Yang Hilang dari Komitmen Jokowi

Ananda Badudu
Jokowi menegaskan komitennya pada demokrasi di hadapan para tokoh. (Foto: BPMI Setpres/Rusman)
3 minute read

“Jatuh dan tersungkur di tanah aku. Berselimut debu sekujur tubuhku. Panas dan menyengat, rebah dan berkarat,” – Banda Neira, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti


Pinterpolitik.com

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang patah tumbuh, yang hilang demokrasi.

Sedih dan patah hati, mungkin itu perasaan yang berkecamuk di hati banyak orang saat terbangun di pagi hari ini. Bagaimana tidak, aktivis dan musisi Ananda Badudu yang menggalang bantuan dana kepada mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Memang, saat ini Ananda sudah dibebaskan. Meski begitu, penangkapan atau “penjemputan”-nya tersebut merupakan tetap saja merupakan coreng tebal di muka demokrasi negeri ini.

Apakah negara kecewa karena Ananda lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat selama beberapa waktu terakhir? Apakah negara frustrasi karena Ananda lebih bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya?


Kalau melihat reaksi masyarakat, jelas sekali masyarakat memang lebih sayang kepada Ananda ketimbang kepada pemerintah dan DPR. Mungkin saja, ada pihak yang cemburu karena Ananda memang lebih disayangi ketimbang dua  institusi tersebut.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang patah tumbuh, yang hilang janji politisi.

Penangkapan Ananda dan aktivis lain juga merupakan kisah sedih bagi pemimpin negeri. Di siang hari, Pak Jokowi sudah mendeklarasikan diri kepada masyarakat agar jangan meragukan komitmennya kepada demokrasi. Ia mengungkapkan hal itu kepada pinisepuh negeri agar mereka tak khawatir.

Sayang, sepertinya ada  yang  tidak satu suara dengan komitmen Pak Jokowi. Kebebasan berekspresi warga seperti dikebiri karena penangkapan Ananda ini jadi cermin buruk bagi demokrasi. Jadilah komitmen  demokrasi Pak Jokowi di siang hari, dihilangkan oleh penangkapan tersebut.

Sungguh tega, komitmen presidennya sendiri dikhianati dalam waktu yang amat singkat.

Yang patah tumbuh, yang hilang janji politisi Click To Tweet

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati.

Seperti lirik lagu Banda Neira – bekas band Ananda Badudu – di atas, langkah penangkapan aktivis ini bisa menjadi blunder bagi rezim saat ini. Alih-alih meredam gejolak masyarakat, penangkapan Ananda dan aktivis lainnya ini justru bisa menumbuhkan amarah masyarakat yang lain.

Seperti yang disebutkan di atas, masyarakat saat ini lebih sayang kepada Ananda, mahasiswa dan pejuang-pejuang lain ketimbang kepada pemerintah dan DPR. Jangan salahkan kalau gelombang amarah masyarakat masih akan terus membesar karena penangkapan Ananda.

Setidak-tidaknya, penangkapan ini mungkin akan memunculkan satu musuh baru bagi negara: fans-fans Banda Neira dan pecinta band indie folk-penikmat senja-peminum kopi.

Perjuangan masyarakat ini mungkin akan serupa dengan judul lagi Banda Neira yang lain, Sampai Jadi Debu. Masyarakat mungkin akan terus-menerus bergerak, tak peduli ada yang ditangkap, meski mereka harus jadi debu, asalkan tuntutan mereka tak dibersihkan negara seperti debu.

“Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu…” (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.