HomeNalar PolitikTaktik Lihai Putin Basmi Musuhnya

Taktik Lihai Putin Basmi Musuhnya

Kecil Besar

Yevgeny Prigozhin, pemimpin Wagner Group yang pada 24 Juni silam melakukan pemberontakan terhadap Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia masih dibiarkan bebas oleh Presiden Vladimir Putin. Mengapa Putin yang kerap dianggap sebagai strongman seakan membiarkan Prigozhin?


“Appear weak when you are strong, and strong when you are weak,” Sun Tzu, strategis & filsuf Tiongkok

PinterPolitik.com

Buat kalian para penggemar franchise Star Wars, sepertinya ada kabar gembira. Sebentar lagi serial Ahsoka bakal tayang di layanan streaming film, Disney Hotstar. 

Serial ini sudah lama ditunggu-tunggu karena akhirnya membawa cerita tentang anak didik dari Anakin Skywalker – alias Darth Vader – ke ranah live action untuk pertama kalinya. Sebelumnya, cerita tentang Ahsoka hanya dikisahkan melalui animasi, padahal karakternya sangat menarik untuk dieksplorasi.

Well, pada dasarnya cerita apapun tentang dunia Star Wars memang selalu menjadi kabar besar, bukan hanya untuk fansnya, tapi juga untuk para penggemar genre film sains fiksi secara keseluruhan. Tidak bisa disalahkan juga, film-film Star Wars kerap membawa pesan moral yang sangat menarik. Salah satunya adalah cerita tentang pahitnya pengkhianatan politik ketika Galatic Republic dikudeta oleh pasukan Chancellor Palpatine, yang kemudian mengubah Republic menjadi Galactic Empire

Tentunya, premis cerita pengkhianatan besar tersebut terinspirasi dari fenomena-fenomena dunia nyata, khususnya dalam dunia politik dan pemerintahan.

Dan belakangan ini, sepertinya cerita pengkhiatan negara ala Star Wars hampir terjadi di negara dengan luas wilayah paling besar di dunia: Rusia. Yap, bulan lalu, tepatnya pada tanggal 24 Juni 2023, dunia dihebohkan oleh berita tentang pemberontakan yang dilakukan perusahaan militer Rusia bernama Wagner Group. Pasukan yang dipimpin oleh pentolan mereka yang bernama Yevgeny Prigozhin tersebut bahkan diketahui hampir berjalan menuju ibu kota Moskow untuk melancarkan aksi pemberontakan. 

Namun, hal paling menarik dari pemberontakan Wagner yang hanya seumur jagung tersebut adalah misteri besar kenapa Prigozhin hingga saat ini tidak diadili oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Padahal, hal yang dilakukan Prigozhin bisa dianggap sudah “meremehkan” rezim Putin. 

Pasalnya, sebelum pemberontakan ini, dunia menyangka tidak ada pejabat di Rusia yang berani melawan Putin. Akan tetapi, Prigozhin membuktikan bahwa mungkin kekuasaan Putin tidak sekuat yang dikira orang-orang.

Namun, setelah pemberontakan selesai, alih-alih dihukum keras, Prigozhin malah hanya dipindahkan ke Belarus, dan bahkan beberapa hari lalu sempat terlihat kembali di Rusia saat ia menghadiri pertemuan di Kota St. Petersburg.

Lantas, kenapa Prigozhin seakan terlihat “diloloskan” begitu saja oleh seorang strongman seperti Putin?

image

Wagner Sebagai Umpan Putin?

Politik pada dasarnya adalah alat manusia untuk menggunakan kekuasaan. Oleh karena itu, meskipun secara rasional ada beberapa hal dalam politik yang seharusnya terjadi, tetapi kenyataannya tidak terjadi, bisa jadi itu karena memang tidak dikehendaki oleh orang yang paling berkuasa.

Baca juga :  IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pandangan ini bisa menjadi kecurigaan terbesar kita tentang mengapa Putin sampai saat ini tidak mempersekusi Prigozhin secara keras. Cukup kuat dugaannya pemberontakan yang dilakukan Prigozhin adalah semacam “konspirasi” antara dirinya dengan the most powerful man in Russia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Putin itu sendiri.

Here’s why this is interesting. Setelah pemberontakan 24 Juni 2023, melansir dari beberapa kantor berita Rusia, setidaknya ada 6 orang yang pernah berhubungan dengan politik di Rusia, meninggal secara misterius. Mereka terdiri dari pejabat, mantan pejabat, jaksa, dan istri dari keluarga politisi.

Kematian yang paling menarik adalah Anton Cherepennikov, pemimpin perusahaan IT terbesar di Rusia, ICS Holding. Ia ditemukan meninggal secara mendadak di dalam kantornya pada tanggal 22 Juli 2023. Yang membuat kematiannya menarik, menurut badan intelijen Rusia (FSB), ICS Holding diketahui sebagai perusahaan yang memiliki kemampuan untuk memantau obrolan online para warga Rusia. Yess, ini adalah perusahaan yang cukup kuat.

