Site icon PinterPolitik.com

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

sell indonesia dan spirit 1928

Ilustrasi Indonesia di tengah badai “Sell Indonesia”. (Foto: AI-generated)

Dengarkan artikel ini:

https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-11-2026-5-0.mp3
Audio ini dibuat menggunakan AI.

Narasi “Sell Indonesia” menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 


PinterPolitik.com

“Like the Volksepen and the Volkslieder, a nation s laws, they declared, are a spontaneous emanation of the Volksgeist, the nations spirit and peculiar character.” – Ludwig von Mises, Theory and History: An Interpretation of Social and Economic Evolution (1957)

Pagi itu, Cupin membuka aplikasi sahamnya sambil menyeruput kopi yang belum sempat dingin. Angka merah berjajar di layar, dan satu istilah terus muncul di lini masanya: “Sell Indonesia”.

Ia membaca bahwa istilah itu menyapu meja-meja perdagangan global setelah sejumlah media asing menerbitkannya pada awal Juni 2026. Katanya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tercatat sebagai salah satu yang terburuk di antara lebih dari sembilan puluh indeks dunia yang dipantau.

Cupin termenung. Rupiah melemah menembus level Rp18.000-an per dolar, dan lembaga seperti Fitch sempat dikabarkan mengarahkan outlook ke negatif.

Sebagai orang yang sehari-hari mengikuti pasar, Cupin tahu tekanan itu nyata dan tidak perlu disangkal. Namun, ia juga tahu bahwa sebuah angka selalu punya konteks yang menyertainya.

Namun, ada yang mengusik Cupin sebagai pembaca yang teliti. Narasi asing itu rajin menyorot satu hal saja, yaitu arus keluar dana di pasar saham, sambil melewatkan gambaran yang lebih utuh.

Ia lalu menemukan data lain. International Monetary Fund (IMF) tetap memproyeksikan pertumbuhan Indonesia di kisaran lima persen, dengan inflasi terkendali dan defisit fiskal yang masih di bawah ambang batas legal.

Yang lebih menarik perhatian Cupin, arus modal neto pada kuartal kedua 2026 dilaporkan tetap positif. Dana yang masuk ke surat berharga negara (SBN) ternyata mengimbangi dana yang keluar dari pasar saham.

Bahkan, ada beberapa sesi ketika IHSG justru menguat di saat investor asing terus melepas. Penopangnya jelas, yaitu para investor domestik yang menolak ikut panik.

Cupin menyadari sesuatu yang ganjil sekaligus membanggakan. Di tengah serbuan sentimen negatif, berbagai pihak di dalam negeri yang biasanya berbeda kepentingan justru bergerak ke arah yang sama.

Pemerintah, otoritas pasar, hingga investor ritel seakan sepakat pada satu hal sederhana. Lihatlah data secara utuh, dan jangan telan narasi mentah-mentah.

Lalu dua pertanyaan menggantung di benaknya sambil ia menatap layar. Mengapa sebuah penilaian dari luar bisa memicu reaksi bersatu seperti ini, dan apakah pola semacam itu pernah terjadi di bangsa-bangsa lain?

Spirit Melawan Narasi di Mata Dunia

Cupin teringat sebuah gagasan filsuf Jerman Johann Gottfried Herder soal Volksgeist, yaitu semangat khas setiap bangsa. Inti pemikiran Herder adalah bahwa tidak ada satu mistar tunggal yang adil untuk mengukur semua bangsa dengan rumus yang sama.

Dari sudut itu, menilai Indonesia hanya lewat satu kolom data di terminal keuangan terasa timpang. Sebuah peradaban yang kompleks direduksi menjadi sekadar angka risiko.

Ia juga teringat Frantz Fanon, yang dalam bukunya The Wretched of the Earth memperingatkan soal bahaya menyerap pandangan asing tentang diri sendiri. Bangsa bekas terjajah, kata Fanon, berisiko melihat dirinya melalui mata pihak luar dan menerima penilaian rendah itu sebagai kebenaran.

Tetapi Cupin sadar bahwa melawan narasi bukan berarti menutup telinga. Ekonom peraih Nobel Amartya Sen, dalam karyanya Development as Freedom, menegaskan bahwa kedaulatan sejati adalah kebebasan sebuah bangsa untuk bernalar sendiri secara terbuka dan jujur.

Maka sikap yang tepat, pikir Cupin, bukanlah amarah, melainkan menimbang data secara lengkap lalu memutuskan sendiri. Ini soal hak menentukan siapa kita, bukan soal anti terhadap dunia.

Cupin pun teringat ekonom Robert Shiller dan gagasannya dalam buku Narrative Economics. Menurut Shiller, sebuah narasi yang menular bisa menggerakkan pasar secara independen dari fundamentalnya.

