HomeHeadlinePurbaya: Si Paling “Shonen”?

Purbaya: Si Paling “Shonen”?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Menteri keuangan (menkeu) yang pantang mundur, yakin dengan visinya, dan tak takut ambil risiko demi kebaikan. Apakah Purbaya punya jiwa “shonen” ala anime?


PinterPolitik.com

“Aku akan melakukannya, tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Cupin mengamati layar televisi di ruang tamunya yang kecil. Di sana, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang berbicara dengan penuh keyakinan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang katanya bisa menembus angka 5,2 persen tahun ini. Di luar sana, para analis ekonomi berdebat, tapi Cupin justru mengangguk kecil. “Orang ini kayak tokoh anime,” gumamnya, separuh kagum, separuh geli.

Purbaya memang berbeda dari banyak pejabat yang lain. Ia tidak hanya menyampaikan target, tapi meyakininya seolah-olah sudah pasti tercapai. Dalam setiap konferensi pers, ia tampil dengan aura optimisme yang jarang goyah, bahkan ketika situasi global sedang bergejolak. Di matanya, tantangan ekonomi bukan alasan untuk mundur, tetapi justru kesempatan untuk membuktikan diri.

Keyakinan itu tumbuh dari pengalaman panjang. Sebelum menjadi menteri, Purbaya meniti karier sebagai teknokrat di berbagai lembaga keuangan dan penelitian. Ia memahami mekanisme fiskal dengan kedalaman seorang akademisi sekaligus ketegasan seorang eksekutor. Maka ketika ia bicara tentang reformasi pajak, defisit anggaran, atau efisiensi belanja negara, suaranya tidak sekadar membawa angka, tapi juga kepercayaan diri yang menular.

Cupin tersenyum setiap kali mendengar nada tegas itu. Ia tahu, di balik pidato yang penuh keyakinan, ada mentalitas yang sulit dijelaskan: semacam “percaya dulu, baru lihat hasilnya.” Dalam istilah anak muda, mungkin ini mirip “main karakter energy,” sikap protagonis yang percaya bahwa keajaiban hanya datang kepada mereka yang tidak menyerah.

Yang membuatnya menarik adalah konsistensinya. Ketika kurs rupiah melemah, ketika harga komoditas menurun, bahkan ketika kritik datang bertubi-tubi, Purbaya tidak pernah menyesuaikan optimismenya. Baginya, pesimisme hanya akan memperlambat langkah. Ia selalu menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, dan fokus. Cupin mengingat kata-kata itu dan menuliskannya di catatan kecil di ponselnya: “Optimisme adalah strategi, bukan sekadar perasaan.”

Namun, semakin lama ia memperhatikan gaya kepemimpinan Purbaya, semakin kuat perasaan aneh itu. Ada sesuatu dalam cara Purbaya berbicara yang terasa seperti cerita yang pernah Cupin baca di masa remajanya. Cerita tentang anak muda yang ingin menjadi kuat, yang menolak menyerah meski kalah berkali-kali, yang percaya bahwa dunia bisa berubah jika ia cukup gigih berusaha.

Cupin lalu tersenyum, menatap ke luar jendela sambil berkata pelan, “Kayaknya Purbaya ini bukan cuma menteri, tapi karakter shonen yang tersesat di dunia nyata.”

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan “shonen”? Dan mengapa karakter seorang menteri bisa terasa seperti keluar dari halaman manga Jepang?

Purbaya sebagai Protagonis Shonen?

Cupin membuka buku tua yang dulu ia baca di perpustakaan kampus: Understanding Manga and Anime karya Robin E. Brenner. Di sana tertulis, shonen bukan hanya berarti “anak laki-laki,” tapi juga sebuah gaya bercerita. Tokoh utamanya selalu punya tujuan besar, keyakinan yang tidak tergoyahkan, dan semangat untuk terus maju walaupun dunia menertawakannya.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Cupin membacanya sambil memikirkan Purbaya. Semakin ia baca, semakin cocok. Menurut Brenner, karakter shonen selalu optimistis, bahkan ketika kalah. Mereka tidak takut jatuh karena tahu setiap kekalahan adalah batu loncatan menuju kemenangan. Di kepala Cupin, kata-kata itu berpadu dengan bayangan Purbaya yang tetap tersenyum ketika ekonomi melambat.

Susan J. Napier dalam Anime from Akira to Howl’s Moving Castle menulis bahwa karakter shonen lahir dari semangat Jepang pascaperang. Semangat itu percaya bahwa dunia bisa dibangun kembali dengan kemauan keras dan disiplin. Cupin teringat bagaimana Purbaya berbicara di hadapan wartawan: bahwa Indonesia bisa mandiri fiskal jika semua pihak bekerja keras. Nada suaranya sama seperti tokoh anime yang berkata, “Aku akan melakukannya, tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Ciri khas lain dari karakter shonen adalah mereka tidak takut untuk menanggung beban sendirian. Mereka sering dianggap keras kepala, bahkan bodoh, karena menolak mundur meski peluangnya kecil. Dalam konteks itu, Purbaya tampak serupa. Ia tetap yakin pada target pertumbuhan ketika banyak ekonom memintanya “lebih realistis.” Namun, bagi Purbaya, realistis justru berarti berani menantang keterbatasan.

