Dengarkan artikel ini:
Lagu “rollerblade” (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?
“Uh, udah siap belum? Yuk. Jalan-jalan dengan sepatu rodaku. Kiri, kanan, ikuti irama lagu” – no na, “rollerblade” (2016)
Cupin tidak sengaja menemukannya saat menggulir layar di sela jam istirahat. Sebuah sound pendek berputar terus di berbagai video, dari konten jualan es teh sampai anak kecil yang menari di teras rumah.
“Udah siap belum? Jalan-jalan dengan sepatu rodaku,” begitu penggalan lirik yang melekat di kepalanya. Lagu itu, ia kemudian tahu, berjudul “Rollerblade” milik girl group no na.
Cupin sempat menganggapnya sekadar keriuhan musiman yang akan menguap dalam hitungan minggu. Namun, semakin ia perhatikan, semakin ia sadar bahwa potongan lirik itu sudah berubah menjadi bahasa sehari-hari banyak orang.
no na sendiri bukan grup biasa, melainkan kuartet perempuan Indonesia yang dirakit label global 88rising. Mereka adalah versi Indonesia dari sebuah gelombang yang sedang melanda industri musik dunia.
Yang menarik bagi Cupin, bukan bagian chorus berbahasa Inggris yang justru meledak di Indonesia, melainkan satu baris bahasa ibu yang ringan dan nyaris kekanak-kanakan. Rakyat seakan memilih sendiri bagian mana yang ingin mereka jadikan milik bersama.
Fenomena sepatu rodaku membuat Cupin penasaran pada sesuatu yang lebih besar. Apakah viralnya lagu ini hanya kebetulan, atau gejala dari pergeseran besar selera musik global?
Dan jika benar dunia sedang berpaling pada girl group, apa sebenarnya yang membuat girl power begitu kuat hari ini?
Dunia yang Tunduk pada ‘Girl Power‘
Cupin menelusuri lebih jauh dan menemukan pola yang sulit diabaikan. Selama bertahun-tahun panggung pop dunia dikuasai solois dan maskulinitas hip-hop, tetapi kini pusatnya bergeser ke girl group dan estetika feminin.
Di Korea Selatan, format ini sudah lama menjadi mesin ekspor budaya yang diasah dengan presisi industrial. Gelombang itu kemudian melebar, dari Asia Tenggara hingga ke jantung pasar Amerika Serikat.
KATSEYE, girl group global bentukan HYBE dan Geffen Records, bahkan debut dengan EP berjudul telak, “Soft Is Strong”. Pesannya jelas, bahwa yang lembut justru menjadi sumber kekuatan dan nilai ekonomi.
Bukti lain datang dari Huntr/x dalam film KPop Demon Hunters, yang mencetak lagu nomor satu girl group pertama sejak Destiny’s Child pada 2001. Estetika feminin yang dulu dipandang sebelah mata kini menjadi mata uang budaya paling berharga.
Untuk memahami ini, Cupin menemukan pemikiran Angela McRobbie, sosiolog dari Goldsmiths, University of London. Dalam bukunya The Aftermath of Feminism, ia menunjukkan bagaimana budaya kontemporer mengubah perempuan muda dari konsumen pasif menjadi subjek aktif yang punya daya beli.
Pemikiran itu dilengkapi Sarah Banet-Weiser lewat konsep economies of visibility atau ekonomi keterlihatan. Dalam Empowered: Popular Feminism and Popular Misogyny, ia berargumen bahwa di era media sosial, feminitas yang terlihat menjelma menjadi bentuk modal tersendiri.
Cupin juga teringat akar fenomena ini di Jepang, yang dipelajari Sharon Kinsella dalam esainya “Cuties in Japan”. Estetika kawaii yang manis dan polos ternyata tumbuh menjadi mesin komersial raksasa sekaligus aset diplomasi citra negara.
Yang membuat girl group begitu kuat, menurut catatan Cupin, adalah kekuatan fandomnya. Penggemar perempuan muda terbukti menjadi konsumen budaya paling loyal dan terorganisir, mampu mengubah sebuah lagu dari niche menjadi arus utama.
Cupin melihat buktinya di mana-mana. Di Korea Selatan, fandom mampu menggerakkan tangga lagu dan penjualan secara serentak, sementara di Amerika Serikat girl group global kini bersaing langsung di puncak Billboard.
Logikanya pun berbasis partisipasi, bukan kekaguman jarak jauh. Orang tidak hanya menonton, mereka ikut menari dan merekam diri menyanyikan sepatu rodaku.
Namun, Cupin sadar perayaan ini perlu mata yang jernih. Para akademisi tadi mengingatkan bahwa girl power yang dikomersialkan bisa memberdayakan sekaligus membebani perempuan dengan tuntutan penampilan tanpa henti.
Pertanyaan berikutnya menggelitik Cupin. Jika dunia sedang berpaling pada girl power, apakah Indonesia punya tradisi yang sama?
