HomeHeadlineMengapa Era SBY Kini Dirindukan?

Mengapa Era SBY Kini Dirindukan?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan budaya digital, banyak yang menoleh ke masa SBY. Apa yang sebenarnya kita rindukan dari era itu?


PinterPolitik.com

โ€œEnak jamanku toh?โ€

Cupin, seorang pemilik warung kopi kecil di Semarang, masih setia menyetel lagu-lagu dari Ungu, Letto, atau Dโ€™Masiv setiap sore. Ia bilang, suasana warungnya terasa lebih akrab kalau lagunya dari zaman SBY.

โ€œDulu itu, jam tujuh malam semua orang tahu mau nonton apa,โ€ katanya sambil menyodorkan kopi sachet ke pelanggan langganannya. โ€œSekarang, semua sibuk dengan HP masing-masing. Ada yang nonton video lucu, ada yang debat politik, ada yang nyasar ke drama Korea.โ€

Anekdot Cupin terasa sederhana, tetapi menyimpan kerinduan kolektif yang lebih dalam. Banyak orang Indonesia memang mulai menoleh ke masa 2004 hingga 2014, periode dua kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai era yang lebih tenang dan stabil.

Secara ekonomi, masa itu menyaksikan pertumbuhan rata-rata di atas lima persen, inflasi yang relatif terkendali, dan keberhasilan Indonesia melewati krisis finansial global tahun 2008 tanpa luka besar. Hal ini banyak dibahas dalam buku Hal Hill yang berjudul The Indonesian Economy, di mana ia memuji ketahanan struktural ekonomi Indonesia pada masa tersebut.

Dari sisi politik, demokrasi elektoral berjalan dengan lancar. Reformasi pasca-Orde Baru masuk tahap konsolidasi, dan kebebasan pers mulai tumbuh tanpa banyak konflik terbuka.

Tapi tentu saja, kerinduan terhadap era SBY bukan hanya soal ekonomi dan politik. Ada sesuatu yang lebih sosial, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apakah itu?

Monokultur dan Rasa Bersama

Salah satu hal yang paling dirindukan dari masa SBY adalah rasa kebersamaan yang muncul lewat budaya populer. Pada masa itu, masyarakat Indonesia memiliki pengalaman budaya yang seragam. Orang tua, remaja, sampai anak-anak menonton tayangan yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, dan membicarakan hal-hal yang sama di meja makan.

Baca juga :  Menguak The Economist

Inilah yang dalam kajian budaya disebut sebagai โ€œmonokultur.โ€ Budayawan Grant McCracken dalam bukunya Culture and Consumption menggambarkan monokultur sebagai pengalaman budaya yang seragam dan menyeluruh, yang dialami hampir serentak oleh masyarakat.

Di Indonesia, pengalaman ini terbentuk melalui dominasi televisi nasional, radio konvensional, dan media cetak besar. Orang dari Medan sampai Merauke mengenal acara seperti Extravaganza, Indonesian Idol, dan sinetron seperti Cinta Fitri. Lagu-lagu dari Nidji atau RAN bisa terdengar di mana-mana, dari warung sampai pusat perbelanjaan.

Sebuah penelitian dari Universitas Islam Negeri Malang mencatat bagaimana televisi dan radio pada masa itu memainkan peran besar dalam menyebarkan nilai-nilai budaya populer secara seragam. Media menjadi perantara utama yang memperkuat kohesi sosial melalui konten hiburan.

Cupin mengenangnya sebagai masa ketika semua orang bisa tertawa pada hal yang sama. Tidak ada kekhawatiran bahwa sebuah lawakan akan menyinggung pihak tertentu, atau bahwa tayangan televisi akan memecah belah.

Namun semua itu perlahan berubah. Dalam sepuluh tahun terakhir, hadirnya internet, media sosial, dan platform video membuat budaya populer menjadi semakin beragam dan terfragmentasi. Kini, orang bisa memilih sendiri apa yang mereka konsumsi, sesuai dengan selera dan identitas masing-masing.

Dari satu sisi, ini memperkaya ekspresi dan memberikan ruang bagi keberagaman. Namun dari sisi lain, pengalaman bersama menjadi semakin langka. Orang tak lagi saling memahami selera hiburan satu sama lain. Kebersamaan yang dulu terasa alami kini tergantikan oleh gelembung-gelembung digital yang saling terpisah.

Apakah mungkin kerinduan terhadap masa SBY sebenarnya adalah kerinduan terhadap rasa bersama itu?

Rindu, Tapi Bukan Kembali Lagi?

Cupin tertawa kecil ketika ditanya soal gaya kepemimpinan SBY. โ€œPelan tapi adem,โ€ ujarnya. โ€œSekarang mah kayak semua orang marah di televisi.โ€

Baca juga :  Indonesia: "Lone Wolf" Penyelamat Iklim?

SBY memang dikenal berhati-hati, penuh kalkulasi, dan sering dianggap lamban. Tapi bagi sebagian orang, gaya seperti itu kini terasa lebih menenangkan dibanding iklim politik yang gaduh, cepat berubah, dan penuh drama seperti sekarang.

Dalam bukunya yang berjudul Media and the Politics of Culture in Indonesia, Krishna Sen dan David Hill menjelaskan bahwa budaya populer tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu mencerminkan kondisi politik dan sosial yang melingkupinya. Ketika media tenang dan tidak partisan, masyarakat cenderung merasa lebih damai.

Kini, dengan media sosial yang setiap hari menampilkan pertengkaran, kabar bohong, dan opini yang saling berbenturan, banyak orang merasa lelah. Nostalgia terhadap masa ketika presiden bernyanyi di televisi dan tidak terlibat dalam adu wacana digital menjadi semakin kuat.

Tentu saja, masa SBY bukan tanpa cacat. Banyak kebijakan stagnan, korupsi di DPR tetap tinggi, dan beberapa proyek strategis mangkrak. Tetapi kekurangan itu terasa lebih โ€œmanusiawiโ€ ketika dibandingkan dengan kekacauan komunikasi politik hari ini.

Sebagaimana disebut dalam tulisan โ€œTransformasi Budaya Lokal dan Globalโ€ oleh Dedy S. Priatna, modernitas sering menciptakan kelelahan kolektif karena perubahan yang terlalu cepat dan tidak merata. Maka tak heran, jika sebagian masyarakat menoleh ke belakang, mencari kembali irama kehidupan yang lebih lambat dan mudah dipahami.

Jadi, mungkinkah nostalgia ini menjadi pelajaran? Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi untuk memahami apa yang benar-benar kita rindukan dari masa itu.

Tentu kita tidak bisa kembali ke 2009. Tetapi kita bisa belajar dari rasa rindu itu bahwa dalam dunia digital yang semakin ribut, masyarakat tetap butuh ruang tenang untuk merasa satu. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?ย