<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Wakil Menteri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/wakil-menteri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2023 22:09:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Wakil Menteri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saatnya Jokowi Reshuffle Wakil Menteri?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-jokowi-reshuffle-wakil-menteri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2023 15:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[reshuffle kabinet]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Menteri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=123982</guid>

					<description><![CDATA[Mengganti menteri yang merupakan kader partai politik sekiranya bukan pilihan yang bijak untuk Presiden Jokowi. Sebagai solusi, demi meletakkan legacy politik dan pembangunan, Presiden Jokowi tampaknya perlu untuk merombak jajaran para wakil menteri (wamen). PinterPolitik.com Tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel PinterPolitik yang berjudul Jokowi “Ditinggalkan” Menterinya?. Dalam artikel tersebut telah dipaparkan bahwa fokus berbagai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengganti menteri yang merupakan kader partai politik sekiranya bukan pilihan yang bijak untuk Presiden Jokowi. Sebagai solusi, demi meletakkan <em>legacy</em> politik dan pembangunan, Presiden Jokowi tampaknya perlu untuk merombak jajaran para wakil menteri (wamen).</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>PinterPolitik.com</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel PinterPolitik yang berjudul <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-ditinggalkan-menterinya/"><strong><em>Jokowi “Ditinggalkan” Menterinya?</em></strong></a>. Dalam artikel tersebut telah dipaparkan bahwa fokus berbagai menteri akan terbagi karena sebentar lagi memasuki tahun pemilu, khususnya menteri yang ingin maju di Pilpres 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu sekiranya adalah kabar kurang menyenangkan bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, pada 2024 nanti, eks Wali Kota Solo itu akan purna tugas. Untuk mengakhiri masa jabatannya, Presiden Jokowi tentu perlu meletakkan <em>legacy</em> politik dan pembangunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Christian Fong, Neil Malhotra, dan Yotam Margalit dalam penelitian mereka yang berjudul <em>Political Legacies: Understanding Their Significance to Contemporary Political Debates</em>, menemukan bahwa politisi memiliki minat yang kuat dalam mengembangkan <em>legacy</em> yang positif, luas, dan bertahan lama karena ingatan masyarakat tentang <em>legacy</em> tersebut memengaruhi perdebatan terkait kebijakan di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertolak dari kebutuhan untuk meletakkan <em>legacy</em>, apakah Presiden Jokowi harus mengganti menteri-menteri itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Idealnya, langkah itu tentu perlu diambil Presiden Jokowi. Sebagaimana penuturan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto, konflik kepentingan antara pekerjaan sebagai menteri dengan kepentingan politik untuk meraup suara masyarakat mestilah sulit untuk dihindari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlebih lagi, menteri yang merupakan kader partai politik dan yang menunjukkan keinginan maju di Pilpres 2024 merupakan pos-pos penting. Sebut saja pos Kementerian BUMN, Pertahanan, Perekonomian, hingga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur.jpg" alt="infografis menteri nyapres perlu mundur" class="wp-image-123897" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur-696x837.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur-1068x1285.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur-1920x2311.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Menteri-Nyapres-Perlu-Mundur-348x420.jpg 348w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Terbelenggu <em>Spoils System</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, meskipun mengganti menteri adalah langkah ideal, dalam kacamata politik realias, Presiden Jokowi sekiranya sulit mengambil keputusan itu. Akar ganjalannya adalah fenomena <em>spoils system</em> yang lumrah dilakukan di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Spoils system</em> sendiri adalah sistem di mana pemenang pemilu memberikan posisi kepada pendukungnya sebagai hadiah. Selain sebagai insentif, pemberian posisi juga ditujukan sebagai garansi kesetiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah ini berasal dari frasa “<em>to the victor belong the spoils</em>” yang diungkapkan Gubernur New York, Amerika Serikat (AS) William L. Marcy ketika mengomentari kemenangan Andrew Jackson di Pilpres AS 1829.