HomeHeadlineDemokrasi Dharma Pongrekun

Demokrasi Dharma Pongrekun

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Respons Dharma Pongrekun terhadap materi komedi Pandji sebenarnya cukup dewasa. Dalam unggahan di YouTube channel Ngaji Roso milik Mas Hendra, Dharma justru mengaku senang namanya disebut bersama elite nasional lain. Ini berbeda dari para pendukung dan juru bicaranya saat Pilkada 2024 lalu yang justru melayangkan somasi pada Pandji Pragiwaksono.


PinterPolitik.com

Ingat adegan ikonik dalam film The Great Dictator (1940) karya Charlie Chaplin? Di tengah kengerian rezim Nazi, Chaplin memilih tertawaโ€”mengejek Hitler melalui karakter Adenoid Hynkel yang absurd. Film itu bukan sekadar komedi, tetapi perlawanan budaya terhadap otoritarianisme. Kini, 84 tahun kemudian, kita menyaksikan drama serupa dalam skala yang lebih kecil namun tak kalah menarik: Pandji Pragiwaksono di panggung Netflix dan Dharma Pongrekun di panggung Pilkada Jakarta 2024.

Special komedi “Mens Rea” milik Pandji menjadikan Dharma Pongrekunโ€”kandidat gubernur Jakarta yang relatif kurang dikenalโ€”sebagai salah satu bahan candaan. Hasilnya? Dharma tertawa, tapi pendukungnya marah. Jubirnya bahkan mengeluarkan somasi, meski diklaim bukan langkah hukum melainkan “keberatan moral.” Pertanyaannya sederhana: jika kandidatnya saja bisa tertawa, mengapa pendukungnya tidak?

Respons Dharma Pongrekun terhadap materi komedi Pandji sebenarnya cukup dewasa. Dalam unggahan di YouTube channel Ngaji Roso milik Mas Hendra, Dharma justru mengaku senang namanya disebut bersama elite nasional lain. “Saya bisa dimasukkan di situ, senang saya. Senangnya apa, saya punya saudara-saudara di kampung (akan bilang): ‘Wih, Om ada di situ?’โ€ฆ dari situ saya bersyukur saja. Saya nggak ada rasa tersinggung,” ujarnya dengan santai.

Namun Ikhsan Tualeka, jubir pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana, punya pandangan berbeda. Ia mengeluarkan somasi dengan dalih materi Pandji berpotensi merendahkan pemilih tertentu dalam Pilkada Jakarta. Menariknya, Tualeka menegaskan somasi ini bukan langkah hukum, melainkan bentuk keberatan moralโ€”sebuah manuver komunikasi yang ambigu.

Polarisasi semakin jelas di media sosial. Para pendukung Dharma, terutama yang aktif di Twitter dan platform lain, melancarkan serangan narasi terhadap Pandji. Buzzer politik pun ikut bermain, mengamplifikasi kemarahan dengan narasi bahwa komedi Pandji adalah bentuk elitisme Jakarta yang merendahkan figur dari luar establishment.

Sama halnya dengan Dharma, Gibran Rakabuming Rakaโ€”yang juga menjadi bahan komedi Pandjiโ€”justru bersikap lebih dingin. Ia menyebut kritikan sebagai hal biasa yang tak perlu dipolisikan. Begitu pula dengan sejumlah politisi senior lain yang disebutkan dalam set komedi yang sama. Mereka memilih diam atau merespons dengan humor balik.

Bukan Peristiwa Pertama

Fenomena ini bukan baru. Indonesia punya sejarah panjang dengan komedi politik dan reaksi kontroversial yang menyertainya. Kasus yang mirip pernah terjadi pada Pandji juga 2011, ketika ia menyebut presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga โ€œnyimengโ€ alias memakai ganja.

Baca juga :  Gejolak Iran, Smart Move Efisiensi

SBY tidak merespons langsung, tetapi sejumlah pendukungnyaโ€”terutama Demokrat loyalisโ€”menyerang Pandji di media sosial. Namun skala reaksinya tidak separah sekarang, sebagian karena ekosistem media sosial belum sekompleks hari ini.

Perbandingan internasional lebih menarik lagi. Ketika John Oliver di acara Last Week Tonight mengkritik Donald Trump dengan sangat kerasโ€”bahkan membedah bisnis Trump secara detailโ€”Trump sempat merespons di Twitter, tapi tidak ada somasi atau ancaman hukum resmi. Kultur demokrasi Amerika yang lebih matang membuat kritik semacam itu diterima sebagai bagian dari marketplace of ideas.

Di Inggris, Boris Johnson berkali-kali menjadi bahan ejekan brutal di Have I Got News for You dan acara satir lainnya. Johnson bahkan pernah menjadi tamu di acara tersebut dan tertawa bersama para komedian yang mengolok-oloknya. Ini menunjukkan bahwa di demokrasi yang matang, politisi paham bahwa kemampuan menertawakan diri sendiri adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

Pendukung Lebih Fanatik

Mengapa pendukung sering kali lebih emosional daripada kandidat yang mereka dukung? Fenomena ini dijelaskan oleh konsep parasocial relationship yang diadaptasi ke ranah politik. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Donald Horton dan Richard Wohl (1956) untuk menggambarkan hubungan satu arah antara audiens dengan figur media.

