<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>halo effect &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/halo-effect/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Jul 2025 08:56:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>halo effect &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Auto Damage Teddy, AHY, Sherly?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/full-damage-teddy-ahy-sherly/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[AHY]]></category>
		<category><![CDATA[halo effect]]></category>
		<category><![CDATA[Media Darling]]></category>
		<category><![CDATA[Seskab]]></category>
		<category><![CDATA[Sherly Tjoanda]]></category>
		<category><![CDATA[Teddy Indra Wijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163182</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa pejabat publik seperti Teddy Indra Wijaya, AHY, hingga Sherly Tjoanda bukan hanya tampil menarik, mereka menjelma jadi wajah baru politik Indonesia yang serba visual. Namun, mengapa fenomena pejabat publik dengan impresi visual menarik ini menjadi penting dalam diskursus politik kekinian?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/damage1_vpzrbzm2.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Beberapa pejabat publik seperti Teddy Indra Wijaya, AHY, hingga Sherly Tjoanda bukan hanya tampil menarik, mereka menjelma jadi wajah baru politik Indonesia yang serba visual. Namun, mengapa fenomena pejabat publik dengan impresi visual menarik ini menjadi penting dalam diskursus politik kekinian?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap politik Indonesia mengalami transformasi tak hanya dari segi kebijakan, tetapi juga impresi yang <em>aesthetic</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pejabat publik seperti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hingga Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda eksis dengan latar belakang yang sangat berbeda namun memiliki kesamaan dalam persepsi publik, memperlihatkan bagaimana <em>good looks</em> menjadi aset politik yang semakin berpengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Visual mereka yang dipoles dengan narasi progresif dan performa yang dipublikasikan secara intens di media sosial menjadikan mereka mudah diterima dan dibicarakan publik, baik secara positif maupun kritis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini bukan tanpa penjelasan di atas kertas. Dalam kajian psikologi sosial, efek ini dikenal sebagai <em>halo effect</em>, sebuah bias kognitif di mana penilaian terhadap satu aspek (misalnya penampilan fisik) memengaruhi penilaian terhadap aspek lainnya (seperti kompetensi atau integritas).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan masifnya penggunaan media sosial, yang sangat menekankan aspek visual dan kesan pertama, <em>halo effect</em> menjadi alat distribusi pengaruh yang ampuh dalam politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan hanya Teddy, AHY, maupun Sherly. Nama-nama pejabat publik di level kepala daerah petahana seperti Bupati Bandung Barat Jeje Govinda, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton, hingga Wakil Wali Kota Kupang Citra Pitriyami, ikut terangkat berkat performa visual yang dibungkus dalam strategi branding digital yang apik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks yang sama, para mantan pejabat publik seperti Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Zumi Zola, hingga Airin Rachmi Diany juga sempat menikmati masa kejayaan dalam ekosistem <em>visual-minded</em> publik di eranya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa hal ini menjadi krusial dalam diskursus politik-pemerintahan Indonesia?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ilusi Kompetensi dan Budaya Visual?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, di mana politik sering kali dipersonalisasi dan bersifat figur-sentris, <em>halo effect</em> dinilai bekerja sangat efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendati sangat subjektif, terdapat derajat atau selera umum visual yang diterima. Ketika seorang pejabat tampan atau cantik, publik dengan cepat memberi asumsi bahwa mereka juga cerdas, profesional, atau berintegritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian Efraim Efran menunjukkan bahwa dalam sebagian bersar lingkungan interaksi manusia, termasuk politik, kandidat dengan wajah menarik memiliki peluang lebih besar untuk dipilih, bahkan ketika performa objektifnya tidak signifikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Teddy, AHY, Sherly Tjoanda, serta pejabat publik lainnya, kiranya bukan hal tabu untuk diinterpretasi bahwa karakteristik