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tidak seperti tujuannya sebagai garansi kesetiaan, <em>spoils system</em> kerap kali menjadi jebakan tersendiri bagi pemimpin yang terpilih. Pasalnya, dengan mahalnya biaya politik, kandidat yang berlaga membutuhkan sokongan logistik dari pihak ketiga. Alhasil, itu membuat pembagian kursi lebih cocok disebut sebagai praktik membayar utang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menimbang praktiknya seperti membayar utang, ini membuat Presiden tidak memiliki kontrol yang kuat terhadap pejabat-pejabat yang dipilihnya. Presiden tersandera berbagai kepentingan, khususnya dari partai politik dan pemberi bantuan logistik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Djayadi Hanan dalam bukunya <em>Presidensialisme Multipartai di Indonesia: Upaya Mencari Format Demokrasi yang Stabil dan Dinamis dalam Konteks Indonesia</em>, juga menegaskan hal serupa. Ungkapnya, pembagian pos-pos kekuasaan kepada partai politik seolah menjadi keniscayaan demi stabilnya kepemimpinan Presiden.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, sekiranya sulit bagi Presiden Jokowi untuk serta merta mengganti pos-pos menteri. Ini pula yang sekiranya menjadi jawaban, mengapa RI-1 membiarkan para menteri yang ingin maju di Pilpres 2024 tanpa harus mengundurkan diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, jika mengganti menteri bukan langkah yang ideal untuk dilakukan, adakah solusi atas persoalan ini?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle.jpg" alt="infografis sri mulyani kena reshuffle" class="wp-image-123902" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle-696x837.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle-1068x1285.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle-1920x2311.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/infografis-Sri-Mulyani-Kena-Reshuffle-348x420.jpg 348w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pos Wamen adalah Solusi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Solusi atas persoalan ini mungkin terletak pada pos wakil menteri (wamen). Tidak seperti pos menteri, pos wamen tidak banyak dibicarakan. Bahkan terdapat pihak yang menyebut pos itu sebagai pelengkap semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada postulat politik yang mengedepankan jalan tengah atau <em>win-win solution</em>, Presiden Jokowi bisa meminta pos-pos wamen diisi oleh para profesional terbaik di bidangnya. Kinerja berbagai menteri yang berpotensi berkurang akibat terbagi fokus dapat ditutup oleh wamen yang dipilih secara khusus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini juga pernah diutarakan oleh pakar administrasi negara Eko Prasojo. Terangnya, jabatan wamen harus memiliki kepakaran atau keahlian yang memadai, sehingga diharapkan dari kalangan profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lanjut Eko, wamen juga dapat berperan sebagai jembatan dalam menghubungkan pejabat tinggi negara. Dengan demikian, keberadaan wamen dapat difungsikan sebagai pelaksana tugas harian di kementerian untuk melakukan koordinasi dan memastikan sinergi antar lembaga agar dapat terjalin dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup, jika Presiden Jokowi akan melakukan <em>reshuffle</em> kabinet dalam waktu dekat, pos wakil menteri sekiranya dapat menjadi prioritas untuk dirombak. Tentunya, ini demi kepentingan Presiden Jokowi sendiri, dan untuk masyarakat Indonesia secara keseluruhan. (R53)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Adam Malik, Wapres Indonesia Yang Direkrut CIA?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Qglj_Xbgxbg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/02/images-34.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jabatan Wamen Dibawa ke MK, Kemen BUMN Ikuti Aturan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/fokus-bumn/jabatan-wamen-dibawa-ke-mk-kemen-bumn-ikuti-aturan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R58]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Feb 2020 13:57:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fokus BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Judicial Review]]></category>
