HomeHeadlineMungkinkah Jokowi Seperti Lee Kuan Yew?

Mungkinkah Jokowi Seperti Lee Kuan Yew?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat dengan menggunakan AI.

Prediksi yang menyebut Jokowi akan tetap punya pengaruh dalam kekuasaan Prabowo Subianto – setidaknya dalam jangka waktu 1 tahun pertama – menjadi pergunjingan yang menarik di kalangan para pengamat politik. Transisi kekuasaan memang membuat Jokowi sebagai presiden pendahulu masih akan punya pengaruh pada hampir semua pos jabatan pemerintahan, demikianpun dalam konteks informasi kenegaraan, intelijen, dan lain sebagainya. Selain itu, jika masih bisa mempertahankan pengaruh politik dan ketokohannya, Jokowi tentu masih akan dianggap sebagai salah satu sosok berpengaruh.


PinterPolitik.com

“And even from my sick bed, even if you are going to low me into the grave, but when I feel something is going wrong, I’ll get up”. Demikian potongan pidato Perdana Menteri pertama Singapura, Lee Kuan Yew, pada tahun 1989. Ini adalah momen setahun sebelum ia memutuskan mundur dari jabatan tertinggi di Singapura itu.

Kata-kata Lee Kuan Yew yang disambut tawa dan tepuk tangan para tokoh politik, elite dan masyarakat Singapura ini sebetulnya menggambarkan kebesaran sosok yang membawa kemajuan bagi negeri kepala singa itu. Ini menunjukkan dedikasi besar seorang negarawan yang berjuang membangun Singapura dari salah satu negara termiskin di dunia dengan pemukiman kumuh di mana-mana, menjadi salah satu negara terkaya di dunia.

Lee Kuan Yew menyebutkan bahwa jika ia tak lagi menjabat, meski sudah jadi pesakitan yang terbaring di tempat tidur, ia akan bangkit dan berkontribusi ketika ada hal yang tidak beres terjadi pada Singapura. Bahkan, jika ia sudah dikubur pun, jika ia merasa ada yang tidak beres, ia akan bangkit dari liang lahat. Tentu yang terakhir ini hanya bercandaan.

Namun, kata-kata itu menggambarkan bagaimana warisan pembangunan Singapura yang sudah dirintis selama bertahun-tahun akan berusaha untuk terus dijaga keberlangsungannya. Ini sekaligus jadi pembuktian kebesaran seorang Lee Kuan Yew dan berpengaruhnya sosok yang menjabat Perdana Menteri Singapura sejak tahun 1959 itu.

Kini, kata-kata Lee Kuan Yew ini menarik untuk direfleksikan dalam diri Presiden Jokowi. Mampukah Jokowi berkata: “Jika ada yang tidak beres dengan negara ini, maka saya akan bangkit meskipun dari tempat tidur dalam kondisi sakit, ataupun dari dalam liang kubur”? Pertanyaan ini penting mengingat secara power politik, Jokowi masih sangat kuat meski telah ada di ujung kekuasaannya.

Akankah Jokowi Tetap Berpengaruh?

Untuk memahami apakah Jokowi akan tetap berpengaruh setelah tidak lagi menjabat, kita bisa belajar dari sosok seperti Lee Kuan Yew di Singapura. Lee, pendiri modern Singapura, tetap memiliki pengaruh besar meskipun secara resmi tidak lagi memegang jabatan tertinggi sejak 1990.

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Pengaruh Lee tetap terasa karena ia tidak hanya membangun sistem politik yang stabil, tetapi juga meninggalkan jaringan kekuasaan yang kuat, baik melalui kader-kader politik maupun lembaga negara yang berfungsi dengan baik.

Faktor kunci dalam mempertahankan pengaruh pasca-jabatan adalah institutionalization dari pengaruh politiknya. Lee Kuan Yew berhasil melakukannya melalui Partai Aksi Rakyat (People’s Action Party atau PAP) yang terus berkuasa dengan mayoritas, serta melalui visi pembangunan nasional yang disepakati secara luas oleh elite politik dan masyarakat Singapura. Hal ini membuat Lee bisa tetap memberikan arahan kebijakan secara tidak langsung bahkan setelah pensiun.

Pertanyaannya, apakah Jokowi memiliki institutionalization serupa? Jokowi dikenal bukan sebagai tokoh partai yang kuat. Relasi Jokowi dengan PDIP hampir pasti punya nuansa negatif. Peluang untuk itu hanya bisa terjadi pada Golkar yang oleh banyak pihak disebut-sebut telah menjadi “partainya” presiden.

Meskipun demikian, Jokowi tetap membutuhkan jabatan sentral di Golkar. Hal ini baru akan terlihat pasca ia tak lagi menjabat. Kemudian selain Golkar, jaringan relawan Jokowi juga sudah sangat luar. Jika ini mampu diinstitusionalisasi, maka bukan tidak mungkin pengaruh Jokowi akan tetap ada.

