<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>anji &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/anji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Feb 2022 13:27:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>anji &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Anji dan Jerinx Kuak Dogmatisme IDI?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anji-dan-jerinx-kuak-dogmatisme-idi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2020 11:16:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[anji]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Desperation Science]]></category>
		<category><![CDATA[Dogmatisme]]></category>
		<category><![CDATA[Empirisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jerinx]]></category>
		<category><![CDATA[Rapid Test]]></category>
		<category><![CDATA[Terawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=101422</guid>

					<description><![CDATA[Polemik publikasi prematur Hadi Pranoto yang mengklaim menemukan obat Covid-19 di kanal YouTube milik Anji kian mengemuka dan menuai banyak tanggapan bernada minor dari berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari epidemiolog, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) turut bersuara. Namun khusus untuk nama terakhir, munculnya berbagai fenomena [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading"><strong>Polemik publikasi prematur Hadi Pranoto yang mengklaim menemukan obat Covid-19 di kanal YouTube milik Anji kian mengemuka dan menuai banyak tanggapan bernada minor dari berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari epidemiolog, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) turut bersuara. Namun khusus untuk nama terakhir, munculnya berbagai fenomena publikasi prematur terkait Covid-19 pada sisi berbeda dinilai menguak sebuah defisiensi tersendiri pada peran organisasi profesi kedokteran tersebut selama ini, apakah itu?</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Agaknya memang tidak mudah menghapus eksistensi metode “alternatif” dalam upaya pengobatan berbagai jenis penyakit pada stigma masyarakat Indonesia. Efektivitas yang bahkan terkadang kemudian dapat terbukti secara empiris membuat kemunculan berbagai jenis obat maupun metode penyembuhan begitu dinamis mewarnai perkembangan dunia medis di tanah air, termasuk saat pandemi Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah beberapa waktu lalu Ningsih Tinampi sempat membuat&nbsp;<a href="https://tirto.id/menilik-disinformasi-hadi-pranoto-tentang-covid-19-fVqn"><strong>geger</strong></a>&nbsp;dengan obat Covid-19 seharga Rp 35 ribu, isu terakhir bahkan membesar menjadi polemik saat nama Hadi Pranoto melambung seantero negeri karena mengklaim menemukan obat herbal yang mampu mengobati Covid-19 di kanal YouTube Dunia Manji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Embel-embel titel profesor yang kemudian tidak terbukti keabsahannya membuat polemik tersebut menggelinding liar yang sampai membuat berbagai tokoh dan institusi besar di Indonesia turut menyangsikan dan berusaha meluruskan kontroversi yang dibuat Hadi Pranoto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun berusaha&nbsp;<a href="https://lifestyle.bisnis.com/read/20200805/106/1275225/begini-respon-idi-soal-obat-herbal-dari-hadi-pranoto"><strong>meluruskannya</strong></a>&nbsp;melalui Daeng Mohammad Faqih, yang mengatakan bahwa publikasi dan klaim khasiat obat dalam bentuk apapun, termasuk herbal, harus melalui tahapan penelitian empiris, di mana Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) wajib menjadi rujukan utama apakah sebuah obat teruji dan efektif secara klinis atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun demikian, upaya “terobosan” dalam penanganan Covid-19 tak hanya dibuat oleh sosok yang dinilai tidak memiliki kompetensi dan tak berbasis landasan empiris semata. Seperti contoh yang&nbsp;<a href="https://www.nikkei.com/article/DGXMZO62272190U0A800C2AC8000/"><strong>terjadi</strong></a>&nbsp;di Jepang kemarin, saat Gubernur Osaka bersama Osaka Habiki Medical Center memberikan publikasi berupa konferensi pers bahwa&nbsp;<em>mouthwash</em>&nbsp;atau obat kumur memiliki frekuensi positif terhadap kesembuhan pasien Covid-19 dengan gejala ringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya dua sampel di atas, terobosan mengenai berbagai obat Covid-19 nyatanya jamak terjadi sejak beberapa bulan lalu. Seperti ketika di Inggris muncul riset efektivitas <em>dexamethasone</em>, serta di Amerika Serikat (AS) saat Presiden Donald Trump mengklaim dan mempublikasikan prospek penggunaan <em>hydroxychloroquine</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan di Indonesia sendiri, pada pertengahan Juni lalu Badan Intelijen Negara (BIN) sempat merilis&nbsp;<a href="https://www.liputan6.com/health/read/4291691/bin-ungkap-alasan-di-balik-keterlibatan-pembuatan-obat-covid-19"><strong>klaim</strong></a>&nbsp;temuan obat Covid-19 hasil kerja sama dengan Universitas Airlangga dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Meskipun realitanya, eksistensi berbagai obat tersebut masih menjadi tanda tanya hingga kini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa terobosan serta publikasi prematur, baik yang secara ilmiah memiliki dasar empiris ataupun tidak, jamak terjadi selama pandemi Covid-19 berlangsung? Serta secara spesifik, bagaimana sesungguhnya peran IDI, sebagai organisasi profesi dokter yang dinilai memiliki kompetensi signifikan dalam memverifikasi berbagai fenomena publikasi prematur yang mengemuka?