<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Gibran Sintesis Jokowi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/gibran-sintesis-jokowi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Nov 2022 02:04:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Gibran Sintesis Jokowi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gibran Ingin Jadi Sintesis Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/gibran-ingin-jadi-sintesis-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[I76]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2022 02:04:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming Raka]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Sintesis Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=119123</guid>

					<description><![CDATA[“Yo&#160;wis&#160;ngko&#160;tak&#160;copot (Ya sudah nanti saya copot). Aku semangat nek nyopot-nyopot&#160;(kalau mencopoti). Menyalahi aturan kan katane,” – Gibran Rakabuming, Wali&#160;Kota Solo PinterPolitik.com Apakah kalian pernah mendengar ungkapan&#160;yang berbunyi, “Jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti”?&#160;Ini bukan hanya lirik lagu loh, tapi ungkapan ini&#160;juga&#160;menunjukkan majas antitesis. Antitesis merupakan sebuah majas yang menggunakan bahasa kiasan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>“</strong><strong><em><strong><em><ins>Y</ins></em></strong></em></strong><strong><em><strong><em>o</em></strong></em></strong><strong>&nbsp;</strong><strong><em><strong><em>wis</em></strong></em></strong><strong>&nbsp;</strong><strong><em><strong><em>ngko</em></strong></em></strong><strong>&nbsp;</strong><strong><em><strong><em>tak</em></strong></em></strong><strong>&nbsp;copot (Ya sudah nanti saya copot). Aku semangat </strong><strong><em><strong><em>nek nyopot-nyopot</em></strong></em></strong><strong>&nbsp;(kalau mencopoti). Menyalahi aturan kan </strong><strong><em><strong><em>katane</em></strong></em></strong><strong>,” – Gibran Rakabuming, Wali</strong><strong><ins>&nbsp;K</ins></strong><strong>ota Solo</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/"><strong><u><strong>PinterPolitik.com</strong></u></strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Apakah kalian pernah mendengar ungkapan<ins>&nbsp;yang berbunyi</ins>, “Jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti”<ins>?</ins>&nbsp;Ini bukan hanya lirik lagu <em>loh</em>, tapi ungkapan ini<ins>&nbsp;juga</ins>&nbsp;menunjukkan majas antitesis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><ins>Antite</ins><ins>sis merupakan s</ins>ebuah majas yang menggunakan bahasa kiasan yang menggambarkan komparasi, perbandingan antara lawan kata atau antonim. Antitesis sering<ins>&nbsp;</ins>kali menimbulkan adanya pertentangan antara dua hal yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir-akhir ini persoalan, tesis dan antitesis ramai jadi perbincangan di panggung politik kita. Hal ini karena isu yang berkembang terkait bakal calon presiden (capres) dari Partai NasDem<ins>,</ins>&nbsp;Anies Baswedan<ins>,</ins>&nbsp;yang disebut <ins>menjadi </ins>antitesis<ins>&nbsp;bagi Presiden</ins>&nbsp;Joko Widodo<ins>&nbsp;(Jokowi)</ins>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kali ini<ins>,</ins>&nbsp;yang kita bicarakan bukan Anies <em>loh</em>, tapi orang yang mungkin agak sulit diterima sebagai antitesis Jokowi. <ins>M</ins>elalui perilakunya belakangan ini, terlihat ada upaya ke arah sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang dimaksud adalah Wali<ins>&nbsp;K</ins>ota Solo Gibran Rakabuming. Anak Presiden Jokowi ini berencana menertibkan sejumlah baliho bergambar Jokowi yang bermunculan di Kota Solo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baliho<ins>-baliho</ins>&nbsp;tersebut bertuliskan “Terima Kasih Pak Jokowi untuk BLT, BSU, dan Bantuan Sosial Lainnya. Subsidi BBM tepat Sasaran, Subsidi untuk Rakyat kurang mampu, yes..yes..yess<ins>.</ins>”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gibran mengaku telah mendapatkan informasi bahwa pemasangan baliho menyalahi aturan dan perlu ditertibkan. <em>Nah</em>, sikap seperti ini bukanlah yang pertama<ins>.</ins>&nbsp;<ins>S</ins>ebelumnya<a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/gibran-mulai-berani-mbalelo/"><strong>&nbsp;</strong><strong><u><strong>Gibran juga terkesan “</strong></u></strong><strong><em><u><strong><em>mbalelo</em></strong></u></em></strong><strong><u><strong>”</strong></u></strong></a>&nbsp;saat menolak menggunakan mobil listrik<ins>&nbsp;sebagai mobil dinas</ins>&nbsp;<ins>berdasarkan</ins>&nbsp;<ins>I</ins>nstruksi<ins>&nbsp;Presiden (Inpres)</ins>&nbsp;Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah sekumpulan tindakan Gibran ini mengindikasikan kalau ia ingin dianggap berseberangan dengan Jokowi? Apakah Gibran ingin menjadi antitesis Jokowi?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="826" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-826x1024.png" alt="image 77" class="wp-image-119125" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-826x1024.png 826w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-242x300.png 242w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-121x150.png 121w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-768x952.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-696x863.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-1068x1324.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77-339x420.png 339w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-77.png 1080w" sizes="(max-width: 826px) 100vw, 826px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gibran Berani Copot Baliho Jokowi?<br><br></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks filosofis, istilah sintesis pertama kali dikemukakan oleh <ins>f</ins>ilsuf berkebangsaan Jerman, Friedrich Hegel. Ia memperkenalkan pemikiran dialektika sebagai suatu proses tiga tahap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahap pertama disebut tesis, tahap kedua negatif atau disebut antitesis, <ins>dan </ins>tahap ketiga disebut sintesis, yaitu menyatukan atau mendamaikan dua tahap pertama dan kedua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ilmu politik, ideologi, fenomenologi<ins>,</ins>&nbsp;bahkan fisika, pendekatan sintesis sering digunakan. Sintesis diterjemahkan sebagai integrasi dari dua elemen<ins>,</ins>&nbsp;yakni tesis dan antitesis, yang menghasilkan suatu hasil baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan<ins>,</ins>&nbsp;jika kita tarik ingatan pada sejarah politik Indonesia. Fenomena dengan skema antitesis ini juga hadir mewarnainya. Sebut saja Era Reformasi 1998 <ins>ya</ins><ins>ng menjadi</ins><ins>&nbsp;</ins>antitesis <ins>bagi</ins>&nbsp;pemerintahan Orde Baru<ins>&nbsp;yang dinilai otoritarian</ins>&nbsp;<ins>di bawah </ins>Presiden Soeharto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah pergantian kepemimpinan di Indonesia dari periode ke periode hampir bisa dikatakan semuanya berangkat dari teori antitesis<ins>.</ins>&nbsp;<ins>U</ins>ntuk menggantikan presiden sebelumnya, maka calon presiden y<ins>an</ins>g akan datang harus berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Megawati Soekarnoputri digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono <ins>(</ins>SBY<ins>)</ins>&nbsp;karena <ins>muncul persepsi bahwa </ins>Mega tidak tegas. SBY digantikan oleh Jokowi karena masyarakat <ins>disebut menginginkan </ins>pemimpin yang tidak elitis dan dekat dengan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, persoalan tesis-antitesis ini dipersoalkan oleh Direktur Pusaka Pancasila<ins>&nbsp;Universitas Jakarta</ins>&nbsp;<ins>(</ins>Unija<ins>)</ins>&nbsp;Fakhruddin Muchtar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakhruddin menilai yang penting bukan sebatas pertarungan tesis dan antitesis, melainkan pada apa yang dihasilkan oleh pertarungan dialektika itu, yakni tesis dan antitesis melahirkan sintesis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakhruddin ingin mengembalikan perdebatan dialektika pada tempat semula yang sudah digariskan oleh Hegel<ins>.</ins>&nbsp;<ins>T</ins>entu<ins>,</ins>&nbsp;hal ini menjadi menarik karena<ins>,</ins>&nbsp;pada akhir perdebatan<ins>,</ins>&nbsp;haruslah ada orang yang menjadi sintesis bukan hanya sebagai antitesis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, jadi kepikiran<ins>.</ins>&nbsp;<ins>J</ins>angan-jangan upaya Gibran belakangan ini sebenarnya bukan ingin menjadi antitesis tapi lebih dari itu, Gibran ingin membangun citra sebagai sintesis dari bapaknya sendiri, yakni Presiden Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>By the way</em>, <ins>coba </ins>ingat pertentangan ayah dan anak jadi ingat cerita mitologi Yunani, khususnya dalam Perang Titanomakhia. Saat itu, Zeus sebagai anak berperang dan berani mengalahkan ayahnya sendiri Sang Titan Kronos.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja Perang Titanomakhia tidak terjadi di negeri ini<ins>.</ins>&nbsp;<em><ins>N</ins></em><em>ggak</em>&nbsp;<em>kebayang</em>&nbsp;<em>sih</em>&nbsp;kalau Gibran <em>beneran</em>&nbsp;<em>ngelawan</em>&nbsp;Jokowi hanya karena ingin disebut sebagai sintesisnya. Alih-alih sintesis<ins>,</ins>&nbsp;nanti malah dikutuk jadi batu karena durhaka. <em>Uppss</em>. <em>Hehehe</em>. (I76)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="3UXmC0NUvFU"><iframe title="Attila Sang Hun: Dewa Perang yang Hampir Kuasai Dunia" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/3UXmC0NUvFU?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Attila Sang Hun: Dewa Perang yang Hampir Kuasai Dunia</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/jokowi-gibran-1024x683-1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
