Dengarkan artikel ini:
Jika melihat gerak politik Bahlil, hampir sama dengan karakter Loid Forger dari Anime Spy X Family. Loid bisa berperan sebagai apapun di situasi manapun karena dia adalah seorang mata-mata. Tetapi, Bahlil melakukan itu untuk tetap relevan di kedua poros kekuasaan politik yang berbeda.
Dalam anime Spy x Family, Loid Forger adalah agen rahasia yang bisa menjadi ayah keluarga yang hangat, psikolog yang empatik, atau pembunuh dingin, tergantung siapa yang ada di ruangan.
Bukan karena ia punya banyak kepribadian. Justru sebaliknya: ia hanya punya satu tujuan, dan semua peran itu adalah instrumen menuju tujuan itu. Yang membuat Loid tak tergantikan bukan kemampuan bertarungnya, melainkan kemampuannya membaca konteks lebih cepat dari orang lain bisa mengedipkan mata.
Bahlil Lahadalia adalah versi politiknya.Satu orang ini tiga kali dilantik oleh Jokowi,: dari Kepala BKPM, Menteri Investasi, hingga Menteri ESDM. Lalu bertahan sepenuhnya di kabinet Prabowo dengan jabatan yang sama.
Di antara dua momen pelantikan itu, ia melobi pengurus daerah Golkar dari Sabang sampai Merauke untuk “melangkahi” seniornya sendiri, Airlangga Hartarto, dan menjadi ketua umum partai beringin sebelum masa jabatan Jokowi berakhir.
Di sela-sela itu semua, ia membisiki Gibran Rakabuming saat jeda debat cawapres, mendampinginya kampanye ke Papua pada hari kerja, dan secara terbuka mengklaim bahwa perpanjangan masa jabatan Jokowi hingga 2027 adalah idenya sendiri.
Pertanyaan yang publik ramai ajukan adalah apakah Bahlil loyalis Jokowi atau Prabowo. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa pertanyaan itu salah sejak awal.
Apa yang membuat satu orang tetap tak tergantikan ketika seluruh konfigurasi kekuasaan di sekitarnya berganti?
Terminal sebagai Sekolah Pertama Bahlil
Robert Jay Lifton, psikiater Harvard yang menulis The Protean Self, berargumen bahwa manusia yang berhasil bertahan dalam dunia yang terus berubah bukan mereka yang memiliki identitas kaku dan konsisten, melainkan mereka yang punya “protean self”: kepribadian lentur seperti Proteus, dewa laut Yunani yang bisa berubah wujud sesuai ancaman yang datang.
Lifton tidak bicara tentang kepalsuan atau oportunisme. Ia bicara tentang kapasitas adaptasi yang hanya bisa tumbuh dari pengalaman hidup yang keras dan tidak homogen.
Bahlil punya dua sekolah yang tidak pernah dimasuki oleh hampir semua pesaingnya di Jakarta. Sekolah pertama adalah terminal angkot Fakfak dan jalanan Jayapura di akhir 1980-an hingga 1990-an.
Di sana ia belajar satu kurikulum yang tidak ada di fakultas ilmu politik mana pun: membaca watak manusia dalam hitungan detik, memahami bahwa kepercayaan adalah modal yang lebih tahan lama dari uang tunai, dan tahu kapan harus keras sebelum situasi berubah menjadi bencana.
Sekolah kedua adalah HMI dan HIPMI, dua organisasi yang secara historis menjadi inkubator elite nasional. Di sana ia belajar bahasa yang berbeda: konsolidasi jaringan, manajemen patron-klien, dan cara membuat orang merasa bahwa mendukungmu adalah kepentingan mereka juga.
Sebagian besar politisi Indonesia hanya melewati satu sekolah. Itulah yang membatasi repertoar respons mereka. Bahlil melewati keduanya, dan celah antara dua sekolah itu adalah persis tempat keahliannya tinggal.
Manuver Sang Kanda Politik?
Agustus 2024, Airlangga Hartarto adalah Ketua Umum Golkar, Menko Perekonomian, dan salah satu wajah paling senior di kabinet. Ia seharusnya tidak bisa digeser dari luar.
Tidak ada mekanisme formal yang memungkinkan seseorang yang bukan pengurus aktif Golkar untuk masuk dan mendongkelnya.
Jusuf Kalla secara terbuka menyebut Bahlil tidak memenuhi syarat kader. Namun pada 10 Agustus 2024, Airlangga mengumumkan pengunduran diri melalui video Instagram dengan nada seorang pria yang tidak punya pilihan.
Sebelas hari kemudian, Bahlil berdiri di podium JCC Senayan sebagai Ketua Umum Golkar yang dipilih aklamasi oleh 37 dari 38 DPD provinsi.
Yang terjadi di antara dua tanggal itu adalah pelajaran tentang apa yang ilmuwan politik James Scott dalam Domination and the Arts of Resistance sebut sebagai “infrastruktur tersembunyi kekuasaan”, jaringan lobi, tekanan tidak langsung, dan konsolidasi senyap yang bekerja jauh di bawah permukaan sebelum hasilnya tiba-tiba menjadi fakta.