</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>IDI dan&nbsp;<em>Desperation Science</em></strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena publikasi prematur ini disoroti oleh Marilynn Marchione&nbsp;<a href="https://apnews.com/db08697f6260038f196b1106fe574228"><strong>dalam</strong></a>&nbsp;<em>Desperation Science Slows the Hunt for Coronavirus Drugs</em>. Marchione menyebutnya sebagai&nbsp;<em>desperation science</em>, yakni ketika bahkan peneliti pun di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19 mengambil jalan pintas dan melenturkan aturan maupun prosedur untuk mendapat jawaban terkait pengobatan, vaksin, dan sebagainya secara cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain menyoroti&nbsp;<em>dexamethasone</em>&nbsp;di Inggris maupun hydroxychloroquine di AS, Marchione juga mengamati fenomena publikasi berbagai jurnal terkait Covid-19, termasuk riset obat yang disebut bersifat&nbsp;<em>chaotic</em>&nbsp;atau keos karena seolah terburu-buru dirilis dan bahkan kemudian tak sedikit yang kontraproduktif ketika digunakan oleh pemerintah di berbagai negara sebagai acuan penanganan pandemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun pada sisi berbeda, sebuah publikasi prematur dinilai memiliki signifikansi tersendiri dalam perkembangan ilmu kedokteran dan medis. Ihwal ini sendiri dapat dikaji dari sudut pandang seorang filsuf bernama Sextus Empiricus, yang menelurkan&nbsp;<a href="https://plato.stanford.edu/entries/sextus-empiricus/"><strong>paradigma</strong></a>&nbsp;<em>empiric school of medicine</em>&nbsp;yang mengedepankan pentingnya proses pengalaman dan eksperimen dalam perkembangan ilmu kedokteran, serta menolak paradigma dogmatis di mana implementasi ilmu kedokteran hanya terpaku secara “<em>text book</em>”, serta membuat institusi kesehatan terbelunggu ke dalam dogma otoritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kontradiksi antara paradigma empiris dan dogmatis tersebut agaknya tercermin pada polemik penggunaan&nbsp;<em>rapid test</em>, yang tampak memiliki konsekuensi tersendiri di Indonesia ketika telah dijadikan pedoman dan syarat bagi seseorang yang ingin melakukan perjalanan, namun belakangan faktanya menuai polemik karena terbukti&nbsp;<a href="https://news.detik.com/berita/d-5085753/syarat-rapid-test-untuk-perjalanan-dinilai-tak-relevan-lagi-ini-alasannya"><strong>tidak&nbsp;</strong></a>efisien dan efektif dalam menekan penyebaran Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalan tersebut juga bahkan turut merembet pada kritik bernada ekstrem dari Jerinx, drummer Superman Is Dead. Jerinx secara langsung mengarahkan kritik pada IDI karena&nbsp;<a href="https://wartakota.tribunnews.com/2020/08/04/ini-tanggapan-pihak-jerinx-sid-usai-dilaporkan-ke-polisi-oleh-ikatan-dokter-indonesia"><strong>dianggap</strong></a>&nbsp;tidak pro-aktif dalam meluruskan efektivitas&nbsp;<em>rapid test</em>&nbsp;dan seolah justru mengambil “keuntungan” dari adanya kewajiban penggunaan&nbsp;<em>rapid test</em>&nbsp;bagi keperluan tertentu yang belakangan realitanya tidak efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar konteks nada kritik ekstrem yang dianggap menghina tersebut, cukup menarik agaknya ketika Jerinx menyoroti kinerja IDI dalam kritiknya. Terlebih, IDI juga merupakan organisasi yang jamak dianggap sebagai salah satu verifikator vital yang terpercaya dan dapat secara pro-aktif memberikan penilaian pada berbagai temuan mekanisme protokol kesehatan, metode pengobatan, maupun utilisasi obat pada dunia kedokteran di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan jika dicermati, agaknya terdapat poin yang tidak sepenuhnya salah dari Jerinx ketika IDI semestinya turut aktif dan menetapkan langkah tegas terkait sikap organisasi dengan signifikansinya dalam merespon dinamisnya referensi mengenai efektivitas berbagai temuan, metode, serta prosedur terkait kedokteran dan medis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berpegang pada asumsi Sextus di atas, kita juga dapat melihat bahwa peran IDI seolah tampak tidak selalu konsisten dan konstruktif dalam perkembangan ilmu kedokteran dan medis di Indonesia, termasuk pula saat pandemi Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kontradiksi dari apa yang dikemukakan Sextus sebelumnya tampak misalnya polemik&nbsp;<em>rapid test</em>&nbsp;yang kendatipun diketahui tidak efektif, justru masih&nbsp;<a href="https://republika.co.id/berita/qbnx3h384/idi-sebut-bahaya-jika-masyarakat-tolak-emrapid-testem"><strong>didukung</strong></a>&nbsp;oleh IDI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada fenomena lampau, seteru otoritas juga terlihat dari  polemik antara IDI dan Terawan Agus Putranto yang kala itu masih berdinas di TNI-AD mengenai terapi cuci otak dalam pengobatan stroke.