HomeHeadlineSeret Luhut dan Para Jenderal, Ganjar Frustasi?

Seret Luhut dan Para Jenderal, Ganjar Frustasi?

Kecil Besar

Manuver agresif Ganjar Pranowo yang menyindir tiga purnawirawan jenderal sekaligus, yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Agum Gumelar, dan Wiranto karena mendukung Prabowo Subianto agaknya merupakan strategi politik yang cukup riskan dan menjurus berbahaya. Mengapa demikian?


PinterPolitik.com

Agresif, begitu kiranya frasa yang tepat untuk menggambarkan manuver capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo saat cukup bernyali untuk menyentil tiga purnawirawan jenderal sekaligus, yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Agum Gumelar, dan Wiranto karena mendukung pencapresan Prabowo Subianto.

Sentilan Ganjar sendiri berlatar belakang tiga nama yang notabene merupakan bagian dari Dewan Kehormatan Perwira (DKP) pada tahun 1998 itu adalah sosok yang memecat Prabowo terkait Peristiwa 1998.

“Bahkan satu lagi mengatakan, ‘hey pensiunan TNI, Anda bodoh kalau milih orang yang kita pecat’. Dan tiga-tiganya orang yang ngomong itu sekarang berada pada kubu di sana,” begitu salah satu petikan sentilan Ganjar dalam sebuah agenda pada hari Rabu, 7 Februari kemarin lusa.

Ganjar pun seolah begitu emosional dengan mengeluarkan kata seperti โ€œmencla-mencleโ€ hingga โ€œdarah mendidihโ€ dalam untaian orasinya itu.

Para jenderal legenda hidup angkatan bersenjata Indonesia itu tentu tak senang. Wiranto, misalnya, yang mengutarakan narasi mengenai esensi realisme dalam politik.

Wiranto, yang merupakan Panglima ABRI saat Peristiwa 1998, menyebut Ganjar tak memahami esensi politik yang begitu dinamis.

elektabilitas turun pemilih ganjar ke mana

Tak hanya soal sentilan kepada tiga jenderal, Ganjar juga sangat vokal turut serta dalam narasi menyudutkan Prabowo, hingga pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski ironisnya, parpol asal Ganjar, yakni PDIP, adalah bagian dari pemerintah selama dua periode.

Soal pelanggaran HAM, Ganjar mengungkit bahwa lima tahun lalu Jokowi pernah mengingatkan untuk tidak memilih capres yang memiliki โ€œpotonganโ€ diktator, otoriter, dan rekam jejak pelanggaran HAM.

Sementara itu, di konteks lain, Ganjar seolah menumpang gelombang kritik dengan mendukung sikap beberapa sivitas akademika yang menilai penyelenggara negara saat ini menyimpang dari prinsip moral hingga demokrasi

Kembali, satu hal yang menarik adalah manuver Ganjar dilakukan begitu agresif dan seolah tak acuh terhadap posisi politik PDIP sebelumnya, maupun rekam jejak dirinya sendiri, seperti sorotan minor HAM dalam kasus Wadas dan Kendeng.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Lalu, pertanyaannya, mengapa Ganjar melakukan โ€œseranganโ€ itu?

Ganjar-PDIP Frustasi?

Paling tidak, terdapat tiga analisis interpretasi mengenai agresivitas Ganjar belakangan ini.

Pertama, tampaknya terdapat momentum ganda di balik serangan dan narasi Ganjar yang begitu aktif. Dari segi timing plus locus politik, sentilan kepada tiga purnawirawan jenderal dilakukan di hadapan Persatuan Purnawirawan Polri (PP Polri).

Sebagaimana latar belakang Ganjar yang juga merupakan seorang anak polisi, hal ini kiranya bisa diartikan sebagai persuasi sosiopolitik dengan elemen purnawirawan Polri secara langsung dan Polri โ€œsecara tidak langsungโ€.

Kendati netralitas pasti mutlak dijunjung tinggi oleh TNI maupun Polri, isu seputar mempertanyakan keberpihakan aparat yang berkembang selama kampanye Pilpres 2024 agaknya menjadi perhatian tersendiri bagi Ganjar.