		<category><![CDATA[RANGKAP JABATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Menteri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=73634</guid>

					<description><![CDATA[Keberadaan jabatan 12 Wakil Menteri (Wamen) dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini dipersoalkan kembali, bahkan sudah disidangkan di  Mahkamah Konstitusi (MK), pada Senin (10/2). Sidang MK tersebut terkait judicial review terhadap Pasal 10 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, yang diajukan Ketua Umum Forum Kajian Hukum dan Konstitusi (FKHK) Bayu Segara, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Keberadaan jabatan 12 Wakil Menteri (Wamen) dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini dipersoalkan kembali, bahkan sudah disidangkan di  Mahkamah Konstitusi (MK), pada Senin (10/2). Sidang MK tersebut terkait <em>judicial review</em> terhadap Pasal 10 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, yang diajukan Ketua Umum Forum Kajian Hukum dan Konstitusi (FKHK) Bayu Segara, yang menggugat pengangkatan 12 wakil menteri oleh presiden Jokowi.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>ada sidang pertama, Hakim MK Suhartoyo mempertanyakan adanya sejumlah wakil menteri yang dibuat untuk kementerian yang tugasnya berat, justru memiliki jabatan lain di sejumlah lembaga, alias rangkap jabatan.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan Suhartoyo setelah mendengar keterangan perwakilan pemerintah, Direktur Litigasi Peraturan Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan HAM, Ardiansyah dalam sidang uji materi Pasal 10 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara yang menyoal kedudukan wakil menteri.</p>
<p>&#8220;Pak Ardianysah, tadi kan <em>message </em>itu untuk beban kerja kementerian yang berat dipandang perlu dibantu wamen, ini ada korelasinya. Kenapa justru para wamen diperbolehkan menjabat jabatan rangkap?&#8221; kata Suhartoyo.</p>
<p>Suhartoyo meminta Ardiansyah untuk menjelaskan alasan penunjukkan sejumlah wamen yang rangkap jabatan di lembaga lainnya. Selain itu, ia meminta Ardiansyah menyerahkan data berisi daftar wakil menteri kabinet Jokowi yang rangkap jabatan, baik sebagai komisaris, dewan komisaris, maupun komisioner.</p>
<p>Suhartoyo lantas menanyakan, apakah jabatan wakil menteri termasuk sebagai pejabat negara atau tidak. Sebab, jika iya, ada aturan yang melarang mereka untuk rangkap jabatan. &#8220;Wamen ini sebagai pejabat negara atau bukan, kalau pejabat negara sebenarnya ada larangan-larangan untuk merangkap jabatan itu,&#8221; ujar Suhartoyo.</p>
<p>Serupa dengan Suhartoyo, Hakim MK, Saldi Isra mempertanyakan dasar hukum wakil menteri rangkap jabatan. Menurut Saldi, keadaan itu bukan tidak mungkin menggoyahkan independensi sebuah lembaga. &#8220;Kalau yang kayak-kayak begini supaya Mahkamah bisa dibantu, supaya kita bisa melihat peta kebutuhan wamen itu memang kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan atau kebutuhan-kebutuhan lain,&#8221; tandas Saldi.</p>
<p>Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan, Sufmi Dasco Ahmad juga menyoroti posisi Wakil Menteri BUMN, Kartika Wiroatmodjo yang menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama (Komut) di Bank Mandiri.</p>
<p>Menurut Sufmi, posisi sosok yang akrab disapa Tiko tersebut berpotensi mengalami konflik kepentingan. &#8220;Posisi Wamen BUMN, Kartika Widjoatmodjo menjadi Komisaris Utama Bank Mandiri harus dievaluasi, karena berpotensi terjadi konflik kepentingan,&#8221; kata Sufmi, belum lama ini.</p>
<p>Sebelum menjabat Wakil Menteri BUMN, Tiko adalah Dirut Bank Mandiri. Kemudian jabatan Dirut Bank Mandiri digantikan Royke Tumilaar pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Mandiri pada  9 Desember 2019 lalu. Namun posisi Tiko bergeser sebagai  Komut di Bank pelat merah tersebut, di mana dia sudah menjadi Wamen BUMN.</p>