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kala itu, IDI seolah menutup diri dari&nbsp;<em>manjurnya</em>&nbsp;temuan baru metode Terawan dengan mengambil sikap bahwa organisasi tersebut tidak mengakui metode tersebut.&nbsp;<a href="https://health.grid.id/read/351894314/sepak-terjang-dokter-terawan-dipecat-idi-setelah-kenalkan-metode-cuci-otak-hingga-jadi-menteri-kesehatan?page=all"><strong>Polemik</strong></a>&nbsp;inilah yang dianggap menjadi awal pertanyaan terkait konsistensi standar dan eksistensi ego sektoral pada tubuh IDI terhadap perkembangan ilmu kedokteran dan medis di tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, jamaknya&nbsp;<a href="https://www.pinterpolitik.com/menguak-manuver-superior-idi-saat-pandemi/"><strong>kritik</strong></a>&nbsp;IDI terhadap “terobosan” pemerintah selama penanganan pandemi Covid-19 dinilai tidak hanya turut merepresentasikan pertentangan empiris dan dogmatis, tetapi juga mengekspos potret lanjutan nuansa konfliktual antara kedua belah pihak yang dianggap menimbulkan dugaan terkait adanya kepentingan tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, dengan mengacu pada Sextus, ditolaknya temuan Terawan ataupun berbagai klaim atas Covid-19 yang tidak berasal dari IDI, sebenarnya dapat kita maknai bahwa temuan yang ditolak tersebut tidak dalam artian salah, melainkan tidak absah secara otoritatif.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, semua pihak juga tentu tidak dapat menegasikan peran profesi dokter secara spesifik di Indonesia selama pandemi Covid-19 yang tidak diragukan dedikasinya hingga banyak yang harus bertaruh nyawa demi masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan rangkaian narasi publikasi prematur, serta pertentangan paradigma empirisme dengan dogmatis di atas juga tidak dapat dilepaskan dari korelasi antara sains dan masyarakat di Indonesia, yang acapkali belum selaras.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Problematika Kompleks</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Jeffrey Hays&nbsp;<a href="http://factsanddetails.com/indonesia/Education_Health_Energy_Transportation/sub6_6b/entry-4076.html"><strong>dalam</strong></a>&nbsp;<em>Health and Health Care in Indonesia</em>&nbsp;menyebutkan bahwa pengobatan medis modern di Indonesia masih erat berdampingan serta dipengruhi oleh metode pengobatan tradisional dan alternatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini menurut Nicholas J. Long&nbsp;<a href="http://eprints.lse.ac.uk/87323/1/Long_Accept%20and%20utilize_2018.pdf"><strong>dalam</strong></a>&nbsp;<em>“Accept and Utilize”: Alternative Medicine, Minimality, and Ethics in an Indonesian Healing Collective</em>&nbsp;tidak dapat dilepaskan dari transisi kalangan masyarakat bawah ke menengah baik dalam aspek ekonomi maupun pendidikan, di mana mereka telah terbiasa dengan nilai dan pengaruh aspek “spiritual” dari metode pengobatan tradisional dan alternatif yang tak jarang bertolakbelakang dengan bukti empiris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara singkat, persoalan kompleks penanganan Covid-19 di Indonesia dapat kita kerucutkan dalam dua simpulan.&nbsp;<em>Pertama</em>, masih adanya seteru otoritas antara IDI dengan pemerintah, sehingga sinergi menjadi tidak terbentuk.&nbsp;<em>Kedua</em>, masyarakat Indonesia masih sulit melepaskan diri dari kepercayaan terhadap pengobatan tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah pandemi seperti saat ini, menumbuhkan kesadaran bersama serta terus saling bersinergi menjadi penting untuk dilakukan secara simultan oleh masyarakat, pemerintah, serta didukung oleh organisasi yang punya signifikansi esensial seperti IDI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polemik yang ada, termasuk kasus Jerinx, Anji, maupun Hadi Pranoto, maupun berbagai polemik yang ada di masa lalu, diharapkan tidak lantas berpengaruh destruktif serta mendegradasi sinergitas dari seluruh pihak untuk dapat keluar dari dampak multi aspek pandemi Covid-19. Tentu itulah yang kita harapkan. (J61)</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Ngobrol Bareng Founder PinterPolitik | Wawancara Bersama Stephanie Tangkilisan" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ckuIV8y-6To?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Anji-dan-Jerinx-Kuak-Dogmatisme-IDI.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Buat Apa Jokowi Temui Anji?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/buat-apa-jokowi-temui-anji/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2020 13:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[anji]]></category>
		<category><![CDATA[Hadi Pranoto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=104579</guid>

