HomeBelajar PolitikApa Kabar Novel Baswedan?

Apa Kabar Novel Baswedan?

Kecil Besar

Kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan, kini menemui titik baru. Seorang pria bernama Miko yang diduga terlibat tersebut, kabarnya merupakan keponakan dari seorang pejabat MK yang tersandung kasus korupsi.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]S[/dropcap]udah sebulan berlalu sejak peristiwa penyerangan oleh orang tak dikenal menimpa Novel Baswedan. Selama itu pula, polisi belum berhasil menangkap pelaku.

Namun perkembangan terbaru sudah dilakukan polisi. Kapolri Jendral Tito Karnavian mengaku tengah memeriksa pria bernama Miko Panji Tirtayasa demi mengungkap kasus penyerangan air keras terhadap penyidik KPK itu. “Sudah diperiksa, sudah diamankan dan sudah dicek semua apa yang dia (Miko) sebutkan itu dicek bukti-buktinya,” ujar Kapolri Jendral Tito Karnavia di PTIK, Jakarta, Kami (18/05) lalu.

Video itu sendiri bisa disaksikan di bawah ini,

Dalam pengakuannya tersebut, Miko mengatakan bahwa dirinya telah memberikan keterangan palsu dalam persidangan kasus suap pengurusan sengketa Pilkada Jakarta di Mahkamah Konstitusi (MK). Ia disuruh Novel Baswedan CS agar Akil Mochtar dan Muhtar Effendi, yang merupakan pamannya, masuk ke bui.

Miko Panji Tirtayasa (foto: istimewa)
Miko Panji Tirtayasa (foto: istimewa)

Miko Dilepaskan, Penyelidikan Terus Jalan

Hingga hasil pemeriksaan keluar, akhirnya Miko resmi dilepaskan oleh polisi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono membenarkan polisi telah selesai memeriksa, “sudah dipulangkan. Sudah selesai.” Ujarnya.

Argo menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan tidak membuktikan Miko terlibat penyerangan Novel. Menurutnya, Miko hanya sekedar curhatkepada publik tentang kisahnya saat menjadi saksi kasus suap mantan Ketua MK, Akil Mochtar dan Muchtar Effendi.

Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar (tengah)
Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar (tengah)

Polisi pun sudah memastikan keterlibatan Niko dengan memeriksa alibi keponakan Muchtar Effendy itu. Dalam pemeriksaan, alibi Niko terbukti tidak terlibat dalam kasus penyerangan Novel. Ia berada di Bandung saat penyerangan Novel. Hal itu pun sudah dikonfirmasi penyidik dengan memeriksa warga di lingkungan tempat Niko tinggal. Polisi pun sudah memastikan kalau Niko tidak mungkin menyuruh orang untuk menyerang Novel.

Baca juga :  Politik Lucky Number Prabowo

“Dia orang melarat, dia orang miskin, nggak punya apa-apa,” tegas Argo. “Dia kan nggak kerja. Dia nggak punya pekerjaan dia cuma serabutan biasa,” lanjut Argo. Pihak kepolisian terus melakuakn pendekatan deduktif maupun induktif untuk menangkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Alhasil polisi terus melanjutkan pengejaran pelaku penyerangan Novel.

Kalangan pegiat anti korupsi menyatakan kecewa atas lambannya penyelidikan Polri. Mereka mendesak Presiden Jokowi segera membentuk tim pencari fakta yang dapat bekerja secara independen.

Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli KPK, Usaman Hamid, mengatakan pengungkapan teror terhadap Novel harus dijadikan kesempatan bagi pemerintah untuk membuktikan dapat menjamin perlindungan kepada para pegiat anti korupsi.

Hal ini senada dengan pernyataan Feri Amsari, Direktur Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, yang berharap Jokowi membentuk tim independen berisi figur-figur yang kredibel di mata masyarakat. “Penanganan kasus terhadap aparat negara harus diselesaikan dengan cara yang luar biasa.” Tutupnya.

Cangkok Mata Novel 

Novel Baswedan sendiri baru saja menjalani operasi membran mata selama tiga jam 30 menit pada Kamis (18/05) kemarin. Tim dokter yang berada di Singapura mengambil keputusan untuk mencangkok membran sel dari plasenta bayi setelah terjadi stagnasi pertumbuhan pembuluh darah dan selaput mata pada kedua mata Novel.

Kabar Novel Baswedan
Novel Baswedan (foto:istimewa)

Ia menjalani perawatan instensif oleh tim dokter spesialis mata di Singapura sejak 12 April 2017 lalu. Selama lebih dari 30 hari, Novel menjalani program terapi dan pengobatan untuk memulihkan kondisi kedua matanya yang terpapar air keras dalam sebuah penyerangan oleh dua orang tak dikenal pada 11 April lalu.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan pertumbuhan selaput dan pembuluh darah pada bola mata kanan Novel berhenti di sekitar bagian tengah. Bola mata kirinya lebih buruk lagi, karena pertumbuhannya hanya terjadi di sisi pinggir atas mata. Meski sempat stabil, tekanan kedua bola mata tersebut akhirnya berada di titik normal.

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity

Febri melanjutkan, “ untuk sementara kedua mata Novel ditutup dan tidak boleh terkena air selama satu bulan.”

KPK Dipersenjatai

Melihat teror yang semakin nyata menimpa penyintas KPK, terutama sejak kejadian penyiraman Novel, Alexander Marwata selaku Wakil Ketua KPK mengatakan lembaganya berencana membekali para jaksa dan penyidik kasus-kasus korupsi penting dengan pengawal dan senjata api.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Alex ini menjelaskan, pengadaan senjata api akan sesuai dengan standard operational procedure (SOP). Namun, dirinya dan juga beberapa pihak di kejaksaan KPK enggan membawa senjata api. “Cuma selama ini penyelidik, penyidik, dan mungkin Jaksa. Mereka enggak mau pegang senpi (senjata api) itu. Saya juga enggak mau,” lanjutnya.

Bambang Widjojanto (foto: istimewa)
Bambang Widjojanto (foto: istimewa)

“Cuma selama ini penyelidik, penyidik, dan mungkin Jaksa. Mereka enggak mau pegang senpi (senjata api) itu. Saya juga enggak mau,” kata Alexander Marwata. Alex menjelaskan, dirinya enggan membawa senjata api karena takut tak bisa mengendalikan emosi, terutama dalam keadaan mendesak.

“Ya. Beberapa (ada yang mau pegang senjata api). Enggak semua. Enggak berani ambil resiko juga kan pakai senjata api. Perkara nanti kalau nggak bisa mengendalikan emosi. Kan malah sulit. Kita tawarkan juga, enggak semua mau kok. Saya ditawari juga enggak mau,” jelas Alex.

Senada dengan pernyataan Alex, Bambang Widjojanto mengaku tidak mengambil fasilitas yang disediakan itu.“Iya benar disediakan (senjata api). Tapi pimpinan di angkatan saya tidak ada yang ambil. Karena dari dulu lillahi ta’ala saja.”

Bambang juga tak mengetahui pistol jenis apa yang diebrikan kepadanya, “Wah, kalau jenisnya saya enggak hafal. Kalau tidak salah yang standar-standar saja. Bukan laras panjang.”(Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....