HomeBelajar PolitikPulau Run, Roda Kecil Manhattan

Pulau Run, Roda Kecil Manhattan

Kecil Besar

Pulau Run yang terletak di daerah Banda, Indonesia Timur, sangat kontras bila disandingkan dengan Manhattan di New York. Padahal, berkat pala dan rempah-rempah dari pulau kecil inilah roda-roda Manhattan berjalan dan bertahan.


PinterPolitik.com 

 

[dropcap size=big]A[/dropcap]roma sedap rempah-rempah menyeruak di gelaran Indonesian Street Festival, yang berlokasi di daerah Madison Avenue, New York, pada 26 Agustus 2017 lalu. Festival yang disesaki pengunjung tersebut, tahun ini mengusung tema ‘Kepulauan Rempah-Rempah’ sebagai daya tarik utamanya. Namun, tak banyak yang tahu jika Pulau Run di Indonesia merupakan titik vital distribusi rempah-rempah di daratan Amerika Serikat, terutama di Manhattan, New York.

Pulau Run adalah pulau terpencil di bagian Timur Indonesia yang menyimpan harta berharga seperti, biji pala, cengkeh, dan rempah-rempah tradisional lainnya. Bahan-bahan ‘eksotis’ inilah yang menarik pendatang dari Eropa dan Amerika Serikat ke Pulau Run.

Hubungan antara Pulau Run dengan New York, tak terjadi tanpa adanya Perjanjian Breda. Perjanjian damai antara Belanda dan Inggris ini, berisi kesepakatan agar Inggris menukar Pulau Run yang kaya pala dan cengkeh dengan Pulau Manhattan, yang diduduki Belanda di abad ke-17. Pada 31 Juli 2017 lalu, tepat 350 tahun usia Perjanjian Breda. Maka dari itu, Indonesian Street Festival di New York mengangkat sejarah hubungan Kepulauan Rempah-Rempah dengan Manhattan.

Foto: Stephani Tangkilisan

Pertukaran rempah-rempah dan bumbu eksotis melalui Perjanjian Breda lekat dengan darah dan peperangan. Sejarah itu tak luput di mata Konsul Jenderal RI untuk New York, Abdul Jailani. “Pengaruh pertukaran pulau dan distribusi pala itu membuat Indonesia semakin tak berdaya dan miskin. Orang Eropa datang ke Indonesia hanya untuk rempah-rempah. Dan saat itu memang tak ada hal yang dapat dijual selain pala,” ujarnya.

Pulau Rempah dan Sejarah yang Bergejolak

Sejak tahun 1600-an, menurut sejarawan kuliner Michel Krondl, Kepulauan Banda yang berada di Maluku dan bagian dari Pulau Run,  merupakan satu-satunya sumber pala di dunia. Dibandingkan dengan masa modern saat ini, biji pala saat itu, sama mewahnya bila dengan iPhone. Pala juga menjadi status simbol yang menunjukan kekayaan seseorang, selain juga dimanfaatkan sebagai bahan baku memasak dan kepentingan medis.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Pada saat itu, masih menurut Krondl, pelaku perdagangan rempah-rempah di dunia masih sangat sedikit. Melihat kesempatan pasar tersebut, kolonial Belanda memutuskan memonopoli penjualan pala. “Cara pihak Belanda melakukan monopoli pala adalah dengan memaksa penduduk lokal menjual hasil bumi hanya kepada mereka. Jika melanggar, mereka tak segan membunuh atau mendeportasi warga Kepulauan Banda.”

Di tahun 1621, dengan bantuan tentara Jepang dan ‘kombinasi suap serta pembunuhan brutal’, Belanda ‘memburu’ 15,000 penduduk untuk ditangkap dan dibunuh. Sementara 1.000 jiwa sisanya, dijual dan dijadikan budak. “Bagian kepala dari penduduk Banda yang dieksekusi, ditancapkan pada bambu untuk selanjutnya ‘dipajang’.” Pernyataan Krondl tersebut tertulis dalam buku The Taste of Conquest: The Rise and Fall of the Three Great Cities of Spices.

Perjanjian Breda versi Inggris (foto: Stephani Tangkilisan)

Seiring berjalannya waktu, Belanda memerlukan strategi baru untuk memonopoli komoditas lainnya, yakni tebu. Untuk mencapai tujuannya, Belanda menerbitkan ‘kesepakatan dagang’ dengan Inggris melalui Perjanjian Breda. Dengan Perjanjian Breda itulah, Suriname sebagai lumbung tebu yang dikuasai Inggris, ‘direbut’ oleh Belanda. Namun di tahun 1781, Suriname berhasil kembali direbut oleh Inggris, dan tak membiarkan Belanda ‘mengganggu’ lagi.

Pulau Run Hari Ini

Kini, bekas-bekas monopoli Belanda tercetak melalui benteng dan bangunan tua yang berjejer di tanah Pulau Run. Krithika Varagur, jurnalis Amerika yang berkorespondensi di Indonesia, melakukan perjalanan ke Kepulauan Run pada Juli 2017 lalu. Lewat laporan Varagur, pulau terpencil ini hanya diduduki oleh 500 penduduk dan hanya memiliki akses listrik selama lima jam perhari.

Dalam akses listrik yang sangat terbatas itu, sulit membayangkan aliran internet memasuki Pulau Run. Tak banyak pula penduduk yang tahu tentang kesepakatan dagang antara Manhattan dengan Run, kalaupun ada penduduk yang tahu, mereka tak dapat membayangkan rupa Manhattan hari ini.

Namun begitu, sama halnya seperti milenial New York, anak-anak muda Pulau Run juga memiliki akun media sosial Facebook. Bedanya, untuk mengakses internet dan membuka Facebook, mereka terlebih dahulu harus naik kapal feri ke warnet di Banda.

 

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Kontrasnya Pulau Run dan Manhattan tak berhenti di sana. Populasi penduduk Pulau Run dihuni 500 jiwa sementara Manhattan mencapai 1,6 juta jiwa. Lalu akses keluar masuk Pulau Run yang hanya bisa dicapai melalui transportasi laut, sementara Manhattan bisa dicapai baik melalui laut maupun udara. Di malam hari, Pulau Run harus gelap gulita, sementara Manhattan tetap semarak dengan kelip lampu dari bangunan pencakar langit setiap saat.

Foto: istimewa

“Manhattan adalah kota yang tak pernah tidur, sementara Run tidur setiap saat,” jelas Varagur. “Penduduk beristirahat di beranda rumah, sementara anjing bahkan ‘menggeletak’ santai di tengah jalan,” ujar Varagur.

Keceriaan Festival Jajanan Indonesia berkejaran dengan energi Manhattan. Ratusan orang menyemut di berbagai titik stand makanan Indonesia. Tak lupa pertunjukan kesenian tradisional Indonesia, seperti tarian dari Bali, Jawa, hingga Papua, juga disughkan sehari penuh.


Indonesian Street Festival, New York ditutup dengan penampilan Glenn Fredly, penyanyi tanah air yang lahir dan tumbuh di Indonesia Timur, di mana Pulau Run bertitik. Glen menyampaikan apresiasi mendalamnya bagi warga yang berasal dari Indonesia Timur, dan mengakhiri aksinya di panggung dengan lagu ‘Rame-Rame/Timur’ sebagai undangan kepada khalayak untuk mengunjungi Indonesia Timur.

(Stephani Tangkilisan/Columbia School of Journalism- Senior Writer of PinterPolitik.com)

Tulisan asli dapat dilihat di sini

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....