					<description><![CDATA[“A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimate at peace with himself” – Abraham H. Maslow, psikolog asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Hey, gengs, menurut kalian, apa sebabnya pemain sepak bola kariernya redup? Mungkin, beberapa mengira faktor&#160;skill&#160;yang mulai menurun dan gairah bermain yang agak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading"><strong>“A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimate at peace with himself” – Abraham H. Maslow, psikolog asal Amerika Serikat (AS)</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph"><em>Hey, gengs</em>, menurut kalian, apa sebabnya pemain sepak bola kariernya redup? Mungkin, beberapa mengira faktor&nbsp;<em>skill</em>&nbsp;yang mulai menurun dan gairah bermain yang agak hilang kan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban ini memang benar, tetapi ada satu hal lagi&nbsp;<em>nih</em>&nbsp;yang menjadi biang kerok karier pemain redup kendati ia&nbsp;<em>skill</em>&nbsp;dan gairah permainannya masih hidup. Apa kira-kira,&nbsp;<em>cuy</em>? Apa lagi kalau bukan masalah pribadi yang bikin si pemain&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;profesional?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Van Der Meyde menjadi bukti paling jelas. Pemain penuh talenta itu benar-benar harus terlunta-lunta hingga memutuskan pensiun dini bukan sebab&nbsp;<em>skill</em>&nbsp;yang hancur, melainkan karena ia punya seabrek masalah pribadi, mulai alkohol sampai ketidakdisiplinan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada lagi nih pemain yang paling cocok dijadikan contoh tulisan ini, yakni Anelka yang kariernya bertambah hancur pasca-konflik pribadi dengan si pelatih Perancis saat Piala Dunia 2010, Raymond Domenech. Anelka dan Domenech terlibat adu mulut yang berujung pada terdepaknya Anelka dari skuat Prancis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, sama halnya dalam dunia musik, banyak sekali artis yang kariernya redup bukan hanya sebab pita suara bermasalah atau gairah menyanyi hilang, tetapi dipengaruhi oleh faktor diri artis itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makanya, saat <em>mimin</em> tahu bahwa si Anji, penyanyi hebat yang terkenal dengan lagu “Dia” jadi <em>trending</em> <em>topic</em> pasca-wawancara yang ia lakukan bersama Hadi Pranoto, yang ada di kepala mimin tentang Anji cuma satu <em>“offside”.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, Anji perlu belajar&nbsp;<em>nih&nbsp;</em>peran sosial musisi dan artisdari Iwan Fals sampai Dian Sastro yang nyata dan berdampak langsung. Sebaiknya, tidak asal coba-coba seperti yang dilakukan Mas Anji beberapa waktu lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seharusnya, kalau mau mengedukasi supaya bisa terhindar dari Covid-19, cukup dengan mengangkat diskusi dengan para pakar kesehatan, bukan malah mewawancarai orang yang ternyata&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;punya keahlian khusus dan&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;termasuk bagian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah tahu banyak yang kritik, bukannya klarifikasi baik-baik, eh, malah seakan lempar batu sembunyi tangan. Doi bilang bahwa seharusnya yang minta maaf dan kena kritikan itu Pak Hadi, bukan dirinya, karena posisinya cuma&nbsp;<em>interviewer</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sontak saja cuitan Anji dikomentari Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang ahli menenggelamkan kapal. “Anda tidak bertanggung jawab,” tegas Susi buat Anji. Waduh, bisa-bisa ditenggelamkan&nbsp;<em>tuh</em>&nbsp;Anji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal&nbsp;<em>nih</em>, doi dan beberapa artis dulu pernah dipanggil Presiden Joko Widodo ke Istana. Mungkin, salah satunya ya karena bisa jadi&nbsp;<em>influencer</em>&nbsp;protokol kesehatan yang bagus.&nbsp;<em>Lha</em>, kok malah begini? Kalau begitu, buat apa Pak Jokowi dulu menemui Mas Anji?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kok malah menambah beban pikiran pemerintah? Padahal, saat ini, pemerintah lagi bingung membuat vaksin yang perlu diuji coba bertahap-tahap – karena memang, kesehatan manusia, tidak boleh asal coba-coba. (F46)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Naruto: Politik di Balik Anime &amp; Manga" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8gTz4wJMyKI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Buat-Apa-Jokowi-Temui-Anji.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hadi Pranoto ‘Saingi’ Kalung Anti-Corona?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/hadi-pranoto-saingi-kalung-anti-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2020 13:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[anji]]></category>
		<category><![CDATA[Hadi Pranoto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=104654</guid>

