HomeNalar PolitikMampukah Prabowo Make Indonesia Great Again? 

Mampukah Prabowo Make Indonesia Great Again? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi artificial intelligence (AI).

Konsep Make America Great Again (MAGA) ala Donald Trump beresonansi dengan dorongan adanya keperluan konsep Make Indonesia Great Again (MIGA). Mampukah ambisi ini dijalankan? 


PinterPolitik.com 

Frasa “Make America Great Again (MAGA)” yang sempat beken pada tahun 2016-2020 mungkin belakangan ini tengah kembali populer, utamanya setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).  

Ya, sepanjang kampanyenya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2024 kemarin, Trump memang menggaungkan akan melakukan sejumlah kebijakan yang cukup radikal demi membawa negaranya kembali kepada status adidaya, jika dirinya terpilih. Trump pun ternyata tidak membual, karena setelah dirinya dilantik pada 20 Januari kemarin, Trump langsung menerbitkan sejumlah peraturan presiden (perpres) kontroversial, contohnya seperti pencabutan keanggotaan AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Menariknya, konsep MAGA yang mungkin sudah diilhami para pendukung Trump belakangan juga beresonansi di Indonesia. Di sejumlah platform media sosial, kita bisa temukan sendiri beberapa warganet mengungkapkan perandaian apakah Indonesia juga bisa memiliki konsep semacam MAGA-nya sendiri, atau lebih tepatnya “Make Indonesia Great Again (MIGA)”. Dan, melihat bagaimana AS dan Indonesia sama-sama memiliki presiden yang baru, perandaian tersebut sebetulnya tidak bisa disalahkan. 

Maka dari itu, menarik kemudian untuk kita pertanyakan, kira-kira mungkinkah Prabowo juga menerapkan konsep ala MAGA, yakni MIGA? 

image

Indonesia Raya Prabowo adalah MIGA? 

Perandaian mengenai kemungkinan kesamaan arah kepemimpinan Prabowo dan Trump sejatinya adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji. Tidak heran, selama masa kampanyenya, baik pada Pilpres 2024, atau Pilpres 2014 dan 2019, Prabowo memang selalu memainkan narasi akan membawa Indonesia kembali kepada kehebatannya. 

Uniknya, jika kita coba menelisik lebih dalam, besar kemungkinannya Prabowo juga selama ini selalu membawa konsep ala MIGA dalam benak pikirannya. Hal ini terlihat dari kebiasaan mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut yang kerap menggunakan frasa “Indonesia Raya” dalam berbagai kesempatan. Sebagai contoh, partai politik yang ia dirikan pada 2008 diberi nama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Frasa “Indonesia Raya” yang tampaknya begitu lekat dengan Prabowo ini ternyata memiliki sejarah panjang. Nama Partai Gerindra sendiri terinspirasi dari Partai Indonesia Raya (Parindra), sebuah partai politik yang pernah eksis di masa lalu. Prabowo bahkan pernah menyebut Gerindra sebagai penerus Parindra—partai yang didirikan oleh kakeknya, R.M. Margono Djojohadikusumo, bersama sejumlah tokoh terkemuka lainnya, seperti Dr. Soetomo dan Mohammad Husni Thamrin. 

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Konsep “Indonesia Raya” di Parindra saat itu diyakini merupakan buah pikiran dari Soetomo sendiri. Pandangan tersebut menekankan bahwa Indonesia tidak hanya harus merdeka, tetapi juga mampu mengendalikan mimpi dan takdirnya sendiri demi kesejahteraan tanah air dan rakyatnya. 

Dalam tulisannya yang berjudul Kuwajiban lan Gamelan, Soetomo menguraikan bahwa setiap elemen masyarakat harus menjalankan perannya masing-masing demi mewujudkan Indonesia yang berjaya. Ia menggunakan analogi orkestra gamelan Jawa, di mana setiap pemain memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni. 

