HomeHeadlineBukan Daddy Issues, Prabowo Lampaui Sumitro?

Bukan Daddy Issues, Prabowo Lampaui Sumitro?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Prabowo Subianto dilabeli media asing punya “daddy issues”. Apakah tuduhan itu tepat? Bagaimana hubungan Prabowo dengan ayahanda Sumitro?


PinterPolitik.com

“Pesan ayah saya, Profesor Sumitro, kepada saya adalah, ‘Prabowo apa pun yang kamu lakukan, apa pun yang kamu kerjakan, kamu harus selalu berpihak kepada rakyat kecil’,” – Prabowo Subianto (27/4/2018) 

Suatu sore, Cupin datang ke warung kopi membawa tablet penuh tab berita. Ia berseru, “Lagi-lagi media asing nyebut Prabowo punya daddy issues.” Cupin terkekeh, sebab istilah itu sering dipakai di ranah budaya populer, tapi rasanya aneh jika ditujukan untuk seorang presiden.

Istilah daddy issues biasanya merujuk pada masalah psikologis akibat hubungan bermasalah dengan ayah. Media asing mencoba menempelkan label itu ke Prabowo, seolah hubungan rumit dengan Sumitro Djojohadikusumo adalah kunci memahami politiknya. Namun di Indonesia, banyak yang menilai narasi itu terlalu menyederhanakan.

Sumitro dikenal sebagai tokoh ekonomi besar, bukan figur ayah yang absen atau penuh konflik. Bagi Prabowo, ayahnya bukan sekadar orang tua, melainkan inspirasi politik. Justru pesan Sumitro agar selalu berpihak pada rakyat kecil yang kerap dikutip Prabowo dalam pidato maupun wawancara.

Cupin menepuk meja sambil terkekeh. “Kalau media asing main pakai kacamata psikologi pop buat analisis politik Indonesia, jadinya kayak gosip selebriti.” Pertanyaannya, apakah benar teori populer itu bisa menjelaskan hubungan Prabowo dengan Sumitro?

Daddy Issues?

Di sebuah buku psikologi, Robert J. Ackerman menjelaskan bagaimana luka emosional akibat figur ayah bisa berdampak panjang. Ia menyebut gejalanya bisa berupa kecemasan, ketergantungan, hingga kesulitan menjalin hubungan sehat. Cupin menimbang, “Nah, itu analisis ilmiah. Tapi cocok nggak dengan cerita Prabowo?”

Psikolog perkembangan Diana Baumrind pernah membagi gaya pengasuhan: otoriter, permisif, dan otoritatif. Pola terakhir—yang tegas tapi suportif—cenderung melahirkan anak mandiri dan percaya diri. Hubungan Sumitro dengan Prabowo lebih dekat dengan pola ini dibanding pola bermasalah yang melahirkan trauma.

Prabowo berkali-kali menyebut pesan sang ayah: apa pun yang dilakukan harus berpihak kepada rakyat kecil. Sumitro baginya adalah guru, teladan, sekaligus sumber inspirasi. Dari sini lahir gagasan politik Prabowo yang berakar pada kemandirian nasional dan ekonomi kerakyatan.

Cupin menimpali, “Kalau gitu, bukannya malah kebalikan dari daddy issues? Bukan luka, tapi warisan nilai?” Analisis psikologi populer jelas gagal membaca konteks Indonesia, di mana sosok ayah kerap juga guru dan penggerak moral keluarga.

Dengan demikian, tuduhan daddy issues tak punya dasar akademis. Yang tampak justru kontinuitas nilai yang membuat Prabowo lebih percaya diri. Pertanyaannya, warisan apa sebenarnya yang ditinggalkan Sumitro, dan bagaimana Prabowo mencoba mengembangkannya?

Keserasian Prabowo dan Sumitro

Cupin membuka buku berjudul Paradoks Indonesia dan Solusinya dan menunjuk satu halaman. “Lihat, Prabowo bicara soal Ekonomi Konstitusi. Kayak sambungan langsung dari Ekonomi Pancasila yang dulu dicanangkan Sumitro, ya?”

Sumitro pada 1950-an merintis Rencana Urgensi Industrialisasi. Intinya: membangun industri domestik, koperasi, dan modal nasional agar rakyat punya kedaulatan ekonomi. Semua berpijak pada Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan asas kekeluargaan dalam perekonomian.

Prabowo membawa gagasan serupa, namun dalam konteks globalisasi. Ekonomi Konstitusi ditekankan untuk melindungi rakyat kecil dari dominasi asing. Program Danantara, misalnya, diarahkan pada pengelolaan investasi strategis oleh anak bangsa.

Kedua gagasan ini terlihat berdialog lintas generasi. Sumitro menekankan fondasi kemandirian, sementara Prabowo menambahkan strategi menghadapi dunia yang lebih kompleks. Ada kesinambungan ide, bukan pemutusan.

Cupin menutup bukunya dan tersenyum. “Kalau gitu, wajar kalau ada yang bilang Prabowo bisa melampaui Sumitro. Bukan meniadakan, tapi mengembangkan warisan itu sesuai zaman.”

Cupin menutup percakapan di warung kopi dengan satu kalimat singkat. “Kalau ada yang bilang Prabowo punya daddy issues, mungkin mereka salah alamat. Yang ada, dia punya daddy values.” (A43)


Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?