fisik mereka seolah menjadi <em>entry point</em> dalam membangun afeksi publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah peran <em>halo effect</em> menciptakan apa yang disebut sebagai <em>rapid trait inference</em>, penilaian instan dalam hitungan milidetik yang menentukan suka atau tidak suka pada seseorang hanya lewat tampilan visual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena berikutnya yang turut menguatkan <em>halo effect</em> adalah ilusi kompetensi (<em>illusion of competence</em>), yaitu kondisi di mana seseorang dianggap kompeten semata karena tampilan luar atau gaya komunikasi, bukan substansi atau hasil kerja di kesan pertama. Kendati, nama-nama tersebut tentu memiliki kompetensi dan torehan performa yang positif sejauh ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dalam konteks pejabat publik yang aktif di media sosial, estetika visual dan gaya komunikasi yang <em>engaging</em> dapat menciptakan persepsi bahwa mereka pasti bekerja atau pasti lebih baik dibanding pejabat lain yang tampil “datar”. Padahal, tidak selalu ada korelasi antara performa visual dan performa struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Media sosial mempertebal efek ini melalui sistem algoritma yang mengutamakan <em>engagement</em>, bukan akurasi atau kualitas kinerja yang hakikatnya memang sukar dinilai oleh mesin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam budaya politik Indonesia yang sangat visual dan <em>viral-driven</em>, ilusi, atau lebih tepatnya “konstuksi kompetensi” sejak pandangan pertama ini menjadi pengungkit legitimasi instan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan <em>visual branding</em> dalam politik Indonesia kini tidak lagi opsional. Media sosial menjadi arena utama pertarungan narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang pejabat yang tidak mampu tampil baik secara visual akan kalah bersaing dalam perhatian publik meskipun punya rekam jejak yang kuat. Di sinilah <em>branding</em> bukan lagi soal pencitraan semu, melainkan bagian dari kapital politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar diri seorang pejabat di Instagram dengan filter tertentu, angle tertentu, dan narasi tertentu menjadi komoditas yang memengaruhi pemilih secara emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Branding inilah yang menjadikan sosok-sosok tersebut tampak cepat mencuri perhatian. Meski secara struktural jabatan pejabat atau kepala daerah tertentu di Indonesia cenderung kurang mendapat eksposur, keberadaan mereka di dunia digital justru melampaui batas geografis tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man.jpg" alt="mayor teddy prabowo's trusted man" class="wp-image-153884" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/mayor-teddy-prabowos-trusted-man-1068x1068.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>“<em>Auto Damage</em>”<em> Fix</em>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok-sosok seperti Teddy, AHY, Sherly Tjoanda, serta pejabat lainnya bukan semata contoh dari <em>halo effect</em> pasif, melainkan mereka mampu mengkapitalisasi persepsi publik melalui kerja nyata yang ditampilkan secara strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teddy dan AHY, misalnya, dengan latar belakang militer dan posisi strategis sebagai Menteri Koordinator, telah beradaptasi dari <em>prince charming</em> politik menjadi figur yang mencoba merespons isu pembangunan dan infrastruktur secara serius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula Sherly, yang berani tampil beda dalam gaya komunikasi sebagai gubernur perempuan dengan pendekatan <em>urban</em> &amp; <em>inclusive leadership</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Branding </em>yang selaras antara visual, pesan, dan tindakan aktual dapat menjadi senjata utama untuk mem-<em>breakthrough</em> kemacetan politik yang sering hanya dihuni elite tradisional. Mereka bisa menjadi ikon dari generasi politisi baru yang memiliki <em>charisma</em>, <em>substance</em>, dan <em>reach</em> sekaligus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, risiko besar juga mengintai ketika ekspektasi publik yang dibangun oleh <em>branding visual</em> tidak diimbangi oleh kualitas kerja yang konkret dan terukur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kondisi tersebut, efek halo bisa berubah menjadi efek boomerang, publik merasa tertipu atau kecewa, lalu menjadi antagonis terhadap figur tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus Zumi Zola, misalnya, menjadi pelajaran penting. Sosoknya dulu dielu-elukan karena wajah rupawan dan gaya populis, tetapi kemudian runtuh karena kasus