HomeNalar PolitikPrajogo Pangestu: Rise, Fall, and Rise Again!

Prajogo Pangestu: Rise, Fall, and Rise Again!

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Dulu nyetir angkot di Kalimantan, sekarang jadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Apa rahasia bisnis Prajogo Pangestu bisa bertahan dari Orde Baru sampai hari ini?


PinterPolitik.com

โ€œPendidikannya hanya SMP Nan Hoa, lalu ia pernah merantau ke Jakarta dan tidak mendapat pekerjaanโ€ โ€“ Sam Setyautama dan Suma Mihardja, Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008)

Di suatu siang panas di jalanan Kalimantan, seorang pemuda kurus duduk di balik kemudi angkot bobrok. Tangannya memutar setir sambil melirik ke spion, sementara pikirannya melayang jauh dari penumpang, menuju hidup yang lebih dari sekadar menyetor harian.

Pemuda itu bernama Prajogo Pangestu. Ia bukan anak jenderal, bukan lulusan universitas asing, dan jelas bukan bagian dari elite mana pun.

Ia hanya seorang anak Tionghoa dari Kalimantan Barat, yang berangkat dari keluarga sederhana dan mencoba mencari celah dalam ekonomi yang keras. Tiap pagi ia menyaksikan truk-truk pengangkut kayu melintas menuju pelabuhan.

Di balik kaca angkotnya, ia melihat sesuatu yang lebih dari batang kayu. Ia melihat peluang dan mungkin juga harapan.

Keberuntungannya datang saat diterima bekerja di perusahaan milik Bob Hasan, seorang pengusaha besar yang dekat dengan Soeharto. Di sana, ia tidak hanya belajar tentang kayu, ekspor, dan logistik, tapi juga tentang bagaimana bisnis dijalankan dalam bayang-bayang kekuasaan.

Ia memperhatikan pola. Siapa yang makan siang dengan siapa, siapa yang bisa menelpon pejabat, siapa yang masuk ruang rapat tanpa dijemput.

The Barito Story

Pada akhir 1970-an, ia memberanikan diri mendirikan perusahaannya sendiri. Namanya Pacific Lumber Coy, sebuah perusahaan kecil yang kelak akan menjelma menjadi Barito Pacific.

Baca juga :  Prabowo, Optimisme Berantas Budaya ABS

Kisahnya mulai bergerak cepat. Ia tidak hanya sukses secara bisnis, tapi juga membangun kedekatan personal dengan Soeharto.

Di berbagai kesempatan, ia kerap terlihat bermain golf bersama sang presiden. Bahkan ada kisah bahwa ia kadang membawakan tas golf Soeharto, seperti ajudan tak resmi.

Kedekatan itu bukan basa-basi. Di Indonesia masa Orde Baru, bermain golf dengan presiden bukan sekadar hobi, tapi strategi kelangsungan usaha.

Saat Bank Duta, yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana, mengalami krisis, Prajogo ikut turun tangan. Sebagai balasan, ia memperoleh akses pada berbagai proyek strategis dan sumber daya negara.

Puncaknya terjadi pada 1993. Menteri Keuangan J.B. Sumarlin di akhir masa jabatannya memutuskan untuk menanamkan dana PT Taspen ke 17 perusahaan swasta. Totalnya Rp1,3 triliun. Barito Pacific kebagian Rp375 miliar.

Keputusan ini sempat membuat heboh. Ketika Marโ€™ie Muhammad menggantikan Sumarlin, investasi ini langsung dihentikan sementara untuk dievaluasi ulang.

Namun, dana itu sudah cukup untuk meluncurkan Barito Pacific ke pasar modal. IPO dilakukan di tahun yang sama dan menjadi batu loncatan penting dalam ekspansi usaha Prajogo.

Dari bisnis kayu, ia merambah ke petrokimia dengan mengambil alih Chandra Asri. Lalu merambah ke kelapa sawit, properti, energi, dan infrastruktur.

Ia membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pengusaha titipan kekuasaan. Ia mampu membaca arah angin dan memindahkan pelabuhan bisnisnya sebelum badai datang.

Menepi Lebih Duluโ€ฆ

Ketika krisis 1998 menggulung ekonomi Indonesia dan banyak konglomerat Orde Baru tumbang, Prajogo tetap bertahan. Ia tahu kapan harus menepi dan kapan harus kembali ke tengah arena.

Richard Robison dan Vedi Hadiz dalam buku Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets menyebut Prajogo sebagai bagian dari jaringan oligarki Indonesia yang paling lentur. Mereka menyebut para pengusaha seperti Prajogo sebagai figur yang mampu bertahan dan bahkan tumbuh dalam transisi dari ekonomi kroni ke pasar terbuka.

Baca juga :  Sekolah Kekuasaan, Ajudan Naik Takhta

Tidak seperti tokoh-tokoh bisnis lain yang kehilangan pengaruh setelah Orde Baru, Prajogo justru bertransformasi. Ia menjadi pengusaha yang tetap memiliki tempat dalam lanskap kekuasaan, bahkan ketika wajah politik Indonesia berubah total.

Ia tidak frontal. Ia tidak muncul di TV atau memimpin partai. Tapi ia ada. Diam-diam, kuat, dan sangat relevan.

