HomeBelajar PolitikTrah Soekarno, Trah Jokowi: Good Bye, Mega?

Trah Soekarno, Trah Jokowi: Good Bye, Mega?

Kecil Besar

Tepat seminggu lalu, Agus Harimurti Yudhoyono mengadakan peresmian The Yudhoyono Center. Ada yang menarik dalam perhelatannya, yaitu kehadiran ketiga klan Soekarno, yakni Guruh Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri di sana. Apa maksud di balik kehadiran mereka?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]S[/dropcap]uasana di Djakarta Theater meriah dan gagap gempita pada Malam Kamis (10/8) lalu. Penampakan beberapa tokoh politik penting juga mengisi Ballrom tempat putera tertua Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya. Di urutan terdepan, terlihat keluarga Yudhoyono dan sang besan, Hatta Rajasa duduk.

Di pojok lainnya, terlihat pula sosok Guruh, Sukmawati, dan Rachmawati, yang tak lain dan tak bukan, adalah saudara kandung Megawati. Kehadiran mereka dalam acara peresmian The Yudhoyono Institute sempat membuat beberapa mata terbelalak dan bertanya-tanya sendiri. Apa makna di balik kedatangan ketiga adik Megawati ini dalam peresmian The Yudhoyono Institute?

Keretakan dan Keberpihakan

Keretakan hubungan yang terjadi dalam klan putra putri Soekarno dari istrinya Fatmawati, memang sudah menjadi rahasia publik. Terhitung sejak memutuskan terjun ke dunia politik di tahun 1980-an, hubungan persaudaraan mereka terasa dingin dan cenderung tak ramah satu sama lain. Sikap tersebut tak hanya terlihat dalam relasi personal keluarga, tetapi juga keberpihakan politik.

Rachmawati misalnya, saat ini dengan gamblang mengambil posisi bersama Prabowo dengan bergabung dalam Partai Gerindra sejak 2015 silam. Sementara Sukmawati pernah terendus mendirikan PNI Marhaenisme sebagai tandingan PDIP. Sedangkan Guruh Soekarnoputra, dari awal memang sudah bergabung dengan PDIP. Hanya saja, dirinya tak pernah lagi terlihat bersama dan aktif dalam aktivitas politik baik bersama PDIP maupun Megawati.

Foto: istimewa

Memiliki kesamaan aspirasi akan sikap yang tak ‘akrab’ dengan sang kakak, bisa menjadi satu alasan yang masuk akal bagi mereka untuk mendukung SBY dengan hadir dalam peresmian The Yudhoyono Institute. Tak ada alasan pula bagi mereka untuk tak hadir dalam undangan.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Bagi Guruh, Sukma, dan Rachma, menampilkan diri pada perhelatan peresmian The Yudhoyono Institute adalah sikap paling ‘tebal’ untuk menunjukan arah berseberangan dengan Megawati. Bahkan Guruh yang jarang tampil di media, turut hadir. Dengan demikian, isu keterbelahan dan keberpihakan ketiga trah Soekarno terhadap SBY dengan hadir dalam peluncuran The Yudhoyono Institute semakin menguatkan adanya kekontrasan yang ada.

Lalu bagaimana dengan Guntur Soekarnoputera, anak tertua Soekarno? Putera mahkota Soekarno satu ini adalah satu-satunya klan Soekarno yang menggenggam perkataannya untuk tak sama sekali terjun di dunia politik. Kematian ayahnya memukul dirinya cukup keras karena tokoh proklamator besar itu harus digulingkan oleh Soeharto dan dikungkung di Wisma Yaso, tanpa teman, bacaan, dan keluarga.

Trah Soekarno Trah Jokowi

Melihat nasib ayahnya yang menderita di akhir hidup akibat kudeta, membuat Soekarno menyampaikan kepadanya agar tak perlu terjun ke dunia politik. Hal itu diceritakan kembali oleh Guntur dalam Bung Karno, Bapakku, Kawanku, dan Guruku, jika keputusannya untuk tak berpolitik adalah sikap terbaik. Sebab menurutnya, itu pulalah yang membuat klan Soekarno bisa bertahan hidup di rezim Orde Baru.

Walaupun begitu, di antara kelima anak kandung Soekarno dari Fatmawati, banyak yang menilai sosok Guntur paling dekat dengan aura dan kharisma yang dimiliki Soekarno. Tak sedikit pula yang menggadang jika Guntur sebenarnya adalah sosok paling tepat yang harus terjun ke politik, bukannya Megawati, Rachma, Sukmawati, atau Guruh. Namun, banyaknya dugaan dan persepsi yang datang, tak pernah bisa benar-benar dibuktikan. Sebab, Guntur tak pernah terlihat melakukan orasi politik, ia juga sangat jarang memberi keterangan pada media sehingga rekamannya sulit ditemukan.

Puti Soekarno (foto: istimewa)

Bakat orasi Soekarno yang mampu menggerakan massa, bisa jadi benar-benar tak mengalir pada anak-anaknya, tetapi pada turunannya yang lain. Puti Soekarno, anak semata wayang Guntur sekaligus cucu Soekarno, terbukti memiliki kemampuan orasi yang mumpuni. Tak hanya sekedar jargon, Puti mampu membuat tiap patahan kata memiliki makna dan arti mendalam. Saat ini, Puti tercatat sebagai kader PDIP

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Megawati Bukan Satu-Satunya

Selama ini, Megawati dianggap sebagai satu-satunya aktor politik yang aktif dari trah Soekarno. Hal ini bisa jadi disebabkan karena posisinya yang menduduki jabatan sebagai Ketua Umum PDIP selama bertahun-tahun. Namun, pada kenyataannya, Megawati bukanlah satu-satunya keturunan Soekarno yang berpolitik.

Ketidakhadiran dirinya dalam peresmian The Yudhoyono Institute mungkin saja bisa dimaklumi beberapa pihak. Namun, dalam trah Soekarno, tiga dari lima anaknya sudah dengan gamblang mendukung SBY. Guntur yang seharusnya berpredikat sebagai putera mahkota, konsisten tak hadir karena sejak awal menghindari dunia politik. Dengan demikian, Megawati adalah satu-satunya yang masih keras hati memunggungi SBY.

Yang lebih penting lagi, tak hanya tiga trah Soekarno yang menunjukan keberpihakan. Presiden Jokowi juga sudah secara terbuka menerima SBY secara politis. Penerimaan Jokowi kepada Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka adalah buktinya. Sebelum acara resmi berlangsung, AHY hendak meminta restu dan dukungan kepada Jokowi. Ia mengutus Raka, secara informal, dan menjamunya. Setelah itu, Jokowi menemui Agus bersama dengan Raka.

foto: Antara

Sikap Jokowi dan juga tiga trah Soekarno, yakni Sukma, Guruh, dan Rachma, yang jelas memihak pada SBY, bisa jadi membuat Megawati tak ambil pusing. Dengan demikian, Megawati tak perlu heran jika di masa depan nanti, ia ditinggalkan Jokowi dan Guruh, sebagai salah satu kader PDIP karena masih berkeras hati dengan SBY. Di sisi lain, sikap Jokowi dan ketiga trah Soekarno tersebut, merupakan sinyal jika Megawati tak memiliki pilihan lain, selain terpaksa ikut membuka ‘hati’ kembali pada SBY. Bagaimana pendapatmu? (Berbagai Sumber)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....