Frederik L. Schodt dalam Dreamland Japan: Writings on Modern Manga menulis bahwa protagonis shonen tidak pernah bekerja sendirian. Mereka selalu memiliki “nakama,” teman seperjuangan yang saling mendukung. Cupin menatap kembali berita tentang Purbaya yang sering turun langsung ke lapangan, menemui pegawai pajak, memeriksa kinerja bea cukai, dan berbicara langsung dengan masyarakat. Ia tidak hanya memimpin dari balik meja, tapi ikut berjuang di medan kebijakan.

Cupin teringat salah satu episode anime favoritnya. Tokohnya berkata, “Aku tidak bisa melawan dunia sendirian, tapi aku bisa memulainya.” Kalimat itu terasa seperti ringkasan gaya kerja Purbaya. Ia membangun tim, mendorong perubahan, dan menolak menyerah meskipun reformasi fiskal tidak pernah mudah.

Namun, Cupin tahu, tidak semua protagonis shonen sama. Ada yang heroik seperti Naruto, tapi ada juga yang gelap seperti Light Yagami. Maka pertanyaan berikutnya mulai muncul di kepalanya. Jika Purbaya benar seperti karakter shonen, apakah ia tipe Naruto yang selalu percaya pada kebaikan? Atau Light, yang percaya bahwa terkadang untuk menciptakan kebaikan, seseorang harus bersedia menjadi “penjahat”?

Purbaya: Seorang “Naruto” atau “Light”?

Malam itu, Cupin menyalakan laptopnya dan memutar dua anime: Naruto dan Death Note. Ia ingin mencari tahu, ke arah mana sebenarnya karakter Purbaya lebih condong.

Naruto adalah simbol harapan. Ia percaya bahwa dengan kerja keras dan ketulusan, segalanya bisa dicapai. Filosofinya sederhana: kebaikan akan menang karena kebaikan itu sendiri adalah kekuatan. Cupin menatap layar dan berpikir, mungkin Purbaya memiliki sisi ini. Ia ingin membangun sistem ekonomi yang sehat, adil, dan transparan, sebuah tujuan yang tidak jauh berbeda dari impian Naruto menjadi Hokage demi melindungi desanya.

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Namun, Purbaya juga menunjukkan sisi lain yang lebih tajam. Dalam beberapa kesempatan, ia mengambil langkah tegas terhadap pejabat di bawahnya yang dianggap melanggar aturan. Ia tidak segan melakukan mutasi, menegur keras, bahkan mengganti pejabat penting. Cupin mencatatnya di buku kecilnya: “Kebaikan tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa ketegasan.”

Di sinilah kemiripan dengan Light Yagami muncul. Light juga ingin menciptakan dunia yang lebih baik, tapi dengan cara yang jauh lebih keras. Ia percaya bahwa keadilan sejati hanya bisa terwujud jika ia berani menjadi sosok yang ditakuti. Cupin mengingat bagaimana Purbaya sering dikritik karena dianggap terlalu kaku, tapi ia tetap tak bergeming. Seolah berkata seperti Light, “Jika ingin menciptakan sistem yang bersih, seseorang harus siap jadi pihak yang tidak disukai.”

Bedanya, Purbaya tidak kehilangan arah. Ia tidak dikuasai ego atau ambisi pribadi seperti Light. Ketegasannya berakar pada tanggung jawab institusional, bukan obsesi moral pribadi. Ia menegur bukan untuk berkuasa, tapi agar sistem bekerja. Cupin menulis di catatannya, “Light ingin dunia tunduk padanya, Purbaya ingin sistem tunduk pada aturan.”

Dalam arti tertentu, Purbaya justru seperti hasil persilangan keduanya. Ia memiliki semangat pantang menyerah dan keyakinan ala Naruto, namun juga pragmatisme dan keberanian mengambil keputusan sulit seperti Light. Ia tahu bahwa kebijakan publik tidak bisa dijalankan hanya dengan niat baik. Kadang, keputusan yang benar justru membuat seseorang terlihat jahat.

Cupin menatap layar yang kini menampilkan adegan akhir Death Note. Light Yagami jatuh karena kehilangan arah moralnya. Cupin lalu membayangkan Purbaya berdiri di depan kamera, berbicara tentang transparansi fiskal dan reformasi pajak. “Selama arah tujuannya jelas,” pikir Cupin, “ketegasan tidak akan berubah jadi keserakahan.”

Dari sana, Cupin menyadari sesuatu. Membaca Purbaya sebagai karakter shonen bukan sekadar permainan imajinasi, tetapi juga cara memahami tipe kepemimpinan yang muncul di era modern. Di tengah pesimisme politik dan ekonomi, Purbaya hadir dengan energi protagonis: percaya pada visi, memimpin dengan keyakinan, dan tidak takut menjadi “tokoh jahat” demi hasil yang lebih baik.

Mungkin karena itulah ia terasa seperti tokoh manga di dunia nyata. Ia memiliki impian yang besar, musuh yang tidak sedikit, dan kepercayaan diri yang tidak luntur bahkan di saat krisis. Dalam narasi politik Indonesia, Purbaya adalah karakter yang melangkah dengan kepala tegak sambil berkata seperti tokoh anime klasik: “Selama aku belum menyerah, cerita ini belum berakhir.”

Cupin menutup laptopnya dan tersenyum kecil. Ia tahu, mungkin perbandingan ini terdengar lucu. Tapi di hatinya, ia yakin satu hal: kalau dunia ini memang sebuah cerita, maka Purbaya adalah karakter shonen sejati. Protagonis yang percaya bahwa dengan tekad dan strategi yang tepat, ending bahagia bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian yang menunggu di ujung perjuangan. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?