HomeHeadlineTeleprompter Trump dan Obsoletisme PBB

Teleprompter Trump dan Obsoletisme PBB

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Sidang Umum PBB 2025 singgung teleprompter macet dan eskalator rusak. Mungkinkah sekadar insiden teknis atau cermin rapuhnya multilateralisme dunia?


PinterPolitik.com

โ€œThese are the two things I got from the United Nations, a bad escalator and a bad teleprompter. Thank you very muchโ€ โ€“ Donald Trump, Presiden ke-45 dan ke-47 Amerika Serikat (23/9/2025)

Cupin masih ingat betul bagaimana ia tergelak saat menonton siaran langsung Sidang Umum PBB pada 23 September 2025. Bukan karena lelucon politik yang cerdas, tapi karena pemandangan seorang presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terjebak di panggung dunia akibat teleprompter bandel dan eskalator macet.

Trump, dengan gaya khasnya yang selalu percaya diri, kali ini tampak agak kikuk. Teleprompter yang biasanya jadi tongkat penopang kata-kata indah tiba-tiba menolak bekerja sama, membuat Trump harus mengandalkan memori yang tak selalu rapi.

Di sela kekalutan, ia sempat menyindir bahwa teleprompter itu sama seperti lembaga internasional: ketinggalan zaman dan tak lagi bisa mengikuti arah dunia. Cupin yang mendengarnya hampir tersedak kopi, karena sindiran itu terdengar lebih jujur ketimbang bagian pidato resminya.

Trump juga melontarkan perbandingan yang tak kalah pedas, mengatakan eskalator rusak di ruang sidang seperti mekanisme PBB yang kini mulai tergelincir. Para diplomat terdiam, sebagian menahan senyum getir, sebagian lain menunduk pura-pura mencatat.

Momen canggung itu cepat menjadi simbol yang lebih besar. Gangguan kecil di panggung berubah jadi metafora politik global: betapa sistem multilateral mulai kehilangan daya magisnya, sama seperti teleprompter yang gagal menyalurkan kata-kata Trump.

Cupin berbisik pada dirinya sendiri: ini bukan sekadar pidato terganggu alat. Ini semacam panggung sandiwara yang membuka tabir kelemahan dunia internasionalโ€”bahwa institusi tua seperti PBB kini tampak ringkih di hadapan realitas baru.

Trump, yang selalu mengibarkan slogan โ€œAmerica Firstโ€, kembali menegaskan ketidakpercayaannya pada multilateralisme. Ia menyerukan negara besar sebaiknya berjalan sendiri, tanpa harus menunggu konsensus global yang baginya lebih sering jadi belenggu.

Pidato itu bukan hanya curahan frustrasi, tapi juga deklarasi keras: bahwa sistem lama sudah waktunya ditinggalkan, dan Amerika akan jadi pionir dalam jalan unilateral. Cupin mengangkat alis: apakah ini berarti panggung global sedang disiapkan untuk pergeseran radikal?

Baca juga :  Hikayat Tiongkok Tangkis โ€˜The Economistโ€™

Jika teleprompter bisa gagal, bukankah mesin besar multilateralisme juga bisa mandek? Dan, mungkinkah insiden konyol di sidang itu hanyalah awal dari kisah runtuhnya kepercayaan dunia terhadap PBB?

Refleksi Teleprompter-Eskalator Trump

Cupin mencoba menyusuri sejarah untuk mencari jawaban. Multilateralisme lahir pasca-Perang Dunia II, saat dunia bersepakat membangun mekanisme bersama agar tragedi serupa tak terulang lagi.

Namun, tujuh dekade kemudian, mekanisme itu terlihat renta. PBB, sang payung besar, dianggap terlalu birokratis, lamban, dan sering gagal memberi solusi nyata untuk konflik atau krisis global.

Cupin teringat percakapan dengan seorang diplomat muda yang kecewa karena rapat-rapat panjang di New York sering hanya melahirkan resolusi tanpa gigi. โ€œKita seperti menunggu telepon berdering padahal kabelnya sudah dicabut,โ€ katanya dengan getir.