					<description><![CDATA[“Seorang dokter menyembuhkan, dan alam yang menciptakan kesehatan” – Aristoteles, filsuf asal Yunani PinterPolitik.com Gengs, ada yang bilang orang Indonesia dikenal sangat eufemistis alias pandai menyindir dengan kata-kata satir, seperti keras kepala sebagai ganti atas &#8216;susah&#160;dibilangin&#8217;.&#160;Nggak&#160;hanya lewat idiom doang, bahkan cerita-cerita sering kali jadi perantara pesan mereka. Nah, makanya sebelum membahas&#160;babagan&#160;ramuan Covid-19 yang santer diberitakan,&#160;mimin&#160;mau [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading"><strong>“Seorang dokter menyembuhkan, dan alam yang menciptakan kesehatan” – Aristoteles, filsuf asal Yunani</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph"><em>Gengs</em>, ada yang bilang orang Indonesia dikenal sangat eufemistis alias pandai menyindir dengan kata-kata satir, seperti keras kepala sebagai ganti atas &#8216;susah&nbsp;<em>dibilangin&#8217;</em>.&nbsp;<em>Nggak</em>&nbsp;hanya lewat idiom doang, bahkan cerita-cerita sering kali jadi perantara pesan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, makanya sebelum membahas&nbsp;<em>babagan</em>&nbsp;ramuan Covid-19 yang santer diberitakan,&nbsp;<em>mimin</em>&nbsp;mau kasih kalian cerita sedikit. Namun, ini kisah impor dari negeri Baghdad era pimpinan Harun ar-Rasyid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu ketika, si Raja berjalan-jalan sembari mengamati aktivitas rakyatnya. Tanpa dinyana, ada seorang perempuan sangat cantik sekali lewat di depan raja. Tentu sebagai raja yang sangat takut berbuat serong, ia urung mengejar-ngejar perempuan tersebut. Ia pun pulang dengan membawa rasa kalut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesampai rumah, perasaan itu masih juga mengganggunya. Sampai-sampai bikin si Raja&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;bisa tidur. Akhirnya, ia pun membuat sayembara bahwa barang siapa yang bisa bercerita di samping raja hingga membuat raja tertidur, maka akan dikasih hadiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyair-penyair pada datang ke kerajaan. Semuanya bergiliran untuk bercerita. Namun, percuma, raja&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;kunjung tidur juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampailah giliran itu pada Abu Nawas, si bijak yang terkenal lawak. Abu Nawas pun bercerita tentang semut yang masuk ke lubang telinga orang yang lantas keluar lagi karena di dalamnya gelap, terus masuk lagi sebab masih penasaran dengan isi telinga orang itu, kemudian keluar lagi, begitu seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa tidak menarik, si Raja pun berseloroh, &#8220;Kamu ini cerita apa <em>sih</em>, Abu Nawas? <em>Nggak</em> jelas. Daripada aku pusing dengar cerita semutmu itu, mending tidur <em>aja deh</em>.&#8221; Si raja pun tertidur. Abu Nawas pulang dengan tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kira-kira pelajaran dari kisah di atas apa,&nbsp;<em>gengs</em>? Menurut&nbsp;<em>mimin</em>, dari kisah di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya obat terbaik untuk menghilangkan sakit yang susah diraba dan dideteksi adalah dengan tidak mencoba-coba obat yang spekulatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Lha</em>&nbsp;<em>wong</em>, sakit soal cinta kok mau sembuh sebab cerita. Yang benar saja.&nbsp;<em>Haha</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persis dengan pemberitaan terakhir tentang penangkal Covid-19&nbsp;<em>sih</em>,&nbsp;<em>cuy</em>. Banyak yang berspekulasi mengenai obat yang cocok buat penyakit Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Mimin sih nggak</em>&nbsp;mempersoalkan fenomena ini,&nbsp;<em>gengs</em>, namanya juga mencoba. Hanya saja sangat menggelikan. Pasalnya, malah terkesan asal-asalan&nbsp;<em>gitu loh</em>, tanpa pembuktian ilmiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingat&nbsp;<em>lho</em>&nbsp;ya kata orang bijak di status media sosial, &#8220;Mencoba&nbsp;<em>nggakpapa</em>. Asal jangan coba-coba.&#8221; Maksudnya ya tentu saja semua percobaan haruslah dibuktikan secara ilmiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau asal coba-coba, anak kecil paling pandai.&nbsp;<em>Lha</em>&nbsp;<em>wong</em>, sandal dicoba jadi gawang sepak bola aja berhasil.&nbsp;<em>Hehehe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, makanya&nbsp;<em>deh</em>, orang-orang kayak Hadi Pranoto yang sempat menggegerkan dunia maya pasca kemunculan doi bersama obat yang ditemukannya pada akun YouTube-nya&nbsp;<strong><a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200803140736-32-531626/polemik-video-anji-dan-ragam-klaim-ramuan-penangkal-corona/">Anji</a></strong>, harusnya segera memberi keterangan yang jelas di depan pemerintah pun Ikatan Dokter Indonesia (IDI).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuannya ya jelas,&nbsp;<em>cuy</em>, biar masyarakat&nbsp;<em>nih nggak</em>&nbsp;berpikir yang macam-macam pun kebingungan dihempas oleh banyaknya jamu dan obat bahkan ada yang mirip kayak azimat. Repotnya lagi, ternyata pejabat sekelas Menteri juga turut membuat kita pusing.