HomeDuniaDalam Ekonomi, Semua Beragama Sama

Dalam Ekonomi, Semua Beragama Sama

Kecil Besar

Dalam kampanye politiknya sebelum pemilihan presiden, Trump selalu menganggap agama Islam sebagai ancaman. Namun, saat resmi menjadi presiden, justru negara-negara Islam-lah yang paling pertama dikunjunginya.


PinterPolitik.com

“When it is a question of money, everybody is of the same religion” – Voltaire (1694-1778)

[dropcap size=big]K[/dropcap]ata-kata Voltaire – filsuf dan penulis Perancis – di atas memang menggambarkan kenyataan yang seringkali terjadi, bahwa ketika berhadapan dengan bisnis atau ekonomi, semua orang seolah berada dalam jalur pemikiran yang sama, bahkan bisa menjadi sama ‘agama’-nya. Hal ini sepertinya bisa dilihat dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab Islam Amerika Serikat (Arab Islamic American Summit) 2017 yang baru saja digelar pada 20-21 Mei 2017.

Pertemuan yang dihadiri sekitar 54 negara Islam ditambah Amerika Serikat ini digelar di Riyadh, Arab Saudi, di tengah memanasnya ketegangan politik di beberapa belahan dunia, misalnya di Suriah dan di Semenanjung Korea. Walaupun membawa tema utama terorisme, perhatian publik sepertinya lebih banyak terarah pada kesepakatan-kesepakatan ekonomi, misalnya yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Arab Saudi.

Kunjungan ini juga menjadi kunjungan luar negeri pertama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump setelah resmi dilantik beberapa waktu lalu. Trump juga menjadi presiden Amerika Serikat pertama sepanjang sejarah yang memilih negara di Timur Tengah sebagai negara pertama yang dikunjunginya. Tentu saja kunjungan ini menarik untuk diamati, mengingat Trump dalam kampanye politiknya pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat, selalu menyebut agama Islam sebagai ancaman bagi Amerika Serikat. Lalu, mengapa ia memilih negara Islam sebagai negara pertama yang dikunjunginya?

Hal lain yang juga menarik dalam KTT ini adalah kehadiran Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Bahkan pada kesempatan tersebut Jokowi memberikan beberapa pernyataan terkait upaya yang bisa ditempuh dalam menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme. Jokowi juga memberikan masukan dan mengajak semua negara yang hadir untuk bekerja sama menghadapi terorisme dan radikalisme. Lalu, apakah Jokowi hadir hanya untuk membicarakan terorisme semata?

Trump di Arab Islamic American Summit: Untuk Apa?

Tentu bukan tanpa alasan Presiden Trump memilih Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjunginya. Jika menilik hasil kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Arab Saudi, jelas terlihat bagaimana kata-kata Voltaire di awal tulisan ini sangat cocok untuk disematkan pada Trump. Ada kesepakatan ekonomi yang nilainya sangat besar yang dicapai Trump dalam kunjungan ini.Tidak main-main, kesepakatan itu melibatkan anggaran hingga ratusan miliar dollar Amerika Serikat.

Rinciannya, ada sekitar 55 miliar dollar kerjasama di bidang militer – termasuk 6 miliar dollar kerjasama dengan perusahaan Loockheed Martin untuk membuat 150 helikopter Blackhawk, lalu ada kerjasama senilai 15 miliar dollar antara General Electric (GE) dengan pemerintah Arab Saudi untuk peningkatan kapasitas listrik di Arab Saudi, kesepakatan 100 juta dollar untuk pembangunan pabrik Dow Chemical, 22 miliar dollar kesepakatan kerjasama di bidang minyak dan gas, dan ada kesepakatan terpisah senilai 110 miliar dollar di bidang pertahanan, terutama untuk pembelian tank, jet tempur, kapal perang dan sistem anti rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Anggaran tersebut merupakan bagian dari total kerja sama senilai 350 miliar dollar yang telah disepakati untuk 10 tahun ke depan.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Mengapa kesepakatan untuk 10 tahun sudah dibuat dari sekarang? Mungkin itulah cara Partai Republik untuk mengamankan ‘kepentingannya’ 10 tahun ke depan. Bukan rahasia lagi kalau industri militer berperan sangat kuat dalam kampanye pemenangan Trump dan menjadi salah satu motor penggerak Partai Republik Amerika Serikat. Hal ini juga bisa terjadi jika kita melihat fakta bahwa pada zaman Presiden Obama, anggaran militer dipangkas.

Bahkan, Obama saat itu merencanakan untuk memperkuat keseimbangan fiskal dengan perampingan di tubuh militer. Beberapa riset dari media sayap kanan di Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa pada zaman Obama, untuk pertama kalinya anggaran sistem kesejahteraan melampaui anggaran di bidang militer. Jika anggaran militer berkurang, tentu saja akan semakin sedikit belanja pemerintah dalam bidang militer – tentu saja berimbas pada penurunan pendapatan bagi industri militer. Tidak ada perang, maka tidak ada pendapatan dari penjualan senjata. Maka, bisa jadi kunjungan Trump ke Arab Saudi ini merupakan sebuah kesepakatan investasi yang sangat besar nilainya bagi industri militer, baik dari sisi ekonomi maupun politik – mengingat Trump juga mengecam Iran pada kesempatan tersebut.

