HomeHeadlineRisalah Setnov dan Keluarga Cendana

Risalah Setnov dan Keluarga Cendana

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Kisah Setya Novanto membuktikan bagaimana kedekatan dengan lingkar kekuasaan Orde Baru masih bergema hingga kini. Fenomena kembalinya tokoh politik yang pernah tersandung kasus hukum ke panggung politik menunjukkan bahwa dalam sistem politik Indonesia, kontinuitas hubungan personal sering kali lebih kuat daripada pergantian rezim. Narasi Setya Novanto atau yang akrab disapa Setnov menjadi representasi bagaimana modal sosial yang terbangun puluhan tahun sulit tergantikan oleh generasi baru, sekaligus memvalidasi teori-teori tentang jaringan kekuasaan dalam politik Indonesia.


PinterPolitik.com

Perjalanan politik Setya Novanto dimulai dari bawah dengan bergabung di Partai Golkar sejak 1974 melalui sahabatnya Hayono Isman. Sebagai putra dari Jenderal Mas Isman yang merupakan pendiri Kosgoro, Hayono Isman menjadi jembatan pertama masuknya Setnov ke dunia politik. Awalnya, karir politik Setnov berjalan biasa-biasa saja sebagai kader partai tingkat bawah. Namun, ambisinya yang besar mendorongnya untuk terus mencari peluang naik ke level yang lebih tinggi.

Titik balik karir Setnov terjadi ketika dia berhasil membangun kedekatan dengan Sudwikatmono, konglomerat yang merupakan sepupu Presiden Soeharto. Ketekunannya yang luar biasa, bahkan sampai menunggu berhari-hari di tempat parkir demi bertemu Sudwikatmono, akhirnya membuahkan hasil.

Dia dipercaya untuk menggarap proyek padang golf internasional di Batam dengan nilai investasi yang fantastis, mencapai US$ 100 juta. Proyek besar ini bahkan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto, menandai masuknya Setnov ke lingkar dalam kekuasaan Orde Baru.

Sepanjang karirnya, Setnov tidak luput dari berbagai kontroversi dan kasus hukum. Namun, kemampuannya untuk bertahan dan bahkan bangkit kembali menunjukkan kekuatan jaringan yang telah dibangunnya. Golkar yang belum memecatnya secara resmi kini bahkan mempertimbangkan kembali peran strategisnya dalam struktur partai pasca Setnov bebas bersyarat setelah mendapatkan pengurangan masa tahanan.

Partai Beringin melihatnya sebagai figur yang tepat mengisi posisi “dewa” – sebutan untuk senior partai yang berpengaruh besar. Fenomena ini membuktikan bahwa modal sosial dan relasi politik yang terbangun puluhan tahun tidak mudah terkikis, bahkan oleh sandungan hukum sekalipun.

Kedekatan dengan Dinasti Cendana

Sukses proyek Batam menjadi pintu masuk Setya Novanto ke jantung kekuasaan Orde Baru – Keluarga Cendana. Kedekatan ini tidak berhenti pada level bisnis semata, tetapi merambah ke aspek politik dan personal yang lebih dalam.

Setnov dipercaya untuk menulis buku “Manajemen Soeharto” yang berisi kumpulan tulisan para menteri Orde Baru. Proyek penulisan ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari keluarga Soeharto terhadap Setnov, mengingat buku tersebut menyangkut reputasi dan warisan politik sang presiden.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Siti Hardijanti Rukmana, atau yang akrab disapa Tutut, memberikan kepercayaan yang lebih besar lagi kepada Setnov. Dia dipercaya memimpin PT Citra Permatasakti Persada yang mengelola pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). Bisnis ini sangat strategis karena menyangkut pelayanan publik yang menyentuh seluruh rakyat Indonesia. Sementara itu, Elsye Sigit, istri dari Sigit Harjojudanto, menggandeng Setnov dalam bisnis komputerisasi Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kedua proyek ini menunjukkan betapa dalamnya penetrasi Setnov ke dalam ekosistem bisnis keluarga Soeharto.

Kedekatan dengan keluarga Soeharto ini bukan sekadar hubungan bisnis transaksional, tetapi telah berkembang menjadi relasi yang lebih personal dan strategis. Hal ini terbukti dari kepercayaan yang diberikan dalam mengelola proyek-proyek sensitif yang menyangkut pelayanan publik.

Kedekatan dengan Keluarga Cendana ini menjadi katalis percepatan karir politik Setnov, mengangkatnya dari posisi anggota DPR biasa hingga mencapai puncak karir sebagai Ketua DPR. Jaringan yang dibangun melalui hubungan dengan keluarga Soeharto ini terbukti menjadi aset politik yang sangat berharga dan tahan lama.