<p>Menanggapi hal terebut, Kementerian BUMN, melalui Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga menegaskan pihaknya akan mengikuti aturan main saja. &#8220;Soal rangkap jabatan itu kita mengikuti aturan main saja,&#8221; ujar Arya Sinulingga, seperti dikutip dari detik.com.</p>
<p>Selain Tiko, diketahui terdapat beberapa wamen lagi yang menduduki jabatan sebagai komisaris di beberapa perusahaan BUMN, diantaranya adalah  Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara yang merangkap Wakil Komisaris Utama PT PLN (Persero). Lau ada Wakil Menteri BUMN II, Budi Gunadi Sadikin yang merangkap sebagai Wakil Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). (R58)</p>
<p><iframe loading="lazy" title="Ada Apa Dibalik Virus Corona Wuhan?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/w4arfLDSiP4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/mmqewe6flokgapf4jex8.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Wamen Baru, Politik Akomodasi Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/wamen-baru-politik-akomodasi-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Y56]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Nov 2019 11:24:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi politik Jokowi 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Menteri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=68846</guid>

					<description><![CDATA[Wacana penambahan enam Wakil Menteri (Wamen) dalam kabinet Indonesia Maju menuai tanggapan beragam oleh publik. Masuknya lima partai politik (parpol) dalam 12 Wamen yang diumumkan Jokowi bulan lalu seolah menunjukkan adanya intensi politik yang kuat dari jabatan ini. Apakah jabatan memang ditujukan sebagai upaya perbaikan administrasi pemerintahan? Atau justru merupakan upaya Jokowi dalam mengakomodasi para [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Wacana penambahan enam Wakil Menteri (Wamen) dalam kabinet Indonesia Maju menuai tanggapan beragam oleh publik. Masuknya lima partai politik (parpol) dalam 12 Wamen yang diumumkan Jokowi bulan lalu seolah menunjukkan adanya intensi politik yang kuat dari jabatan ini. Apakah jabatan memang ditujukan sebagai upaya perbaikan administrasi pemerintahan? Atau justru merupakan upaya Jokowi dalam mengakomodasi para pendukungnya?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo tampaknya masih kekurangan personel. Hal ini terlihat dari rencana pemerintah kembali merekrut beberapa posisi Wamen dalam kabinet tersebut. Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan <strong><span style="color: #cedb2a"><a style="color: #cedb2a" href="https://news.detik.com/berita/d-4778165/moeldoko-ungkap-rencana-jokowi-tambah-6-wakil-menteri-lagi">mengungkapkan</a></span></strong> bahwa Presiden kemungkinan akan menambah setidaknya enam Wamen baru dalam kebinetnya.</p>
<p>Penambahan Wamen dalam kabinet Indonesia Maju merupakan upaya Jokowi untuk menajamkan kinerja pemerintah dalam pembangunan. Pasalnya, posisi Wamen dianggap akan menjadi hal yang penting untuk melaksanakan tugas khusus yang tidak diselesaikan oleh Menteri.</p>
<p>Dalam kabinet yang ada sekarang misalnya, posisi Wamen Agraria dan Tata Ruang bertugas khusus untuk menyelesaikan masalah konflik agraria. Selain itu, dua Wamen yang ditunjuk untuk Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertugas dalam pengawasan dan pembiayaan.</p>
<p>Sebelumnya, Jokowi telah meneken dua Peraturan Presiden (Perpres) terkait pengangkatan Wamen di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).</p>
<p>Di tengah adanya pewacanaan tersebut, banyak pihak merasa upaya penambahan enam kursi Wamen dinilai lebih kepada ego politik Jokowi daripada kepentingan administrasi pemerintahan, benarkah demikian?</p>
<h4><strong>Wamen, Posisi Incaran Koalisi</strong></h4>
<p>Penambahan enam kursi Wamen dalam kabinet Jokowi dinilai akan semakin menggemukkan koalisi Jokowi. Wacana tersebut seolah bertentangan dengan upaya pemerintah dalam deregulasi dan debirokratisasi yang gencar dilaksanakan.</p>
<p>Padahal, dalam beberapa waktu yang akan datang pemerintah akan melakukan pemangkasan 440.000 pejabat Eselon III dan IV dengan tujuan untuk mengurangi rentang pengambilan keputusan dan memudahkan pemerintah dalam bergerak cepat.</p>
<p>Penambahan Wamen yang ada justru akan menciptakan rantai birokrasi baru yang bisa jadi membuat upaya debirokratisasi menjadi tidak efektif.</p>
