HomeHeadlineDharma Pongrekun vs ‘Elite Global’

Dharma Pongrekun vs ‘Elite Global’

Kecil Besar

Calon gubernur Jakarta nomor urut dua, Dharma Pongrekun, menyinggung soal elite asing terkait pandemi Covid-19 dalam Debat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024. Mengapa narasi “elite global” bisa begitu diyakini dalam diskursus politik?


PinterPolitik.com

“Most conspiracies are just capitalism” – Reagan Ridley, Inside Job (2021-2022)

Teori konspirasi bisa dibilang merupakan cara-cara berpikir yang unik. Tidak serta merta percaya dengan pemahaman umum, mereka yang percaya dengan teori konspirasi kerap mendorong teori-teori alternatif atas apa yang terjadi di dunia sekitar mereka.

Serial televisi Inside Job (2021-2022) dari Netflix, misalnya, membahas bagaimana teori-teori konspirasi yang ada di dunia menjadi nyata. Kisahnya berpusat pada sebuah organisasi rahasia bernama Cognito, Inc., sebuah organisasi yang menaungi enam organisasi berpengaruh lainnya, seperti Illmuinati.

Sejumlah episode bahkan menggambarkan bagaimana Reagan Ridley dan kawan-kawan bekerja sama dengan para manusia reptil dan makhluk-makhluk yang bisa berubah bentuk. Mereka menjalankan tugas mereka dengan ide-ide menarik.

Namun, alur yang disajikan oleh Inside Job ini adalah bentuk satire terhadap mereka yang percaya pada teori-teori konspirasi, mulai dari bagaimana para elite global sebenarnya adalah manusia reptil hingga bagaimana planet bumi sebenarnya datar.

Dalam politik, sejumlah teori konspirasi bahkan turut mengisi diskursus. Presiden Donald Trump pada kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2016, misalnya, mengatakan bahwa perubahan iklim tidaklah benar-benar terjadi.

Bukan hanya di AS, penyebaran teori-teori konspirasi-pun terjadi di Indonesia. Teori-teori seperti ini bahkan banyak tersebar saat pandemi Covid-19 melanda.

Salah satu tokoh politik yang disebut mempercayai teori-teori konspirasi terkait Covid-19 ini adalah Dharma Pongrekun yang kini menjadi salah satu calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024.

Apa yang diyakini oleh Dharma ini tampak jelas dari pernyataan-pernyataannya di Debat Pilkada Jakarta 2024 pada Minggu (6/10) kemarin. Ketika mendapatkan pertanyaan mengenai Covid-19, Dharma menyebut itu sebagai upaya terselubung asing.

Tidak hanya itu, Dharma juga meragukan keabsahan PCR untuk mendeteksi infeksi Covid-19. Menurutnya, rangkaian tes itu hanyalah untuk mendeteksi asidosis.

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Mengapa teori konspirasi semacam ini begitu banyak dipercayai dalam diskursus politik? Mengapa Dharma begitu percaya teori konspirasi?

Teori-teori Konspirasi, Pelarian Diri?

Teori konspirasi dalam politik sering dipercaya karena adanya ketidakpercayaan (distrust) terhadap pemerintah atau media. Ketidakpercayaan ini dapat muncul ketika masyarakat merasa bahwa institusi-institusi tersebut tidak transparan, tidak efektif, atau bahkan korup. 

Mengacu pada tulisan Cass R. Sunstein dan Adrian Vermeule yang berjudul “Conspiracy Theories: Causes and Cures”, ketidakpercayaan terhadap otoritas publik memperkuat keyakinan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik telah dimanipulasi atau disembunyikan. Hal ini membuat orang lebih mudah menerima teori konspirasi sebagai alternatif penjelasan atas peristiwa-peristiwa politik yang kompleks.

Distrust terhadap media juga memainkan peran penting dalam memperkuat teori konspirasi. Ketika masyarakat merasa bahwa media arus utama dikendalikan oleh elit atau memiliki agenda tertentu, mereka akan cenderung mencari sumber informasi alternatif yang sering kali tidak diverifikasi. 