Social Capital Setnov

Fenomena Setya Novanto dan kedekatannya dengan Keluarga Cendana dapat dianalisis melalui beberapa perspektif teoretis. Pertama, teori “Social Capital” dari James Coleman yang menyatakan bahwa relasi sosial adalah sumber daya produktif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks Setnov, hubungan personalnya dengan tokoh-tokoh kunci Orde Baru menjadi modal sosial yang dapat dikonversi menjadi kekuatan politik dan ekonomi.

Coleman menjelaskan bahwa modal sosial memiliki karakteristik yang berbeda dari modal finansial atau manusia, yaitu kemampuannya untuk bertahan dan bahkan menguat seiring waktu jika dipelihara dengan baik.

Kedua, konsep “Power in Javanese Culture” yang dikemukakan oleh Ben Anderson memberikan perspektif antropologis tentang bagaimana kekuasaan dipahami dan dipraktikkan dalam konteks budaya Jawa. Anderson menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang konkret dan dapat diakumulasi melalui hubungan-hubungan personal yang strategis.

Fenomena kedekatan Setnov dengan keluarga Soeharto dapat dipahami sebagai upaya akumulasi kekuasaan melalui cara-cara yang deeply embedded dalam kultur politik Jawa. Konsep “jaringan patronase” yang dijelaskan Anderson terbukti masih sangat relevan dalam memahami dinamika politik kontemporer Indonesia.

Ketiga, teori “politik dinasti” yang dikembangkan oleh berbagai ahli politik memberikan kerangka untuk memahami bagaimana kekuasaan politik diwariskan dan dipertahankan lintas generasi. Setnov mengakui tiga tokoh kunci yang membentuk perjalanan hidupnya: Hayono Isman sebagai pembina politik, Sudwikatmono sebagai pembina usaha, dan Jenderal Wismoyo Arismunandar yang memberi wawasan pengabdian bangsa.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Tripod kekuatan ini – politik, bisnis, dan militer – mencerminkan struktur kekuasaan Orde Baru yang multi-dimensional. Wismoyo Arismunandar, sebagai mantan KSAD dan adik ipar Soeharto, memberikan legitimasi militer dan perspektif kebangsaan yang melengkapi jaringan kekuasaan Setnov.

Kombinasi ketiga elemen ini menciptakan sistem kekuasaan yang sangat resilient dan adaptif. Bahkan ketika rezim politik berganti, jaringan yang telah terbangun tetap dapat mempertahankan pengaruhnya melalui transformasi dan adaptasi. Kembalinya Setnov ke panggung politik Golkar setelah mengalami berbagai sandungan hukum membuktikan bahwa dalam sistem politik Indonesia, kontinuitas hubungan personal seringkali lebih determinan daripada perubahan institusional atau pergantian kepemimpinan.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana elite politik Indonesia masih sangat bergantung pada jaringan tradisional yang diwarisi dari era sebelumnya. Nama Setya Novanto yang kembali mengemuka dalam diskusi internal Golkar sebagai kandidat untuk mengisi posisi strategis partai membuktikan bahwa meski pernah tersandung kasus hukum, modal sosial yang dimilikinya tetap dianggap valuable. Golkar menilai Setnov masih memiliki pengaruh kuat dan jaringan yang luas, sebuah aset yang sulit dicari penggantinya dalam waktu singkat.

Para ahli politik Indonesia sepakat bahwa kasus Setnov merepresentasikan fenomena yang lebih luas tentang bagaimana sistem politik Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh legacy Orde Baru. Hubungan patron-client yang telah terbentuk puluhan tahun tidak mudah terputus oleh perubahan rezim atau modernisasi institusi politik. Sebaliknya, jaringan ini justru beradaptasi dan menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan pengaruhnya dalam konteks demokratis yang baru.

Kesimpulannya, kisah Setya Novanto dan kedekatannya dengan Keluarga Cendana bukan sekadar cerita individual tentang seorang politisi yang sukses membangun jaringan. Lebih dari itu, ini adalah refleksi dari sistem politik Indonesia yang masih sangat dipengaruhi oleh warisan struktural dan kultural Orde Baru.

Modal sosial yang terbangun melalui kedekatan dengan elite penguasa masa lalu terbukti menjadi aset yang sangat tahan lama dan dapat bertransformasi mengikuti perubahan zaman. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa transisi demokratis tidak otomatis menghapus jejak-jejak sistem kekuasaan sebelumnya, tetapi seringkali justru memberikan ruang bagi adaptasi dan kontinuitas dalam bentuk yang baru. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.