HomeRuang PublikApa Kabar Citra Ganjar Setelah Konflik Wadas?

Apa Kabar Citra Ganjar Setelah Konflik Wadas?

Oleh Adisti Daniella Maheswari

Kecil Besar

Setelah kejadian Wadas, masihkah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mendapat kepercayaan publik? Seberapa besar pengaruh kasus ini terhadap elektabilitasnya untuk tahun 2024?


PinterPolitik.com

Belakangan, nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ramai diperbincangkan. Bukan, bukan tentang ramalan calon presiden 2024 โ€œinisial Gโ€, melainkan tanggapan Ganjar ihwal aparat yang mengamankan warga Desa Wadas, Selasa (8/2/20220). 

Ia mengimbau warga untuk tidak takut karena aparat datang hanya untuk mengukur lahan. Namun, nyatanya, terdapat setidaknya 64 warga ditangkap tanpa alasan yang jelas. Pernyataan Ganjar ini menuai kritikan dari masyarakat. 

Dalam infografis PinterPolitik, pengamat politik mengatakan bahwa pernyataan tersebut dianggap menihilkan situasi mencekam yang terjadi dan dirasakan langsung oleh para warga. Kontras juga turut mengkritik sikap Ganjar yang dianggap cacat logika. 

Nada serupa juga disampaikan oleh pengamat politik kondang, Rocky Gerung. Ia berkomentar bahwa sikap Ganjar atas kejadian di Desa Wadas ini akan memperlihatkan โ€œtabiat asliโ€ Ganjar sebagai seorang pemimpin daerah yang pro-rakyat atau tidak. 

Peristiwa yang menjadi sorotan publik ini tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah kejadian ini memengaruhi elektabilitasnya untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024? Seberapa besar pengaruhnya terhadap elektabilias Ganjar?Bagaimana ia akan mengembalikan citranya? Well, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita bahas!

Dalam ranah politik, khususnya ketika berdiskusi tentang nama-nama calon presiden, dikenal istilah elektabilitas. Elektabilitas merupakan tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan (Dendy Sugiono, 2008). 

Tak hanya untuk menilai seseorang, elektabilitas bisa diterapkan pada barang, jasa, dan juga partai politik. Elektabilitas sering diasosiasikan dengan popularitas. 

Keduanya saling berkaitan. Tanpa adanya elektabilitas dan hanya mengandalkan popularitas tidak akan cukup untuk membawa seseorang maju dalam pemilu. Sebaliknya, popularitas diperlukan oleh seorang yang sudah memiliki elektabilitas tinggi. Seseorang atau partai politik yang memiliki elektabilitas tinggi berarti memiliki daya pilih yang tinggi juga. 

Untuk mengetahui tingkat elektabilitas, biasanya dilakukan melalui survei dengan rakyat sebagai respondennya โ€“ mengingat elektabilitas seseorang ditentukan berdasarkan penilaian publik yang melihat citra serta kepopuleran mereka. Seseorang yang ingin meningkatkan elektabilitasnya biasanya mereka melakukan kampanye dan juga membangun citra politik yang baik supaya rakyat memiliki rasa simpati terhadap mereka.   

Popularitas dapat ditunjukkan dengan seringnya ia muncul di media, berada pada posisi strategis, dan juga karakter yang kuat dan positif. Ganjar bisa disebut memiliki aspek-aspek tersebut. 

Kepopulerannya dapat dilihat dari banyaknya komentar yang membanjiri laman media sosialnya. Ia juga kerap disorot media karena sering โ€œblusukanโ€ ke berbagai daerah. Bukti lain dari kepopuleran Ganjar Pranowo adalah seringnya publik menyeret namanya jika berbicara tentang calon RI 1 untuk 2024 mendatang. 

Selain popularitas, tinggi rendahnya elektabilitas dapat dilihat dari bagaimana ia mampu menyelesaikan suatu masalah secara efektif, dan juga citra politiknya di mata publik. Citra politik dapat dibangun melalui media massa maupun media sosial. 

Beberapa dekade lalu citra politik seseorang hanya dapat diperlihatkan melalui media massa seperti koran, siaran radio, maupun televisi. Seiring berkembangnya jaman, para politisi kini dapat membangun citranya sendiri melalui akun media sosial pribadi mereka. 

Di Indonesia sendiri, hampir seluruh poltisi dan pemimpin daerah memiliki akun media sosial untuk membagikan berbagai kegiatan agar publik dapat melihat kinerja mereka. Selain kemudahan dalam mengakses, media sosial juga menjadi cara jitu mereka untuk bisa berinteraksi dengan rakyat, khususnya mereka para generasi muda. 