Logika itu memotong dua arah, dan di situlah letak harapannya. Jika narasi pesimistis bisa menjatuhkan, maka kontra-narasi yang berbasis data juga bisa menstabilkan.

Cupin lalu menelusuri bagaimana bangsa lain pernah menghadapi momen serupa. India, pada 1905, menjawab politik pecah-belah kolonial lewat gerakan Swadeshi yang mendorong pemakaian produk negeri sendiri.

Prinsipnya disebut Atma Shakti, atau kekuatan diri sendiri. Yang menarik, upaya asing memecah belah justru mempersatukan rakyat lintas kelas dan komunitas.

Cupin juga membaca kisah Korea Selatan pada 1998. Lebih dari tiga setengah juta warga menyumbangkan emas pribadi, terkumpul sekitar dua ratus dua puluh tujuh ton, demi membantu negara melunasi utang.

Ada pula Malaysia di tahun yang sama. Perdana Menteri Mahathir Mohamad melawan tekanan asing, tetapi memasangkannya dengan kebijakan yang tertarget, sementara, kredibel, dan terkoordinasi.

Sebagai penyeimbang, Cupin mencatat pelajaran dari Turki. Melawan narasi hanya dengan retorika tanpa koreksi kebijakan justru memperdalam krisis, dan rakyatlah yang menanggung.

Lima cermin itu memberi satu pesan yang sama bagi Cupin. Persatuan melawan narasi dominan adalah jalan yang sudah terbukti, asalkan ia jujur dan disiplin.

Dua pertanyaan baru pun muncul di kepalanya. Jika bangsa-bangsa lain punya momen persatuannya sendiri, lalu kapan dan bagaimana Indonesia menemukan momen itu, dan apakah semangat itu masih hidup hingga sekarang?

DNA 1928 yang Menyala Lagi

Cupin membuka catatan sejarah, dan pikirannya langsung tertuju pada tanggal 28 Oktober 1928. Saat itu, Indonesia bahkan belum ada sebagai sebuah negara.

Yang ada hanyalah organisasi pemuda yang bergerak sendiri-sendiri menurut kedaerahannya. Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, hingga Jong Islamieten Bond.

Pada Kongres Pemuda Kedua, lebih dari tujuh ratus orang dari beragam suku dan agama berkumpul di Jakarta. Kongres itu dipimpin Soegondo Djojopoespito dengan Muhammad Yamin sebagai sekretaris.

Di forum itulah hal yang nyaris ajaib terjadi. Mereka mengesampingkan ego kedaerahan masing-masing dan berikrar pada satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Cupin merenungkan paralelnya dengan hari ini, dan ia tersenyum. Pola yang sama sedang berulang di 2026.

Sebagaimana Jong Java dan Jong Celebes dahulu meletakkan identitas kelompoknya, kini berbagai otoritas dan pelaku bergerak sehaluan. Bank Indonesia menjaga stabilitas, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempercepat keterbukaan data agar publik melihat kondisi yang sebenarnya.

Cupin melihat pengorbanan yang paling nyata justru datang dari rakyat biasa. Dengan puluhan juta investor pasar modal yang separuhnya anak muda, merekalah yang menyerap aksi jual asing dengan modal pribadi.

Ia juga teringat bahwa semangat 1928 itu pernah diperluas ke panggung dunia. Pada Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, Indonesia menyatukan dua puluh sembilan negara yang berbeda kebangsaan, agama, dan sistem politik.

Konferensi itu lahir justru karena keengganan kekuatan besar dunia untuk berkonsultasi dengan bangsa-bangsa yang nasibnya mereka tentukan. Pesannya abadi, yaitu bangsa yang pernah dipandang rendah bisa bangkit dan menentukan jalannya sendiri.

Spirit 1928, bagi Cupin, bukan sekadar kenangan dalam buku pelajaran. Ia adalah mekanisme sosial yang masih hidup, yang menyala kembali setiap kali bangsa ini merasa harga diri kolektifnya dipertaruhkan.

Tentu saja Cupin tahu bahwa semangat ini perlu dijaga agar tetap sehat. Konteks 2026 berbeda dari masa lalu, sebab investasi asing tetap dibutuhkan dan keterbukaan ekonomi tetap menjadi pilihan.

Yang diwarisi dari 1928 adalah semangat persatuannya, bukan resep kebijakan tertentu. Melawan narasi yang tidak utuh paling kuat dilakukan dengan data yang utuh, bukan dengan penyangkalan.

Pada akhirnya, Cupin menutup laptopnya dengan satu kesadaran yang menenangkan. Narasi dari luar boleh saja menilai, tetapi yang berhak menentukan arah dan makna bangsa ini tetaplah orang Indonesia sendiri, yang ketika diuji ternyata masih mampu berdiri dalam satu barisan yang sama persis seperti para pemuda di tahun 1928. (A43)


Exit mobile version