rasuah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampel itu membuktikan bahwa efek visual memiliki daya tarik yang kuat, tetapi tetap memerlukan pijakan struktural dan integritas personal agar tidak menjadi <em>bubble</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini juga membuka peluang lahirnya kelas sosial politik baru—yaitu politisi yang mampu merangkul populisme digital namun tetap <em>grounded</em> secara kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila Teddy, AHY, dan Sherly sejauh ini mampu menjaga keseimbangan antara <em>visual charisma</em> dan kebijakan substantif, maka mereka berpeluang menembus struktur kekuasaan yang lebih tinggi di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, bila tidak, maka mereka akan menjadi bagian dari daftar panjang politisi <em>one-hit wonder</em>, yang redup begitu jabatan atau perhatian publik bergeser.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia politik Indonesia yang sangat fluktuatif dan berorientasi persepsi, kemampuan mempertahankan narasi dan merealisasikan janji adalah mata uang paling mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena seperti dijabarkan di atas&nbsp; tampak sangat jarang dibahas dalam analisis maupun teoretis yang mendalam. Namun, di saat yang sama, menunjukkan bahwa wajah politik Indonesia tengah mengalami pergeseran besar, dari politik orasi menjadi politik impresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini membuka ruang baru bagi politisi muda dan visual untuk naik panggung, namun juga menuntut kedewasaan publik untuk tidak terperangkap dalam ilusi kompetensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kuncinya ada pada kesadaran kritis publik dan etika visual politik. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penonton dalam pertunjukan politik estetika, bukan peserta aktif dalam demokrasi substansial. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="m1e4XkuGLsc"><iframe title="Gibahin Teddy Indra Wijaya, Sang Letkol yang Terus Gaspol" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/m1e4XkuGLsc?start=118&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/damage1_vpzrbzm2.mp3" length="3549475" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/ahy-sherly-1024x684.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Wacana Mardigu untuk 2024</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-balik-wacana-mardigu-untuk-2024/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2021 15:09:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[halo effect]]></category>
		<category><![CDATA[Mardigu Wowiek]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=99888</guid>

					<description><![CDATA[Di berbagai lini media sosial, nama Mardigu Wowiek dimunculkan warganet sebagai kandidat di Pilpres 2024. Mardigu sendiri memang telah membuat konten jika dirinya menjadi Presiden RI. Lantas, fenomena sosial-politik apa yang membuat nama Mardigu mendapatkan dukungan? PinterPolitik.com “Perceptions of a single trait can carry over to how people perceive other aspects of that person.” – [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di berbagai lini media sosial, nama Mardigu Wowiek dimunculkan warganet sebagai kandidat di Pilpres 2024. Mardigu sendiri memang telah membuat konten jika dirinya menjadi Presiden RI. Lantas, fenomena sosial-politik apa yang membuat nama Mardigu mendapatkan dukungan?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/aa"><strong>PinterPolitik.com</strong></a><strong></strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote has-text-align-center is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“<em>Perceptions of a single trait can carry over to how people perceive other aspects of that person</em>.” – Kendra Cherry, dalam&nbsp;<em>Why the Halo Effect Influences How We Perceive Others</em></p></blockquote>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Bagi penikmat konten-konten YouTube, sekiranya tidak asing dengan Mardigu Wowiek Prasantyo atau yang akrab disapa Bossman Sontoloyo. Setelah kontennya&nbsp;<em>viral</em>, khususnya setelah mengunggah konten jika dirinya menjadi Presiden RI, tidak sedikit warganet mengharapkannya menjadi kandidat di Pilpres 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita butuh nama segar. Begitulah kira-kira keluhan berbagai pihak. Melihat pada nama yang monoton di survei-survei elektabilitas kandidat, tidak sedikit memang yang mengaku jenuh, mengapa kebanyakan nama lama yang bermunculan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/berani-luhut-debat-mardigu"><strong>Berani Luhut Debat Mardigu?</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebutuhan atas nama baru atau segar ini kemudian mendorong masyarakat, khususnya warganet untuk menyodorkan nama alternatif di berbagai lini media sosial. Mardigu Wowiek salah satunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini misalnya disebutkan oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompii) Dedy Mahendra 13 April lalu. Tegasnya, dari deretan nama yang masuk bursa pengganti Joko Widodo (Jokowi), hanya Mardigu yang merupakan nama baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar persoalan kemungkinan Mardigu dapat maju sebagai kandidat, menarik sekiranya mempertanyakan mengapa sosok ini mendapatkan dukungan? Lalu, apa yang dapat dimaknai di balik fenomena Bossman Sontoloyo ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Halo Effect</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa Mardigu begitu menarik? Bisa dikatakan karena narasi-narasinya yang mungkin melegakan dahaga berbagai pihak atas hasrat nasionalisme dan semangat kedaulatan. Mengutip mantan Menteri Pembangunan Internasional Jerman, Erhard Eppler, di tengah gurita arus globalisasi, peran negara yang menyempit telah melahirkan kerinduan atas wibawa dan kehadiran negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam berbagai analisis, narasi nasionalisme dan proteksionisme ekonomi juga dipercaya sebagai faktor atas kemenangan mengejutkan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 2016. Entah kebetulan atau tidak, Mardigu juga mengakui ketersetujuannya atas narasi Trump.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis%20K12%202020/2024-Tidak-Lagi-Dua-Poros.jpg" alt=""/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam psikologi, konteks didengarnya narasi Mardigu dapat dipahami melalui konsep&nbsp;<em>halo effect</em>. Dalam temuan psikolog Edward Lee Thorndike,&nbsp;<em>halo effect</em>&nbsp;adalah efek psikologi yang membuat manusia kerap kali menilai keseluruhan objek berdasarkan atas suatu impresi awal yang terlihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Halo effect</em>&nbsp;akan membuat seseorang menilai sesuatu atau orang lain hanya berdasarkan pada&nbsp;<em>single quality</em>&nbsp;yang jelas terlihat, seperti kecantikan, status sosial, usia, hingga kemampuan berorasi. Ini seperti penilaian yang mengacu pada pandangan pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendra Cherry dalam tulisannya&nbsp;<em>Why the Halo Effect Influences How We Perceive Others&nbsp;</em>menyebutkan, kemampuan menarik perhatian dalam impresi awal yang membuat efek psikologi ini disebut dengan “<em>Halo</em>”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan konten-konten Mardigu, mungkin akan berpikir “orang ini berbeda”. Iya, itu benar, narasinya memang berbeda dan segar jika dibandingkan sosok-sosok lain. Di tengah gelombang narasi politik identitas sejak kasus Ahok, narasi Mardigu adalah oasis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain konteks&nbsp;<em>halo effect,&nbsp;</em>kemampuan Mardigu dalam mengonstruksi narasi juga membuatnya begitu berkarisma. Bryan Clark dalam tulisannya&nbsp;<em>What Makes People Charismatic, and How You Can Be, Too</em>&nbsp;memaparkan mengapa seseorang dapat memiliki karisma. Menurutnya, karisma adalah sesuatu yang dapat dipelajari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip profesor perilaku organisasi dari Universitas Lausanne, Swiss, John Antonakis, disebutkan karisma adalah tentang memberi informasi secara simbolis, emosional, dan berbasis nilai. Karisma adalah kemampuan dalam menggunakan teknik verbal dan non-verbal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait kemampuan berkomunikasi, tidak diragukan lagi, sebagai seorang motivator, Mardigu dengan jelas memilikinya. Ia juga kerap menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing yang membuat narasinya terdengar “<em>wah</em>”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun berbagai narasi Mardigu mendapat bantahan, seperti dukungannya atas&nbsp;<em>printing money</em>&nbsp;atau&nbsp;<em>Modern Monetary Theory</em>&nbsp;(MMT) maupun perubahan pernyataannya ketika menyebut pandemi Covid-19 akan berakhir setelah Pilpres AS 2020,&nbsp;<em>halo effect</em>&nbsp;menjadi tameng tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mardigu-ujian-komunikasi-pandemi-jokowi"><strong>Mardigu, Ujian Komunikasi Pandemi Jokowi?</strong></a><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">W. Timothy Coombs dan Sherry J. Holladay dalam tulisannya yang berjudul&nbsp;<em>Unpacking the Halo Effect</em>&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;<em>halo effect</em>&nbsp;dapat berperan sebagai tameng guna menghindari kerugian reputasi di kala krisis. Artinya, bagi mereka yang sudah terlanjur menyukai narasi dan melihat sosok Mardigu begitu berkarisma, bantahan-bantahan parsial semacam itu tidak akan begitu berpengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Stephan Lewandowsky dalam tulisannya&nbsp;<em>Why People Vote for Politicians They Know Are Liars</em>&nbsp;juga memberikan penjelasan yang menarik. Menurutnya, ketika seseorang merasa kehilangan haknya atau berada dalam kondisi yang terpinggirkan oleh sistem politik, mereka akan cenderung menerima narasi-narasi seorang politikus yang mengklaim diri sebagai pembela “rakyat” yang melawan “kemapanan” atau “elite”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi-narasi Mardigu jelas menunjukkan keresahan publik atas keterpinggiran politik dan ekonomi. Ia mengangkat keresahan atas penjajahan ekonomi. Kita dapat bangkit dan menjadi negara besar. Dengan fakta Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu besar dan tengah mengalami bonus demografi, tidak sulit untuk setuju dengan narasi Mardigu. Itu adalah harapan kita semua. Kita semua menginginkannya.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>The Power of Social Media</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selain&nbsp;<em>halo effect</em>, ada satu lagi faktor besar yang membuat Mardigu mendapatkan dukungan, yakni media sosial. Dalam kajian yang berjudul&nbsp;<em>Social Media</em><em>&nbsp;&#8211; The</em><em>&nbsp;New</em><em>&nbsp;Power</em><em>&nbsp;of</em><em>&nbsp;Political</em><em>&nbsp;Influence</em>, media sosial disebutkan telah memberi penetrasi yang dalam atas perilaku politik masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demonstrasi di Filipina pada 2001, terpilihnya Barack Obama, seorang kulit hitam sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2008, pencabutan hasil pemilu yang curang di Moldavia pada 2009, dan&nbsp;<em>Arab Spring</em>&nbsp;di Timur Tengah pada awal 2011 memiliki satu kesamaan. Semua fenomena politik itu menggunakan media sosial untuk memobilisasi massa dan membuatnya mungkin terjadi.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis%20K12%202020/Rakyat-Masih-Ingin-Jokowi-Lagi.jpg" alt=""/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kasus Mardigu, selaku sosok&nbsp;<em>outsider</em>&nbsp;yang bukan elite partai politik, tanpa kehadiran media sosial, sulit membayangkan ia mampu mendapatkan dukungan seperti saat ini. Media sosial telah mewujudkan gagasan&nbsp;<em>global village</em>&nbsp;dari Marshall McLuhan. Saat ini hampir tidak ada sekat waktu dan ruang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kurt A. Raaflaub dalam buku&nbsp;<em>Origins of Democracy in Ancient Greece</em>&nbsp;memberikan penjelasan menarik terkait perbedaan demokrasi di Yunani Kuno dengan demokrasi modern saat ini. Menurutnya, sistem demokrasi di Athena secara radikal berbeda dengan demokrasi di abad 21.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan demokrasi Athena yang menawarkan kemewahan pertarungan ide dan gagasan secara langsung, sehingga membuat masyarakat benar-benar merasa terlibat dalam percaturan politik. Demokrasi saat ini dijalankan secara tidak langsung (perwakilan) dan pertarungan ide hanya terjadi di level elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini dilihat Raaflaub telah menciptakan ketidakpuasan dan memunculkan narasi untuk kembali ke bentuk demokrasi langsung, setidaknya di tingkat lokal. Francis Fukuyama dalam tulisannya&nbsp;<em>Infrastructure, Governance, and Trust</em>&nbsp;juga melihat terjadinya peningkatan ekspektasi masyarakat atas keterlibatan dalam percaturan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Fukuyama, di tengah demokrasi modern saat ini, masyarakat tidak hanya menuntut partisipasi di pemilu, melainkan juga partisipasi dalam penentuan kebijakan publik, seperti penentuan anggaran dan menyumbangkan ide.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kebisingan-politik-salah-jokowi-atau-media"><strong>Kebisingan Politik, Salah Jokowi atau Media?</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait masalah ini, Raaflaub melihat perkembangan teknologi komunikasi telah menawarkan diri untuk memenuhi kebutuhan partisipasi langsung tersebut. Fenomena Mardigu, misalnya. Tidak seperti sebelumnya, di mana nama kandidat adalah kewenangan mutlak partai politik, saat ini masyarakat dapat menyodorkan nama alternatif dan menyuarakannya melalui media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar sosoknya akan dilirik dan diusung oleh partai, masuknya nama Mardigu dalam bursa survei jelas menunjukkan&nbsp;<em>the power of social media</em>. Ke depannya, ketika media sosial telah digunakan sampai di tingkat akar rumput, dukungan di teknologi komunikasi tersebut akan menjadi vital.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, pada akhirnya kita hanya bisa mengamati dan menikmati bagaimana kelanjutan narasi Mardigu untuk Pilpres 2024 ini. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1621161646_mardigujpg-1024x625.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Karisma Najwa Mirip dengan Rocky Gerung?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/karisma-najwa-mirip-dengan-rocky-gerung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 02:14:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[halo effect]]></category>
		<category><![CDATA[karisma]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi karismatik]]></category>
		<category><![CDATA[Najwa Shihab]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=78222</guid>

					<description><![CDATA[Sosok Najwa Shihab telah menjadi salah satu rujukan paling terpercaya dalam menganalisis situasi politik nasional, pun begitu ketika masa pandemi Covid-19 di Indonesia kini. Mulai dari wawancaranya dengan Presiden Jokowi, hingga yang terbaru, kritiknya terhadap kinerja DPR menuai banyak dukungan publik. Lantas, mengapa Najwa begitu didengar? PinterPolitik.com Siapa yang tidak mengenal sosok Najwa Shihab? Sosok [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Sosok Najwa Shihab telah menjadi salah satu rujukan paling terpercaya dalam menganalisis situasi politik nasional, pun begitu ketika masa pandemi Covid-19 di Indonesia kini. Mulai dari wawancaranya dengan Presiden Jokowi, hingga yang terbaru, kritiknya terhadap kinerja DPR menuai banyak dukungan publik. Lantas, mengapa Najwa begitu didengar?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>iapa yang tidak mengenal sosok Najwa Shihab? Sosok yang telah lama malang melintang di ruang-ruang publik ini kerap kali hadir sebagai representasi ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah melalui kritik-kritik tajamnya.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, Najwa berkesempatan mewawancarai secara langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana untuk menanyakan berbagai hal, misalnya terkait keterlambatan pemerintah dalam memberlakukan larangan mudik. Seperti yang kita ketahui, jawaban mantan Wali Kota Solo tersebut kemudian menjadi <em>meme </em>tersendiri karena membedakan “mudik” dan “pulang kampung”.</p>
<p>Terbaru, dalam instagram pribadinya, Najwa kembali memberikan kritik dengan memposting <a href="https://www.instagram.com/p/B_qSJdHjBPi/"><strong>video</strong></a> berjudul <em>Kepada Tuan Puan DPR yang Terhormat</em>. Dalam video berdurasi 4 menit 56 detik tersebut, Najwa mempertanyakan kinerja DPR yang dinilai tidak fokus menanggulangi pandemi virus Corona (Covid-19) karena justru membahas produk hukum kontroversial seperti <em>Omnibus Law</em>.</p>
<p>Uniknya, kritik tersebut ditanggapi minor oleh anggata dewan, misalnya dengan meminta Najwa meminta maaf atas pernyataannya. Tidak ketinggalan, anggota dewan dari partai Gerindra Andre Rosiade justru berbalik <a href="https://politik.rmol.id/read/2020/05/04/433197/andre-rosiade-sebut-najwa-shihab-punya-hubungan-dengan-salah-satu-startup-di-proyek-kartu-pra-kerja"><strong>mengkritik</strong></a> Najwa dengan menyebutkan anggota DPR telah membantu masyarakat di dapilnya masing-masing, serta menyinggung perihal keterlibatan Sekolahmu yang didirikan oleh kakak Najwa, yakni Najelaa Shibab sebagai salah satu vendor Kartu Prakerja.</p>
<p>Berdasar pada balasan kritik Andre yang tidak sebangun dengan kritik Najwa tersebut, PinterPolitik kemudian membuatnya menjadi <a href="https://www.instagram.com/p/B_w_p9eht5H/"><strong>infografis</strong></a> dengan judul <em>Mba Nana Kena Kritik Juga</em>. Menariknya, dari 356 komentar yang ada dalam postingan tersebut, keseluruhannya membela Najwa dan menilai kritik Andre “salah alamat”. Fenomena gelombang dukungan tersebut dapat pula kita jumpai apabila menengok pada postingan-postingan Najwa, baik di akun <em>instagram</em> maupun <em>youtube</em>-nya.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B_w_p9eht5H/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_w_p9eht5H/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_w_p9eht5H/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Andre Rosiade balas Najwa Shihab &#8211; @najwashihab @andre_rosiade #ruu #kartuprakerja #omnibuslaw #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #tidakmudik #dirumahaja #cucitangan #pakaimasker #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-05-04T12:13:51+00:00">May 4, 2020 at 5:13am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Melihat fenomena tersebut, pernahkah kita menanyakan, mengapa Najwa seolah telah menjadi standar kecerdasan dalam mengkritik pemerintah? Mengapa ia begitu didengar oleh masyarakat?</p>
<h4><strong><em>Halo Effect</em></strong></h4>
<p>Disadari atau tidak, didengarnya berbagai pernyataan Najwa tampaknya terjadi karena anak dari Quraish Shihab tersebut dilihat begitu karismatik oleh masyarakat. Hal tersebut misalnya juga diungkapkan oleh pemain drum Superman is Dead (SID) Jerinx ketika melakukan <em>live</em> <em>instagram</em> bersama dengan dr Tirta, ataupun ketika menjadi narasumber di salah satu stasiun televisi ketika membahas mengenai teori konspirasi di balik virus Corona (Covid-19) beberapa hari yang lalu.</p>
<p>Menurutnya, masyarakat akan lebih mendengarkan Najwa daripada Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan karena penampilan Menkes yang kalah “karismatik” dengan Najwa. Dengan kata lain, Jerinx hendak menegaskan bahwa lebih didengarnya sosok yang akrab dipanggil Mba Nana tersebut karena faktor psikologis.</p>
<p>Apa yang diungkapkan oleh Jerinx tampaknya benar. Dalam psikologi, konteks lebih didengarnya Najwa dari Menkes tersebut dapat kita pahami melalui konsep <em>halo effect</em>. Hampir seabad yang lalu, psikolog Edward Lee Thorndike telah mempelajari efek psikologi tersebut dan menyimpulkan bahwa manusia kerap kali menilai keseluruhan objek berdasarkan atas suatu impresi awal yang terlihat.</p>
<p><em>Halo effect</em> akan membuat seseorang menilai sesuatu atau orang lain hanya berdasarkan <em>single quality</em> yang jelas terlihat, seperti kecantikan, status sosial, ataupun usia. Sederhananya, ini seperti penilaian yang mengacu pada pandangan pertama.</p>
<p>Seperti kata Jerinx, dengan mengacu pada <em>halo effect</em>, lebih didengarnya Najwa oleh masyarakat terjadi karena sosoknya yang memang terlihat karismatik, berwibawa, ataupun citranya yang cerdas. Atas hal tersebut, tidak mengejutkan untuk melihat mengapa kemudian pernyataan Mba Nana selalu dinanti-nanti oleh masyarakat, yang misalnya terlihat dengan tingginya angka partisipasi di setiap postingannya, baik di <em>instagram</em> ataupun <em>youtube</em>.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B_3qWt-Bviw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_3qWt-Bviw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_3qWt-Bviw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Pandemi corona, Jokowi minta keringanan hutang #hutang #jokowi #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #tidakmudik #dirumahaja #cucitangan #pakaimasker #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-05-07T02:22:24+00:00">May 6, 2020 at 7:22pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Komunikasi Karismatik</strong></h4>
<p>Setelah memahami bahwa Najwa adalah sosok yang karismatik, tentu kemudian harus dijawab mengapa itu terjadi?</p>
<p>Bryan Clark dalam tulisannya <em>What Makes People Charismatic, and How You Can Be, Too</em> memaparkan lebih lanjut terkait mengapa seseorang dapat memiliki karisma. Tidak seperti dalam pandangan Yunani Kuno yang menyebutkan karisma adalah karunia dari tuhan, Clark justru menyebutkan bahwa karisma adalah sesuatu yang <a href="https://www.nytimes.com/2019/08/15/smarter-living/what-makes-people-charismatic-and-how-you-can-be-too.html"><strong>dapat dipelajari</strong></a>.</p>
<p>John Antonakis – profesor prilaku organisasi dari Universitas Lausanne, Swiss – menyebutkan bahwa karisma adalah tentang memberi informasi secara simbolis, emosional, dan berbasis nilai. Dengan kata lain, karisma adalah kemampuan dalam menggunakan teknik verbal dan nonverbal.</p>
<p>Senada dengan Antonakis, penulis buku <em>The Charisma Myth,</em> Olivia Fox Cabane, turut menjabarkan teknik verbal dan nonverbal tersebut dalam tiga pilar yang dapat membentuk karisma.</p>
<p>Pertama adalah <em>presence</em>, yakni kemampuan dalam menghadirkan komunikasi yang baik. Kedua adalah <em>power</em>, yakni kemampuan dalam memperlihatkan kuasa atau kepercayaan diri. Pilar kedua akan memungkinkan seseorang untuk tidak merasa inferior atas kuasa pihak lain. Dan ketiga adalah <em>warmth</em>, yakni kemampuan dalam menghadirkan kehangatan atau memancarkan kebaikan terhadap orang lain.</p>
<p>Merujuk pada  Antonakis dan Cabane, kita dapat melihat karisma yang dimiliki Najwa sepertinya terbentuk karena kemampuannya dalam menggunakan teknik verbal dan nonverbal atau kemampuannya dalam menghadirkan ketiga pilar.</p>
<p>Terkait kemampuan berkomunikasi, tidak diragukan lagi bahwa Najwa memiliki aksentuasi khas yang membuat setiap pernyataannya memiliki karisma atau wibawa tersendiri. Suka atau tidak, kemampuan dalam mengolah aksentuasi semacam itu juga terlihat jelas dalam teknik komunikasi Rocky Gerung.</p>
