HomeHeadlineFerry Irwandi dkk: the New ‘Gie’?

Ferry Irwandi dkk: the New ‘Gie’?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:


Aksi demonstrasi Agustus 2025 menghadirkan wajah baru aktivisme, ketika influencer seperti Ferry Irwandi dan Jerome Polin turut mengarahkan massa di jalanan. Apakah mereka benar-benar sedang menapaki jejak Soe Hok Gie di era digital?


PinterPolitik.com

“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non-humanis” – Soe Hok Gie

Di akhir Agustus 2025, jalanan ibu kota kembali penuh sesak oleh lautan manusia yang menuntut perubahan. Namun kali ini, bukan hanya mahasiswa dengan almamater lusuh atau orator berapi-api yang memimpin barisan.

Cupin, yang biasanya lebih sibuk menonton vlog masak-memasak di YouTube, kaget melihat wajah-wajah familiar dari layar ponselnya kini ikut berkomentar terkait gelombang demonstrasi, mulai dari Ferry Irwandi dengan gaya santai, Jerome Polin dengan logat khasnya, hingga Salsa Erwina dengan energi cerianya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada pergeseran alat perjuangan: dulu koran dan pamflet jadi senjata, sekarang konten Instagram dan TikTok yang berperan. Bahkan livestream demo bisa lebih cepat memobilisasi massa ketimbang selebaran yang dulu ditempel di tiang listrik.

Menurut Benedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution, generasi muda selalu menjadi penggerak karena keberanian dan kemampuan mereka membaca tanda zaman. Kini, tanda zamannya jelas: dunia digital jadi arena utama perebutan makna dan pengaruh.

Cupin sempat bergumam, “Loh, kok Ferry Irwandi jadi kayak Soe Hok Gie zaman medsos gini, ya?” Pertanyaan itu tak berlebihan, karena peran influencer dalam demo 2025 sangat menonjol.

Di titik inilah publik mulai bertanya: apakah kita sedang menyaksikan lahirnya aktivisme model baru, atau sekadar tren yang akan cepat padam? Apakah sosok seperti Ferry benar-benar bisa disejajarkan dengan legenda seperti Gie, atau hanya bayangan digital semata?

Jejak Perjuangan: dari Soekarno hingga Gie

Sejarah Indonesia sudah berulang kali menunjukkan bahwa aktivisme pemuda tak pernah statis. Setiap generasi punya gaya dan alatnya sendiri, sesuai dengan tantangan zamannya.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Di era 1920-an hingga 1945, aktivis muncul dari kalangan elite terdidik, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soetomo. Organisasi dan surat kabar jadi tulang punggung perjuangan.

Cupin membayangkan bagaimana dulu anak muda rela menulis artikel panjang di koran untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Bandingkan dengan sekarang, di mana satu thread Twitter saja bisa lebih cepat viral dan membakar semangat ribuan orang.

Lalu tahun 1960-an, nama Soe Hok Gie meledak sebagai simbol keberanian mahasiswa. Ia menulis catatan harian yang tajam, menghadiri demonstrasi, dan tetap kritis meski risiko besar menghadang.

Benedict Anderson menggambarkan periode itu sebagai masa ketika mahasiswa menjadi motor moral bangsa. Cupin sampai berkhayal, “Kalau saja Gie punya akun TikTok, pasti isi FYP gue tiap hari ceramah politik.”

Memasuki 1990-an, generasi reformasi bangkit dengan tokoh seperti Budiman Sudjatmiko. Menurut Ariel Heryanto dalam State Terrorism and Political Identity in Indonesia, gerakan mahasiswa waktu itu menggabungkan demo jalanan dengan strategi organisasi rapi.

Cupin teringat cerita pamannya yang ikut demo 1998, dengan cerita tentang gas air mata dan lari tunggang langgang di jalanan. Kini, cucunya ikut demo dengan bekal powerbank agar bisa tetap siaran langsung di TikTok.

Pada 2010-an, aktivisme mulai masuk ke dunia digital dengan sosok-sosok ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) yang viral. Media sosial akhirnya menjadi arena baru politik.

Kini di 2025, panggung itu diisi influencer yang awalnya dikenal lewat hiburan, bukan politik. Ferry Irwandi, Jerome Polin, dan Salsa Erwina membalik ekspektasi publik: dari konten kreatif menjadi corong aspirasi.

Namun, apakah warisan perjuangan panjang itu bisa benar-benar mereka teruskan, atau mereka hanya menciptakan “aktivisme instan” yang bergantung pada algoritma? Dan apakah keberanian mereka sebanding dengan risiko yang dihadapi Gie dan kawan-kawan dulu?

Aktivisme ala Ferry, Jerome, Salsa, dkk

Fenomena influencer-aktivis ini bukan hanya milik Indonesia. Zizi Papacharissi dalam Affective Publics menulis bahwa media sosial menciptakan “publik afektif” yang bergerak bukan hanya karena isu, tetapi juga karena figur yang mereka kagumi.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Ferry Irwandi tak hanya berbicara soal isu, tapi juga menjalin kedekatan emosional dengan pengikutnya. Bagi Cupin, wajar jika orang lebih percaya Ferry yang tiap hari nongol di timeline ketimbang politisi yang hanya muncul saat kampanye.

Henry Jenkins dalam Confronting the Challenges of Participatory Culture menjelaskan bagaimana audiens kini bukan sekadar penonton, melainkan partisipan aktif. Like, share, dan komentar jadi bentuk baru keterlibatan politik, yang bisa menjalar jadi aksi nyata di jalanan.

Namun, setiap perubahan membawa risiko. Ketergantungan pada media sosial membuka celah disinformasi, pengawasan digital, dan bahkan aktivisme yang hanya tampak “canggih” tapi minim substansi.

Cupin sendiri pernah skeptis: “Apa jangan-jangan mereka cuma bikin konten biar engagement naik?” Tapi setelah melihat massa benar-benar turun ke jalan, ia sadar ada sesuatu yang lebih serius sedang berlangsung.

Dari pamflet kolonial, catatan harian Gie, hingga feed Instagram Ferry Irwandi, benang merahnya tetap sama: semangat anak muda untuk menuntut perubahan. Alatnya boleh berganti, tapi nyali dan idealismenya terus hadir.

Mungkin Ferry dan kawan-kawan belum bisa sepenuhnya menggantikan posisi legenda seperti Gie. Namun, mereka menunjukkan bahwa dalam era digital, suara bisa menjelma massa, dan massa bisa mengguncang kekuasaan.

Cupin menutup catatannya dengan senyum: “Siapa tahu, nanti sejarah menulis Ferry Irwandi dkk sebagai bab baru aktivisme Indonesia?” karena pada akhirnya, aktivisme selalu menemukan cara baru untuk tetap hidup. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?