Selain bernilai ekonomis, kunjungan Trump ke Arab Saudi ini juga memiliki nilai politik yang besar. Apa yang disebut sosiolog Erving Goffman tentang dramaturgi politik, benar-benar dijalankan oleh Trump. Di dalam negeri, ia boleh menggunakan isu Islam untuk memenangkan pemilu. Namun, ketika datang pada persoalan ekonomi dan soal ‘siapa kawan siapa lawan’, potret yang berbedalah yang akan ditampilkan olehnya. Trump seolah melakukan pembalikan politik dengan merangkul negara-negara Islam yang menjadi sekutunya, dan menyatakan permusuhan dengan negara Islam lain, misalnya Iran.

Garis politik itu juga akan makin kelihatan kalau kita mengamati jadwal kunjungan Trump. Setelah dari Arab Saudi, Trump akan ke Yerusalem , Vatikan, Brussels, dan akhirnya ke Sisilia.

Semua kota tersebut dan agenda pertemuan yang dilakukannya adalah dengan sekutu-sekutu tradisional Amerika Serikat – hal yang juga ditegaskan Trump sendiri dalam pidatonya di depan Raja Salman. Dengan demikian, bisa disimpulkan, kunjungan Trump kali ini memang bertujuan untuk memperkuat posisi politiknya secara khusus dan Amerika Serikat pada umumnya dalam konteks hubungan internasional. Tentu menarik untuk ditunggu apa hasil pertemuan-pertemuan Trump selanjutnya.

 Jokowi di Arab Islamic American Summit: Untuk Apa?

Lalu, bagaimana dengan Presiden Jokowi? Untuk apakah Jokowi hadir dalam forum ini? Tentu saja pembicaraan tentang terorisme adalah hal yang sangat penting bagi Indonesia untuk menunjukkan sikap politik pemerintah saat ini terhadap berbagai gerakan radikal yang merebak di seluruh dunia. Oleh karena itu, kehadiran Jokowi secara politik memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Namun demikian, forum ini juga penting dari sisi ekonomi, khususnya ketika berbicara mengenai Amerika Serikat dan Arab Saudi – dua negara dengan kekuatan ekonomi yang besar. Jokowi mungkin masih sakit hati setelah kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud beberapa waktu lalu ke Indonesia yang tidak membawa investasi sebesar yang diharapkan. Oleh karena itu, kehadiran Jokowi dalam forum ini juga sangat berkaitan dengan upayanya membawa investasi sebesar mungkin ke Indonesia.

Hal ini tidak bisa dipisahkan dari garis politik luar negeri yang dijalankan oleh Jokowi saat ini. Jokowi selalu berusaha mengarahkan politik luar negeri sebagai ajang untuk menarik investasi. Mangadar Situmorang, dosen Hubungan Internasional Universitas Parahayangan Bandung menyebut kebijakan luar negeri Jokowi cenderung bersifat inward looking atau melihat ke dalam. Saat ini, Indonesia butuh investasi yang besar di bidang pembangunan infrastruktur, mengingat program Jokowi yang getol untuk bangun sana, bangun sini. Oleh karena itulah, Jokowi selalu mengarahkan kebijakan luar negeri pada hal tersebut.

Selain itu, keberadaan Amerika Serikat dan Arab Saudi dalam satu forum tentu saja membuat KTT ini menjadi bergengsi, apalagi di tengah isu lebih dekatnya Jokowi dengan Tiongkok. Kunjungan ini juga sekaligus menjadi manifestasi politik bebas aktif Indonesia.

Jokowi tentu saja berharap ada ‘angka-angka’ yang bisa dibahas – sama seperti yang dicapai oleh Trump. Namun, tidak ada salahnya jika Jokowi berharap dengan komitmen dan pendekatan pemberantasan terorisme serta gerakan radikalisme yang disampaikannya, akan menarik negara lain untuk berinvestasi ke Indonesia. Bukan rahasia lagi kalau teror dan radikalisme seringkali berpengaruh terhadap stabilitas politik dan keamanan – faktor yang sangat menentukan apakah investor mau berinvestasi di Indonesia atau tidak.

Apa Yang Bisa Dipelajari?

Mungkin terlalu naif untuk menyebut terorisme hanya ‘bungkusan’ isu dalam forum ini, mengingat Trump sendiri membawa kesepakatan ekonomi yang bernilai sangat besar. Namun demikian, isu terorisme dan radikalisme masih akan menjadi topik utama hubungan internasional untuk beberapa tahun ke depan. Trump sendiri memainkan posisi politik yang cerdas dengan membawa kesepakatan ekonomi dalam persoalan politik dan keamanan internasional, walaupun dalam konteks tertentu sikapnya bertolak belakang dengan kampanyenya. Di mana, ia menyebut Islam sebagai ancaman, juga perlu dikritik.

Sementara bagi Jokowi, KTT ini menjadi forum yang penting khususnya dalam posisi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim moderat. Lebih jauh lagi, sebagai inward looking politik luar negeri. Kehadirannya penting, mengingat saat ini terjadi pergeseran peta politik internasional dan mulai munculnya istilah ‘kubu-berkubu’ di tengah memanasnya tensi di Semenanjung Korea dan Timur Tengah, serta teror dan radikalisme yang merebak di daratan Eropa.

Pada akhirnya, semua sepakat bahwa politik bersifat sangat dinamis dan tergantung pada kepentingan apa yang hendak diraih. Orang bisa mengubah kata-katanya dan sikapnya dengan mudah, tergantung pada kepentingan apa yang ingin didapatkannya. Maka, kata-kata Voltaire di awal tulisan ini bukan sekedar isapan jempol dari zaman renaissance saja. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.