Lalu, faktor lain soal apakah Jokowi tetap berpengaruh setelah pensiun adalah hubungan dan dinamika antara dirinya dan Prabowo Subianto, presiden yang akan menggantikannya. Relasi Jokowi dan Prabowo selama ini cukup menarik. Setelah rivalitas sengit dalam dua pemilu, Jokowi mengambil langkah mengejutkan dengan memasukkan Prabowo ke kabinet sebagai Menteri Pertahanan. Langkah ini tidak hanya meredakan ketegangan politik, tetapi juga memperkuat posisi Jokowi sebagai pemimpin yang inklusif dan pragmatis.

Namun, dengan terpilihnya Prabowo sebagai presiden, dinamika kekuasaan bisa berubah. Ada dua skenario yang mungkin terjadi.

Pertama, Prabowo mungkin merasa berhutang budi pada Jokowi atas kesempatan yang diberikan selama menjadi menteri – pun karena dukungan Jokowi untuk pemenangan serta pencalonan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres Prabowo – sehingga ia akan memberikan ruang bagi Jokowi untuk tetap berpengaruh, mirip seperti hubungan mentor-mentee.

Kedua, Prabowo dapat memutuskan untuk mendominasi panggung politik dengan caranya sendiri, meminggirkan pengaruh Jokowi agar dapat sepenuhnya mengontrol arah pemerintahan.

Pentingnya menjaga keseimbangan relasi antara Jokowi dan Prabowo mengacu pada teori elite theory dari Vilfredo Pareto, yang menyatakan bahwa sirkulasi elite adalah hal yang tak terhindarkan dalam politik. Pareto menjelaskan bahwa elite baru sering menggantikan elite lama, namun terkadang elite lama masih dapat bertahan melalui kompromi atau kolaborasi.

Baca juga :  Verrell, Esetetika Kuasa dan Fatamorgana?

Dalam konteks Jokowi dan Prabowo, meskipun secara formal Prabowo mungkin akan menjadi pemimpin baru, apakah Jokowi tetap menjadi bagian dari elite yang berpengaruh akan bergantung pada bagaimana mereka mengelola hubungan ini.

Kekuasaan Politik dan Jaringan Ekonomi

Pengaruh pasca-jabatan juga sering kali terkait erat dengan bagaimana mantan pemimpin mengelola jaringan politik dan ekonomi. Jokowi selama ini dikenal dekat dengan sejumlah pengusaha besar di Indonesia, termasuk konglomerat yang mendukung program-programnya. Hubungan ini memberikan Jokowi kekuatan politik yang tidak langsung, sebab dukungan dari para konglomerat dapat memengaruhi kebijakan ekonomi pemerintah, bahkan setelah ia tidak lagi berkuasa.

Dependency theory dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini. Dalam teori ini, aktor-aktor politik tertentu sering kali bergantung pada kekuatan ekonomi yang lebih besar untuk menjaga stabilitas dan kekuasaan mereka. Dalam konteks Indonesia, para pengusaha besar yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Jokowi mungkin akan terus mendukung mantan presiden ini agar kepentingan bisnis mereka tetap terjaga, bahkan ketika Prabowo memegang kendali pemerintahan.

Selain itu, Jokowi juga memiliki pengaruh yang signifikan di level lokal, terutama dengan jaringan birokrat dan politisi daerah yang sering kali melihatnya sebagai pemimpin yang bisa diandalkan. Jaringan ini bisa menjadi modal politik yang berharga bagi Jokowi jika ia ingin tetap terlibat dalam menentukan arah kebijakan, terutama di sektor infrastruktur dan pembangunan daerah.

Jika demikian, dari semua faktor yang ada dan berkaca dari kondisi kekinian, akankah Jokowi tetap berpengaruh atau justru perlahan-lahan melemah?

Jika kita merujuk pada model Lee Kuan Yew, Jokowi tampaknya belum memiliki struktur yang cukup kuat untuk bertahan sebagai figur sentral politik secara langsung. Apabila Jokowi berhasil “menguasai” Golkar, maka cerita yang berbeda-lah yang akan terjadi.

Kemudian, relasi dengan Prabowo akan menjadi faktor kunci. Jika Prabowo membuka ruang untuk kolaborasi, pengaruh Jokowi akan bertahan lebih lama. Namun, jika Prabowo memutuskan untuk mengonsolidasikan kekuasaannya sendiri, Jokowi mungkin akan kehilangan sebagian besar pengaruh politik formalnya, meskipun ia masih memiliki daya tawar di kalangan birokrat dan pengusaha.

Pada akhirnya, sirkulasi kekuasaan memang tak terhindarkan. Apakah Jokowi akan bertahan sebagai figur berpengaruh atau justru melemah akan sangat bergantung pada kemampuan politiknya untuk terus relevan di tengah lanskap politik yang berubah. Mari kita tunggu, akankah Jokowi punya nyali untuk bilang: “And even from my sick bed, even if you are going to low me into the grave, but when I feel something is going wrong, I’ll get up”. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.