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bayangin</em>, ada Menteri yang minum jamu katanya bisa ampuh melawan Covid-19. Terus ada juga yang memperkenalkan penemuannya lewat produk kalung yang katanya terbukti membunuh virus. Dan, masih banyak lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, apa Pak Hadi Pranoto ingin menyaingi pemerintah dalam meluncurkan produk-produk obat Covid-19 ya? <em>Tapi</em>, lagi-lagi, masyarakat lah yang hanya dibuat heboh tanpa informasi pasti. Secara, semuanya yang menawarkan produk tersebut <em>nggak</em> ada yang berani menjamin dan diuji keampuhannya. (F46)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Naruto: Politik di Balik Anime &amp; Manga" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8gTz4wJMyKI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Hadi-Pranoto-‘Saingi-Kalung-Anti-Corona.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Anji, Jokowi Harus Panggil Jerinx?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kasus-anji-jokowi-harus-panggil-jerinx/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2020 13:08:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[anji]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Jerinx]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Konspirasi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=81331</guid>

					<description><![CDATA[Viralnya unggahan penyanyi Anji yang mengomentari keganjilan foto jenazah Covid-19 menjadi indikasi tersendiri perihal psikis publik yang terlihat lumrah dengan korban Covid-19. Lantas, mengapa hal ini terjadi? Haruskah Presiden Jokowi memanggil pemain drum Superman is Dead (SID) Jerinx sebagai solusi atas masalah tersebut? PinterPolitik.com &#8220;Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik” &#8211; [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Viralnya unggahan penyanyi Anji yang mengomentari keganjilan foto jenazah Covid-19 menjadi indikasi tersendiri perihal psikis publik yang terlihat lumrah dengan korban Covid-19. Lantas, mengapa hal ini terjadi? Haruskah Presiden Jokowi memanggil pemain drum Superman is Dead (SID) Jerinx sebagai solusi atas masalah tersebut?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>&#8220;Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik” &#8211; Unknown</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>iapa yang tidak panik ketika virus Corona (Covid-19) pertama kali teridentifikasi di Indonesia. Dengan kasus yang baru berjumlah dua orang pada awal Maret lalu, kelangkaan dan kenaikan drastis harga masker serta <em>hand sanitizer</em> menjadi indikasi kuat betapa besarnya histeria publik saat itu.</p>
<p>Namun menariknya, seiring dengan meningkatnya kasus positif ataupun kematian Covid-19 di tanah air, histeria tersebut justru terlihat semakin menurun. Sehingga tidak berlebihan untuk menyebutkan bahwa kenaikan kasus berbanding terbalik dengan reaksi publik terhadapnya.</p>
<p>Tidak hanya terlihat dari tidak disiplinnya masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan, pernyataan sejumlah <em>public figure</em> juga terlihat kontraproduktif dengan usaha penanggulangan pandemi Covid-19.  Yang paling vokal, tentu saja bertengger nama pemain drum Superman is Dead (SID) Jerinx yang percaya bahwa Covid-19 adalah konspirasi dan tidak berbahaya.</p>
<p>Lalu, ada pula kasus YouTuber Indira Kalistha yang sempat <em>viral</em> karena dinilai meremehkan Covid-19 di salah satu wawancara. Kendati tidak sama dengan Jerinx yang mempertahankan pernyataannya, kasus Indira dapat menjadi representasi bahwa mudahnya pernyataan kontraproduktif perihal Covid-19 keluar adalah indikasi bahwa virus ini tidak begitu dinilai serius.</p>
<p>Yang terbaru, terdapat nama penyanyi Anji yang mendapatkan kecaman dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) karena dinilai mendiskreditkan kinerja jurnalis melalui unggahannya yang mengomentari foto jenazah Covid-19 Joshua Irwandi. Seperti yang diketahui, Anji kemudian meminta maaf dan menghapus unggahannya.</p>
<p>Jika kita mengacu pada premis bahwa manusia akan bersimpati pada kematian manusia lainnya. Lantas, mengapa simpati tersebut tidak menjadi beribu-ribu kali lipat di tengah semakin meningkatnya korban Covid-19?</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Hmm, komentar Mas <a href="https://twitter.com/duniamanji?ref_src=twsrc%5Etfw">@duniamanji</a> berbuntut panjang. <a href="https://twitter.com/hashtag/politik?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#politik</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/pinterpolitik?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#pinterpolitik</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/infografis?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#infografis</a> <a href="https://t.co/sli7CenBGl">https://t.co/sli7CenBGl</a> <a href="https://t.co/elrL6IzuWj">pic.twitter.com/elrL6IzuWj</a></p>
<p>&mdash; Pinterpolitik.com (@pinterpolitik) <a href="https://twitter.com/pinterpolitik/status/1285527574676832257?ref_src=twsrc%5Etfw">July 21, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<h4><strong>Kelelahan Bersimpati?</strong></h4>
<p>Keith Payne dalam <a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/life-autopilot/201003/why-is-the-death-one-million-statistic"><strong>tulisannya</strong></a> <em>Why Is the Death of One Million a Statistic?</em> mencoba menjelaskan fenomena terkait mengapa simpati publik justru menurun seiring dengan meningkatnya korban dalam suatu peristiwa. Dalam studinya bersama dengan Daryl Cameron, ditemukan bukti bahwa ketika jumlah korban meningkat, itu justru berbanding lurus dengan padamnya perasaan simpati. Dalam simpulan penelitiannya, simpati seseorang diketahui berkurang seiring dengan bertambahnya korban karena individu terkait kewalahan dalam membagi emosinya.</p>
<p>Ini mudah untuk dipahami. Ketika X fokus pada Y, tentu mudah bagi X memerhatikan atau melimpahkan emosinya kepada Y. Akan tetapi, bagaimana jika X harus berurusan dengan Y, Z, A, B, dan 50 orang lainnya? Tentu sulit untuk tetap memberikan perhatian yang besar. Ini kemudian membuat X harus membagi perhatian atau emosinya, di mana ini berimplikasi dengan berkurangnya emosi yang didapatkan masing-masing pihak.</p>
<p>Tidak hanya soal kapabilitas psikis manusia yang kewalahan dalam membagi emosinya, kondisi ini juga diperparah dengan adanya bencana kesehatan mental di tengah pandemi Covid-19.</p>
<p>Bertus F Jeronimus dalam <a href="https://www.researchgate.net/publication/340092482_Personality_and_the_Coronavirus_Covid-19_Pandemic"><strong>tulisannya</strong></a> <em>Personality and the Coronavirus Covid-19 Pandemic</em>, turut menyoroti hal ini dengan menyebutkan pandemi Covid-19 lebih kepada fenomena sosial daripada fisik karena dampaknya yang besar bagi kehidupan sehari-hari umat manusia. Dengan adanya gangguan mental kolektif selama pandemi, Jeronimus bahkan memberi pertanyaan, “Apakah kita akan menjadi warga negara yang sedikit lebih introvert, enggan mengambil risiko, dan kolektivis?”.</p>
<p>Dengan kondisi saat ini, tentu kemudian lumrah ditemukan berbagai kasus di mana berbagai pihak ingin menurunkan perhatiannya kepada Covid-19 guna menghindari stres atau kelelahan psikologis. Ini misalnya banyak kita lihat dari kritik pedas warnaget terhadap media yang mengunggah berita-berita negatif perihal Covid-19. Singkatnya, banyak dari kita ingin mendengar kabar baik guna menenangkan psikis yang tengah terpuruk.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Hmm, setuju nggak nih PAN gabung dalam kabinet Pak Jokowi lagi? <a href="https://twitter.com/hashtag/politik?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#politik</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/pinterpolitik?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#pinterpolitik</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/infografis?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#infografis</a><a href="https://t.co/sli7CenBGl">https://t.co/sli7CenBGl</a> <a href="https://t.co/VBexFpCj1D">pic.twitter.com/VBexFpCj1D</a></p>
<p>&mdash; Pinterpolitik.com (@pinterpolitik) <a href="https://twitter.com/pinterpolitik/status/1285518631749603334?ref_src=twsrc%5Etfw">July 21, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<h4><strong>Teori Kelangkaan</strong></h4>
<p>Penjelasan terkait penurunan simpati publik terhadap korban Covid-19 ini juga dapat dipahami melalui ilmu ekonomi, yakni prinsip kelangkaan (<em>scarcity principle</em>). Secara sederhana, prinsip ini menerangkan bahwa nilai atas suatu objek atau komoditi akan semakin meningkat seiring dengan agen ekonomi menilai langka komoditi tersebut.</p>
<p>Ini kemudian melahirkan berbagai strategi <em>marketing</em> atau pemasaran yang membuat kesan bahwa komoditinya begitu langka sehingga sangat bernilai. Strategi ini dapat kita jumpai pada ditaksir tingginya harga mobil mewah ataupun tas bermerek yang memang sengaja diproduksi dalam jumlah terbatas.</p>
<p>Prinsip ini juga menjelaskan lonjakan drastis harga masker dan <em>hand sanitizer</em> beberapa waktu yang lalu karena adanya permainan untuk mengatur peredaran kedua komoditi tersebut tidak sebanyak sebelumnya. Rolf Dobelli dalam bukunya <em>The Art of Thinking Clearly</em> menyebutkan bahwa ini dapat terjadi karena terciptanya kelangkaan semu dalam kognisi manusia. Ini adalah apa yang disebut Dobelli sebagai <em>scarcity error</em>.</p>
<p>Mengadopsi eksplanasi tersebut, kita dapat memahami mengapa simpati publik semakin menurun karena kasus dan korban Covid-19 yang terus meningkat telah membuat objek menjadi tidak seberharga sebelumnya. Ini sama halnya dengan mengetahui korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi setiap hari, sehingga tidak perlu untuk dikejutkan.</p>
<p>Eksplanasi ini juga menjelaskan mengapa kecelakaan pesawat memiliki efek teror yang lebih hebat daripada kecelakaan lalu lintas. Ini karena kecelakaan pesawat amatlah langka, sehingga peristiwa tersebut dinilai sebagai sesuatu yang berharga. Media pun turut memperparah efek teror dengan mengeksposnya berlebihan.</p>
<h4><strong>Apa yang Harus Dilakukan?</strong></h4>
<p>Dengan kondisi yang sudah terlanjur seperti ini, tentu menjadi pertanyaan tersendiri, apa sekiranya yang harus dilakukan pemerintah? Pasalnya, jika simpati publik terus menurun, itu dapat berkonsekuensi pula pada penurunan kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan.</p>
<p>Merespons masalah ini, pemerintah sebenarnya sudah bereaksi dengan tepat. Pada 14 Juli lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah <a href="https://www.pinterpolitik.com/jokowi-panggil-artis-sinyal-kegentingan/"><strong>memanggil</strong></a> sejumlah pekerja seni <em>beken</em>, termasuk Anji untuk meminta tolong menyosialisasikan protokol kesehatan Covid-19 kepada masyarakat.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CC5oG1chImF/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CC5oG1chImF/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CC5oG1chImF/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Pilkada Tangsel, pertarungan dinasti? #pilkada #pilkadatangsel #tangsel #tangerangselatan #pilkadatangerangselataan #dinasti #politikdinasti #dinastipolitik #corona #coronavirus #covid19 #jagajarak #cucitangan #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-07-21T10:15:26+00:00">Jul 21, 2020 at 3:15am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Akan tetapi, usaha tersebut tampaknya tidak akan memberikan pengaruh signifikan apabila pemerintah tidak meredam narasi-narasi konspiratif seputar Covid-19 yang misalnya didengungkan oleh Jerinx.</p>
<p>Pada 20 Juli lalu, mantan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas penanganan Covid-19 Achmad Yurianto bahkan memberikan <a href="https://news.detik.com/berita/d-5100735/jerinx-anggap-covid-19-konspirasi-gugus-tugas-kepopuleran-tak-mendidik"><strong>komentar</strong></a> khusus kepada penabuh drum SID tersebut dengan menyebutnya menggunakan kepopulerannya untuk menyebarkan konspirasi Covid-19 yang tidak mendidik.</p>
<p>Sejak awal, memang cukup aneh dilihat, mengapa pemerintah tidak merespons pernyataan-pernyataan Jerinx yang kontraproduktif dengan penanganan Covid-19. Padahal, jika narasi Jerinx dapat diredam, persepsi publik yang memahami pandemi sebagai konspirasi kemungkinan besar tidak banyak terjadi.</p>
<p>Dengan kata lain, sepertinya pemerintah, khususnya Presiden Jokowi harus memanggil Jerinx, seperti halnya memanggil para pekerja seni pada 14 Juli lalu. Pasalnya, jika narasi Jerinx dibiarkan, itu akan menciptakan kesan di tengah masyarakat bahwa tudingan konspirasi Covid-19 bukanlah hal yang dilarang oleh pemerintah.</p>
<p>Usulan semacam ini umumnya akan dibantah dengan dalih bahwa kebebasan berbicara merupakan hak dasar dalam demokrasi. Akan tetapi, perlu untuk diingat, kebebasan berbicara tidak dalam artian kebebasan dalam mengungkapkan apapun.</p>
<p>Masalahnya adalah, jika pernyataan Jerinx bahwa Covid-19 hanya konspirasi dan tidak berbahaya diikuti oleh banyak pihak, itu akan membuat kasus Covid-19 terus meningkat. Jika itu terjadi, tentunya kapabilitas anggaran dan fasilitas medis yang ada tidak akan memadai untuk menangani pasien yang terus meningkat. Alhasil, itu dapat menyebabkan kematian bagi mereka yang tidak mendapatkan perawatan karena keterbatasan sumber daya.</p>
<p>Jika demikian yang terjadi, apakah Jerinx harus dibiarkan hanya karena dalih kebebasan berbicara?</p>
<p>Tentunya, dilakukan tidaknya saran ini tergantung pada kebijaksanaan dari pemerintah, khususnya Presiden Jokowi sendiri. Kita lihat saja bagaimana kelanjutan strategi mantan Wali Kota Solo tersebut dalam menghadapi pandemi Covid-19. Harapan kita adalah, narasi kontraproduktif seperti yang dikeluarkan Jerinx ataupun unggahan Anji tidak berulang lagi nantinya.</p>
<p>Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)</p>
<p><iframe loading="lazy" title="Global Warming adalah Hoaks dan propaganda Media?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/TbcP_etLiuY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/07/anji-dan-jokowi.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lagi, Seteru Public Figure vs Covid-19</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/lagi-seteru-public-figure-vs-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2020 12:30:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[anji]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[jenazah covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[PFI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=81316</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-81325" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/07/Lagi-Seteru-Public-Figure-vs-Covid-19-01.jpg" alt="Lagi, Seteru Public Figure vs Covid-19" width="2250" height="2605" /></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/07/Lagi-Seteru-Public-Figure-vs-Covid-19-01.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