Mungkin karena itulah Soetomo dan Parindra lebih berfokus pada upaya membangun kondisi sosial dan ekonomi pribumi Indonesia melalui berbagai inisiatif. Beberapa langkah yang mereka lakukan antara lain mendirikan Bank Nasional Indonesia, yang menjadi bank pribumi pertama, serta perusahaan asuransi pribumi pertama, Bumi Putra. Selain itu, Parindra juga berupaya meningkatkan layanan kesehatan—sesuai dengan latar belakang Soetomo sebagai seorang dokter. 

Penyamaan konsep Indonesia Raya “warisan” Parindra tersebut dengan konsep ala MIGA lantas bahkan semakin kentara jika kita membaca dua buku karya Prabowo sendiri yang berjudul “Kembalikan Indonesia” dan “Membangun Kembali Indonesia Raya”. Di dalam dua buku ini, Prabowo secara terang-terangan menyebutkan bahwa pengembalian kejayaan Indonesia bukanlah retorika yang perlu diperdebatkan tetapi sebuah tanggung jawab yang diberikan oleh para pendiri bangsa untuk generasi saat ini. 

Dan terbukti, setelah Prabowo menjabat sebagai presiden, kabinetnya menggarap sejumlah program prioritas yang sekiranya cukup membawa esensi Indonesia Raya ala Parindra, dan juga konsep ala MIGA, seperti program ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi 8%, yang tujuan akhirnya tidak lain adalah untuk membuat Indonesia sebagai negara yang bisa mandiri. 

Dari sini, tentu pertanyaan selanjutnya adalah, mampukah Prabowo mewujudkan mimpi MIGA tersebut? 

image

Sejatinya, Mampu Dijalankan? 

Konsep MIGA secara konseptual dapat diwujudkan dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terutama dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia (SDM) sebagai aset strategis nasional. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik utama di dunia. 

Baca juga :  Politik Lucky Number Prabowo

Secara teoritik, Teori Demografi sebagai Kekuatan Ekonomi yang dikemukakan oleh Simon Kuznets menunjukkan bahwa negara dengan populasi besar memiliki keunggulan kompetitif jika mampu mengelola SDM secara optimal. Dalam konteks Indonesia, jumlah penduduk yang besar tidak hanya berarti ketersediaan tenaga kerja yang melimpah tetapi juga berperan sebagai pasar domestik yang luas, yang dapat menarik investasi global dan memperkuat daya saing industri dalam negeri. 

Dari perspektif geopolitik, Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global. Dengan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kemandirian dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal, Prabowo berpotensi mempercepat hilirisasi industri yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas nasional tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi rakyat. 

Sebagai perbandingan, India merupakan contoh negara dengan populasi besar yang berhasil mengoptimalkan potensi SDM-nya. Dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk, India telah menjadi pusat teknologi global berkat kebijakan pendidikan dan investasi dalam industri berbasis digital.  

India juga berhasil menarik investasi besar dari perusahaan multinasional karena memiliki tenaga kerja terampil dan pasar domestik yang kuat. Indonesia dapat mengikuti jejak India dengan memperkuat sektor pendidikan dan teknologi, sehingga SDM Indonesia mampu bersaing di tingkat global dan mendorong industrialisasi berbasis inovasi. 

Selain India, Tiongkok juga menjadi contoh bagaimana populasi besar dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik. Kebijakan industrialisasi dan penguatan manufaktur yang diterapkan di Tiongkok telah mengubah negara tersebut menjadi pusat produksi dunia. Jika Indonesia dapat mengadopsi strategi yang serupa—terutama dalam pengembangan infrastruktur, pendidikan, dan industri manufaktur—maka target menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi utama di dunia dapat terwujud. 

Dengan pendekatan yang strategis dalam mengelola SDM, investasi dalam pendidikan, dan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kemandirian serta daya saing global, kepemimpinan Prabowo Subianto memiliki potensi besar untuk mewujudkan MIGA. Jika dieksekusi dengan tepat, Indonesia dapat mengambil peran sebagai kekuatan ekonomi utama di Asia, sekaligus mengembalikan kejayaan bangsa di panggung dunia. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing