dan memutuskan apakah yang mereka saksikan seorang pemimpin, atau pertunjukan yang sangat rajin. (A99)

Artikel Sebelumnya
spot_imgspot_img

#Trending Article

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

More Stories

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?