Tentu kematian Anton bukan satu-satunya yang layak untuk kita simak. Pasalnya masing-masing korban kematian  lainnya juga diketahui memiliki pengaruh bisnis dan politik yang cukup besar di Rusia. Bahkan, besar kemungkinannya jumlah pejabat atau pebisnis yang mati di Rusia pasca pemberontakan justru lebih besar karena terbatasnya akses informasi terhadap keadaan politik di sana.

Meskipun ini hanya dugaan semata, tapi bisa saja, kematian enam orang itu berkaitan dengan asumsi bahwa pemberontakan Wagner yang terjadi pada 24 Juni 2023 silam adalah konspirasi yang didesain oleh Prigozhin dan Putin untuk memprovokasi orang-orang yang tidak puas dengan pemerintahan Rusia saat ini. 

Hal ini menjadi lebih masuk akal bila kita mengingat Prigozhin adalah orang yang sangat dekat dan bahkan berutang “kehidupan” pada Putin. Perlu diingat bahwa sebelum mengenal Putin, Prigozhin hanya seorang pebisnis biasa. Sekitar 20 tahun lalu, ketika dirinya bertemu Putin, Prigozhin diketahui adalah seorang pemilik restoran hotdog. Tapi, karena memiliki interaksi yang cukup intens, Putin akhirnya membawa Prigozhin ke politik dan juga membantunya menjadi salah satu pebisnis besar di Rusia.

Kalau kita kaitkan hal ini dengan pertanyaan kenapa Prigozhin tidak dipersekusi Putin, tentu sepertinya masuk akal saja, bukan?

Bila kita bercermin pada 36 Stratagems yang merupakan esai soal strategi dalam perang dan politik dari Tiongkok pada abad ke-6 M, hal yang dilakukan Putin dan Prigozhin bisa jadi adalah sebuah strategi yang disebut stomp the grass to scare the snake. Makna dari strategi ini adalah, jika kita ingin mengetahui di mana musuh kita, maka kita bisa membuat mereka menunjukkan dirinya dengan melempar provokasi. 

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Ibarat di dunia sekolahan, kita bisa melaporkan teman-teman mana yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan mengatakan bahwa kita juga tidak mengerjakan PR. Awalnya kita melempar janji palsu bahwa kita bersama-sama tidak akan bilang-bilang pada guru.

Kemudian, mungkin ada satu pertanyaan lagi yang perlu kita jawab. Kalau memang konspirasi ini benar, kenapa Putin rela dicemooh dunia? Bukankah itu buruk untuk citranya sebagai seorang strongman anti-Barat?

image 1

Putin Belajar dari Sun Tzu?

Seperti yang ditulis di awal tulisan ini, ada satu pepatah dari strategis sekaligus filsuf Tiongkok, Sun Tzu yang menarik untuk kita renungkan bersama, yakni: “Tampil lemah saat Anda kuat, dan kuat saat Anda lemah.”

Bisa jadi, Putin sebetulnya melakukan persis apa yang dikatakan Sun Tzu. Mungkin, negatifnya citra Putin adalah sesuatu yang tidak masalah dibayarnya demi menjauhkan fokus dunia pada ancaman dirinya. Karena seperti yang kita tahu, semenjak Rusia melaksanakan serangannya pada Ukraina pada Februari 2022, Putin kerap digambarkan sebagai ancaman terbesar dunia oleh media-media Barat.

Namun, setelah berita pemberontakan Wagner menyebar ke seluruh dunia, opini publik terhadap Putin yang demikian bisa berubah 180 derajat. Peristiwa itu menjadi cemoohan terbesar dari negara-negara Barat terhadapnya, mungkin selama dua tahun terakhir. Dengan menciptakan citra yang demikian, negara-negara Barat bisa saja merendahkan ekspektasinya pada ancaman Rusia dan di saat yang bersamaan juga menurunkan upaya yang berlebihan untuk mengekangnya.

Menariknya, kita di Indonesia pun sepertinya bisa belajar banyak dari hal ini. Di dalam politik, tentu perhatian publik adalah hal yang sangat penting. Akan tetapi, daya tarik yang terlalu besar juga dapat membuat kita dijegal sebelum bertanding. 

Oleh karena itu, alih-alih hanya fokus pada tokoh-tokoh dan partai-partai besar yang sekarang populer, kita pun perlu memperhatikan tokoh dan partai lain yang selalu stagnan di bawah bayangan, karena bisa jadi mereka menyimpan kejutan, katakanlah untuk Pemilihan Umum 2024 nanti.

Well, pada akhirnya, semua hal ini membuat kita sadar bahwa politik adalah dunia yang penuh dengan ilusi dan tipu muslihat. Dengan demikian, ada baiknya kita semua selalu berusaha mencari tahu makna yang sebenarnya di balik sebuah berita yang sedang viral. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan “ijazah birokrat” otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing