HomeKata Pemred
Kata Pemred
Republik dalam Satu Kata Sandi
Audio dibuatAudio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #50PinterPolitik.com Pada Oktober 2026, negara akan mulai...
Ketika Angka Menjadi Berhala
Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy AnalysisPemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #11PinterPolitik.com Ada sebuah kecemasan yang purba...
Elegi di Atas Kaca Como: Saat Alpen Merunduk untuk Kudus
Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #10PinterPolitik.com In Memoriam Michael Bambang Hartono “Beliau datang bukan untuk menjajah identitas kami dengan...
Melampaui Panggung Pandji: Tentang Air Keras, Air Tuba, dan Siapa yang Menuangnya
Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #9PinterPolitik.com Di sebuah panggung yang remang, seorang komedian berdiri tegak. Ia tidak...
Wajah yang Dirawat, Ingatan yang Dipilih
Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #8PinterPolitik.com Ada nestapa yang jujur dalam esai Bapak Laksamana Sukardi. Tentang seorang...
Senyum yang Menyimpan Samudra
SBY mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan adalah modal yang paling mahal dalam berpolitik — dan yang paling sulit dibangun kembali setelah dirobohkan. Anies tahu pelajaran itu. Yang belum terjawab adalah apakah ia juga menghormatinya. Kemarin, AHY memilih besar hati. Itu adalah pilihan yang terhormat, dan pilihan yang mencerminkan watak kepemimpinan yang telah SBY tanamkan. Tapi menghormati pilihan AHY tidak berarti kita harus berhenti bertanya. Justru karena kita menghormati kebesaran hati AHY — kita tidak boleh membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang sah itu terkubur di bawah senyum yang manis.