<p>Jika ditelisik lebih jauh, gemuknya kabinet kedua Presiden pada periode kedua sejalan dengan cara upaya Jokowi dalam kembali duduk di posisi pemerintahan saat ini. Tidak mengherankan karena untuk bisa kembali terpilih Jokowi mengakomodasi banyak dukungan politik.</p>
<p>Pada awal pencalonan Jokowi sebagai presiden pada 2009, Jokowi hanya didukung empat partai yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Hal diatas berbeda jauh dengan periode kedua pencalonannya yang didukung hingga 10 parpol.</p>
<p>Kondisi di atas menyebabkan adanya perbedaan konfigurasi parpol dan posisi Wamen pada dua kabinet Jokowi. Pada kabinet Kerja 2014-2019, Jokowi hanya menempatkan 15 menteri dari parpol dalam kabinetnya dan 3 posisi Wamen. Kondisi tersebut berbeda jauh pada kabinet Indonesia Maju 2019-2024, di mana Jokowi menempatkan 17 menteri dari parpol dan 12 Wamen.</p>
<p>Jika dilihat lebih jauh, posisi Wamen juga memiliki risiko politik yang tinggi. Bukannya tidak mungkin bahwa adanya Wamen akan memicu adanya konflik kepentingan dalam suatu kementerian.</p>
<p>Terlebih lagi, jika terdapat kementerian yang didalamnya terdapat dua orang yang berasal dari parpol yang berbeda. Dalam kabinet Indonesia Maju, Kementerian Perdagangan diisi oleh PKB dan Partai Golongan Karya (Golkar) yang keduanya merupakan parpol pendukung utama dari Jokowi.</p>
<h4><strong>Bagi-Bagi Kekuasaan?</strong></h4>
<p>Asumsi mengenai adanya jabatan Wamen sebagai bentuk dari bagi-bagi jabatan pada pemerintah Jokowi tentu tidak mengherankan. Pasalnya, penunjukan 12 Wamen lalu bisa saja menunjukkan adanya intensi kuat Jokowi untuk mengakomodasi semua kelompok pendukungnya pada pemilihan presiden (pilpres) Mei lalu.</p>
<p>Bukan hanya dari golongan dari parpol, bahkan dukungan kuat terhadap Jokowi juga berasal dari organisasi-organisasi massa besar.</p>
<p>Penunjukan Wamen oleh Jokowi bisa jadi merupakan bentuk konsesi politik pada parpol dan organisasi massa yang saat ini belum mendapat jatah pada pemerintahan Jokowi.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-68861" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen.jpg" alt="" width="4500" height="5208" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen.jpg 4500w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-259x300.jpg 259w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-768x889.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-885x1024.jpg 885w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-696x806.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-1068x1236.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-363x420.jpg 363w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Kursi-Wamen-1920x2222.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 4500px) 100vw, 4500px" /></p>
<p>Hal di atas sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Thiago Silva dan kawan-kawan <strong><span style="color: #cedb2a"><a style="color: #cedb2a" href="https://ecpr.eu/Filestore/PaperProposal/8da2aa9b-e547-4a53-ba51-d00ad01413d9.pdf">dalam</a></span></strong> <em>Cabinet Rules and Power Sharing in Presidential and Parliamentary Democracies</em>. Silva melihat dalam sistem presidensial, presiden memiliki kekuatan yang kuat dalam menentukan dan mengontrol kabinetnya.</p>
<p>Silva melihat formasi kabinet dalam sistem presidensial sangat kuat aspek politisnya. Tujuan utama dari pembentukan kabinet selain untuk membagi kekuasaan kepada para pendukungnya juga sebagai upaya kontrol kepada rekan koalisinya.</p>
<p>Berdasarkan pada tulisan di atas, Wamen di Kabinet Indonesia Maju dapat dilihat sebagai upaya Jokowi dalam membagi porsi kekuasaan kepada para pendukungnya.</p>
<p>Posisi Wamen Agama, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Agraria dan Tata Ruang misalnya merupakan pos-pos yang diisi oleh parpol-parpol kecil pendukung Jokowi yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo).</p>
<p>Selain itu, Jokowi bahkan memberikan posisi Wamen Pertahanan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal  (BKPM) kepada organisasi yang secara vokal mendukungnya yaitu Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kelompok Relawan Pro-Jokowi.</p>
<p>Penambahan enam posisi Wamen dalam kabinet Jokowi bisa dibilang menjadi urgensi politik Jokowi di tengah banyaknya suara sumbang dari para pendukungnya yang hingga saat ini belum mendapatkan tempat.</p>