<p>Memang harus diakui, sakin khasnya aksentuasi Rocky, tidak sedikit terdapat pihak yang berusaha meniru cara mantan dosen filsafat Universitas Indonesia tersebut dalam menyampaikan argumentasi. Hal serupa juga dapat ditemui pada kasus penyanyi lawas Ebiet G. Ade, yang karena teknik vokalnya yang khas, membuat banyak orang berusaha menirukannya dulu – mungkin juga sampai saat ini.</p>
<p>Disenanginya aksentuasi khas Najwa dan Rocky sebenarnya sama halnya dengan ketertarikan manusia akan musik. Brian Resnick dalam tulisannya <em>The Scientific Mystery of Why Humans Love Music menyebutkan</em> bahwa alasan manusia menyukai musik karena otak manusia sangat <a href="https://www.vox.com/science-and-health/2016/2/4/10915492/why-do-we-like-music"><strong>menyukai pola</strong></a>. Sama halnya ketika melakukan hubungan seksual dan makan, mendengarkan musik juga akan membuat otak memproduksi hormon dopamin yang akan membuat manusia merasa senang atau bahagia.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B_4KtBPh2VP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_4KtBPh2VP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_4KtBPh2VP/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Ada yang tau keberadaan Harun Masiku? #harunmasiku #harunmasikukemana #posterpinterpolitik #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #tidakmudik #dirumahaja #cucitangan #pakaimasker #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-05-07T07:05:04+00:00">May 7, 2020 at 12:05am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Memperhatikan musik atau gaya komunikasi Najwa dan Rocky, tentu kita dapat melihat terdapat pola yang terbangun di sana. Musik, tentu saja, tanpa adanya pola yang jelas, suara yang dihasilkan akan buruk, yang justru dapat menurunkan <em>mood</em>. Pun begitu dengan aksentuasi Najwa dan Rocky, karena polanya teratur dan memainkan tinggi rendahnya nada suara, otak kita menangkap efek seperti ketika mendengarkan musik.</p>
<p>Kemudian terkait <em>power</em>, pilar ini terlihat jelas diperlihatkan Najwa ketika ia seperti sejajar bahkan mungkin lebih karismatik ketika berhadapan dengan pejabat publik. Terbaru, kita tentu melihat bagaimana percaya dirinya Mba Nana ketika mewawancarai Presiden Jokowi secara langsung di Istana. Jika orang lain di posisi tersebut, mungkin yang terjadi adalah kegugupan, <em>minder</em>, ataupun salah dalam mengucapkan kata-kata.</p>
<p>Terakhir, terkait <em>warmth</em>, ini terlihat jelas dalam diri Najwa yang kerap memberikan senyum selepas menyampaikan pernyataan. Secara khusus, konteks kehangatan ini yang menjadi pembeda tegas Najwa dengan Rocky. Seperti yang kita ketahui, alih-alih memberikan kesan hangat dalam setiap pernyataannya, Rocky justru menyampaikan argumentasi dengan menggunakan istilah-istilah yang “tidak enak” untuk didengar.</p>
<p>Di luar ketiga pilar tersebut, pembeda Najwa dengan Rocky juga terletak pada Mba Nana yang membawa karisma keluarga Shihab di pundaknya. Seperti yang diketahui, ayah Najwa, Quraish Shihab merupakan seorang ahli tafsir yang keilmuwannya tentu tidak diragukan lagi. Tidak hanya dikenal sebagai keluarga cendikiawan, keluarga Shihab juga memiliki legitimasi budaya karena merupakan <a href="https://kumparan.com/kumparannews/quraish-shihab-sekeluarga-memilih-melepas-gelar-habib/full"><strong>keturunan langsung</strong></a> Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Dengan adanya karisma komunikasi yang dimiliki Najwa, seperti yang disebutkan oleh Tamir Sheafer dalam tulisannya <em>Charismatic Skill and Media Legitimacy: An Actor-Centered Approach to Understanding the Political Communication Competition</em>, boleh jadi itu telah membuat Najwa memiliki <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/009365001028006001"><strong>legitimasi media</strong></a>, yang mana setiap pernyataannya seolah akan mendapatkan pembenaran dari media massa.</p>
<p>Sedikit tidaknya, legitimasi media tersebut dapat kita jumpai dengan berbagai media massa yang seolah seayun dengan pernyataan ataupun kritik-kritik Najwa. Bagaimanapun juga, Najwa sepertinya telah sukses menghadirkan dirinya sebagai representasi kritik publik atas pemerintah. Hal tersebut tentunya sesuai dengan peran media yang juga sebagai penjaga demokrasi atau bertugas dalam mengkritik pemerintah. Salam hangat untukmu Mba Nana. (R53)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="nOf2TkiuYr8"><iframe title="Politik di Balik Game: Final Fantasy VII" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/nOf2TkiuYr8?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/05/n.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