Tahun 2024, saat Prabowo Subianto melakukan kunjungan pertamanya ke Tiongkok sebagai Presiden terpilih, nama Prajogo kembali muncul. Ia ikut dalam delegasi bisnis yang menyertai kepala negara.

Kehadirannya di situ bukan kebetulan. Itu adalah simbol bahwa ia tetap dianggap penting dalam percaturan ekonomi dan diplomasi.

Kini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia oleh Forbes. Ia bahkan menyalip Hartono bersaudara, yang selama ini hampir tak tergoyahkan.

Kekayaannya tidak datang dari warisan atau undian. Ia mengumpulkannya dari kayu, minyak, gas, dan relasi-relasi yang ia bangun sejak mengantar tas golf di lapangan Senayan.

Prajogo bukanlah tokoh publik dalam artian konvensional. Ia tidak berkhotbah soal moral bisnis, tidak membuka kelas master, tidak menulis memoar.

Namun, kisah hidupnya adalah memoar yang berjalan. Dari setir angkot, ia kini menyetir konglomerasi dengan ratusan anak perusahaan di bawahnya.

Kalau ada pelajaran dari hidupnya, mungkin itu adalah: kadang sukses bukan datang dari siapa kamu, tapi dari siapa yang kamu temani saat pagi masih sepi, dan presiden belum datang ke lapangan golf. (A43)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Rahasia โ€œLogin Muhammadiyahโ€ Berjamaah

Fenomena โ€œLogin Muhammadiyahโ€ tampaknya menandai pergeseran cara beragama generasi muda: rasional, digital, dan praktis. Di balik tren ini, tersimpan implikasi besarโ€”dari auto-komparasinya dengan Nahdlatul Ulama hingga potensi perubahan peta sosial-politik Indonesia menuju kontestasi elektoral 2029.

Kapitalisasi Selat Hormuz

Anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi menyebutkan soal tarif US$2 juta per kapal di Selat Hormuz. Bloomberg mengonfirmasi pungutan ini bersifat ad hoc dan sudah dibayar beberapa kapal. Iran membingkai ini bukan sebagai hukuman, melainkan revenue stream: "Perang memiliki ongkos." Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun pasca-Revolusi Islam, Hormuz bukan hanya senjata strategis โ€” ia menjadi sumber pendapatan langsung.

Cinta Segitiga: Pramono-KDM-Andra Soni

PBB nobatkan Jakarta kota terbesar dunia: 42 juta jiwa. Tapi kenapa bentuk kotanya timpang โ€” memanjang ke timur, mampet di barat?

Generasi Melesat Bersama Sekolah Rakyat

Progres 104 sekolah, 32 provinsi โ€” bukan sekadar angka. Sekolah Rakyat adalah pernyataan struktural paling berani Indonesia sejak berdirinya Republik, bahwa tempat dan kondisi atau โ€œtakdirโ€ lahir tidak boleh lagi menentukan nasib. Negara kini membangun bukan sekadar sekolah, melainkan ekosistem mobilitas sosial yang nyata.

Welcome Nuklir Vietnam, Indonesia Kapan?

Tonggak bersejarah: 23 Maret 2026, Vietnam dan Rusia menandatangani perjanjian pembangunan PLTN pertama di ASEAN โ€” dua reaktor VVER-1200 Rosatom berkapasitas 2.400 MW di Ninh Thuan. Target operasional: akhir 2031. Langkah ini dipicu krisis energi akibat perang Iran yang membuat harga BBM Vietnam melonjak 50-70 persen. Indonesia kapan?

Saatnya Bubarkan Garuda?

Skytrax turunkan peringkat Garuda Indonesia dari bintang 5 ke 4. Rugi bersih 2025 melonjak 4,5 kali lipat jadi Rp5,4 triliun. Penumpang turun 10,5 persen. Dari ratusan pesawat, hanya 60-an yang bisa terbang. Maka wajar, wacana pembubaran sempat bergulir di DPR tahun lalu. Pertanyaannya: haruskah dilakukan?

MBG-isme dan Visi Besar Ekonomi

Program MBG bukan hanya soal memberi makan. Ia adalah lingkaran besar pembangunan ekonomi โ€” dari 30 ribu dapur SPPG, dana Rp 10.000 per porsi berputar langsung di level kecamatan, diserap petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal. Ini bukan trickle-down โ€” ini investasi dari bawah yang mengalir ke atas.

Didit, The Next Gen Metronom

Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.

More Stories

Cinta Segitiga: Pramono-KDM-Andra Soni

PBB nobatkan Jakarta kota terbesar dunia: 42 juta jiwa. Tapi kenapa bentuk kotanya timpang โ€” memanjang ke timur, mampet di barat?

Hormuz: โ€œKuburanโ€ Supremasi AS?

Tulisan Ray Dalio soal "pertempuran akhir" Hormuz bukan hanya analisis pasar, melainkan soal apakah tatanan dunia AS akan bertahan atau runtuh.

Iran-AS Adalah โ€œTawuran RTโ€?

Perang Iran-Amerika Serikat (AS) memaksa semua negara memilih pihak. Bagaimana kalau menolak pun bukan pilihan di situasi geopolitik terkini?