Hal itu pun seolah berkelindan dengan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebelumnya yang juga menyinggung soal larangan intimidasi TNI-Polri kepada rakyat dalam orasi politik kampanye PDIP.

Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa beberapa purnawirawan Polri yang masih memiliki pengaruh pun memiliki romansa tersendiri dengan Megawati dan PDIP. Bahkan, tak berlebihan jika disebut sebagai loyalis Presiden ke-5 RI itu.

Kedua, terkait sentilan ke tiga jenderal, Ganjar kiranya sedang memainkan memory war atau โ€œperang ingatanโ€, yakni menggugah kembali interpretasi atau memorialisasi suatu peristiwa sejarah yang memiliki perbedaan persepsi dalam memori kolektif.

Konteks memory war sendiri lumrah digunakan dalam perang sebagai salah satu strategi untuk meyakinkan kembali alasan bertempur sekaligus mendiskreditkan musuh.

Tak hanya itu, memory war juga merupakan bagian dari chaos strategy untuk menciptakan manipulasi persepsi bahwa sikap dan keputusan tiga purnawirawan jenderal dalam mendukung Prabowo itu buruk. Lebih lanjut, hal ini disebut sebagai dehumanizing the enemy.

Lalu, di titik ini, poin โ€œmeyakinkan kembali alasan bertempurโ€ menjadi menarik karena Ganjar dan barisan pendukungnya seolah sangat membutuhkan gebrakan untuk keluar dari keterpurukan. Mengapa demikian?

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity
ganjar di zona degradasi

Ganjar-PDIP Takut Hancur Total?

Elektabilitas yang terus terpuruk kiranya menjadi perhatian kubu 03, termasuk Ganjar secara personal.

Memasuki akhir tahun 2023, elektabilitas Ganjar-Mahfud yang sebelumnya ada di urutan kedua di bawah Prabowo-Gibran, turun menjadi juru kunci berdasarkan sejumlah lembaga survei.

Jika urutan ketiga adalah hasil akhir Pilpres 2024, dan membuat Ganjar-Mahfud tersingkir (jika dua putaran), kalkulasi langkah politik berikutnya akan menjadi rumit. Ditambah, reputasi PDIP tentu akan tercoreng.

Dan Ganjar, menjadi satu-satunya aktor dan ujung tombak yang relevan dan memang seharusnya menyampaikan narasi tegas sebagai gebrakan untuk menarik perhatian pemilih.

Selain menyenggol tiga jenderal, Ganjar yang turut menarasikan kritik kepada pemerintah Presiden Jokowi, kiranya juga berusaha untuk mencuri perhatian dan suara duet Anies-Imin.

Di tengah skenario mengambil ceruk massa pendukung Prabowo-Gibran bukan lah menjadi opsi di tengah kecanggungan politik dengan Jokowi dan trahnya, Ganjar dan PDIP kiranya memang lebih ideal untuk merebut massa 01.

Kendati demikian, agresivitas Ganjar kemungkinan membuat posisi politik PDIP menjadi riskan untuk menyongsong periode politik 2024-2029 andai mereka benar-benar tak menang.

Lalu, mengacu pada janji rangkulan dan persatuan yang selalu digaungkan Prabowo, intermezo yang sedikit serius kiranya muncul di meja analisis.

Itu tak lain adalah kemungkinan bahwa Ganjar, PDIP, dan koalisinya menyadari bahwa jika Prabowo sebagai kandidat terkuat saat ini menang sebagai RI-1, โ€œsejahatโ€ apapun narasi yang dimunculkan, terdapat kemungkinan mereka tetap akan dirangkul.

Atau, terdapat dramaturgi politik tertentu yang berbeda antara panggung depan dan panggung belakang terkait Pilpres 2024 dan probabilitas politik ke depannya yang belum khalayak lihat.

Well, tentu akan sangat menarik menantikan manuver agresif Ganjar lainnya jelang Pilpres 2024 yang tak sampai satu minggu lagi, termasuk hasil akhirnya nanti. (J61)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?