Di era digital, penyebaran misinformasi melalui media sosial semakin memperburuk situasi ini, di mana informasi palsu atau spekulatif dengan cepat diterima tanpa pemeriksaan fakta. Politisasi media juga memperparah ketidakpercayaan, di mana media dianggap berpihak pada satu kelompok politik, sehingga sulit bagi publik untuk mempercayai informasi yang disampaikan.

Contoh yang jelas adalah pernyataan Donald Trump terkait Pilpres AS 2020. Trump secara terbuka menyatakan bahwa pemilu tersebut dicurangi, meskipun tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim ini. Ketidakpercayaan terhadap media dan institusi pemilu membuat banyak pendukung Trump lebih percaya pada narasi konspiratif tersebut daripada pada laporan media atau lembaga resmi. 

Ketidakpercayaan ini akhirnya memicu tindakan nyata, seperti kerusuhan di Capitol AS pada Januari 2021, yang menunjukkan dampak serius dari distrust terhadap pemerintah dan media dalam memperkuat teori konspirasi.

Bila berkaca dari apa yang terjadi di Pilpres AS, mengapa ini juga bisa berdampak pada Indonesia? Mengapa Dharma akhirnya bisa percaya pada teori atau alasan yang bernada konspiratif?

Dharma dan Teori-teori Konspirasinya

Seperti yang telah disebutkan di awal tulisan, Dharma mengeluarkan sejumlah pernyataan yang mempercayai teori-teori konspirasi dan upaya terselubung asing, khususnya terkait pandemi Covid-19. Bukan tidak mungkin, terdapat alasan tertentu mengapa Dharma bisa percaya dengan teori-teori demikian.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi keyakinan Dharma terhadap teori konspirasi adalah latar belakangnya yang kuat di bidang keamanan dan siber. Sebagai mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), ia terpapar pada ancaman keamanan siber dan kemungkinan intervensi asing dalam urusan dalam negeri. 

Pengalaman ini bisa membentuk pandangannya yang skeptis terhadap aktor-aktor global dan peran mereka dalam peristiwa-peristiwa besar seperti pandemi. Hal ini sejalan dengan tulisan Karen M. Douglas dan rekan-rekannya yang berjudul “The Psychology of Conspiracy Theories” yang menyatakan bahwa individu dengan latar belakang di bidang keamanan atau militer cenderung lebih rentan terhadap teori konspirasi karena terbiasa mempertimbangkan ancaman tersembunyi dan skenario terburuk.

Selain itu, Dharma sering mengaitkan keyakinannya dengan pandangan religius, menghubungkan isu-isu modern dengan naskah-naskah spiritual. Pada Februari 2024 lalu, misalnya, Dharma mengutip sejumlah ayat kitab suci dan menyebutkan bahwa Covid-19 adalah sebuah rekayasa untuk menyesatkan banyak bangsa.

Mengacu pada tulisan J. Eric Oliver dan Thomas J. Wood yang berjudul “ Conspiracy Theories and the Paranoid Style(s) of Mass Opinion”, dijelaskan bahwa individu yang memiliki keterlibatan kuat dalam agama atau politik juga lebih mungkin mempercayai teori konspirasi karena mereka cenderung memandang dunia sebagai hasil dari kekuatan besar yang bekerja di balik layar. 

Dalam kasus Dharma, perpaduan antara pengalaman profesional di dunia keamanan dan keyakinan religius semakin memperkuat narasi konspiratif dalam sudut pandangnya, yang meyakininya bahwa pandemi Covid-19 adalah bagian dari agenda rahasia yang lebih besar.

Alhasil, menjadi masuk akal apabila Dharma menjadi lebih mudah percaya terhadap teori-teori yang bernada konspiratif. Pertanyaan selanjutnya adalah mungkinkah tendesi Dharma ini bakal mempengaruhi pencalonannya di Pilkada Jakarta 2024. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?