<p>Terlebih lagi, masuknya  Partai Gerindra menjadi anomali tersendiri di kabinet Jokowi. Padahal, masih terdapat kelompok-kelompok lain seperti partai Hanura, Partai Keadilan dan  Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang sampai ini belum masuk jajaran pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Melihat dari konsepsi Silva, presiden membentuk eksekutif sebagai bentuk kontrol atas kelompok koalisinya. Sangat wajar jika Jokowi tidak ingin kehilangan kontrol dan dukungan dari ketiga partai yang selama ini menjadi suporter loyalnya dalam politik Indonesia.</p>
<p>Kondisi di atas semakin urgen seiring dengan indikasi hilangnya kontrol Jokowi atas partai Nasdem. Manuver politik partai Nasdem saat ini dianggap sebagai bentuk ketidakpuasaannya terhadap pembentukan pemerintahan Jokowi.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B4CmCurJnvA/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B4CmCurJnvA/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B4CmCurJnvA/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Siapa saja deretan nama wakil menteri di Kabinet Jokowi-Ma&#39;ruf? Nantikan artikel selengkapnya di pinterpolitik.com #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-10-25T12:05:13+00:00">Oct 25, 2019 at 5:05am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Kekecewaan partai Nasdem sebagai salah satu parpol pendukung utama Jokowi juga bisa dibilang sangat beralasan. Dalam penyusunan kabinetnya Jokowi tidak memberikan posisi yang strategis kepada partai Nasdem ditambah duduknya Gerindra sebagai kelompok oposisi dalam pemerintahan Jokowi.</p>
<h4><strong>Kontrol Birokrasi?</strong></h4>
<p>Posisi jabatan eksekutif memang menjadi salah satu konsesi politik yang umum digunakan pasca Pilpres di banyak negara. Hal ini dikarenakan dalam sistem presidensial kepala pemerintahan memiliki hak prerogatif dalam menempatkan seseorang dalam jajaran birokrasi di bawahnya.</p>
<p>Tobias Bach <strong><span style="color: #cedb2a"><a style="color: #cedb2a" href="https://www.researchgate.net/publication/328602136_Politicians_and_Bureaucrats_in_Executive_Government">dalam</a> </span></strong><em>Politicians and Bureaucrats in Executive Government</em> menjelaskan bahwa terdapat relasi yang asimetris antara politisi eksekutif dengan birokrat. Relasi ini ditunjukkan dengan adanya kemampuan pejabat publik terpilih (kepala pemerintahan) dalam menentukan ranah kerja kelompok birokrat.</p>
<p>Kemampuan tersebut dapat terwujud baik melalui penunjukan kepala birokrat yang baru, perubahan peraturan hingga reformasi struktur pemerintahan. Dengan kata lain, Bach melihat adanya intervensi kepala pemerintahan melalui pos menteri secara politis merupakan upaya politisi dalam mengontrol kelompok birokrasi.</p>
<p>Kelompok birokrasi dalam hal ini kementerian menjadi entitas yang harus dikontrol secara politis karena birokrasi memiliki kekuataan dan wewenang dalam pembuatan kebijakan publik dan memiliki dimensi organisasional yang sangat besar.</p>
<p>Oleh karena itu, politisi harus berada dalam lingkaran tersebut utuk menjadi pengambil keputusan dari setiap kewenangan yang dikelola oleh kelompok birokrasi agar kepentingannya tidak terhambat.</p>
<p>Dalam wacana penambahan enam posisi Wamen, bisa ditebak pos-pos kementerian yang belum memiliki representasi politisilah yang kemungkinan akan dibuat posisi Wamennya.</p>
<p>Kementerian BUMN, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Koperasi dan UMKM (Kemenkop) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merupakan kementerian yang belum memiliki kontrol politisi dalam posisi puncak.</p>
<p>Masuknya politisi-politisi ke dalam kementerian melalui posisi Wamen ke depannya dapat menjadi sarana Jokowi dalam mengakomodir kelompok pendukungnya. Apalagi, setelah manuver politik yang dilakukan Nasdem tentu, penambahan posisi Wamen menjadi suatu yang urgen bagi Jokowi. Selain itu masuknya kelompok politisi dalam pos kementerian juga bisa jadi akan semakin meneguhkan kontrol Jokowi atas kelompok birokrasi.</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="znLSgDqfStA"><iframe loading="lazy" title="Layakkah Soeharto jadi Pahlawan Nasional?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/znLSgDqfStA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Wacana-Penambahan-Wamen-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