Majalah Tempo melaporkan bahwa manuver Bahlil mendapat restu Presiden Jokowi, dengan skenario di mana Jokowi sendiri berpeluang masuk sebagai Ketua Dewan Pembina.
Airlangga, yang bersamaan itu menghadapi tekanan hukum dari Kejaksaan Agung soal kasus ekspor minyak sawit, tidak memiliki ruang untuk bertahan.
Bahlil tidak merebut Golkar dengan konfrontasi. Ia menunggu medan terbuka, lalu mengisi kekosongan yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Para psikolog perilaku menyebut ini sebagai political timing intelligence: kemampuan membaca kapan sebuah sistem paling rentan terhadap perubahan, lalu bergerak tepat di titik itu sebelum orang lain sadar bahwa ruang itu ada.
Bahlil tidak setia kepada Jokowi. Bahlil tidak setia kepada Prabowo. Ia setia kepada satu hal saja: relevansi.
Dan relevansi itu ia jaga bukan dengan cara mengikuti arus, melainkan dengan cara selalu menjadi orang yang paling berguna bagi siapa pun yang sedang berkuasa, sebelum transisi itu bahkan terjadi
Bahlil Lentur ke Semua Poros Politik
Di sinilah pertanyaan yang sebenarnya muncul: bagaimana caranya satu orang bisa tetap relevan di dua poros politik yang berbeda, bahkan ketika dua poros itu pernah berdiri di sisi yang berseberangan?
Jawabannya bukan pada kesetiaan ganda. Jawabannya ada pada struktur dari apa yang ia tawarkan kepada masing-masing poros itu.
Kepada Jokowi, Bahlil menawarkan kombinasi yang langka: loyalitas tanpa ambisi yang mengancam.
Ia bukan tipe politisi yang bermain di balik punggung patron. Ia bekerja keras, mau menjadi wajah kebijakan tidak populer, dan cukup kuat untuk menjalankan tugas-tugas yang membutuhkan keberanian
Tiga kali dilantik dalam satu periode presiden bukan karena Jokowi tidak punya pilihan lain, melainkan karena Bahlil adalah jenis eksekutor yang semakin sulit ditemukan. Tahu batas, tapi tidak mudah diintimidasi dari luar.
Kepada Prabowo, Bahlil menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia datang bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa Golkar dan membawa bukti: selama kampanye 2024, ia duduk di barisan paling depan tim Prabowo-Gibran, membisiki Gibran setiap kali jeda iklan debat cawapres, mendampinginya kampanye ke Papua, dan secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa Gibran “akan menguasai debat.” Semua ini dilakukan saat ia masih berstatus Menteri Investasi aktif.
Artinya ketika Prabowo menang, Bahlil sudah lama berdiri di pihak yang benar, dengan rekam jejak yang tidak perlu diklaim, karena sudah tercatat oleh puluhan kamera.
Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life menulis bahwa individu yang cerdas secara sosial tidak mengelola satu penampilan, melainkan beberapa “front stage” yang berbeda untuk audiens yang berbeda, sementara “back stage” yang sesungguhnya tetap tidak terlihat.
Bahlil setidaknya menjalankan tiga front stage secara bersamaan: eksekutor keras di hadapan bawahan dan investor, loyalis yang tahu adab di hadapan patron, dan figur humoris yang merangkul parodi dirinya sendiri di hadapan publik digital. Ketiganya tidak saling bertabrakan karena ia tahu persis kapan menyalakan yang mana, dan kepada siapa.
Ketika lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” viral di TikTok, ia tidak marah. Ia justru mengaku penasaran dan ingin mengundang pembuatnya makan siang. Ketika kadernya melaporkan pembuat meme ke Bareskrim, ia yang meminta laporan itu ditarik.
Ini bukan kerendahan hati spontan. Ini adalah kalkulasi: orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri di ruang publik tidak bisa dijatuhkan dengan serangan yang sama. Ia sudah lebih dulu mengambil alih narasi itu.
Di atas semua itu ada satu hal yang membuat model Bahlil bekerja di dua poros sekaligus: ia tidak membawa ideologi yang bisa menjadi beban. Dalam sistem politik Indonesia yang berjalan di atas kepentingan, bukan gagasan, tidak punya ideologi yang kaku bukan kelemahan.
Itu adalah aset. Ia bisa masuk ke konfigurasi mana pun selama ia membawa nilai yang dibutuhkan. Dan nilai itu selalu ia pastikan sudah tersedia sebelum ada yang sempat memintanya.
Bahwa per Juni 2026 beberapa pengamat sudah menyebut skenario Gibran-Bahlil untuk Pilpres 2029 bukan sesuatu yang muncul dari langit.
Itu adalah panen dari benih yang ditanam dua tahun sebelumnya, di jeda iklan debat cawapres, di kaos TKS yang ia kenakan saat mendampingi Gibran di Papua, dan di setiap momen di mana ia memilih untuk hadir sebelum ada yang memintanya.
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan apakah Bahlil bisa bertahan di bawah presiden ketiga. Tapi apakah sistem yang membuat ia tak bisa diganti itu sehat bagi siapa pun selain dirinya sendiri. (A99)