Lihatlah WTO, organisasi yang dulu dianggap penjaga perdagangan bebas. Kini ia bagai kapal karam, dengan dewan banding lumpuh setelah Amerika menghentikan pengangkatan hakim-hakim baru di awal dekade 2020-an.

Akibatnya, sengketa perdagangan jadi liar. Negara-negara memilih jalur sepihak atau bilateral, membuat aturan main global kehilangan otoritasnya. Cupin mengingatkan diri: bukankah inilah tanda nyata bahwa multilateralisme sudah tidak lagi digdaya?

Ian Bremmer dalam bukunya Every Nation for Itself menulis bahwa kita hidup di era pasca-multilateralisme. Negara kini bergerak pragmatis, lebih mengutamakan kepentingan nasional ketimbang solidaritas global.

Di meja kopi, Cupin sering bercanda bahwa buku Bremmer itu semacam manual โ€œsurvival kitโ€ untuk para politisi modern. Tapi ketika melihat situasi WTO dan PBB, ia sadar betapa benar isinya: dunia semakin individualistis.

Sementara itu, negara besar seperti Amerika, Rusia, dan Tiongkok tampak lebih betah membentuk aliansi terbatas. Jalur bilateral atau trilateral terasa lebih menguntungkan daripada menunggu konsensus 190-an anggota PBB yang sulit tercapai.

Bagi Cupin, PBB kini bagai panggung megah dengan lampu sorot terang, tapi para aktornya sudah memilih pentas lain. Pertunjukan masih berlangsung, tapi kursi penonton makin kosong.

Jika panggung utama ditinggalkan, apakah masih ada alasan bagi penonton untuk bertahan? Dan jika multilateralisme kehilangan relevansi, adakah alternatif yang bisa menjaga dunia tetap utuh?

Obsolitesme PBB?

Cupin lalu membuka tulisan John Mearsheimer, โ€œBound to Fail: The Rise and Fall of the Liberal International Order.โ€ Ia menemukan jawaban yang terdengar sederhana tapi pahit: sistem liberal berbasis multilateralisme tak akan bertahan jika sang hegemon memilih mundur.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Amerika, yang dulu motor utama, kini justru menarik diri. Trump hanyalah wajah paling blak-blakan dari tren panjang: kebijakan nasionalis yang mendahulukan urusan domestik di atas janji global.

Teori hegemonic stability mempertegasnya. Stabilitas sistem global butuh satu kekuatan besar yang rela menjaga aturan. Jika kekuatan itu menolak atau melemah, aturan otomatis kehilangan penegaknya.

Cupin merenung: bukankah teleprompter Trump yang tak berfungsi itu cermin sempurna? Alat besar hanya berguna jika ada daya dukung, tanpa itu ia sekadar layar kosong.

Fenomena ini makin jelas saat dunia beralih ke multipolaritas. Tiongkok menuntut panggung lebih luas, India menguat, dan blok-blok baru bermunculan. Dunia tak lagi seragam dalam satu irama, melainkan orkestra dengan konduktor berebut tongkat.

Konflik kepentingan pun makin rumit. Alih-alih mencari konsensus global, negara-negara lebih sering membentuk lingkaran kecil yang eksklusif, seperti klub malam yang menolak tamu tak diundang.

Cupin teringat perdebatan dengan kawannya yang sinis: โ€œKenapa berharap PBB bisa selesaikan semuanya, padahal rumah tangga kecil saja susah akur?โ€ Kalimat itu terdengar kasar, tapi sulit disangkal.

Kini, tantangan dunia bukan sekadar mempertahankan PBB, tapi menciptakan model baru kerja sama. Dunia butuh sistem yang lebih luwes, yang bisa menghadapi fragmentasi tanpa kehilangan nilai-nilai universal.

Cupin menutup catatannya dengan rasa campur aduk. Ia melihat masa depan bisa jadi penuh inovasi kerja sama, tapi juga rawan terjebak dalam fragmentasi.

Pertanyaan paling besar menggantung di udara: apakah umat manusia masih punya energi untuk membangun semangat kolektif? Ataukah kita akan membiarkan panggung dunia kosong, hanya meninggalkan gema sidang-sidang tua yang tak lagi didengar? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?ย