Wim Tangkilisan ─ author

Latest articles

Tokyo dan Aliansi yang Tak Bernama

Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #12PinterPolitik.com Ada sebuah kata dalam bahasa...

Ketika Angka Menjadi Berhala

Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy AnalysisPemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #11PinterPolitik.com Ada sebuah kecemasan yang purba...

Elegi di Atas Kaca Como: Saat Alpen Merunduk untuk Kudus

Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #10PinterPolitik.com In Memoriam Michael Bambang Hartono “Beliau datang bukan untuk menjajah identitas kami dengan...

Melampaui Panggung Pandji: Tentang Air Keras, Air Tuba, dan Siapa yang Menuangnya

Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #9PinterPolitik.com Di sebuah panggung yang remang, seorang komedian berdiri tegak. Ia tidak...

Wajah yang Dirawat, Ingatan yang Dipilih

Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #8PinterPolitik.com Ada nestapa yang jujur dalam esai Bapak Laksamana Sukardi. Tentang seorang...

Senyum yang Menyimpan Samudra

SBY mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan adalah modal yang paling mahal dalam berpolitik — dan yang paling sulit dibangun kembali setelah dirobohkan. Anies tahu pelajaran itu. Yang belum terjawab adalah apakah ia juga menghormatinya. Kemarin, AHY memilih besar hati. Itu adalah pilihan yang terhormat, dan pilihan yang mencerminkan watak kepemimpinan yang telah SBY tanamkan. Tapi menghormati pilihan AHY tidak berarti kita harus berhenti bertanya. Justru karena kita menghormati kebesaran hati AHY — kita tidak boleh membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang sah itu terkubur di bawah senyum yang manis.

Prabowo dan Kompleks Napoleon: Menaklukkan Penghinaan, Membaca Masa Depan

Dengarkan artikel ini: Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #6PinterPolitik.com I. Panggung yang Telah Lama Menanti dalam Sunyi Ada sebuah fenomena yang tidak akan...

Presiden yang Membaca Sejarah: Bagaimana Prabowo Memprediksi Dunia Sebelum Orang Lain Menyadarinya

Pada suatu malam di tahun 2019, dalam sebuah diskusi yang disiarkan langsung, seorang panelis bertanya kepada Prabowo Subianto mengapa ia begitu keras memperingatkan tentang ancaman perang, tentang ketahanan pangan, tentang kemungkinan Indonesia runtuh dari dalam.

Dari Coelho hingga Ghost Fleet: Apa yang Sebenarnya Dibaca Prabowo

Setiap kali Prabowo Subianto hendak menyampaikan sesuatu yang benar-benar ia yakini — bukan kalimat protokoler, bukan pidato yang disiapkan staf — ia selalu mengacu pada sebuah buku. Bukan sebagai ornamen intelektual. Bukan untuk terlihat terpelajar di hadapan kamera. Melainkan dengan cara seorang murid yang sedang menunjukkan catatannya kepada gurunya: ini yang saya temukan, ini yang saya bawa, inilah yang membuat saya tidak tidur semalam.

Bisikan dan Podium

Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #3PinterPolitik.com “Ada yang lebih keras dari kritik. Yaitu diam yang tahu...

Simfoni Kekuasaan di Meikarta

Di atas tanah yang bertahun-tahun menyimpan mimpi orang lain yang belum dikembalikan, sebuah panggung berdiri megah. Mochtar Riady — konglomerat 94 tahun yang membangun imperium dari nol, yang dijuluki pers bisnis sebagai Raja Mal — berdiri tegak menyerahkan sertifikat hibah kepada Kepala Danantara Rosan Roeslani. Kamera bergeletupan.

Perang Tanpa Seragam

Ada kalanya selembar dokumen lebih berbicara daripada seribu meriam. Pada awal Maret 2026, Sunday Guardian — publikasi analisis strategis berbasis New Delhi — merilis sebuah laporan yang menyibak tabir. Di dalamnya tersimpan dokumen internal yang mengungkap aliran pendanaan dari Open Society Foundations melalui Kurawal Foundation Jakarta kepada sejumlah organisasi masyarakat sipil Indonesia, senilai USD 1,8 juta untuk periode 2026–2028, dengan Taiwan Foundation for Democracy sebagai ko-penyandang dana.
- Advertisement - spot_img