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo merupakan satu dari politisi Indonesia yang memanfaatkan kemudahan akses media sosial untuk membangun citra politiknya. Ganjar kerap membagikan aktivitasnya saat bertemu dengan warga, kunjungan ke suatu daerah, atau bahkan sekedar mengunggah konten lucu di media sosial Instagram pribadinya. Dari sana, publik dapat melihat dan menilai bagaimana kinerja Ganjar sebagai gubernur dan apakah ia pantas menjadi calon presiden di 2024 nanti. 

Citra politik yang selama ini dia bangun boleh dibilang cukup berhasil menarik simpati publik terlihat dari hasil survei elektabilitasnya yang terus berada di posisi tiga besar. Sudah ada banyak hasil survei terkait elektabilitas nama-nama calon presiden Indonesia 2024 mendatang. 

Dalam rilis terbarunya (9 Januari 2022), hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan Ganjar Pranowo berada di peringkat tiga dengan angka 8,9 persen โ€“ bersanding dengan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Hasil survei Indopol Survey and Consulting pun menempatkan Ganjar di posisi kedua setelah Prabowo Subianto dengan perolehan 17,15 persen. 

Namun, seperti kata pepatah, โ€œnila setitik, rusak susu sebelanga,โ€ kejadian di Wadas belakangan ini membuat citra politiknya bisa jadi terancam. Sikapnya melalui imbauan kepada warga Wadas untuk โ€œtidak perlu takutโ€ dianggap meniadakan situasi kondisi yang benar-benar terjadi di sana dan mengabaikan keselamatan warga. 

Banyak yang menyayangkan sikapnya ini โ€“ mulai dari para aktivis, pengamat politik, sampai masyarakat secara umum mengkritik pernyataan kontoversional gubernur Jawa Tengah tersebut. 

Meskipun Ganjar sudah melayangkan permintaan maaf dan berkunjung langsung ke Desa Wadas tetapi tampaknya itu belum cukup untuk mengembalikan citranya โ€“ terbukti dengan pernyataan warga Desa Wadas yang tidak menerima permintaan maaf tersebut. Penangkapan yang dilakukan aparat membuat warga menjadi ketakutan dan tidak nyaman sehingga warga menuntut adanya tindakan nyata dari sang gubernur.  

Konflik lahan yang terjadi di Desa Wadas bukanlah hal sepele. Penambangan andesit yang akan direncakan tersebut akan berdampak langsung ke warga setempat dan juga lingkungan. Karena menyangkut aspek lingkungan ini, menurut penuturan Rocky Gerung, konflik Wadas telah menjadi perhatian dunia luar. 

Sekarang ini semua mata tertuju pada Ganjar. Warga Wadas, para aktivis, LSM, dan rakyat Indonesia secara umum tengah menanti tindakan dan penyelesaian masalah yang tepat dari Ganjar. Semua orang berharap ia mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat, mengingat sebenarnya warga Desa Wadas telah lama menolak adanya penambangan ini. 

Ganjar perlu berhati-hati merespons masalah yang masih berlanjut. Jika Ganjar salah mengambil langkah, maka citra politiknya yang jadi taruhan. Dan sangat memungkinkan pernyataan Rocky benar bahwa konflik ini menampilkan โ€œtabiat asliโ€ seorang Ganjar Pranowo sebagai pemimpin daerah. 

Memulihkan citra politik yang sudah dipandang buruk bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan tenaga ekstra dari berbagai pihak untuk mengembalikan citra politik seseorang, apalagi jika mereka sudah berada dalam bursa pemilihan umum. 

Mengingat citra politik dibangun dari informasi yang kita dapat, maka media punya andil penting dalam meliput dan menginformasikan berita terkait perkembangan isu ini. Dengan kesadaran penuh bahwa dirinya sedang jadi sorotan publik, Ganjar tentu akan bertindak dengan hati-hati supaya citranya tidak makin jatuh. 

Semua lapisan masyarakat kini hanya bisa menanti sambil terus mengawal langkah yang akan diambil oleh Ganjar Pranowo dalam rangka penyelesaian konflik lahan di Desa Wadas ini. Perlu ditekankan kembali bahwa kelangsungan hidup warga setempat dan juga lingkungan yang terdampak lebih penting dan harus diutamakan. 


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.



Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...