HomeHeadlineJenderal-Letkol: Gerhana Otoritas Konstruktif?

Jenderal-Letkol: Gerhana Otoritas Konstruktif?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Dalam era presidensialisme kuat Prabowo, otoritas tak lagi sekadar soal pangkat dan senioritas. Ketika kepercayaan Presiden menjadi pusat legitimasi, relasi Jenderal–Letkol membuka satu pertanyaan penting: sedangkah otoritas formal mengalami gerhana yang justru konstruktif?

PinterPolitik.com

Dalam setiap fase awal pemerintahan baru, publik kerap dihadapkan pada kegaduhan simbolik: potongan video rapat, foto yang viral, atau gestur elite yang tampak janggal.

Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun tidak terkecuali. Sejumlah momen yang melibatkan figur militer aktif maupun purnawirawan—mulai dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya hingga Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak—menjadi bahan perbincangan luas.

Sebagian kritik diarahkan pada kebijakan manajemen sumber daya manusia di posisi strategis negara. Kritik ini menarik karena sering kali berangkat dari asumsi klasik: senioritas, kepangkatan, dan pengalaman panjang dianggap sebagai prasyarat utama otoritas.

Ketika asumsi itu tampak “dilanggar”, publik membaca adanya kejanggalan, bahkan degradasi etika kelembagaan.

Kasus Letnan Kolonel Inf. Teddy Indra Wijaya, misalnya, kerap diposisikan sebagai simbol “anomali”. Ia dipandang relatif muda dan belum berpengalaman dibandingkan figur-figur militer senior yang dalam beberapa momen justru terlihat memberi hormat atau gestur penghormatan.

Di sisi lain, terdapat pula framing minor—namun sarat makna—ketika KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak berani menyanggah atau menambahkan pernyataan Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam forum resmi, padahal secara hierarki militer Suharyanto adalah senior Maruli.

Namun, membaca fenomena ini semata sebagai pelanggaran etika senioritas atau adab militer berisiko menyederhanakan persoalan.

Ada konteks yang lebih dalam: perubahan cara otoritas bekerja dalam sistem presidensial yang kuat, personalistik, dan sangat bergantung pada relasi kepercayaan.

Otoritas, Kepercayaan, dan Presidensialisme Kuat

Dalam teori politik klasik, otoritas sering dipahami sebagai turunan langsung dari struktur formal. Max Weber membedakan otoritas tradisional, karismatik, dan rasional-legal. Indonesia modern selama ini banyak bertumpu pada tipe rasional-legal, di mana jabatan, kepangkatan, dan aturan formal menjadi sumber legitimasi utama.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Namun, presidensialisme kuat—terutama dalam situasi perubahan visi, masa krisis atau transisi—kerap menggeser sumber legitimasi itu.

Presiden, sebagai pemegang mandat tertinggi, menjadi pusat keputusan sekaligus distribusi otoritas. Dalam konteks ini, siapa yang dipercaya langsung oleh Presiden kerap lebih menentukan daripada siapa yang paling senior secara struktural atau tata kelembagaan.

Di sinilah konsep kepercayaan menjadi krusial. Chester Barnard, dalam The Functions of the Executive, menekankan bahwa otoritas sejatinya bukan sekadar diberikan dari atas, tetapi diterima oleh pihak lain.

Otoritas bekerja jika perintah atau pernyataan dianggap sah, relevan, dan dipercaya oleh aktor lain dalam sistem.

Maka, ketika Teddy Indra Wijaya memperoleh ruang dan legitimasi operasional sebagai Sekretaris Kabinet, itu bukan semata soal usia atau pengalaman, melainkan tentang penerimaan dan kepercayaan dari Presiden.

Gestur hormat dari figur militer senior tidak selalu mencerminkan pembalikan hierarki, melainkan pengakuan atas fungsi dan posisi strategis yang dilekatkan langsung oleh Presiden.

Hal serupa dapat dibaca dalam interaksi antara KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak dan Kepala BNPB Letjen Suharyanto. Interupsi atau koreksi yang terjadi di ruang publik bukanlah semata ekspresi keberanian junior terhadap senior, tetapi indikasi bahwa otoritas operasional dalam penanganan bencana sedang dinegosiasikan.

Terlebih, dalam situasi krisis, aktor yang menguasai kecepatan, sumber daya, dan eksekusi lapangan—meminjam istilah Michel Crozier—mengendalikan “zona ketidakpastian”.

BNPB memiliki legitimasi struktural, namun TNI, khususnya KSAD, sering kali memiliki keunggulan operasional.

Ketika Presiden secara eksplisit menunjuk peran tertentu kepada KSAD, maka pusat gravitasi otoritas pun bergeser. Ini bukan penghapusan peran BNPB, melainkan penataan ulang relasi kerja dalam kerangka efektivitas.

mayor teddy meroket!artboard 1 2

Gerhana Konstruktif

Di titik inilah metafora “gerhana” menjadi relevan. Gerhana tidak memusnahkan matahari; ia hanya menutupinya sementara dari sudut pandang tertentu.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Otoritas formal lembaga seperti BNPB atau jabatan senior militer tidak lenyap, tetapi bisa mengalami peredupan temporer ketika fokus negara diarahkan pada figur atau institusi yang dianggap paling siap secara operasional.

Hannah Arendt membedakan antara authority dan power. Kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi otoritas hidup dari pengakuan.

Ketika pengakuan itu dialihkan—bukan dicabut—kita menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai “gerhana otoritas konstruktif”. Gerhana ini bersifat fungsional, bukan destruktif.

Dalam kerangka ini, kritik publik terhadap kebijakan manajemen sumber daya manusia negara perlu ditempatkan secara proporsional. Benar bahwa pengalaman dan senioritas penting.

Namun, dalam sistem presidensial yang sangat bergantung pada kepercayaan personal Presiden, efektivitas sering kali menjadi parameter utama. Pilihan-pilihan yang tampak aneh secara simbolik bisa jadi rasional secara politik-administratif.

Lebih jauh, fenomena ini mengajarkan bahwa etika kelembagaan pun bersifat dinamis. Hormat, interupsi, atau koreksi tidak selalu bermakna pelecehan hierarki, melainkan bagian dari adaptasi institusional.

Yang menjadi persoalan bukanlah apakah seorang jenderal lebih senior dari letkol, atau sebaliknya, melainkan apakah sistem mampu bekerja secara sinergis tanpa terjebak ego sektoral.

Pada akhirnya, era Prabowo memperlihatkan bahwa negara dijalankan bukan hanya melalui bagan organisasi, tetapi melalui jaringan kepercayaan. Otoritas formal tetap penting, namun ia harus lentur menghadapi kebutuhan koordinasi cepat dan efektif. Gerhana otoritas, dalam pengertian ini, bukan tanda kemunduran, melainkan fase transisi menuju tata kelola yang lebih adaptif.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling senior, melainkan siapa yang paling dipercaya untuk menjalankan mandat negara. Dan di situlah politik Indonesia kontemporer sedang bergerak. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?