Dan jika tradisi itu ada, bagaimana ia bisa diubah menjadi peluang ekonomi yang nyata?
Sepatu Roda dan Peluang Ekraf Indonesia
Cupin menemukan bahwa Indonesia sebenarnya bukan pendatang baru dalam budaya feminin populer. Sejarahnya panjang, meski terputus-putus.
Pada era 1960 hingga 1970-an, ada band perempuan legendaris seperti Dara Puspita yang memainkan alat musik sendiri dan tampil cadas. Mereka membuktikan bahwa girl power Indonesia bukan barang impor.
Setelah sempat sepi pada 1980-an, gelombang besar berikutnya baru datang pada 2011 lewat JKT48, Cherrybelle, dan Super Girlies. Garis dari Dara Puspita hingga no na memperlihatkan bahwa bakat tidak pernah kurang di negeri ini.
Cupin mencatat satu ironi pada model awal seperti JKT48. Sosok idol kala itu sebagian dibentuk oleh selera penggemar yang mayoritas laki-laki, sehingga feminitasnya cenderung dirancang untuk dilihat.
Kini lanskapnya bergeser, dan no na hadir sebagai perempuan Indonesia yang berbicara di panggung global. Mereka tampil bukan sebagai objek tatapan, melainkan subjek yang membawa gamelan dan bahasa ibu ke dunia.
Yang selama ini hilang, menurut analisis Cupin, adalah kesinambungan dan dukungan ekosistem. Talenta lahir, tetapi sering dibiarkan tumbuh tanpa infrastruktur yang memadai.
Di sinilah Cupin melihat peluang besar bagi ekonomi kreatif. Fenomena ini bertemu dengan kekuatan yang dalam literatur bisnis global disebut she-conomy, yakni ekonomi yang digerakkan daya beli perempuan.
Berbagai studi internasional memperkirakan perempuan mengendalikan atau memengaruhi mayoritas keputusan belanja konsumen dunia. Mereka bukan hanya membeli untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi pengambil keputusan belanja rumah tangga.
Angka di dalam negeri pun berbicara nyata. Riset Katadata Insight Center mencatat belanja produk kecantikan di Indonesia mencapai sekitar Rp262 triliun pada 2025, naik dari Rp175 triliun pada 2020.
Laju pertumbuhannya bahkan melampaui rata-rata kawasan Asia-Pasifik maupun Amerika Serikat. Itu baru satu subsektor, belum menghitung fashion lokal, ekonomi fandom, hingga konten kreator.
Potensi ini terasa makin besar mengingat profil Indonesia yang spesifik. Penduduknya muda, melek digital, dan perempuan mudanya termasuk pengguna media sosial paling aktif di dunia.
Mereka itulah mesin distribusi tren yang masif dan nyaris tanpa biaya, persis seperti yang menggerakkan sepatu rodaku. Setiap rupiah di ekonomi selera feminin pun menghidupi rantai panjang, dari brand kecantikan lokal sampai logistik.
Cupin membayangkan betapa banyak industri yang ikut terangkat ketika sebuah girl group meledak. Riasan dan perawatan kulit melonjak karena penggemar meniru gaya idolanya, sementara label rekaman, streaming, dan tiket konser menikmati arus pendapatan yang deras.
Efeknya merembet jauh melampaui panggung musik. Industri fashion dan aksesori, kuliner kafe bertema, merchandise resmi, agensi periklanan, hingga sektor pariwisata kerap kebanjiran berkah dari satu fenomena girl group.
Korea Selatan sudah membuktikan rantai nilai ini bekerja dalam skala raksasa. Satu girl group bisa menjadi etalase berjalan bagi brand kosmetik, mode, sampai elektronik, yang lalu diburu jutaan penggemar perempuan di seluruh dunia.
Pemerintah, melalui Kementerian Ekonomi Kreatif, berada di posisi tepat untuk memanen kekuatan ini. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya telah menegaskan doktrin hilirisasi kreatif, bahwa nilai tambah produk budaya harus tumbuh dan tinggal di dalam negeri.
Pelajaran dari Jepang dengan kawaii menunjukkan bahwa estetika manis bisa menjadi aset ekspor sekaligus alat diplomasi. Indonesia punya bahan bakunya sendiri, dari ikon lucu, maskot daerah, hingga estetika gemas Gen Z yang menunggu untuk dikapitalisasi.
Pada akhirnya, Cupin menyadari bahwa sepatu rodaku hanyalah satu nada kecil dari arus yang jauh lebih besar. Dunia sedang berpaling pada yang feminin, dan Indonesia memiliki tradisi serta pasar yang cukup untuk ikut melaju di dalamnya.
Yang dibutuhkan kini bukan lagi bukti bahwa bakat itu ada, melainkan kebijaksanaan kolektif untuk merawatnya sebagai aset kultural dan ekonomi yang nyata, agar para nona negeri ini benar-benar bisa membuat dunia menoleh. (A43)