Dalam konteks politik modern, pemilih mengembangkan ikatan emosional yang kuat dengan kandidatโ€”seolah-olah mereka mengenal secara personalโ€”meski hubungan itu asimetris. Ketika kandidat mereka diserang (atau dianggap diserang), pemilih merasakan serangan itu secara personal. Identitas mereka melebur dengan figur yang mereka dukung.

Sophia A. McClennen, profesor komunikasi dari Penn State University, dalam bukunya America According to Colbert: Satire as Public Pedagogy (2011), menjelaskan bahwa satir politik menciptakan “critical intertextuality”โ€”ruang di mana audiens dapat mempertanyakan narasi dominan. Namun McClennen juga mencatat bahwa satir hanya efektif dalam masyarakat dengan literasi media yang tinggi dan kultur demokrasi yang matang.

Di Indonesia, literasi politik dan media masih dalam tahap perkembangan. Media sosial memperburuk keadaan dengan menciptakan echo chamberโ€”ruang di mana orang hanya terpapar informasi yang memperkuat keyakinan mereka. Algoritma platform seperti Twitter dan TikTok mengamplifikasi konten emosional, termasuk kemarahan, karena konten semacam itu menghasilkan engagement lebih tinggi.

Lebih jauh, Jeffrey Jones dalam Entertaining Politics: Satiric Television and Political Engagement (2010) berpendapat bahwa komedi politik bukan sekadar hiburanโ€”ia adalah alat literasi politik yang mendorong pemikiran kritis. Namun Jones juga memperingatkan bahwa dalam masyarakat yang terpolarisasi, satir bisa disalahpahami sebagai propaganda dari kubu lawan, bukan kritik yang konstruktif.

Komedi Politik sebagai Termometer Demokrasi

Reaksi terhadap komedi politik adalah termometer akurat untuk mengukur kematangan demokrasi sebuah bangsa. Di negara otoriter seperti Korea Utara atau Myanmar, komedian yang berani mengkritik pemimpin akan menghadapi hukuman berat. Di negara semi-demokratis seperti Rusia atau Turki, komedian politik menghadapi intimidasi sistematisโ€”bukan selalu dalam bentuk hukuman formal, tapi tekanan sosial dan ekonomi yang membuat mereka berpikir dua kali.

Baca juga :  Presiden yang Membaca Sejarah: Bagaimana Prabowo Memprediksi Dunia Sebelum Orang Lain Menyadarinya

Di demokrasi yang matang seperti Skandinavia, Inggris, atau Kanada, satir politik adalah industri yang berkembang. Acara seperti Saturday Night Live, The Daily Show, atau Have I Got News for You menjadi referensi berita bagi jutaan orang. Politisi yang menjadi bahan ejekan justru sering mendapat simpati publik jika merespons dengan humorโ€”menunjukkan mereka tidak menganggap diri terlalu serius.

Indonesia berada di antara spektrum ini. Kita punya kebebasan pers dan berekspresi yang cukup kuatโ€”Pandji bisa menayangkan karyanya di Netflix tanpa sensorโ€”tetapi reaksi publik menunjukkan kita masih belajar bagaimana mengelola kritik dengan dewasa.

Kasus Dharma-Pandji menjadi menarik karena paradoksnya: kandidat yang dikritik justru lebih dewasa daripada mereka yang mengaku membela kandidat tersebut. Ini menunjukkan bahwa masalah bukan pada konten komedi atau kandidat, tetapi pada ekosistem pendukung politik yang belum terlatih menerima kritik sebagai bagian normal dari demokrasi.

Pelajaran dari Panggung Komedi

Mens Reaโ€”yang dalam hukum berarti “niat jahat”โ€”adalah judul yang ironis untuk special komedi ini. Pandji tidak punya niat jahat; ia melakukan apa yang dilakukan komedian di seluruh dunia: mengkritik absurditas politik dengan humor. Bahwa Dharma Pongrekunโ€”kandidat dengan peluang minimโ€”menjadi bahan candaan justru menunjukkan Pandji tidak hanya mengkritik yang berkuasa, tetapi seluruh ekosistem politik kita yang sering kali absurd.

Trevor Noah, komedian asal Afrika Selatan yang memandu The Daily Show, pernah berkata: “In a democracy, the freedom to laugh at those in power is not a luxuryโ€”it’s a necessity.” Kebebasan menertawakan mereka yang berkuasaโ€”atau yang ingin berkuasaโ€”adalah fondasi demokrasi yang sehat. Tanpa ruang untuk kritik dan humor, demokrasi hanya akan menjadi ritual kosong lima tahunan tanpa akuntabilitas riil.

Kasus Dharma Pongrekun dan Pandji Pragiwaksono bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini tentang seberapa besar ruang kebebasan berbicara yang kita lindungi bersama. Ini tentang apakah kita mampu membedakan satir dari penghinaan, kritik dari kebencian, humor dari propaganda.

Jika Dharma bisa tertawa, mengapa pendukungnya tidak? Jawabannya sederhana: karena kita masih belajar bahwa dalam demokrasi, kemampuan menertawakan diri sendiri dan figur yang kita dukung adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Selamat datang di Demokrasi Dharma Pongrekunโ€”di mana komedi menjadi cermin untuk melihat seberapa dewasa kita sebenarnya. (S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Rahasia โ€œLogin Muhammadiyahโ€ Berjamaah

Fenomena โ€œLogin Muhammadiyahโ€ tampaknya menandai pergeseran cara beragama generasi muda: rasional, digital, dan praktis. Di balik tren ini, tersimpan implikasi besarโ€”dari auto-komparasinya dengan Nahdlatul Ulama hingga potensi perubahan peta sosial-politik Indonesia menuju kontestasi elektoral 2029.

Kapitalisasi Selat Hormuz

Anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi menyebutkan soal tarif US$2 juta per kapal di Selat Hormuz. Bloomberg mengonfirmasi pungutan ini bersifat ad hoc dan sudah dibayar beberapa kapal. Iran membingkai ini bukan sebagai hukuman, melainkan revenue stream: "Perang memiliki ongkos." Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun pasca-Revolusi Islam, Hormuz bukan hanya senjata strategis โ€” ia menjadi sumber pendapatan langsung.

Cinta Segitiga: Pramono-KDM-Andra Soni

PBB nobatkan Jakarta kota terbesar dunia: 42 juta jiwa. Tapi kenapa bentuk kotanya timpang โ€” memanjang ke timur, mampet di barat?

Generasi Melesat Bersama Sekolah Rakyat

Progres 104 sekolah, 32 provinsi โ€” bukan sekadar angka. Sekolah Rakyat adalah pernyataan struktural paling berani Indonesia sejak berdirinya Republik, bahwa tempat dan kondisi atau โ€œtakdirโ€ lahir tidak boleh lagi menentukan nasib. Negara kini membangun bukan sekadar sekolah, melainkan ekosistem mobilitas sosial yang nyata.

Welcome Nuklir Vietnam, Indonesia Kapan?

Tonggak bersejarah: 23 Maret 2026, Vietnam dan Rusia menandatangani perjanjian pembangunan PLTN pertama di ASEAN โ€” dua reaktor VVER-1200 Rosatom berkapasitas 2.400 MW di Ninh Thuan. Target operasional: akhir 2031. Langkah ini dipicu krisis energi akibat perang Iran yang membuat harga BBM Vietnam melonjak 50-70 persen. Indonesia kapan?

Saatnya Bubarkan Garuda?

Skytrax turunkan peringkat Garuda Indonesia dari bintang 5 ke 4. Rugi bersih 2025 melonjak 4,5 kali lipat jadi Rp5,4 triliun. Penumpang turun 10,5 persen. Dari ratusan pesawat, hanya 60-an yang bisa terbang. Maka wajar, wacana pembubaran sempat bergulir di DPR tahun lalu. Pertanyaannya: haruskah dilakukan?

MBG-isme dan Visi Besar Ekonomi

Program MBG bukan hanya soal memberi makan. Ia adalah lingkaran besar pembangunan ekonomi โ€” dari 30 ribu dapur SPPG, dana Rp 10.000 per porsi berputar langsung di level kecamatan, diserap petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal. Ini bukan trickle-down โ€” ini investasi dari bawah yang mengalir ke atas.

Didit, The Next Gen Metronom

Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.

More Stories

Kapitalisasi Selat Hormuz

Anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi menyebutkan soal tarif US$2 juta per kapal di Selat Hormuz. Bloomberg mengonfirmasi pungutan ini bersifat ad hoc dan sudah dibayar beberapa kapal. Iran membingkai ini bukan sebagai hukuman, melainkan revenue stream: "Perang memiliki ongkos." Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun pasca-Revolusi Islam, Hormuz bukan hanya senjata strategis โ€” ia menjadi sumber pendapatan langsung.

Welcome Nuklir Vietnam, Indonesia Kapan?

Tonggak bersejarah: 23 Maret 2026, Vietnam dan Rusia menandatangani perjanjian pembangunan PLTN pertama di ASEAN โ€” dua reaktor VVER-1200 Rosatom berkapasitas 2.400 MW di Ninh Thuan. Target operasional: akhir 2031. Langkah ini dipicu krisis energi akibat perang Iran yang membuat harga BBM Vietnam melonjak 50-70 persen. Indonesia kapan?

Saatnya Bubarkan Garuda?

Skytrax turunkan peringkat Garuda Indonesia dari bintang 5 ke 4. Rugi bersih 2025 melonjak 4,5 kali lipat jadi Rp5,4 triliun. Penumpang turun 10,5 persen. Dari ratusan pesawat, hanya 60-an yang bisa terbang. Maka wajar, wacana pembubaran sempat bergulir di DPR tahun lalu. Pertanyaannya: haruskah dilakukan?